Tag Archives: Travel

(AU) Cremorne Wharf, Sydney

Salah satu lokasi untuk memotret pemandangan kota Sydney yang tidak banyak orang tahu terletak hanya sekitar 15 menit perjalanan menggunakan Ferry dari Circular Quay. Lokasinya ada di dekat dermaga Cremorne (Google Map Coordinate : -33.847853, 151.230895).

Cremorne - Burning SunsetDari Circular Quay kita bisa ambil ferry di dermaga 6, menuju Cremorne. Kendalanya cuma ferry ini agak jarang, satu jam sekali. So hati hati dalam merencanakan perjalanan. Lebih baik berangkat lebih awal daripada telat. Ada 2 lokasi pemotretan, satu ada di sebelah kanan begitu kita keluar dari dermaga (Google Map Coordinate : -33.848655, 151.232875). Kendala dengan lokasi ini adalah terhalang dengan beberapa batang pohon dan juga agak sulit memotret di tebing nya. Bonus nya : Ada mercusuar kecil yang bisa jadi obyek menarik. Continue reading (AU) Cremorne Wharf, Sydney

(AU) Hornby Lighthouse, Watson bay, Sydney

Ini adalah salah satu tempat yang menarik di Sydney, komplit dengan pemandangan mercusuar nya, laut dan tebing yang indah, city view dan juga park. Lokasinya sendiri (Google map : -33.833315, 151.280584agak jauh dari pusat kota, tetapi masih terjangkau dengan mudah via kendaraan umum.

Hornby Lighthouse

Kita bisa naik ferry dari Circular Quay menuju Watson Bay. Setelahnya berjalan kaki melalui Cliff Street (sekitar 10-15 menit) dan masuk ke cagar alam di Camp Cove. Saran : bawa senter, karena begitu lewat sunset maka jalan di cagar alam ini gelap sekali.

Traveller

Tidak ada biaya masuk, biaya motret dan biaya preman lainnya. So murni hanya biaya transport menggunakan Ferry. Kalau mau murah ya pergi di hari minggu menggunakan OPAL Card. Karena untuk hari minggu maksimum charge adalah AUD 2.5. So mau sampai ujung dunia juga bayar maksimal segitu.

Pantai di Camp Cove sendiri cukup menarik untuk di eksplore. Juga dengan city view sepanjang perjalanan ke Hornby Lighthouse. Sayang saya tidak punya banyak waktu saat itu, sehingga langsung menuju area mercusuar.

Mercusuar nya sendiri sangat menarik dengan warna merah putih nya. Eye Catching.

Angle pemotretan bisa dilakukan persis di area bawah mercusuar, tetapi agak statis dan kurang menarik. Lebih menarik adalah dari tebing tidak jauh dari mercusuar itu (sekitar 20-30 meter). Tetapi kita perlu ekstra hati hati karena tebingnya sangat curam dan tidak memiliki pagar pembatas. Continue reading (AU) Hornby Lighthouse, Watson bay, Sydney

Peralatan Yang Terlupakan — Tas Kamera : Mindshift 180 Panorama Review

Kita sering fokus (banget) pada peralatan utama, kamera – lensa – filter, dan menganggap sepele urusan tas kamera. Padahal tas kamera yang gak nyaman menimbulkan banyak masalah :

  • Tas yang kurang kuat lalu mengakibatkan peralatan jatuh dan rusak
  • Padding (bagian empuk di dalam) yang kurang juga menimbulkan resiko terbentur
  • Ergonomi tas yang kurang nyaman membuat tas tidak nyaman di sanding, akhirnya motret juga tidak nyaman

Saya sudah 8 tahun lebih sepertinya tidak mengganti tas kamera. Saya menggunakan Lowepro MiniTrekker sejak jaman DSLR, dan menambah dengan lowepro Fastpack 100 pada saat mulai travel dan pakai mirrorless.

$T2eC16ZHJGUFFhz0LPGvBSKChojz9!~~60_35

Fastpack_100_Stuffed

Merek lowepro ini tahan banting, sudah terbukti 8 tahun menemani saya ke berbagai penjuru. Tapi saya punya kendala dengan nya :

  • Minitrekker walau kapasitas cukup besar dan lumayan ergonomis, tapi ukuran besar dan kalau mau ambil peralatan maka tas perlu di taruh di bawah. Sangat beresiko kalau mengambil lensa dan peralatan yang ada di bagian agak bawah dari tas tanpa tas di taruh di bawah. Akibatnya repot banget kalau motret landscape di laut, atau travel yang sering kamera keluar masuk.
  • Kendala lain dengan minitrekker adalah tripod terletak di depan, sehingga kalau tripod tergantung akan sangat repot buat buka tas nya.
  • Fastpack adalah andalan saya sebelumnya untuk travel, mungil, cukup untuk mirrorless saya dan beberapa tambahan lain (filter, topi, dll). Tas ini juga praktis karena ambil barang dari samping, so tinggal di miringkan maka kita bisa ambil peralatan.
  • Kendala dengan si fastpack ini adalah ergonomi, kalau di bawa jalan jauh maka gendongannya akan menekan sisi lengan dan bikin tangan pegal dan kebas lama lama. Gak nyaman.

Itu sebabnya pas naik ke Rinjani saya masukkan XT1 dan XF 10-24mm saya ke padding tambahan, lalu masuk ke daypack Deuter Futura saya. Tas gunung. Bukan tas kamera. Karena gak ada tas kamera yang enak buat naik gunung, percaya deh.

Tapi dengan begitu saya repot juga, karena keluar masukin repot, dan juga padding nya gak maksimal.

Saya selalu mikir, ini gak ada produsen tas kamera yang mikir untuk menggabungkan ergonomi daypack (misalnya Deuter Futura) dengan tas kamera apa ya? Kenapa semua tas kamera gak di desain untuk trekking dan “landscape”

5035-762_FRE18_view1_1000x1000

Beberapa bulan lalu akhirnya saya ketemu satu artikel yang menyarankan untuk melihat merek MindShift. Produsen ini adalah anak perusahaan ThinkTank. Mereka spesialisasi nya adalah tas kamera untuk trekking / travel / landscape. So, gendongan dan segala macam desainnya dipikirkan untuk bawa kamera + travel / trekking.

Saya tertarik dengan seri Panorama, yang ukurannya kecil. Tidak sebesar dan seberat seri Pro nya.

Yang menarik adalah semua seri MindShift memiliki mekanisme 180, dimana kita bisa meraih sisi kanan dari tas, melepas kaitan magnet, dan menarik semacam tas pinggang berisi kamera kita. GENIUS !!!!!

muench-workshops-mindshift-panorama-1default_09-03471-2014PD-1 Untuk ambil kamera jadinya tas bahkan tidak perlu turun dari punggung, tidak kotor dengan tanah / air. Kerennya lagi adalah buat ganti lensa jadi sangat mudah, karena ada tempat kita menaruh lensa ganti dll. I LOVE IT !!!!

Continue reading Peralatan Yang Terlupakan — Tas Kamera : Mindshift 180 Panorama Review

(AU) Turimetta Beach – Narrabeen

Pantai Turimetta di area Narrabeen ini tidaklah jauh dari pusat kota Sydney (koordinat area di google map : 33°42’02.5″S 151°18’32.4″E).

Masih terjangkau oleh transportasi publik. Saya sendiri pergi ke area ini 2 kali. Kali pertama menggunakan kereta yang di lanjutkan dengan bis (untuk detil gunakan Google Map Application, sangat membantu), dan kali kedua naik mobil teman. Well, agak susah memang dengan transportasi publik mengejar sunrise (kereta baru  mulai jalan agak siangan), tapi sunset sih ok. Apabila menggunakan Opal Card maka akan sangat murah untuk pergi di hari Minggu, karena mau jalan jalan sejauh apapun maksimal seharian cuma AUD 2.5

Begitu sampai di pantai ini ada 3 area menarik :

Di sebelah kiri tidak ada karang yang terlalu menarik, tetapi saat sunrise dengan matahari kuat maka kita bisa dapat siluet siluet menarik dengan lekuk ombak yang juga menarik

Golden Moment

Di bagian tengah ada area dengan karang yang unik pattern nya, bisa di eksplore. Area ini relatif aman karena ombak pecah di tengah laut dan tidak terlalu parah mengenai area ini.

Turimetta

Area di kanan paling menarik, lengkap dengan area berlumut hijau, karang berbentuk tangga (dengan potensi slow shutter) dan juga karang ukuran besar yang bisa di jadikan foreground menarik. Masalah utama area ini adalah ombaknya besar apabila air pasang sedang tinggi. So kalau mau bagus ya cari saat dimana ombak medium. Continue reading (AU) Turimetta Beach – Narrabeen

(AU) Tasmania, Launceston & Bay of Fire

Kebetulan baru seminggu di Ausie sudah long weekend (Queen’s BDay). Awalnya mau berangkat ke Melbourne, memanfaatkan long weekend nya. Tapi setelah dipikir lagi kayaknya area Melbourne bisa di cover di weekend biasa, so akhirnya memilih ke Tasmania.

Bay of Fire

Tasmania adalah pulau “kecil” di ujung bawah Australia. Kota kota nya tidak terlalu besar. Hobart adalah kota terbesarnya, tapi saya memilih untuk ke kota kedua terbesar, yaitu Launceston, yang ada di Utara Tasmania (Hobart ada di Selatan). Tasmania terkenal dengan alam nya dan pertanian – peternakannya. So tentunya landscape adalah tujuan utama saya.

Scottsdale
St helen

Biaya perjalanan kesana dari Sydney not bad. Saya naik budget airlines Jetstar untuk berangkat (AUD 128), dan pulang dengan Virgin Australia (transit Melbourne – lupa biayanya, tapi kurang lebih sama). Harga agak tinggi karena saya pesannya mepet.

Setelah mencoba nya saya rekomendasikan untuk naik Virgin saja, jarak antar kursi lebih lega, ada snack dan minuman, bagasi bisa naik plus bisa akses film via aplikasi di iPad pribadi.

Penginapan di Launceston saya gunakan ArtHouse Hostel – dormitory isi 6 orang (AUD 40an untuk 2 malam). Saya terbiasa menggunakan hostel selain lebih murah, juga lebih banyak kemungkinan ngobrol dengan traveller lain. Hostel yang ini lokasi cukup strategis, walau tidak di pusat kota, tapi tenang dan cozy. Bangunannya sendiri sudah tua, tapi kamar dan toilet dll relatif bersih dan nyaman.

Launceston

Sedangkan untuk transportasi mau tidak mau saya sewa mobil di sana. Saya pesan di Bargain Car Rental, Hyundai i20. Kapasitas sebenarnya 4 orang, tapi saya hanya pakai sendiri hahaha. Biaya total 3 hari tidaklah terlalu mahal, AUD 93. Akan tetapi bensin cukup mahal, untuk perjalanan saya sehari saya menghabiskan sekitar AUD 40 untuk bensin unleaded.

Continue reading (AU) Tasmania, Launceston & Bay of Fire

Oz … here i come !!!

Pergi ke Australia sebenarnya impian sekitar 12 tahun lalu, pada saat baru selesai kuliah dan ingin dapat bea siswa S2 kesana. Maklum, bukan orang kaya 🙂 so sudah menetapkan hati harus via beasiswa. Tapi nampaknya nasib mengaturnya lain …. tidak via beasiswa, melainkan setelah bertahun tahun kemudian, via business trip. Lebih tepatnya assignment selama 3 bulan disana (29 May – 28 Aug 2015).

So kurang lebih 3 bulan ke depan, saya akan post mengenai travel journey di sana. Rekomendasi dan juga tentunya photo spot yang saya datangi. Semoga bisa jadi referensi juga buat MY-ers lainnya. Keseluruhan artikel akan di gabungkan dengan Tag artikel “OzTrip”

Untuk perjalanan ini peralatan yang akan saya bawa adalah sebagai berikut, tentunya tidak semua di bawa setiap trip disana :

  • Fuji XT1
  • Fuji XPro1 (sebagai secondary body)
  • Sony RX1 (sebagai day to day camera)
  • XF 10-24
  • XF 18-55
  • XF 55-200
  • XF 56/1.2 (sisa lensa fuji lain masih dipikir, tergantung bobot nanti)
  • Samyang 8mm FishEye
  • GND Filters dengan Adapter dan holder
  • Lee Big Stop ND
  • CPL Filter
  • Benro Carbon Tripod
  • Joby GorillaPod

Lokasi incaran pertama di 6-8 Juni (kebetulan long weekend) adalah Pulau Tasmania. Sekitar 1 jam 45 menit penerbangan ke Launceston, yang merupakan kota kedua terbesar disana dan gerbang menuju area wilderness utara.

Beberapa area yang sudah di incar adalah : Bay of Fire, Dove Lake Cradle Mountain dan juga tentunya sekitar Launceston sendiri. So, wait for the adventure 🙂

PS : buat yang tanya soal visa AU, kebetulan jenis visa saya berbeda karena visa kerja singkat (3 bulan). Oleh sebab itu prosesnya berbeda dan lebih lama, akan tetapi kalau visa liburan sangat mudah prosesnya. Check : VFS Website untuk detilnya 


Sony RX1 — a user perspective

Sony RX1 adalah kamera pro-sumers berukuran sedikit lebih besar dari kamera pocket dengan lensa fix 35mm f2, tidak bisa ganti lensa. Yang unik adalah kamera ukuran mungil ini memiliki sensor full frame, yang menjanjikan foto bersih noise di iso tinggi dan juga DOF yang mantap.

Penggunaan lensa Carl Zeiss 35mm f2 juga menjanjikan warna yang warm khas zeiss, dan 3d pop. Tentunya ketajaman prima juga.

Tapi bagi saya sebenarnya notes di atas good saja, bagi saya yang penting adalah mungil + mumpuni sehingga bisa di bawa setiap hari. Ya, kamera ini memang saya bawa setiap hari, kerja dan jalan. Karena saya yakin ada saja momen yang saya bisa foto.

checking my schedule

Momen di atas misalnya saya foto saat keluar dari kamar kecil di airport setelah landing di Changi. Momen yang hanya split second rasanya. Kalau kamera masih di tas, atau bahkan di rumah, ya jelas gak dapat momen ini.

Atau momen di bawah yang di dapat pas jalan mau makan malam. Walau bawa mirrorless pun saya malas bawa kamera kalau cuma rencana mau makan malam saja hahaha. Tentunya ini semua tidak berlaku buat MY-ers yang pada rajin bawa kamera setiap hari walau itu DSLR atau mirrorless ya.

Romantic Chat

So, bagaimana kesan saya tentang kamera RX1 ini? Apakah worthed? Sebagai kesimpulan saja …. kalau dapat harga second diskon an lumayan + memang niat di bawa bawa setiap hari sih worthed banget. Tapi kalau beli baru dengan harga yang ajigile itu sih gak worthed … banget !!

Ergonomi : kamera ini mungil, so grip memang terbatas. Bisa kita tambahkan grip tambahan yang jelas akan bikin pegangan jadi enak banget, tapi ya jadi gendut. Saya sendiri pakai apa adanya, gak pakai grip tambahan. Gak senyaman mirrorless apalagi dslr, tapi work alright dengan mungilnya.

Continue reading Sony RX1 — a user perspective

MY Article : Baduy Trip, By : Enggar

Tulisan by : Enggar SP

Menurut Wikipedia, Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam.

Sekitar Agustus 2014, Pak Yohanes Indro Kristanto mengemukakan di forum FB Motoyuk, mengusulkan hunting bareng terkait Baduy dengan tema kurang lebih mengangkat ke eksotisan suku Baduy baik dari sisi pemandangan, nilai budaya dan social, aktifitas keseharian dsb. Adapun wilayah yang dituju hanya sampai Baduy Tengah.

Jelas saya ngileeerr. Saya sudah lama gak travel photo hunting. Ada tawaran hunting bareng temen2 Bolang kantor, tetapi saya menolak karena rute mereka menuju Baduy Dalam dan saya pasti tidak akan sanggup mengikutinya karena cidera lutut pada bulan puasa yang mengharuskan saya tau diri akan kesehatan kaki (red : penuaan dini T_T)

Berdasar info dan kondisi diatas, akhirnya saya memutuskan IKUT Motoyuk karena pastinya saya akan mendapatkan banyak objek yang eksotis dan pastinya bisa ngerasain suka duka gimana sih hunting bareng komunitas fotografi 😀

Perjalanan saya feat Motoyuk diawali dengan meeting point di Driving Range Senayan. Sekitar pukul 19.00 WIB, kami  – ber 26 orang – dengan dikomandani oleh Pak Yohanes Indro Kristanto, Om Bayoe Wanda, Om Rachmat Yulyanto dan Om Rifka –  menggunakan bis kecil berangkat menuju Kabupaten Lebak, Banten.

Nantinya kami akan bertemu dengan pemandu guide Kang Chinul dan Kang Daniel dimana Kang Daniel adalah mantan Baduy Dalem yang sekarang menjadi warga Serang

image

Perjalanan Jakarta-Rangkas macet, sehingga rombongan sampai masjid Agung Rangkas sekitar pukul 23.30 WIB, sangat malam. Rombongan menginap di BKD – Balai Kepegawaian Daerah Kabupaten Lebak (semoga gak salah kepanjangan nama :D)

Continue reading MY Article : Baduy Trip, By : Enggar

Travel Photography : Takayama-Shirakawa Go, Japan

Kebetulan saya memperoleh kesempatan untuk sekali lagi travel ke Jepang, Osaka lebih tepatnya, karena urusan pekerjaan. Tentunya sebelum ngurusin kerjaan saya senggangkan waktu untuk mengunjungi area yang belum saya sempat kunjungi dalam trip ke Osaka-Kyoto-Nara di bulan Maret-April lalu.

Osaka
Pemandangan yang bisa dinikmati dari Hotel Intercontinental Osaka – tempat saya kebetulan menginap. Ini di jepret dengan menempelkan kamera ke kaca dan tentunya mematikan semua lampu di kamar.

 

Dalam tulisan ini saya akan bahas beberapa tips yang mengiringi perjalanan kali ini. Berhubung singkat, maka tips ini bisa digabungkan dengan perjalanan yang lebih panjang.

 

Penginapan & Tur

Untuk penginapan saya memesan jauh jauh hari Hostel yang sempat saya gunakan sebelumnya (buat yang belum paham bedanya hostel dan hotel, tolong googling dulu). Saya gunakan J-Hoopers Hostel di Osaka sebagai base, dan J-Hooper Takayama sebagai tempat singgah saat di Takayama.

Saran saya adalah pesan langsung via email jauh jauh hari. Selain lebih murah, ini juga mempermudah komunikasi dengan pihak hostel. Pembayaran dilakukan saat kita sampai di hostel, baik menggunakan cash maupun credit card.

Osaka-Jo
Benteng Osaka selalu asyik untuk dinikmati – saya gunakan Lee Big Stopper ND Filter (9 stop) untuk menambah dramatisasi area ini. MY-ers bisa menemukan lokasi ini di pintu utama (depan) dari Osaka Castle.

 

Saya travel sendirian, oleh sebab itu saya gunakan jenis kamar Mixed Dorm. Artinya kamarnya gabung dengan beberapa orang lain dan beda gender (walau umumnya jatuh2nya sih cowo). Selain lebih hemat, jenis kamar ini juga membuat saya bisa berkenalan dengan rekan traveller lain (dalam trip ini saya kenalan dengan traveller dari Spanyol, Korea Selatan dan UK). Harga per orang / hari untuk Mixed dorm sekitar Rp 250.000 …. harga yang sangat terjangkau untuk di Jepang.

Untuk menghindari kerepotan saya sewa handuk disana, cuma sekitar 70 Yen, murah lah … daripada repot dengan handuk basah. Sedangkan baju juga saya bawa seadanya, karena saya bisa mencuci dan mengeringkan baju di hostel, cukup dengan biaya 300 Yen. Daripada tas penuh dengan baju?

Shirakawa-Go
Shirakawa Go adalah perkampungan yang menjadi UNESCO World Heritage. Bangunan khas nya sudah berumur ratusan tahun, dikenal dengan nama Gosho Style. Tiap musim shirakawa go memukau dengan wajahnya yang berbeda. Hijau bersemi adalah wajahnya saat summer. Ini adalah pemandangan dari Vantage Point / Gardu Pandang. Sekitar 1 km dari dusun tersebut.

Continue reading Travel Photography : Takayama-Shirakawa Go, Japan

Sudut alternatif

Dalam pemotretan selain exposure, maka angle / komposisi adalah aspek yang sangat penting. Foto jadi terasa berbeda atau tidak dipengaruhi signifikan oleh angle yang digunakan. Apabila angle nya sejuta umat maka cenderung sulit untuk membuat impresi.

Saya mau sharing pengalaman waktu ke Todaiji Jepang (Nara area). Kuil ini sangat terkenal, jadi tidak heran semenjak pagi pagi saat dia dibuka pun sudah sangat ramai. Sungguh sulit untuk memperoleh clean shot di area turis begini. Tantangan utama pemotretan travel.

Kalau saya mengikuti angle sejuta umat yang biasa saja, maka saya akan masuk ke dalam kuil dan memotret dari kejauhan.

Sample2

Angle sejuta umat …. mundur sedikit dapat framing, so agak sedikit tidak sejuta umat, tapi masih seribu umat mungkin

sample3

Continue reading Sudut alternatif