The OverRated King, Leica M System

Saya sungguh penasaran dengan sistem rangefinder, terutama Leica M, semenjak membaca mengenainya di web milik Steve Huff. Saya baca semua soal sistem Rangefinder, bagaimana dia berbeda dengan sistem SLR. Saya juga banyak melihat sample milik banyak orang yang di jepret menggunakan Leica M – baik M7, M8 maupun M9. Kebetulan pula saya dapat kesempatan menjepret sebentar menggunakan M9 dan 35mm beberapa bulan lalu. Saya menuliskannya disini.

Tapi rasanya saya tidak akan pernah bisa memahami nya, dan mendapatkan pengalamannya kalau saya tidak memegang langsung, menggunakannya dan juga memahaminya benar. Oleh sebab itu beberapa waktu lalu saya merogoh kocek dalam dalam dan membeli second-hand sebuah Leica M8 dengan lensa 50mm summicron f2 nya. Keputusan yang nekat, tapi saya yakin sembari menjualnya kembali saya bisa mendalami dan memahaminya. Kemudian berbagi ke teman-teman MY-ers semua apa sebenarnya Leica hype itu … apakah benar-benar worthed ?

Kesan Pertama

Cantik … itu adalah kesan yang paling pertama waktu saya memegang dan melihatnya di tangan saya. Desainnya yang retro dan vintage sungguh indah. Semua detilnya dibuat presisi. All metal. So, ya, dia tidak seringan yang dibayangkan. Mungkin body nya setara dengan DSLR kelas profesional. Tapi yang membedakan beratnya adalah nanti lensanya.

Karena presisi dan keindahannya maka kamera ini juga terasa sangat reliable dan built for decade. Serasa bertahun tahun lagi pun kamera ini akan masih tetap bagus dan indah dan kuat. Sangat berbeda feelnya dengan memegang DSLR yang kebanyakan dibuat dari plastik. Bahkan 1Ds Mark III pun terasa cheap saat kita sudah memegang body kamera ini.

Bagian dalam lensanya dibuat dengan presisi pula. Kalau kita melihat bagian belakang lensa ini terlihat ulir ulir halus yang dibuat untuk jalur focusing ring. Yup, focusing ringnya diputar di atas ulir-ulir yang dibuat sangat halus dan presisi. Karena saya pernah belajar soal hal ini saya tahu bahwa untuk membuat ulir se-presisi ini dibutuhkan mesin yang sangat mahal dengan tingkat toleransi sangat rendah.

Kurang ergonomis … ini kesan selanjutnya saat memegangnya. Well pada akhirnya saya membeli sebuah Thumbs Up yang membuat M8 ini terasa jauh lebih nyaman dan ergonomis. Tapi awalnya karena M8 ini ibarat bongkahan besi, lensa juga super mungil, maka tangan kita serasa tidak ada pegangan. Serasa seluruh system ini bisa meluncur dari tangan saya kapan saja. Kudos buat Tim Isaac si designer Thumbs Up …. it really works.

Lensa sistem M yang mungil, baik merek Leica – Carl Zeiss – Voigtlander, tidak memungkinkan kita meletakkan tangan kiri kita di bawah lensa – menyangga lensa seperti umumnya di DSLR. Seluruh beban kamera ditahan oleh tangan kanan. Sementara tangan kiri hanya memutar focusing ring (yang btw sangatttt mulus dan lembut). Oleh sebab itu Leica M tanpa thumbs up menurut saya sungguh tidak nyaman di pegang.

Saat menyiapkan kamera ini untuk di jepret pertama kali saya harus memasukkan batere ke dalam kompartemen. Tapi design “luar biasa” (dan merepotkan) Leica M mengharuskan kita melepas satu plat di bagian bawah body, sebelum kita bisa memasukkan batere dan SDCard. Agak repot, tapi hasilnya secara desain sangat indah dan mulus. Tidak ada pintu-pintu di seluruh body kamera.

Kamera menyala … berikutnya adalah menu. Berbeda dengan menu di DSLR yang panjang dan berlapis-lapis, Leica M sangat sederhana. Hanya ada beberapa baris menu saja yang bisa dipilih. Tidak ada tuh picture style, highlight alert, picture orientation, peripheral illumination correct, dll. Sangat sederhana dan straight to the point. Hal ini di tambah dengan kemampuannya menghasilkan foto yang “tepat” almost everytime membuat saya menyukainya. Saya jarang sekali masuk ke menu pada saat menggunakan kamera ini. Sekali setup dan selanjutnya saya fokus hanya pada aperture & komposisi.

LCD juga sangat “cemen” – maklum hanya 230.000 pixel. So, saya bahkan tidak mau repot melihat hasil saya di LCD hahaha. Saya hanya sesekali melihat nya, sisanya saya percaya sistem M ini menghasilkan foto yang tepat secara exposure. Jadi pada akhirnya saya menon-aktifkan auto-preview pada Leica M8 saya.

Kesan pertama saya pada lensa-lensa M system berbeda. Saya sungguh sungguh kagum dengan cantiknya desain luar dan terutama ukurannya yang superrrrr kecil. Bayangkan lensa 50mm f2 dengan ukuran filter hanya 39mm (canon 50mm f1.8 yang super murah saja filternya 58mm) – sangat kecil, sangat ringan, tapi tetap presisi dan terasa kokoh. Bahkan saya sempat melihat lensa Leica 75mm f2.5 summarit yang tetap kecil (tingginya hanya sekitar 10cm dengan diameter sekitar 5cm) – sangat mungil dibandingkan lensa DSLR & mirrorless umumnya.

PS : saya terus merasa bahwa Leica M ini terutama indah buat di foto, lebih daripada buat memoto hahaha

 

Kesan Kedua …

Setelah belajar untuk focusing dan menggunakannya (PS : awalnya ribet, tapi lama-lama terbiasa juga) maka saya coba untuk memotret menggunakan sistem super mahal ini. Hasilnya mengejutkan saya, paduan antara sensor CCD tanpa anti alias di Leica M8 + lensa Leica yang desainnya memang mengharuskan tajam sejak aperture paling lebar, menghasilkan ketajaman yang luar biasa.

Click for larger image

Yup, hasil diatas dihasilkan oleh paduan ganas Leica M8 dan Leica 50mm summicron, di bukaan terlebarnya f2. Menggunakan f2.8 dan f4 hanya meningkatkan ketajamannya sedikit + kontrasnya. Tapi lensa ini sudah super tajam sejak dari bukaan terlebarnya. Suatu paduan yang mengerikan.

Jangan pernah melihat hasil Leica M8 di LCD nya. Sungguh menipu. Hasil sebenarnya jauhhhhh lebih tajam di layar monitor. Wajar karena LCD nya sungguh cemen seperti saya bilang tadi di atas. Percaya saja kalau focusingnya tepat maka lensa ini akan menghasilkan hasil yang dahsyat.

Apakah hanya masalah lensa? Apakah lensa yang sama dipasang di Sony NEX misalnya akan menghasilkan hasil yang sama? Tidak juga, sensor M8 yang menggunakan teknologi CCD (bukan CMOS seperti kebanyakan sekarang) sudah menjadi faktor pembeda tersendiri. Belum lagi tidaknya dipasang filter anti alias di depan sensor (filter ini mengurangi dampak Inframerah pada hasil foto – tetapi mengurangi ketajaman gambar – digunakan di semua DSLR dan kamera moderen). Akibatnya memang M8 butuh filter UV-IR (yang belum saya pasang juga) di depan semua lensanya. Kalau tidak maka warna kain hitam menjadi agak keunguan.

Tidak hanya masalah ketajaman sebenarnya. Saya merasakan system ini (at least 50mm summicron yang saya gunakan) memberikan tonal yang vintage & classic – langsung dari kamera (JPEG).

Ya, ada post processing pada foto diatas dan dibawah ini. Tapi tidak banyak, hanya membuka file DNG (RAW yang dihasilkan Leica) dengan Adobe Photoshop, tekan Auto, dan selesai. Warnanya kalau kalimat saya : “desaturate, tetapi masih saturated. Kontras dan sekaligus mendem” alias sering disebut para penggemar Leica : Classic Leica Glow.

Lihat detil dan juga warna yang dihasilkan. Kamera moderen menghasilkan warna yang agak berbeda. Kontras nya juga berbeda. Saya sangat menyukai paduan system ini buat motret hal-hal yang vintage, misalnya rumah / bagian bangunan yang tua, orang yang punya karakter tua/vintage, dll. Semua warna dan karakternya makin kuat terasa.

Salah satu kelebihan lain sistem ini (yang saya rasa sebenarnya bisa diperoleh dari sistem mirrorless) adalah portabilitasnya. Saya suka bisa membawa-bawa kamera ini di tas saya kapanpun (karena beratnya yang jauh lebih ringan dibanding DSLR). Sehingga saya tidak kehilangan kesempatan memotret hal-hal menarik. Saya ingat salah satu quotes yang bilang :

“The Best Camera is The One That With You”

So true … terutama buat mereka yang genre fotografi nya adalah street / still life / candid. Coba lihat apa yang saya peroleh saat jalan-jalan di mal dan melihat pembukaan toko roti baru.

Atau saat anak saya mencoba memotret saya (saya akan kehilangan momen ini dengan DSLR karena sistem ini terkunci di dalam lemari kamera saya dan bukan berada di dalam tas saya). PS : Post processing dengan Adobe Photoshop – auto RAW Convertion + Curve Vintage + Vignette.

Momen seperti ini yang sulit bisa di dapatkan. Sama halnya dengan foto papan papan toko & gembok yang sebelumnya, itu diperoleh di sepanjang perjalanan saya menuju kantor. Hanya sebuah toko tua, dipinggir jalan, yang tidak diperhatikan orang. Tapi saya melihatnya, dan kamera saya ada di tangan saya. Foto yang pertama bahkan di foto dari dalam mobil (dengan jendela saya turunkan tentunya) saat mobil menunggu macetnya Jakarta.

Foto lain yang saya buat di dalam mobil sepanjang perjalanan saya ke kantor :

 Kelebihan lain dari sistem ini adalah karena shutter lag (waktu antara tombol shutter ditekan sampai dengan kamera benar-benar mengambil gambar) hampir nol. Jadi apapun yang kita lihat di viewfinder dan kita jepret akan di foto pada detik itu juga. Sementara viewfinder nya sendiri tidak mengalami blackout (kondisi dimana viewfinder menjadi hitam gelap karena mirror terangkat di DSLR). Hal ini membuat kita tetap bisa melihat seluruh momen berlangsung.

Saya setuju dengan kebanyakan penggemar Leica yang bilang bahwa viewfinder dari rangefinder adalah salah satu kelebihan utamanya. Viewfindernya terang dan jelas, selain itu saya suka dengan berbagai frame yang ada di viewfinder Leica.

Leica M8 (dan M9) menggunakan frame ganda. Jadi pada foto disamping garis paling luar adalah batas framing untuk lensa 50mm, sedangkan yang lebih dalam adalah untuk lensa 75mm. Kotak yang ditengah adalah kotak untuk membantu focusing.

Selain frame 50-75, ada juga frame 24-35 dan 28-90. Kita bisa mengubah-ubah frame ini saat kita sedang memotret, sehingga kita bisa “membayangkan” kalau situasi yang sama di foto dengan menggunakan lensa yang berbeda. Sangat menyenangkan buat saya.

Selain itu di luar frame masih disisakan area, bahkan di 24mm yang relatif paling besar frame nya. Akibatnya kita bisa melihat apakah kita perlu menggeser framing kita. Tidak seperti DSLR yang rata-rata viewfinder nya hanya 95-100% maka Leica M memberikan viewfinder 110-150% dari kemampuan lensanya. Enak untuk komposisi kalau menurut saya.

Walaupun demikian akurasi kotak frame ini tidaklah sepenuhnya akurat. Saya rasa kotak frame yang ada di viewfinder itu sekitar 95-98% dari real yang akan di jepret oleh Leica M.

Oh ya, Leica M adalah sistem yang mengandalkan banyak sistem manual. Untuk aperture kita memilihnya di body lensa, dan kita tidak bisa melihat dampaknya sampai foto di jepret. Focusing dilakukan juga dengan manual. Agak berbeda dengan DSLR manual lens yang mengandalkan mata kita untuk melihat sudah tepat focus atau belum, maka rangefinder mengandalkan 2 gambar yang ditumpuk di bagian kotak tengah. Apabila 2 gambar tersebut tepat jadi satu maka itu artinya focus. Agak ribet di awal belajarnya, tapi enak untuk motret di low light.

 

Kesimpulan so far …

So, apa kesimpulannya sejauh ini? Walau sistem ini bisa menghasilkan tonal yang cantik dengan kontras nya yang khas, plus sistem ini juga membuat MY-ers super keren, tetapi saya merasa sistem ini over-rated (berlebihan). Sungguh ini adalah sistem terbaik buat street & jurnalistik yang pernah saya temui, plus rangefinder sendiri memberikan pengalaman yang berbeda dengan DSLR (dan memperkaya ilmu fotografi saya). Selain itu ini adalah system yang tidak sekedar kamera, melainkan layaknya barang koleksi buat saya.

Tetapi, ukurannya yang kecil dan portable sehingga bisa menghasilkan foto di banyak kesempatan saya rasa bisa di capai dengan memiliki kamera mirrorless. Baik Sony NEX (sehingga tetap bisa menggunakan lensa Leica M – dan mendapatkan sedikitttt Leica Glow), atau Fujifilm X1 / X100 (kabarnya sistem ini meniru sistem Leica sehingga classic tone muncul juga di hasil sistem ini).

So, sementara memasang sistem ini untuk dijual di bursa (ada yang berminat?) saya akan terus menggunakannya. Setelah terjual mungkin saya akan mencoba sistem Fujifilm – kita lihat nanti perbandingannya seperti apa.

Tapi at least saya sudah pernah mencoba sistem ini, keren-indah-very much collectibles-cool dannnn Leica Glow. Tapi rasanya bukan buat saya saat ini …

PS : Ini kayaknya riset saya yang paling mahal so far HAHAHAHAHA – well, hidup hanya sekali, masak tidak pernah mencobanya sama sekali, ya kan?





15 thoughts on “The OverRated King, Leica M System”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *