Tag Archives: x pro1

I’m New To Fuji … what should I do ?

Sengaja di tulis buat teman-teman yang (ngaku-nya) keracunan Fuji dan akhirnya membeli. Ini adalah beberapa hal yang saya lakukan dengan Fuji X Pro1 milik saya. Siapa tahu bisa digunakan.

 

Operasional Exposure & Warna

Fuji tidak memiliki menu / tombol untuk memilih mode, misalnya Av, Tv atau manual. Tetapi Fuji memusatkannya pada kontrol luar :

  • Untuk mengatur aperture, putar ring aperture yang ada di lensa. Angka yang dipilih adalah angka aperture yang akan digunakan. A adalah untuk Auto aperture – alias nilai aperture dipilih oleh kamera.
  • Apabila lensa mu adalah lensa zoom (misalnya 18-55) maka tidak ada angka di ring aperture lensa ini. Ring ini merupakan ring yang berputar 360 derajat – setiap putaran memberikan sinyal pada kamera untuk mengubah aperture 1/3 stop. So, putar dan lihat aperture yang terbentuk di viewfinder / LCD. Ada tombol tersendiri untuk memilih Auto (A).
  • Di bagian atas kamera ada pilihan shutter speed. Kembali A adalah untuk Auto.
  • Jadi apabila :
    • Aperture dipilih, shutter speed Auto = Mode Av
    • Shutter speed dipilih, aperture Auto = Mode Tv
    • Kedua aperture dan shutter speed dipilih = Mode M
    • Kedua aperture dan shutter speed Auto = Mode P

fuji xt1

Selain itu ada tombol untuk kita memilih Exposure Compensation (EV) – dimana Ev negatif artinya akan mengkompensasi metering dan membuat foto lebih gelap, dan sebaliknya.

Continue reading I’m New To Fuji … what should I do ?

Some hidden secrets in Fuji X

Setelah menggeluti Fuji X Pro1 selama beberapa bulan ada beberapa hidden setting yang akhirnya saya temukan. Sedikit share .. siapa tahu bisa berguna buat para pengguna X Series.

Wheelock Palace

Fuji X Pro1 + XF 18-55 f2.8 – 4 | 18mm | f8 | iso6400 | 1/5 seconds | Fuji Velvia | Daylight WB | Sharpness +1 | Noise Reduction -1 | Handheld

 

Flash vs Silent Mode

Saat mencoba flash Fuji X20 saya tidak bisa menggunakannya, flash tidak mau menyala sama sekali dan tidak bisa di kontrol. Sempat bingung kenapa masalahnya, apakah flash nya bermasalah, atau body kamera bermasalah, atau ada setting yang bermasalah.

Ternyata masalahnya adalah : Silent Mode dalam kondisi ON

Fuji ternyata berpikir bahwa kalau kita sedang dalam kondisi silent maka tidak masuk akal kita menggunakan flash. Karena dengan demikian kita akan langsung ketahuan. So, pastikan silent mode dalam kondisi OFF apabila kita ingin menggunakan flash.

Continue reading Some hidden secrets in Fuji X

Full Resolution Files – dari Fuji X Pro1 dan XF 35mm f1.4

Buat yang doyan melototin full resolution 100% (yang kadang gak terlalu penting) dari kamera dan lensa, silahkan saya upload beberapa file nya di Flickr saya berikut ini.

FULL RESOLUTION FLICKR ALBUM

Memang tidak sepenuhnya bisa digunakan sebagai perbandingan karena ini foto bukan dalam kondisi pencahayaan terkontrol (studio dengan tripod dll) sehingga iso bisa serendah mungkin dan tidak ada shake / miss-focus. So, mohon dipahami kalau ada sedikit shake atau noise dll begitu sudah di zoom 100%.

Tapi ini masuk akal menurut saya, karena ini foto real di lapangan. Kondisi indoor tetapi masih ada cahaya yang memadahi. Dimana subyek juga tidak duduk diam seperti patung. Bukankah ini fungsi utama kamera kita nantinya? Hehehe… semua foto dibuat dengan wide open (f1.4) dan Sharpness +1 di kamera – semua Straight out of Camera (SOOC)

Yah, paling tidak memenuhi hasrat buat mereka yang penasaran kenapa saya jatuh cinta dengan Fuji X Series hahaha.

PS : untuk melihat EXIF dan juga full resolution image bisa click di kanan bawah foto tersebut di Flickr (…)

Fuji X Comparison made simple

Ada banyak pertanyaan mengenai Fuji X series mana yang tepat untuk dibeli. Sayang nya tidak ada jawaban yang pas buat semua orang. Semua kembali lagi tergantung pada mau digunakan seperti apa.

Saya akan summary sedikit mengenai perbedaan – perbedaan yang ada dalam artikel ini. Tetapi saya tidak membahas super detil mengenai specs comparison, untuk itu silahkan googling atau cek website Fuji berikut ini.

Comparison3

Continue reading Fuji X Comparison made simple

JKT – Bogor PP with Fuji X Pro1

Hasil jalan jalan bersama rekan-rekan my-ers naik kereta api dari Jakarta Kota ke Bogor. Sayang sekali di bogor hujan seharian *nangis bombay

Tapi ini layak di ulang. Experience nya asyik dan obyek human interest maupun street nya banyak.

 

Samples of Fuji X Pro1

Berikut beberapa sample lain lagi dari X Pro1 dari hasil hunting beberapa waktu lalu, dan juga hasil jalan jalan ke tanah kosong dekat rumah hari minggu siang.

 Devina_DSCF1400-web

Saya pernah baca bahwa lensa XF 35/1.4 yang saya gunakan untuk foto di atas memiliki render bokeh yang mirip dengan leica 50 lux. Hal ini dikarenakan saat fuji mendesain lensa ini mereka memang berniat mencuri hati para pengguna Leica Rangefinder. I just love how the bokeh being rendered by this lens …. lihat detil di jala jala di kanan bawah dan juga background nya

Lensa lain yang menjadi pencuri hati banyak pengguna Fuji X adalah XF 14mm. Lensa ini mungil, tetapi super tajam dan mantap.

Sample-1

Pada foto di atas kita bisa lihat file kiri (Straight-Out-Of-Camera) hasil keluaran langsung dari kamera JPEG nya sudah sangat mantap. Detilnya dapat. Dynamic range nya bagus (walau memang ada peran dari GND Soft – tetapi umumnya GND Soft pada jam 2 siang hanya bisa membantu sedikit). Dengan menambahkan sedikit S-Curve maka kita dapat kontras yang nendang di foto kanan.

Continue reading Samples of Fuji X Pro1

Speed / Turbo Booster

Salah satu kendala yang sering dihadapi oleh pengguna sensor non full-frame adalah focal length yang ter-crop (sehingga tidak wide) dan/atau bokeh yang kurang nendang (karena area pinggir ter crop). Akibatnya orang berlomba lomba membeli DSLR / mirrorless full frame, dengan harga yang menjulang.

Metabone adalah salah satu perusahaan inovatif yang memanfaatkan kebutuhan ini. Awalnya mereka hanya memproduksi adapter sehingga lensa lensa tua / manual focus bisa digunakan di kamera moderen. Tetapi belakangan mereka mengeluarkan satu produk yang disebut dengan Speed Booster.

metabones-speedbooster-m43

Untuk memahami cara kerja speed booster ini maka kita bisa memahami nya sebagai kebalikan dari Tele Converter (TC).

Continue reading Speed / Turbo Booster

Fuji XF 23mm & 14mm samples

Berikut adalah beberapa sample penggunaan dari lensa XF 23mm f1.4 dan XF 14mm f2.8 (body X Pro1). Silahkan click untuk resolusi 1280 pixel max (maaf gak gede gede amat … habisin storage server).

 

XF 23mm f1.4

Sample-23-DSCF1667

23mm – f1.4 iso400 (auto) 1/240secs – BW film simulation + S-Curve for contrast in Photoshop
 

Sample-23-DSCF1593

23mm – f1.4 iso200 (auto) 1/34secs – Standard Provia film simulation
 

Sample23-DSCF1671

23mm – f1.4 iso400 (auto) 1/100secs – BW film simulation + S-Curve for contrast & Vignette in Photoshop
 

Overall : 

  • Focal length yang mantap untuk street, must have kalau suka street style. 35/1.4 agak terlalu tele dan ketat untuk memasukkan scene dalam foto. 23mm ini pas sekali.
  • Body mantap, as always with XF lens, all metal. Ukurannya memang agak besar, tapi masih pas – walau saya berharap sedikit lebih kecil lagi, seperti XF 14mm lah
  • Ketajaman optik mantap, warna jozz (lihat yang contoh warna no.2), bokeh halus, very nice transisi nya. Smooth like butter.
  • Apakah XF23/1.4 atau X100? Mengingat harganya mendekati. Kalau butuh body tambahan dan tidak butuh f1.4 (merasa cukup dengan f2) maka bisa pilih x100 saja. Tapi ingat bahwa di APS-C sensor maka bokeh berkurang ya, f1.4 milik XF23mm ini paling setara sekitar f2. Sedangkan f2 hanya setara dengan f2.8 di Full Frame.

 

XF 14mm f2.8

Sample-14-DSCF1702

14mm – f2.8 iso200 (auto) 1/40secs – Standard Provia film simulation + Vignette in Photoshop

 

Sample-14-DSCF1705

14mm – f2.8 iso250 (auto) 1/30secs – Standard Provia film simulation
 

 


Fuji X Pro1 Review – Part 2 (The Tone)

Kebetulan kantor mengadakan acara hunting model bersama. Di kesempatan ini saya sempat mencoba ganasnya tajam dan tonal Fuji X Pro 1 dengan lensa 35/1.4 nya. Berikut adalah beberapa sample, semua cenderung tidak terlalu banyak di post pro – relatif sudah “jadi” dan di potret dengan 35mm wide open di f1.4

Devina Rebecca

Ini menggunakan film simulation jenis Astia – yang di gadang gadang memang sangat cocok buat model di outdoor condition. Dengan tonal yang soft dan kontras yang lembut. Enak sekali digunakan untuk pemotretan ini (kondisi agak cloudy – AWB digunakan).

Continue reading Fuji X Pro1 Review – Part 2 (The Tone)

Fuji XTrans Sensor

Beberapa my-ers mungkin belum terlalu paham apa bedanya Fuji dengan mirrorless pada umumnya. Sebenarnya kehebohan nya bukan dikarenakan bentuknya yang classic, atau karena harganya yang premium, atau yang lain. Tapi lebih karena sensor jenis baru yang di buat oleh Fuji, X-Trans CMOS sensor, yang di sebut sebut sangat tajam.

Jadi sensor tradisional yang digunakan DSLR dan mirrorless lain hingga saat ini mengadopsi susunan pixel RGB (dengan 1 pixel terdiri dari 1 sensor Red, 1 sensor blue dan 2 sensor Green).

Normal sensor

Susunan ini repetitif, sehingga mudah diproduksi dan mudah pula di proses (de-mosaicing – mengubah RAW menjadi JPEG). Oleh karenanya semua produsen menggunakan jenis sensor ini.

Tetapi susunan ini bukannya tanpa masalah. Karena repetisi nya maka dalam kondisi pemotretan pattern halus tertentu muncul lah Moire Pattern yang hasilnya tidaklah indah.

moire

Oleh karena itu “jalan pintas” yang diambil para produsen adalah dengan menggunakan filter anti alias. Percaya atau tidak filter yang diletakkan di depan sensor ini bertujuan mengaburkan sedikit hasil foto. Ya, jadi produsen secara sengaja (demi menghindari moire pattern) sebenarnya membuat sensor mereka sedikit lebih blur / tidak tajam.

normal sensor 2

Continue reading Fuji XTrans Sensor