Vision & Photography

Salah satu hal penting dan sering dilupakan oleh fotografer adalah membangun kemampuan membuat & mewujudkan “Vision”. Banyak fotografer memotret dengan modal asal jepret, lalu pilih pilih kemudian. Saya terinpirasi oleh Gallen Rowell dalam bukunya “Mountains Light”. Dalam bukunya itu dia menjelaskan bahwa seorang fotografer harus memiliki vision, gambaran yang ingin diwujudkan. Kemudian mengejar vision tersebut dengan segala macam teknik, peralatan dan timing yang tepat.

Dalam salah satu ceritanya dia menceritakan ingin memotret awan yang sedang bergerak. Setelah menentukan lensa yang digunakan (tele sekitar 300mm kalau tidak salah) dia bisa memperkirakan shutter speed minimal yang dia butuhkan dengan mengetahui sudut dari lensa 300mm itu berapa derajat, jadi kalau awan bergerak dengan kecepatan sekian m/detik maka dalam satuan shutter speed berapa dia akan melihat awan tersebut memasuki lalu keluar dari viewfinder nya. Menakjubkan ya? Saya sangat iri dengan kemampuannya yang sudah sangat terasah itu.

Salah satu hal yang saya lakukan untuk mengasah kemampuan membuat vision dan mewujudkannya adalah dengan setiap kali mempelajari scene. Apabila saya melihat suatu scene (entah background, kondisi lighting, foreground, jarak antar benda, dll) saya bayangkan dahulu hasilnya jika saya ambil dengan kamera saya. Setelah memiliki gambaran barulah saya ambil gambarnya dan lihat apakah visi saya benar. Jika kurang tepat apanya yang salah, apakah kemampuan memprediksi dynamic range-nya? atau framing-nya? atau color saturationnya? atau angle-nya? Dengan demikian saya berharap kemampuan saya membuat dan nantinya mewujudkan vision bisa terbentuk.

Yellow | Canon EOS 40D | EF 70-200 f2.8 L IS @ 145mm | Apperture priority f2.8 | 1/125 secs | ISO 100 | EV +2/3 | Canon DPP for Raw processing

Dalam foto diatas saya melihat scene dimana tanah tertutup oleh guguran daun berwarna kuning. Saya langsung terbayang bagaimana jika itu dikontraskan dengan model yang kebetulan ada. Jadi backgroundnya berwarna kuning keemasan, dan seterusnya dan seterusnya…awalnya sih penegn motret modelnya tiduran agak meringkuk di atas tanah bertabur daun kuning itu

Dari situlah baru saya pilih lensa yang akan digunakan, angle pengambilan, setting kamera, dll. Walau tidak bisa sesuai 100% dengan vision saya (karena ini motret dalam grup, dan tidak semua orang se-visi dengan saya tentunya) tapi cukup untuk melatih apakah visi saya bisa diwujudkan.

Jadi, lain kali sebelum mulai memotret bayangkan dahulu hasilnya. Lalu bandingkan apakah sesuai dengan yang kita bayangkan, jika tidak, tanya kenapa.

MOTO YUK!!!

One thought on “Vision & Photography”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *