The Wide Princess … Carl Zeiss Distagon 18mm f3.5 ZE

The Intro …

Selama periode yang cukup lama saya mencari jati diri dalam hal memotret. Berbagai bidang dan metode pemotretan saya coba. Sampai akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa saya adalah landscaper dengan karakter foto wide. Udah nenteng berbagai lensa di backpack tetap saja yang paling banyak dipakai adalah lensa wide.

Karakter kedua saya adalah warna. Saya suka dengan warna-warna yang pekat dan kuat. Oleh sebab itu seringkali picture style saya push sampai standard saturasi +3 bahkan +4. Hal ini karena memang karakter warna body Canon agak pastel. Enak buat pemotretan human interest, tetapi kurang nendang kalau tidak di tweak untuk landscape.

Selama periode yang cukup lama saya mengandalkan lensa Canon EF-S 10-22 (saat menggunakan 40d) dan EF 17-40 (saat menggunakan 5d). Kedua lensa ini performance nya bagus. Saya cukup senang menggunakannya dan para “pemirsa” juga amazed dengan hasilnya. Tetapi hobiist yang dipentingkan adalah kepuasan pribadi. Saya masih belum puas dengan ketajaman di corner (kedua lensa), distorsi (17-40) dan warna (keduanya).

Pencarian saya “berakhir” saat pertama kali saya memegang lensa Carl Zeiss distagon 18mm f3.5 di salah satu toko di bangkok. Saya langsung jatuh cinta dengan body nya yang full metal – kokoh tetapi cantik sekali (saya menyebut lensa ini princess CZ). Kehalusan ring focusnya dll juga membuat saya terpana. Tetapi saya makin terpana saat melihat sample hasil dari lensa Carl Zeiss di Fred Miranda. Semua lensa CZ ini menghasilkan ketajaman, 3d effect dan warna yang sangat saya inginkan.

Setelah lama mikir, akhirnya dilepaskan juga 17-40 f4 L dan 70-200 f2.8 L IS untuk lensa CZ 18mm ini. Sebenarnya ada pilihan CZ Distagon 21mm f2.8, akan tetapi saya merasa karakter foto saya kurang sesuai dengan focal length “hanya” 21mm … dan benar memang (kadang malah pengen 16mm).

 

Why Do I Choose “Her” ?

Memilih lensa ini tidaklah mudah buat kebanyakan orang. Pertama karena dia adalah full manual lens .. artinya tidak ada sistem auto focus. Kita harus memutar sendiri ring focus sampai gambar di viewfinder tajam. Walaupun di sistem ZE (mounting canon) ini dia sudah memiliki focus confirm (saat kita menekan separuh tombol shutter dan ring kita putar maka pada area focus dia akan menyala titik focus & bunyi beep) dan aperture sudah bisa di kontrol dari body kamera. Tetapi hal ini tidak menjadi kendala buat saya karena :

  1. Pemotretan wide tidak terlalu sensitif dengan focusing, mengingat wide + biasanya aperture sempit – apalagi  landscape yang menggunakan hyperfocals distance techniques … malah lebih enak dengan lensa ini. Karena di bagian depan lensa ada skala jarak. Jadi kita bahkan tidak usah melakukan focusing, cukup memutar ring focus dan memposisikan tanda infinity pada bagian paling kanan dari batas aperture yang kita gunakan. Praktis dan mudah bagi landscaper.
  2. Bagi hobiist memutar ring focus secara perlahan dan menemukan titik focus adalah kenikmatan tersendiri … jelas bukan untuk fotografer profesional, apalagi liputan, yang butuh kecepatan. Tetapi buat seorang penikmat fotografi prosesnya sungguh menyenangkan.

Jangan pikir menggunakan lensa manual dan lensa AF yang di set manual itu sama. Experience nya sangat jauh berbeda. Hal ini terutama karena lensa AF ring focusnya tidak di desain untuk di setting manual focus. Sehingga kurang presisi. Jauh sekali bedanya dengan lensa manual yang presisi (bisa berputar hampir 270 derajat).

Hal kedua yang menyulitkan bagi orang untuk membeli lensa ini adalah harganya yang premium. Harganya sama dengan lensa L series canon yang premium – EF 16-35 f2.8 L Mark II, padahal Canon memiliki auto focus dan zoom (bukan fixed lens). Tapi menurut saya AF tidak dibutuhkan di wide, ketajaman dan warna hasil lensa ini juga lebih premium, body lensa dan kualitasnya seakan dibuat buat berbelas tahun kemudian – tidak seperti lensa modern umumnya yang dibuat dari plastik keras. Sistem AF juga merepotkan karena ada kemungkinan rusak setelah sekian lama digunakan (maklum sistem elektronik). Jadi saya bulatkan tekad walau lensa ini mahal untuk membelinya.

 

Do I  Regret It ?

Dan, saya tidak pernah menyesal membelinya 🙂 – Lensa ini tajam dari ujung ke ujung. Dan warnanya pekat + saturated sekali. Sangat cocok untuk landscaper pengguna Canon. Foto diatas dibuat hanya dengan saturasi +2. Warna ini cukup sulit diperoleh di lensa 17-40 yang dulu saya gunakan. Biasanya cenderung agak “mendem” … walau kembali lagi seperti saya bilang di awal, “sama saja buat mata awam, hanya untuk mata hobiist saja”

Saya juga suka dengan karakter 3d yang dihasilkan oleh lensa ini. Terutama pada lighting tertentu dengan aperture lebar nya (f3.5). Foreground seakan pop-up keluar dari bidang foto. Menurut beberapa artikel yang saya baca hal ini diakibatkan karena micro-contrast yang dihasilkan lensa CZ (dan Leica). Micro-contrast adalah kondisi dimana foreground somehow memiliki kontras lebih tinggi daripada background. Selain itu juga dikarenakan karakter bokeh (background blur) yang dihasilkan. Lensa CZ dan Leica memiliki karakter bokeh yang tidak hancur / blur sempurna. Lensa modern cenderung karakter bokehnya creamy – lembut seperti cream. Karena masih ada bentuk maka efek 3d nya lebih berasa. Ditambah lagi vignette tipis yang dihasilkan pada aperture lebar.

Pada foto di samping (right from the camera) signboard nampak memiliki efek 3d yang lebih dibandingkan biasanya. Well .. kembali ini masalah mata hobiist. Buat mata awam tentunya tidak ada efeknya. Sehingga menggunakan lensa ini untuk bisnis sebenarnya tidaklah bijaksana.

Efek vignette yang dihasilkan juga menjadikan foreground lebih menonjol lagi. Seperti dalam contoh signboard disamping ini. Sebenarnya kita bisa juga menonaktifkan “Peripheral Illumination Correct” yang ada di kamera Canon kita. Hal ini membuat vignette bawaan dari lensa canon kita muncul kembali. Sehingga di beberapa lensa bisa menghasilkan efek vignette seperti ini.

Beberapa contoh lain dari hasil pemotretan dengan lensa ini bisa dilihat di foto-foto dibawah ini. Secara umum semuanya memiliki karakter yang sama : tajam, warna yang pekat dan 3d effect yang kuat.

 

 

 

Other Samples

PS : buat mereka yang aliran “purist” .. ya, foto diatas sudah mengalami post processing di canon DPP dan photoshop. Tingkatnya beragam. Kebanyakan hanya curve & saturasi + resized. Ada pula yang layering karena hanya bagian tertentu yang perlu di tingkatkan saturasi / level nya. Akan tetapi secara prinsip saya merasa CZ jauh lebih minim dalam hal post processing. Bahan awalnya cenderung sudah cukup matang.


16 thoughts on “The Wide Princess … Carl Zeiss Distagon 18mm f3.5 ZE”

  1. Hasil CZ distogon 18mm ciamik ya… Kalau did body Sony A7 visa spy ITU juga gak ya mass hasilnya?…
    Ohya mas Kali lensa jadul dengan kualitas hasil spt si princess APA ya rekomendasi nya… Thx mas

    1. ZE 18mm gak bisa dipakai di A7 karena aperture nya elektronik
      Tapi bisa pakai ZF (nikon mount) yang punya aperture manual

      Lensa jadul gak ngejar ketajaman dan warna
      Menang karakter bokeh biasanya
      Ada harga = ada barang 🙂

Leave a Reply MY-ers ...