Tag Archives: twilight

(AU) Cremorne Wharf, Sydney

Salah satu lokasi untuk memotret pemandangan kota Sydney yang tidak banyak orang tahu terletak hanya sekitar 15 menit perjalanan menggunakan Ferry dari Circular Quay. Lokasinya ada di dekat dermaga Cremorne (Google Map Coordinate : -33.847853, 151.230895).

Cremorne - Burning SunsetDari Circular Quay kita bisa ambil ferry di dermaga 6, menuju Cremorne. Kendalanya cuma ferry ini agak jarang, satu jam sekali. So hati hati dalam merencanakan perjalanan. Lebih baik berangkat lebih awal daripada telat. Ada 2 lokasi pemotretan, satu ada di sebelah kanan begitu kita keluar dari dermaga (Google Map Coordinate : -33.848655, 151.232875). Kendala dengan lokasi ini adalah terhalang dengan beberapa batang pohon dan juga agak sulit memotret di tebing nya. Bonus nya : Ada mercusuar kecil yang bisa jadi obyek menarik. Continue reading (AU) Cremorne Wharf, Sydney

Cuaca dan Cahaya

Pernah dengar pepatah “It’s not the gun, it’s the man behind the gun” ? – pepatah yang paling sering digunakan untuk mengatasi “perang brand” di fotografi. Hehehe. Tapi sebenarnya bukan cuma “gun” dan juga “man behind the gun“, tapi juga “the bullet” yang digunakan. Dalam fotografi saya menyamakan si peluru ini dengan cahaya. Baik cahaya buatan maupun cahaya alam. Cahaya memiliki peran yang sangat penting, karena moto tidak lain adalah painting with the light.

Kedua foto dibawah ini diambil di lokasi yang sama KLCC, Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia. Tanggal pengambilan juga sama. Tetapi keduanya bisa menampilkan warna yang sungguh berbeda :

Foto pertama diambil sekitar jam 18.41 dan foto kedua diambil pada jam 18.59. Berbeda hanya sekitar 18 menit, tetapi lihatlah background langitnya, sungguh berbeda. Tentunya ini bukan kerjaan di Photoshop, melainkan karena cuaca yang berubah saja.

Foto pertama diambil pada saat twilight, dimana cahaya utama datang dari matahari yang sedang terbenam, membias di langit dengan sudut sangat rendah sehingga menciptakan warna biru tua. Sedangkan foto kedua cahaya utama nya adalah bulan purnama yang sedang tertutup awan, akibatnya adalah warna coklat terang cenderung merah.

Kedua foto ini menunjukkan bahwa cahaya sangat mempengaruhi hasil akhir foto landscape, demikian pula dengan cuaca. Selisih beberapa menit saja pemadangan bisa berubah drastis. Oleh sebab itu kesabaran menunggu momen yang tepat (dan tentunya keberuntungan berada di lokasi yang tepat pada saat itu) sangat mempengaruhi. Selain itu kecepatan melakukan setting kamera dan mengambil gambar juga sangat menentukan. Kalau kita masih sibuk bertanya kenapa kamera ku begini dan begitu, bagaimana setting ini dan itu maka momen akan lewat demikian saja.

Jadi, pahami benar cuaca di lokasi, sabar menunggu momen dan pahami benar karakter kamera dan lensa yang motoyuk-ers miliki. Semua kamera dan lensa (walau dari merk yang sama) memiliki karakter yang berbeda. Pahami benar hal itu, sebelum membeli perangkat baru lagi.

PS : Kedua foto diambil menggunakan 5dMarkII + 24-105 f4 L IS @ 24mm

Foto 1 : f22 | 25 secs | ISO50

Foto 2 : f16 | 13 secs | ISO100



Thailand & Singapore – A Quick Trip

Perjalanan wisata bersama keluarga / kantor seringkali tidak memungkinkan kita membawa peralatan berat. Saya sendiri pernah mengalaminya baru-baru ini. Dalam perjalanan ke Thailand selama total 10 hari saya harus travel light karena pergi bersama keluarga yang tidak suka memotret. Sedangkan di perjalanan kedua saya ke Singapore bersama rekan-rekan kantor. Perjalanan ke Singapore kali itu cukup “aneh” karena hanya daytrip, pagi nyampe malam pulang. Tentunya saya juga harus travel light.

Berikut peralatan yang saya bawa :

  • Canon 5d Mark II – kalau ada kamera lain yang lebih ringan dengan senang hati tentunya akan saya bawa, misalnya Canon 1100d atau mirrorless system seperti Sony NEX-3/5 atau Olympus E-P2
  • Canon EF 17-40mm f4 L (Singapore) – karena saya tahu saya akan membutuhkan lensa super wide untuk pemotretan Marina Sands Bay
  • Canon EF 24-105mm f4 L IS (Thailand) – karena saya butuh lensa all-round yang bisa digunakan untuk banyak hal tetapi tetap ringan dan berkualitas
  • Filters – GND & CPL – ini sih tidak terlalu berat, jadi daripada menyesal lebih baik dibawa
  • Monopod – membawa tripod (walau yang carbon & travel angle sekalipun) bukan pilihan pada saat travel light. Monopod mampu menggantikan peran tripod sampai kisaran exposure 2 detik + hoki & multiple shots tentunya hahaha.

Pada pemotretan di Singapore saya menunggu blue hours (twilight) sampai dengan jam 7 malam waktu setempat. Hasilnya cukup memuaskan :

Saya menggunakan f8 pada ISO200 dan EV -2/3 – akibatnya shutter speed drop sampai dengan 2 seconds dan monopod harus saya pegang hati2 agar tetap sharp. Menahan nafas + mirror lock up juga merupakan salah satu trik untuk membuat foto sharp dengan menggunakan monopod. Kalau saya gunakan ISO yang lebih tinggi maka selain noise mulai muncul (karena banyak area shadow) maka saya tidak bisa mendapat efek halus (walau tidak maksimal) di permukaan air. Sedangkan aperture lebih kecil dari f8 meragukan untuk mendapat hasil ketajaman optimal.

Sedangkan di bangkok saya bereskplorasi dengan banyak hal, mulai dari BW photo sampai dengan fish eye (tanpa lensa fish eye) – juga bokeh. Selain itu di Krabi saya mencoba memotret beberapa hal, Airport Krabi jadi menarik setelah di gubah ke BW menggunakan silver effect :

Continue reading Thailand & Singapore – A Quick Trip

Weekend Photography

Coba lihat kamera yang ada di kamar, yang ada di dalam dry box, sudah berapa lama nganggur? Berapa lama gak ditekan shutter nya? 🙂 Ayo coba motret lagi. Walau tidak jauh dari rumah ada banyak obyek yang bisa ditemui. Buat yang suka makro tentunya bisa mencari obyek makro di sesemakan. Siapa tahu dapat obyek yang menarik.

Tapi bukan hanya makro-ish yang bisa memotret di sekitar rumah. Kebetulan belakangan ini langit pancaroba sedang memberikan sunset yang menarik. Hal ini ditandai umumnya dengan kondisi siang hari yang sangat panas & kering, sementara langit di hiasi dengan awan cumulonimbus yang bulat-bulat. Kalau beruntung maka sore hari motoyuk-ers bisa ke daerah terbuka dan memotret sunset yang indah.

Foto diatas diambil di lapangan rumput dekat dengan perumahan kota wisata cibubur, rumah saya. Tidak jauh dari rumah, hanya 3 menit palingan. Tapi kebetulan memang sunsetnya sangat indah, jadi tanpa filter macem-macem hanya berbekal kamera & tripod foto diatas diambil. Berikut adalah foto yang diambil pada sudut yang lain.

Kunci foto diatas hanyalah : timing yang tepat, tripod dan white balance yang tepat. Saya selalu menggunakan white balance “Daylight” pada saat pemotretan twilight moment seperti ini. Hal ini karena apabila menggunakan white balance yang Auto maka biru langit tidak bisa keluar sepenuhnya.

Continue reading Weekend Photography




Last Sunrise of Ujung Genteng Jan 2011 – #8

Ini adalah kenangan hari terakhir di Ujung Genteng, yang juga merupakan sunrise terakhir disana. Tetap mempesona dengan keindahan pantai dan alamnya.

Photo parameter : Canon EOS 5dMarkII – EF 17-40 f4 L @ 17mm | Apperture Priority f22 | 1.3 secs | ISO50 | EV+1/3 | Standard Picture Style +4 saturation | GND Hard Edge 0.9x | CPL | Tripod

Menyusuri pantai ke lokasi yang jarang dijamah turis adalah salah satu trik untuk mendapatkan foto yang berbeda. Kali ini saya bersama teman-teman berjalan terus ke sebelah kanan pantai timur, menyusuri pantai, melewati jajaran kapal yang di parkir disana. Tidak ada orang disana, so agak spooky sih. Tapi bedanya adalah kita menemukan lokasi dengan foreground yang unik seperti foto di post ini. Foreground dari foto diatas adalah karang & tumbuhan laut yang menarik.

Sedangkan pada foto dibawah ini foreground nya adalah karang dan refleksi langit yang luar biasa cantik. Saya menghindari matahari di sebelah kanan masuk ke dalam frame, karena dengan demikian bisa over-exposure. CPL saya gunakan di kebanyakan pemotretan ini untuk mengatur jumlah refleksi yang ingin dimasukkan ke dalam foto, maklum banyak permukaan air yang memantulkan refleksi.

Photo parameter : Canon EOS 5dMarkII – EF 17-40 f4 L @ 17mm | Apperture Priority f22 | 2 secs | ISO50 | EV+2/3 | Standard Picture Style +4 saturation | GND Hard Edge 0.9x | CPL | Tripod

Photo parameter : Canon EOS 5dMarkII – EF 17-40 f4 L @ 17mm | Apperture Priority f22 | 1 secs | ISO50 | EV+2/3 | Standard Picture Style +4 saturation | GND Hard Edge 0.9x | CPL | Tripod

Sedangkan pada foto diatas yang dijadikan foreground adalah pasir yang ter-erosi debur ombak malam hari. Membentuk lekuk-lekuk yang sangat menarik dan memantulkan cahaya dari matahari pagi. Refleksinya memberikan kontur tersendiri. Saya sengaja gelapkan foto ini agar efek lekuk lekuk pada permukaan pasir pantai lebih terlihat.

Continue reading Last Sunrise of Ujung Genteng Jan 2011 – #8




Seaweed, Sunrise, Sanur – during near blue hours

Foto yang ini dibuat tidak jauh dari selesainya “blue hours” yang tampak nyata pada foto sebelumnya. Pada foto yang ini sisa twilight masih terasa dengan blue color cast di langit, tidak seperti warna jingga pada foto yang dibuat 5-10 menit sesudahnya.

Walau pada saat pemotretan saya menggunakan standard picture style, akan tetapi pada saat RAW conversion saya mendapati bahwa landscape picture style lebih mampu menonjolkan warna yang ada. Wajar saja karena foto ini cukup di dominasi oleh warna biru & hijau, yang menjadi kekuatan dari picture style landscape. Oleh sebab itu pada saat RAW convertion saya ubah picture style nya menjadi landscape.

Continue reading Seaweed, Sunrise, Sanur – during near blue hours




Blue Hours of Sanur

“Blue Hours” atau sering disebut twilight adalah sesaat sebelum matahari terbit atau sesudah matahari tenggelam. Pada saat ini langit berubah menjadi biru gelap. Warna ini sangat disukai oleh landscaper karena memberikan warna pada langit malam, tidak hanya hitam pekat yang kurang menarik umumnya.

Foto diambil sekitar 5 – 10 menit sebelum matahari terbit di Sanur, Bali. Tepatnya jam 05.45 WITA. Pada saat ini langit nampak biru gelap dengan semburat jingga di ujung-ujung awan. Momen seperti ini hanya berlangsung sangat singkat, antara 3-5 menit saja. Setelah itu langit akan berubah drastis. Oleh sebab itu pemahaman mengenai setting kamera dengan cepat + waktu pemotretan (dan juga semangat bangun pagi tentunya) adalah kunci yang penting untuk menghasilkan foto blue hours seperti ini.

Foto seperti diatas bisa dihasilkan dari kamera pocket biasa, asalkan di setting dengan benar. Tidak perlu menggunakan kamera, lensa & filter yang mahal. Cukup ketepatan waktu hadir di lokasi + setting kamera yang benar sudah bisa menghasilkan foto seperti diatas.

Lesson learned : pahami kapan waktu sunrise, bangun pagi, datang di lokasi paling tidak 30 menit sebelum waktu sunrise dengan kamera sudah di setting – dan kamu akan hasilkan foto yang tidak biasa, walaupun hanya menggunakan kamera pocket sekalipun.

MOTO YUK!!!





Wat Arun at Night

Foto ini diambil oleh Cynthia, sang administrator MotoYuk saat perjalanannya ke Bangkok beberapa waktu lalu.

Walau traveling light dengan membawa EF-S 18-200 + 500d tapi hasil fotonya tetap keren. Detilnya dan paduan warnanya bagus sekali. Timing pemotretan yang tepat di saat twilight membuat biru langit sempurna. Belum komposisi nya yang tidak biasa dan menyertakan “path” berwarna keputihan di bagian bawah yang bikin komposisi jadi balance. Bravo!!

Wat Arun, Bangkok, Thailand

Berikut adalah tulisan Cynthia mengenai proses pemotretan-nya :

Saat pertama kali mengunjungi Wat Arun sebenarnya saya merasa agak kecewa, karena saat itu cuaca sedang berawan, dan sunset tertutup oleh awan. Namun ketika menjelang malam, saat lampu-lampu Wat Arun mulai dinyalakan terlihat sangat indah. Warna lampu kuningnya sangat pas perpaduannya dengan langit twilight biru tua saat itu. Meskipun sudah diusir oleh petugas (karena tempat wisata sudah mau ditutup) dan deg-deg an takut ketinggalan kapal terakhir untuk kembali ke penginapan, namun saya tetap mengambil kamera, jongkok di ubin agar path putih dapat ikut terfoto (sambil teriak ke petugasnya “one more, Sir!” , dan langsung setting manual di ISO400, f8, dan speed 1/10. Maka jadilah foto diatas 🙂

Wat Arun, Bangkok, Thailand

MOTO YUK!!!


White Balance Explained – Part 2

Di artikel sebelumnya kita sudah bahas mengenai apa itu white balance & pengaruh sumber cahaya. Nah kalau di artikel ini kita akan bahas aplikasi white balance dalam fotografi.

Dalam kamera lama white balance ditentukan dengan jenis film yang digunakan dan metode pencucian. Tapi di kamera digital moderen white balance telah dibuat sebagai preset setting. Setting ini tidak hanya mengatur warna blue – amber (kekuningan), melainkan juga green & magenta (kemerahan). Ini akan mempermudah kita saat pemotretan.

Courtesy of : http://www.cambridgeincolour.com/

Auto White Balance (AWB) menggunakan algoritma & perhitungan tertentu untuk “menebak” white balance yang tepat. Tebakan ini biasanya di kisaran 3000/4000 Kelvin s/d 7000 Kelvin. Jadi memang pada kondisi ekstrem & pencahayaan buatan seringkali AWB salah menebak. Akan tetapi dari yang saya alami Canon 500d dan 50d keatas sudah memiliki AWB yang jauh lebih baik. Di kebanyakan situasi saya menggunakan white balance ini.

Continue reading White Balance Explained – Part 2

Photo Gathering…Reveal #2

Bagaimana dengan foto ini :

Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 20mm | Manual Mode | f8 | 1/30 secs | ISO400 | Flash with tronic trigger (sepertinya 50mm power -1)

Ada yang terbayang cara memotretnya? Menggunakan flash, sudah pasti 🙂 Hal ini dikarenakan cahaya senja (jam 17.59 WIB) sudah tidak mungkin menyinari Fani yang menjadi model. Tidak ada pula cahaya lampu yang membantu. Jadi mau tidak mau kita harus menciptakan sendiri cahaya-nya, dengan menggunakan flash. Teknik ini umumnya dikenal dengan teknik strobist.

Teknik memotret dengan flash dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut :

1. Gunakan mode Manual (mode Apperture priority dan mode yang lain akan melakukan kompensasi metering yang hasilnya jadi kurang ok).

Lakukan langkah-langkah seperti di Photo Gathering Reveal #1, yaitu memilih apperture, shutter speed (tidak ada EV pada mode manual) dan ISO. Kalau perlu gunakan mode apperture priority sebagai benchmark. Tidak usah pedulikan si model yang menjadi gelap dan tidak kelihatan detilnya sama sekali. Buat dulu setting dimana background langit senja kelihatan bagus dan exposure-nya tepat.

Pada pemotretan ini dipilih setting apperture f8 untuk meyakinkan bahwa ketajaman gambar mencukupi. Shutter speed 1/30 secs + ISO400 dibutuhkan agar langit senja dibelakangnya masih kelihatan cukup terang dan awannya keliatan detilnya.

2. Setelah setting untuk backgroundnya sudah kita dapatkan barulah kita setting flash sebagai fill-in light bagi model. Flash bisa menggunakan built-in flash, flash yang dipasangkan di hot-shoe, atau pada contoh ini kita menggunakan off shoe flash + trigger. Keuntungan menggunakan flash trigger adalah flash-nya bisa kita atur-atur posisi-nya, tidak harus nangkring di atas kamera.

Dalam foto ini flash berada di kiri belakang kamera (terlihat dari bayangan yang terbentuk). Sebagai dampak dari peletakan flash ini maka sinarnya bisa menyorot ke sudut tertentu saja. Hasilnya tentunya lebih eksotis dibandingkan lurus dari depan saja.

Walau ada teorinya untuk mengukur berapa kekuatan flash tapi saya lebih sering menggunakan metode TEF (trial, error dan feeling). Cara TEF-nya ya coba aja dipotret. Kalau terlalu gelap / terang tinggal diatur lagi. Untuk mengurangi exposure flash (yang bsia mengakibatkan muka model putih semua karena over exposure) bisa dilakukan dengan :

  • Mengurangi power flash, baik dari dalam DSLR untuk built in, maupun dari flash nya sendiri (baca buku panduan flash nya ya)
  • Menjauhkan flash dari model, makin jauh flash dari model maka cahaya yang sampai ke muka model makin berkurang – ingat dengan menjauhkan maka sudut sinarnya juga berubah ya

Pada kasus ini flash berada sekitar 4-5 meter dari model, dengan flash compensation -1 dan flash focal length indicator 50mm.

Pusing ya? Hehe kalau dicobain langsung gak serumit teori-nya koq. Jadi gabung saja di photo gathering motoyuk!!! berikutnya.

MOTO YUK !!!