Teknik memotret bunga

[REPOST] – Ini sharing ilmu yang diperoleh dari Om Jeffry Surianto, maestro Macro dan Bunga. Kebetulan aku mendapat kesempatan emas belajar dari beliau.

Persiapan

Sebagai materi tentunya kita perlu membeli bunga segar. Bunga segar disimpan sesuai dengan aturan penyimpanannya, misalnya Tulip harus disimpan di ruangan ber-AC sebelum dikeluarkan untuk difoto. Jenis bunga yang akan di foto bisa beragam sesuai dengan keinginan.

Sebagai background bisa digunakan papan yang dilapisi kain beludru (misalnya hitam). Kenapa beludru? Karena kain ini serapan cahayanya paling baik, jadi tidak memantul.

Teknik

Aku tidak akan membahas mengenai teknik dasar seperti angle pemotretan, apperture yang digunakan agar DOF-nya dapat, ISO yang digunakan agar tidak noise tapi masih dapat speed-nya, dll. Pembahasan ini khusus ilmu yang “berbeda” dibandingkan pemotretan biasa.

Pencahayaan pada pemotretan bunga diusahakan adalah dari cahaya alami / window lighting. Hal ini dikarenakan menggunakan flash akan membutuhkan kontrol yang lebih sulit untuk mengeluarkan warna pada bunga, kebanyakan akan pucat. Selain itu gunakan white balance “daylight” dan bukan auto-white balance agar warnanya tidak salah.

Teknik yang diajarkan Om Jeffry adalah dengan melakukan pemotretan under-exposure terlebih dahulu. Untuk melakukan ini umumnya dibutuhkan Mode Manual pada kamera. Lakukan beberapa kali percobaan sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan, yaitu keseluruhan foto agak gelap dan tidak ada area over-exposure sama sekali.

Hasil yang akan kita peroleh adalah seperti dibawah ini :

Tulip07_IMG_3842 before
Canon EOS 40D | EF 100mm f2.8 Macro | Manual Mode | f11 | 1/100 secs | ISO400

Setelah itu maka post-production akan dilakukan, bisa menggunakan Adobe Photoshop atau GIMP (freeware) seperti yang saya gunakan. Kenapa kita butuh post-production? Karena sensor kamera tentunya tidak secanggih mata + otak kita, sehingga kita perlu melakukan adjustment pada foto. Bukan untuk membuatnya surealis / tidak seperti aslinya, tapi lebih membuatnya nampak seperti yang mata kita lihat, terutama dalam hal dynamic range-nya.

Proses yang dilakukan pertama – tama adalah menggunakan “Auto-Contrast” / “Auto – Strect HSV” di GIMP. Proses ini akan mengeluarkan warna-warna yang “terpendam” pada foto. Dilanjutkan dengan menggunakan kontrol “Level” dan “Saturation” jika diperlukan.

Tulip07_IMG_3842 step 1
Sesudah proses Auto Strecth HSV dan Kontrol Level

Setelah itu prosesnya agak manual, yaitu melakukan “Burning” terutama di area daun agar lebih gelap sedikit. Gunakan kuas tipis dengan type “Overlay” dan warna hijau untuk memperkuat sedikit saja warna hijau daun pada tulip, ingat bahwa warna daun tulip memang tidak hijau tua.

Selain itu gunakan “Dodging” terutama di area dekat kelopak bunga dan bagian bawah bunga yang gelap. Ini untuk menambah dynamic range dari foto lebih jauh. Jangan lakukan berlebihan, ingat bunga aslinya seperti apa ditangkap oleh mata kita. Aplikasikan “Burning” dan “Dodging” pada midtones foto agar lebih sempurna.

Terakhir lakukan resize sesuai kebutuhan (biasanya aku resize menjadi maximum 800 pixels dengan resolusi 300 dpi). Setelahnya lakukan penajaman gambar menggunakan filter “Sharpen”. Dan berikut adalah hasilnya :

Tulip07_IMG_3842small
Hasil akhir setelah Dodging, Burning, Resize dan Sharpening

Saya tahu belum sempurna 🙂 tapi at least it’s a start. Semoga berguna ya


15 thoughts on “Teknik memotret bunga”

  1. bang mau ngga join like ke fans page ku di facebook.
    soal nya foto” kamu keren bang. itu gimna bang biar join ke web ini fans page saya di facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *