The Prince – Leica 90mm Summicron f2 (E55)

Buat yang sudah membaca artikel saya mengenai Lensa Manual tentu sudah cukup paham bahwa lensa ini adalah lensa dengan manual focus. Sama seperti The Princess (wide) Carl Zeiss Distagon yang saya miliki. Detil teknis mengenai lensa ini bisa dibaca di sini. Saya tidak bermaksud membahas detil teknis nya lagi, melainkan lebih pandangan dari saya sebagai pengguna.

Lensa ini saya peroleh dari kaskus beberapa waktu lalu. Awalnya saya hanya mau mencoba lensa legenda ini, tapi buntutnya saya pakai juga sebagai lensa kesayangan saya kalau lagi motret orang / model.

Leica, sama seperti Carl Zeiss, adalah perusahaan lensa yang terpandang dan ada jauh sebelum Canon dan Nikon exist. Leica sendiri mendasarkan desain lensanya pada Carl Zeiss Planar. Tetapi mengembangkannya lebih lanjut sehingga memiliki karakter tersendiri yang berbeda dari carl zeiss. Semua lensa Leica terkenal dengan ketajamannya mulai dari bukaan terlebarnya. Itu prinsip dasar Leica yang membedakannya dengan kompetitor lain.

Tatkala lensa canon dengan f1.4 baru mulai “ok” ketajamannya di f2.8 (2 stop dibawah bukaan terlebar), maka lensa Leica sudah tajam mulai dari f1.4 nya. Itu pula yang menyebabkan harga lensa Leica luar biasa dibandingkan lensa sejenis (selain karena masalah prestice juga).

Nama – nama lensa leica ditentukan dari bukaan terbesarnya :

  • Noctilux – bukaan terbesar f0.95 atau f1
  • Summilux – bukaan terbesar f1.4
  • Summicron – bukaan terbesar f2
  • Summarit – bukaan terbesar f2.5
  • Elmarit – bukaan terbesar f2.8
  • Elmar – bukaan terbesar f3.5

Jadi kalau misalnya lensa 50mm summicron (atau biasa disingkat “cron”) ini adalah lensa 50mm dengan bukaan terbesar f2. Cara penamaan yang unik. Dalam satu jenis, misalnya 50mm cron, ada banyak versi. Mulai dari versi 1 (pertama kali dikeluarkan) sampai dengan versi-versi yang lebih baru. Semuanya disebut dengan nama yang sama 50mm summicron. Jadi cek dulu type berapa dan apa karakternya, biasanya ada perbedaan sedikit antar tiap versi. Tapi yang namanya Leica, semua versi juga absolut tajamnya.

Lensa 90mm summicron yang saya gunakan adalah lensa yang memang terkenal digunakan untuk pemotretan human interest. Selain karena tonalnya yang khas leica, blurnya yang bagus, juga karena focal length nya “pas” untuk keperluan itu.

Foto diatas di potret dengan menggunakan f2.8 tanpa post processing yang berarti. Karakter yang sangat khas dari lensa Leica adalah warnanya yang netral. Tidak kuning (warm), tidak pula biru (cold). Apa adanya. Itu pula sebabnya skin tone human interest menjadi sangat nyaman untuk dilihat out of the camera dengan menggunakan lensa ini.

Lihat sample yang lain :

Bokeh yang dihasilkan juga cukup smooth dan bagus. Karakter bokehnya agak berbeda dibandingkan dengan carl zeiss. Efek 3d nya menurut saya Carl Zeiss sedikit lebih baik dibandingkan Leica. Tetapi tetap lensa ini memberikan hasil yang extra-ordinary :

Lensa ini memiliki minimum focus distance 68cm. Sedikit lebih dekat dibandingkan misalnya Canon EF 85mm f1.2 yang memiliki MFD 95cm. Hal ini membuat kita bisa membuat foto dengan pembesaran cukup lumayan (lihat foto rumput2 hijau diatas) dan bokehnya tentu saja jadi bisa lebih halus dengan jarak MFD yang lebih dekat ini.

Memegang lensa ini di tangan rasanya seperti memegang balok besi. Bahkan Carl Zeiss pun kalah dalam hal build quality dari lensanya – jangan tanya dimana posisi canon dan nikon dalam hal build quality. All metal. Kelemahannya? Tentunya lebih berat. Tapi untuk dia terbantu dengan kualitas optik Leica yang superb. Sehingga dengan ukuran lensa lebih kecil hasilnya tetap maksimal. Leica 90mm summicron ini memiliki filter thread 55mm – bandingan dengan lensa EF 85mm f1.2 yang filter thread nya mencapai 72 mm.

Ukuran filter thread tercermin dari ukuran lensa sendiri. Leica 90mm memiliki dimensi : 59 x 70mm – sedangkan EF 85 f1.2 memiliki dimensi 91.5 x 84mm. Leica memiliki berat 550 gram dan EF 85mm 1.025 gram. Bayangkan sendiri bagaimana memegangnya. Walau berat karena all metal, tetapi karena ukurannya kecil maka lensa ini relatif nyaman untuk dibawa-bawa.

Overall saya puas dengan lensa ini. Tajam, netral warnanya, bokehnya menarik, build quality ok, cukup ringan. Recommended untuk mereka yang suka pemotretan model / human interest dengan focal length semi-tele.


15 thoughts on “The Prince – Leica 90mm Summicron f2 (E55)”

  1. interesting.. ke canon nya jadi pake adaptor lagi? cari” di kaskus ga ada nih, padahal pengen coba fl segitu, secara blm punya 85-nya canon, might as well tried 90 leica 😀 oh well

    1. Yup pake adapter, banyak koq adapter nya. Lensa ini emang agak jarang muncul, kalau lagi muncul juga agak mahal. So kemaren “hoki” dapat barang bagus dan lumayan murah. Karakternya aja beda dengan canon 85, ketajaman sih boleh diadu. Canon 85 juga mantap.

  2. damn.. nemunya malah yg summilux wkwkwkw kaget denger harganya. sold my distagon 35 f2 (remember?) recently. thinkin of tryin leica now.. was gonna use the money for x100, but I reckon a leica lens will be worth it more.

  3. udah terima Summicron, tp belum sempat dibawa jalan-jalan nih. Ganti focusing screen jadi EgS juga, buset dah, diatas f2.8 bener” gelap. Jadi harus ganti-ganti deh soalnya 5D gw masih dipake buat kerjaan juga -_-” anyway, will let you know soal lens performancenya later. Btw, cron 90 nya kalo mau dilepas bole kasi info yah 😀 siapa tau cocok.

    1. wuihhh langsung hajarrrr. Hahaha. Share nanti hasilnya ya. Kalau mau nulis artikel review juga boleh lho, kirim aja ke email nanti aku muat.

      Prince cron? hemmmmmmmmm nunggu lamaaaaaaa kayaknya lu haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *