The second day…

Walau malam agak susah tidur, tapi jam weker jam 4.30 pagi sudah berdering. Tanda harus bangun dan siap-siap. Jam 5 teng mulailah perjalanan menembus gelapnya dan dinginnya pagi Siem Reap. Perjalanan pagi hari ke area Angkor butuh waktu 15-20 menit. Maklum TukTuk gak bisa ngebut2 amat.

Phnom Bakheng

Saatnya menguji hasil survey sore sehari sebelumnya. Jalanan ke puncak Phnom Bakheng jangan ditanya gelap abiess, sepiiii pula. Kayaknya kalau di gondol setan disitu juga ga ada yang tau. So senter sangat disarankan untuk dibawa. Setelah perjalanan sekitar 15 menit sampailah di Phnom Bakheng. Gileeee jam segitu udah ada aja turis yang nangkring, walau hanya 4 orang. Nah kalau pagi gini enaknya adalah : bisa manjat reruntuhan, walau sudah ditulisin “No Climbing”. Dengan agak ngeri-ngeri (jatuh dan kualat) nangkringlah daku di puncak paling tinggi reruntuhan.

Posisi paling bagus memang di pojok paling kanan dari sisi yang menghadap timur. Karena di posisi inilah Angkor Wat bisa keliatan di kejauhan. Walau kalau gak beruntung (kayak gue tadi pagi) haze nya tebal sekali. Sehingga foto Angkor Wat tidak bisa sharp walau sudah dihajar dengan EF 70-200 f2.8 L IS yang terkenal superb sharp.

Mulai menyerah dengan haze yang tak kunjung hilang akhirnya matahari muncul juga. Begitu matahari sudah mulai naik tiba-tiba semua turis pulang. Tempat yang tadinya dipenuhi sekitar 15 orang menjadi sepi buanget. Cocok buat motret tentunya hehe. So ganti deh dengan EF-S 10-22 f3.5-5.6 pinjeman. Ditambah dengan CPL dan GND maka lengkap sudah proses foto memoto Phnom Bakheng.

Kesimpulan : Kalau mau moto Phnom Bakheng mendingan datang pagi. Lalu tunggu ampe para turis puas liat sunrise dan turun.

South Gate & Bayon Temple

Momen saat kamu melihat South Gate hanya ada satu kata yang keluar : “Gilaaaa”. Tempat ini cukup keren sebagai gerbang masuk ke area Angkor Thom. Melewati gerbang inilah akhirnya sampai ke Bayon Temple. Begitu melihat lokasinya nafsu makan pagi langsung hilang. Maklum, tidak ingin matahari pagi (sekitar 7.30) keburu hilang.

Bayon Temple adalah salah satu reruntuhan candi paling menakjubkan. Besarnya candi, kelengkapannya dan “Bayon Face” yang sangat terkenal mendominasi kekaguman atas area ini. Karena candi ini menhadap ke Timur maka matahari pagi sangat cocok untuk beberapa area nya. Sedangkan sebagian area lainnya cocok buat matahari sore. So kalau mau ke Bayon bisa pilih antara jam 06.00 – 08.00 atau 17.00 – 18.00. Apabila sampai disana langsung menuju lantai 3 terlebih dahulu karna disanalah matahari pagi paling berguna.

Sementara matahari pagi masih bersinar dengan lembutnya maka saya hajar habis deh memory card DSLR ku. Susah – susah gampang motret di Bayon. Maklum dominasi warna gelap membuat penggunaan metering otomatis menjadi kurang akurat. Tapi harus diakui bahwa Bayon memang luar biasa arsitekturnya. Saya merasa sangat kagum bagaimana pada era itu Khmer (melalui raja Jayavarman VII) bisa membangunnya. Arsitekturnya luar biasa detil sekaligus kompleks. Bayangkan bagaimana membuat kubah dari susunan batu raksasa, tanpa alat berat ya.

Penggunaan daylight white balance banyak membantu di area ini. Selain itu juga CPL di beberapa area-nya. Tentunya bagi pengguna mode Av perlu dilakukan kompensasi EV sampai dengan -2/3 karena dominansi warna gelap di lokasi.

Setelah matahari mulai agak tinggi dan cenderung flat cobalah turun ke lantai 2. Di lorong selasar yang ada tampak sinar matahari jatuh dalam sudut diagonal yang sangat indah. Kalau ada model pasti langsung saya tarik dia kesitu, maklum cahayanya bagus sekali buat model. Sayang kali ini travelling solo, gak ada “model” yang bisa digunakan.

Makan pagi di sekitar Bayon (dan seluruh kompleks Angkor rasanya) cukup mahal. Untuk nasi goreng (dengan sayur dan babi, gratis buah) + Air Mineral botol besar = USD 5. Lesson learned : bawa botol air sendiri, jadi cuma kena biaya makan sekitar USD 3.5, lumayanlah.

Ta Phrom

Melanjutkan perjalanan dari Bayon aku lewati dulu Angkor Thom dan pernik perniknya, disimpan buat besok. Maklum cahaya matahari sudah mulai tinggi dan flat. Gak enak banget buat motret. Langsung menuju ke Ta Phrom, lokasi yang digunakan untuk shooting film “Lara Croft – The Tomb Raider”. Rencana awalnya buat survey dulu sih.

Sesampainya disana kembali mulut menganga. Ta Phrom merupakan reruntuhan paling eksotis kalau menurut saya. Paling tidak ada 3-5 spot foto yang sangat menarik, tentunya dengan pohon raksasa yang tumbuh diatas reruntuhan candi. Pohonnya sendiri sudah sangat tua, besarrr dan tinggi. Beberapa pohon bahkan sedang diproses untuk diberi penyangga.

Sayangnya matahari sudah tinggi, sudah mencapai jam 11 siang. Jadi semua foto disana bisa dianggap “un-usable”. Aku harus kembali besok pagi-pagi sekali kesana. Selain sinar mataharinya lebih baik buat fotografi, juga turis yang ada mungkin akan lebih sedikit. Kalau sudah siang buanyak banget turis, bikin BT kalau mau motret. Apalagi kalau pas ada grup besar yang bergantian foto-foto.

Lesson learned : Ta Phrom bagusnya kayaknya dipotret pagi-pagi benar. Plus suruhlah tukang Tuk Tuk menuju gerbang satunya, karena kalau tidak maka setelah berjalan menembus Ta Phrom kamu harus balik lagi ke arah gerbang awal. Jalannya tidak memutar soalnya.

Others

Sebelum dan sesudah dari Ta Phrom sempat juga mengunjungi beberapa lokasi lain yang lebih kecil. Termasuk Sra Srang dan Banteay Kdei. Tapi kebanyakan kurang eksotis. Walau tentunya kalau sudah sampai Siem Reap dikunjungi ya why not juga sih. Alokasikan jam 10.00-13.00 untuk survey atau mengunjungi tempat yang kurang terkenal ini. Sementara matahari dalam kondisi yang kurang bersahabat juga.

Jam 13.00 – 15.30 saya kembali ke Siem Reap.l Menebus tidur yang kurang dan juga makan siang. Istirahat ini sangat penting karena masih ada 2 hari lagi yang perlu dijalani. Lagipula matahari siang kurang bersahabat di Angkor.

Angkor Wat

Akhirnya, jam 15.30 saya menuju ke Angkor Wat. Tempat tujuan wisata utama di Angkor. Memasuki kompleksnya saja sudah sangat menakjubkan. Jembatan yang melintasi danau buatan selebar 190 meter terasa sangat dahsyat. Danau buatan ini luar biasa lebar sehingga rasanya kalau jaman dulu ada pasukan yang mau menyerbu juga mikir 1.000.000 kali. Angkor Wat juga dibangun oleh Jayavarman VII dan digunakan sebagai biara. Walau posisinya yang menghadap barat mengindikasikan bahwa lokasi ini entah dibangun sebagai makam, atau digunakan untuk memuja Dewa Siwa.

Melintasi gerbang depan Angkor Wat kembali merupakan pengalaman yang menakjubkan. Selain itu di selasar dari gerbang ini tersedia lokasi pemotretan model yang luar biasa. Sinar matahari senja jatuh dalam sudut diagonal yang cantik. Angkor Wat sendiri kalau menurut saya paling cocok di foto senja, sehingga sinar matahari keemasan menyinari sudut sudutnya.

Yang saya lakukan pertama kali adalah memutari Angkor Wat, tidak naik terlebih dahulu. Pertimbangannya adalah ini lebih cepat untuk keperluan survey lokasi untuk senja nanti, dan lebih hemat energi karena tidak harus berselisih jalan dengan kerumunan turis yang memandangi pahatan di dinding Angkor Wat yang terkenal. Setelah memutarinya saya tahu bahwa di bagian belakang Angkor Wat ada lokasi yang cukup baik buat sunset nanti.

Setelah menemukan lokasi itu mulailah saya masuk ke Angkor Wat. Setiap detilnya menakjubkan. Karena sedang ada beberapa renovasi maka saya terpaksa ber-improvisasi dengan menyamarkan area yang sedang di renovasi, salah satunya dengan menutupinya dengan foreground yang sesuai, misalnya pilar.

Sayang sekali saya terlambat mencapai area teratas dari Angkor Wat. Jam 5 sore adalah saat terakhir dimana kita bisa naik melalui tangga yang super duper curam ke puncak tertinggi dari Angkor Wat (besok saya jamin akan datang tepat waktu dan naik). Naik di puncak tertinggi ini dipastikan adalah pengalaman yang tidak akan terganti.

Mendekati sunset saya ke bagian depan Angkor Wat terlebih dahulu. Sembari menunggu langit senja saya putuskan memotret Angkor Wat dari bagian depan dulu. Sayangnya kolam yang ada di dekat Angkor Wat sedang agak kering, sehingga foto dengan refleksi Angkor Wat tidak bisa diambil. Tapi sunsetnya cukup bagus sehingga dengan bantuan filter GND saya bisa memperoleh foto bangunan di dekat Angkor Wat (sepertinya di brosur ditulis merupakan area 1000 Budha) dengan background sunset.

Makin mendekati gelap saya bergegas ke area belakang untuk memperoleh langit senja dengan foreground Angkor Wat. Langitnya kebetulan tidak dramatis2 amat. Tapi tidak buruk. Pemotretannya dibantu dengan GND 0.6 + 0.9 sekaligus. Ini digunakan untuk memunculkan sedikit detil dari Angkor Wat. Tanpa GND tentunya mustahil bisa diperoleh fotonya karena kita memotret ke arah matahari terbenam, sehingga candinya tidak disinari cahaya apapun. Menunggu twilight di belakang Angkor Wat bisa menjadi pengalaman yang mendebarkan. Karena sepi banget dan hanya ada kera berkeliaran kesana kemari. Sayang twilight yang ditunggu tidak juga muncul. Jadi saya berkemas dan menuju gerbang utama, tapi di tengah jalan di sisi utara ternyata matahari senja masih meninggalkan keindahannya. Tripod saya tarik kembali dan GND saya gunakan kembali. Hasilnya tidak mengecewakan (walau ada distorsi cukup parah dari lensa 10-22).

Saya keluar sebagai salah satu dari 3 orang terakhir yang keluar dari kompleks Angkor Wat. Tanpa penerangan sama sekali berjalan keluar dari kompleks merupakan pengalaman yang cukup menggetarkan.

Lesson learned : bawa temen deh buat nungguin twilight di Angkor Wat.

Dinner time

Makan malam kali ini sembari mengunjungi Angkor Night Market. Mencoba “Beef Lok Lak” di “Noon & Night Market” cukup menarik. Masakannya mirip sapi lada hitam, tapi dengan menggunakan jeruk nipis & lada+garam+lada hitam yang kita taburkan sendiri. Dengan harga USD 5 lengkap dengan air mineral rasanya buat ukuran Angkor cukup worthed.

Puiihhhhh, udah malam lagi….dan proses pemindahan foto dari CF Card yang sudah full ke harddisk external saya belon juga kelar gara-gara nih komputer cuma ada USB 1.0 hiksssss….

Moto Yuk !!!

0 thoughts on “The second day…”

  1. lhah…lu kaga ngomong, tau gitu pake nexto extreme gua buat transfer foto wakakakakakakak…
    nungguin twilight sendirian, kalo tau tau ada cewe cantik pake baju khmer manggil-manggil gimana bro??? hiyyy syereeemmmm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *