White Balance Explained – Part 2

Di artikel sebelumnya kita sudah bahas mengenai apa itu white balance & pengaruh sumber cahaya. Nah kalau di artikel ini kita akan bahas aplikasi white balance dalam fotografi.

Dalam kamera lama white balance ditentukan dengan jenis film yang digunakan dan metode pencucian. Tapi di kamera digital moderen white balance telah dibuat sebagai preset setting. Setting ini tidak hanya mengatur warna blue – amber (kekuningan), melainkan juga green & magenta (kemerahan). Ini akan mempermudah kita saat pemotretan.

Courtesy of : http://www.cambridgeincolour.com/

Auto White Balance (AWB) menggunakan algoritma & perhitungan tertentu untuk “menebak” white balance yang tepat. Tebakan ini biasanya di kisaran 3000/4000 Kelvin s/d 7000 Kelvin. Jadi memang pada kondisi ekstrem & pencahayaan buatan seringkali AWB salah menebak. Akan tetapi dari yang saya alami Canon 500d dan 50d keatas sudah memiliki AWB yang jauh lebih baik. Di kebanyakan situasi saya menggunakan white balance ini.

Custom white balance memungkinkan kita memilih satu foto sebagai acuan warna putih (dikenal dengan 18% grey). Jadi cara pakainya cukup potret grey card di kondisi sumber cahaya yang dibutuhkan. Gunakan foto itu sebagai reference custom white balance. Ulang sebanyak 3 kali untuk mendapatkan hasil yang paling optimal. Saya jarang menggunakan setting white balance ini.

Kelvin (tersedia hanya di canon 2 & 1 digit) digunakan apabila kita ingin menentukan sendiri temperature sumber cahaya. Biasanya  range-nya mencakup dari 2500 s/d 10.000 Kelvin. Kelipatannya 100 Kelvin. Saya menggunakan setting white balance ini apabila ingin memaksa suatu kesan tertentu, biasanya kesan yang super warm (biasanya saya gunakan sampai dengan 9000 Kelvin)

6 white balance berikutnya adalah preset, sudah di setting supaya mendekati situasi tertentu. Mulai dari tungsten yang paling “dingin” sampai dengan shade yang paling “warm”. Daylight kisarannya adalah 5.200 Kelvin. Saya seringkali menggunakan white balance ini apabila di kondisi pemotretan di luar ruangan dengan cuaca yang baik. Cloudy dan Shade juga sering saya gunakan untuk pemotretan dengan pencahayaan matahari yang agak redup. Sedangkan tungsten (dibarengi dengan White Balance Shift) saya gunakan untuk pemotretan di bawah lampu kuning / pijar.

————

Saya sangat merekomendasikan pemotretan menggunakan RAW. Salah satunya adalah karena dengan memotret RAW kita masih memiliki fleksibilitas untuk mengatur white balance di komputer/laptop kita. Memang memilih white balance yang tepat akan membantu sehingga proses pengolahan tidaklah terlalu lama. Akan tetapi mengingat LCD kamera kita tidaklah sebagus (dan tidak dikalibrasi pula) LCD yang ada di komputer / laptop, maka pemilihan white balance pasca pemotretan adalah salah satu hal yang wajar untuk dilakukan.

Sebagai salah satu tips : pemotretan sunset / sunrise menggunakan AWB seringkali menghasilkan warna yang relatif “dull” / pucat. Oleh karena itu saya sering menggunakan setting Daylight / Kelvin White Balance untuk memotret pada saat tersebut. Hal yang sama juga saya lakukan pada saat pemotretan twilight.

Auto White Balance
Daylight White Balance

Cloudy White Balance
Kelvin White Balance - 4.200 Kelvin

MOTO YUK!!!


8 thoughts on “White Balance Explained – Part 2”

  1. setelah tuntas dengan WB, sekedar usul saja, mungkin bisa membahas tentang jenis2 metering yg ada pada kamera (center weighted, spot, partial, dst). Dan mungkin lebih ke kapan menggunakannya, bukan sekedar spot itu mengukur 4% cahaya yg masuk, partial itu 9%….tapi mungki lebih aplikatif, kapan menggunakannya…
    thanx..

  2. walahh….ternyata saya yg belum explore…maaf…
    thanx a lot mas, saya masih sering bingung penggunaan metering tsb…
    tp di link di atas, sudah sangat membantu…

    btw, saya daftar gathering tgl 11 yaa…
    thx..

Leave a Reply MY-ers ...