Tag Archives: Travel photography

Fish Eye tanpa Lensa Fish Eye

Digital imaging? Bukan … Apa bisa? Ya, dengan keterbatasan tertentu & kreatifitas. Bukan ide baru sebenarnya, tetapi tiba-tiba saja terlintas di pikiran saya waktu mengunjungi Wat Hua Lamphong di Bangkok Thailand. Wat / tempat berdoa agama Budha ini ukurannya tidaklah besar, tapi tidak pula kecil. Detilnya tetap memukau, tetapi rasanya sudah banyak sekali yang mengambil detil dari Wat di mana-mana di Bangkok / Thailand. Saya pun demikian. Jadi agak bosan ambil detil.

Kebetulan saat mau pulang langit sangat cerah dan biru langit menjadi lebih dominan. Saya melihat pantulannya di pegangan tangga yang ada. Karena bentuk pegangan tangga ini bulat maka efeknya selayaknya fish eye, melengkung. Wah asik juga nih …

Mencari lokasi dengan background yang menarik yang butuh beberapa kali percobaan. Akhirnya saya menemukan dinding pagar berwarna putih & merah bata yang cocok jadi background. Lokasinya juga memungkinkan saya memperoleh gambar penuh dari si Wat Hua Lamphong. Karena saya tidak membawa tripod maka mau tidak mau saya harus pegang sendiri kamera-nya dan dengan demikian nongol deh foto narsis saya disana hehehe.

Saya hanya bawa 1 lensa, 24-105 f4 L IS, jadi walau sangat ingin memotret tanpa background sehingga bisa dapat full fish eye effect saya tidak bisa. Ini adalah maksimum jarak terdekat fokus lensa saya. Tiap lensa memiliki minimum focus distance yang berbeda, pahami lensa yang sudah anda miliki.

Lesson learned : coba benar-benar jeli melihat kondisi sekeliling. Setelah mencoba memotret dengan gaya biasa (dan wajib) coba eksplore sudut lain / pendekatan lain. Karena pada akhirnya fotografi adalah masalah selera & kreatifitas, sedangkan kreatifitas adalah masalah melihat satu hal yang sama dengan sudut pandang yang berbeda.

MOTO YUK!!!

Beli gadget canggih atau jalan-jalan dengan gadget minim ??

Pernah beli kamera & lensa yang super canggih tapi tidak bisa menggunakannya untuk memotret karena tidak ada lagi biaya buat jalan-jalan? Ada satu artikel yang pernah membahas hobby para fotografer pemula untuk membeli perangkat yang mahal dan dampaknya. Wajar, karena membeli perangkat yang canggih dirasakan sebagai “jalan pintas” menghasilkan foto yang “luar biasa”. Tapi seperti telah saya sebutkan berulangkali di post sebelumnya, gadget hanya membantu. Coba deh maksimalkan dulu gadget yang ada, lensa yang ada, kamera yang ada. Kalau sudah mentok barulah upgrade.

Lensa 50mm f1.2 (seharga 14 juta) apakah akan menghasilkan karya jauhhhhh luar biasa dibandingkan 50mm f1.8 (seharga 800 ribu) ? Di tangan fotografer yang sama ternyata hasilnya tidak se signifikan perbedaan harganya. Memang ada keterbatasan pada lensa yang lebih murah, tapi apakah kita sudah mencapai ke keterbatasan itu?

Jadi lebih pilih jalan-jalan dengan gadget minim saja nih? Misalnya canon 1000d dengan lensa kit nya saja jalan-jalan ke Eropa selama 1 bulan? Hehehe saya tidak sepenuhnya setuju juga. Alasan pertama adalah ada batas minimal kebutuhan, kalau di eropa misalnya kita akan banyak memotret arsitektur dengan ruangan yang sangat terbatas maka paling tidak kita butuh focal length super wide. Kalau kita berencana memotret human interest disana paling tidak kita punya 50mm f1.8 atau lensa tele yang blurnya mencukupi. Tidak harus L series yang muahal, tapi sesuai dengan kebutuhan. Percayalah bahwa sharpness dan IQ (Image Quality) seringkali over-rated / terlalu dilebih lebihkan.

Turku Cathedral
Courtesy of : Papaija2008 (Flickr)

Tapi selain alasan itu ada lagi alasan logisnya kenapa saya tidak selalu memilih jalan-jalan dibandingkan belanja perangkat (yang kita butuhkan ya). Hal ini adalah karena saat kita membeli perangkat kita tidak lain dari mengubah bentuk aset kita dari uang menjadi barang. Jadi misalnya kita beli lensa seharga 5 juta tidak bisa dibandingkan dengan lebih baik jalan-jalan dengan uang 5 juta itu.

Continue reading Beli gadget canggih atau jalan-jalan dengan gadget minim ??

“Gamping” Maker @ Vietnam

Gak ngerti bahasa inggrisnya gamping apa sih? Haha, intinya ini salah satu hasil perjalanan naik sepeda di area Tamcoc, Vietnam bersama adik saya. Di ujung perjalanan kebetulan ada rumah penduduk lokal yang pekerjaannya membuat gamping, bahan campuran semen. Proses pembuatannya sendiri nampaknya batuan kapur di bakar dalam tungku yang sangat besar. Proses pembakarannya sendiri nampaknya seperti proses pembuatan arang, jadi dengan api kecil (oksigen rendah).

Tungku-nya sendiri adalah silinder yang nampak di tengah foto itu. Suhunya relatif sangat panas, apabila kita ada disana nampak bahwa udara di sekitar tungku memuai. Tentunya saya tidak berminat mendekat lebih dekat lagi.

Continue reading “Gamping” Maker @ Vietnam

Learn to use your digital SLR – by Teoh Peng Kee

Seminar Sabtu lalu benar-benar menyenangkan 🙂 kebanyakan karena pendekatan Mr. Teoh Peng Kee yang menjadi pembicara utama terstruktur dan teknis. Pendekatan yang teknis memungkinkan untuk mendapatkan hasil langsung dari seminar, misalnya dengan melakukan perubahan setting di kamera. Berbeda dengan pembicara yang melakukan pendekatan secara artistik, sehingga butuh waktu untuk benar-benar memahaminya. Aspek lain yang menyenangkan adalah biayanya yang relatif sangat terjangkau, hanya Rp 80.000 untuk anggota Klub Fotografi Datascrip.

Di tulisan blog ini saya akan share beberapa hal yang saya peroleh. Saya akan menulis ulang apa yang saya tangkap dan tidak menulis ulang slide dari beliau. Sehingga mungkin akan berbeda dari yang ada di seminar (dimana banyak orang membawa kamera hanya demi memotret slide beliau hahaha it’s so funny melihat orang berdiri untuk memotret setiap kali slide berganti).

Mengenai peralatan fotografi

Mr. Teoh Peng Kee menyampaikan bahwa apabila seorang fotografer bergerak dari pemula menjadi advance dan akhirnya menjadi profesional maka selera terhadap peralatannya pun berubah.

Sebagai seorang pemula maka biasanya pendekatannya adalah membeli yang paling murah yang bisa dibeli. Maka pemula biasanya akan menggunakan body entry level, seperti Canon EOS 1000D. Sedangkan untuk lensa akan menggunakan lensa kit. Sedangkan aksesoris juga biasanya terbatas dan seadanya. Misalnya flash internal, filter UV yang ekonomis, filter GND menggunakan Adobe Photoshop, dll.

Sedangkan sebagai advance photograper (atau biasanya juga profesional wanna be) maka mulai lah fotografer fokus pada peralatan. Segala jenis lensa dibeli. Kiblatnya selalu pada lensa yang “paling mahal” atau “dengan review terbaik”. Segala aksesoris dibeli, mulai dari flash, filter, tripod. Semua “ditimbun”. Berapa sering digunakan? Hemmmm…….

Apabila seseorang mencapai tahap profesional maka dia lebih bisa memilih. Hal ini karena dia makin paham bidang apa dari fotografi yang menjadi passion-nya. Selain itu dia juga mulai bisa membedakan apakah suatu aksesoris / lensa itu benar-benar berguna atau tidak. Dia akan berfokus pada beberapa lensa dengan kualitas sangat baik dan aksesoris yang penting, “melupakan” yang lainnya.

Dalam aspek ini saya sangat setuju dengan pendapat Mr. Teoh. Pemula akan sibuk membicarakan mengenai kamera apa yang digunakan, lensa apa yang digunakan, mana lensa yang tajam, dll. Sedangkan profesional lebih sibuk membicarakan mengenai teknik yang digunakan, pesan yang ingin disampaikan, komposisi yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan, dll dan relatif sedikit membicarakan mengenai peralatan yang digunakan. Jadi coba lihat, apakah anda kalau ketemu rekan fotografer lain membicarakan mengenai peralatan atau teknik? Itu salah satu yang membedakan pemula dan expert.

Apa maksud dari “beberapa lensa & aksesoris yang berguna” ? Berikut beberapa contoh menurut pandangan saya.

Continue reading Learn to use your digital SLR – by Teoh Peng Kee

View from the top..

Dalam salah satu kesempatan di HalongBay saya berkunjung ke TiTop Island. Pulau kecil ini memiliki gardu pandang yang bisa melihat panorama di halong bay dalam 360 derajat. Untuk mencapai gardu pandang ini kami harus naik 300 lebih anak tangga yang sudah dibuat. Untungnya anak tangga ini dalam kondisi yang sangat baik ( tidak seperti di berbagai lokasi wisata daerah di Indonesia 🙁 ).

TiTop Island

Umumnya di lokasi wisata yang sudah “jelas” lokasi utama nya maka fotografer akan langsung menuju lokasi utama dan menghabiskan ratusan MBytes di lokasi tersebut. Memang umumnya lokasi utama tersebut adalah view “terbaik”. Akan tetapi kadang belum tentu terbaik dari sudut pandang fotografi. Belum tentu juga kita bisa menjaga orisinalitas foto kita. Foto berikut ini diambil dari gardu pandang, lokasi tertinggi dan utama dari TiTop Island.

View from the top | Canon EOS 40D | EF-S 10-22 @ 10mm | Apperture Priority @ f11 | 1/40 secs | ISO200 | EV+1 | Picture Style Landscape | Kelvin Custom White Balance

Bagi saya pribadi cukup memuaskan, hanya saja kurang menonjol warna-warnanya. Selain itu juga banyak pepohonan yang mengganggu (foto diatas sudah di crop bagian bawah dan atasnya karena kurang menarik).

Continue reading View from the top..

Hanoi Pics #1


Hanoi #4

Hari berikutnya adalah perjalanan ke Tam Coc. Area ini dikenal sebagai “Halong Bay on Paddy Field”. Hal ini karena atraksi yang terkenal adalah menyusuri lembah dari bukit-bukit limestones menggunakan sampan (dari seng, kebayang gak seh?). Sementara di kanan kiri kita adalah sawah. Tapi sebelum ke atraksi utama kami ke kuil tertua di Vietnam. Kuil ini merupakan salah satu kuil dimana kerajaan pertama Vietnam terbentuk setelah penjajahan Cina.

Pengambilan gambar vertikal untuk memberikan efek kedalaman. Sementara framing digunakan untuk mengurangi dampak langit siang yang terlalu siang dan kurang ideal untuk pemotretan.

Continue reading Hanoi #4




Hanoi #3

Keesokan harinya adalah Hanoi trip. Pagi hari diawali dengan menyusuri Hoan Kiem Lake. Saya mulai berjalan kesana jam 5 pagi. Hal ini karena lokasi ini penuh dengan warga sekitar yang berolahraga. Hanya saja saya tidak pernah mengira bahwa sebanyak ini.

Foto pada kondisi seperti ini membutuhkan lensa yang berbeda-beda. Foto diatas diambil menggunakan lensa 70-200 yang terpasang di body Canon 40D (medium lens). Setting disesuaikan agar masih ada depth of field dengan background yang agak kabur, tapi juga masih bisa menangkap gerakan yang ada. Saya menggunakan f4 pada focal length 120mm untuk memberikan efek compression.

Foto diatas mengambil salah satu patung yang ada di dekat taman kota Hoan Kiem Lake. Menggunakan patung ini sebagai background memberikan “cerita” pada foto yang kita buat. Supaya nuansa localized nya lebih terasa. Jika tidak mana ada yang tahu foto ini dibuat di Hanoi atau hanya di samping rumah

Sedangkan foto full body portrait bisa diambil dengan menggunakan apperture besar + focal length tele untuk mengaburkan background yang menganggu. Selain itu juga memberikan depth of field, sehingga foto tidak terasa flat / 2 dimensi saja.

Continue reading Hanoi #3




Hanoi #2

Hari kedua di Hanoi saya langsung menuju ke Halong Bay. Untuk perjalanan ini saya menggunakan biro travel lokal, Vega Travel. Perjalanan menggunakan mereka sangat berkesan dan juga “value”. Saya sangat merekomendasikan biro tur mereka, terutama paket perjalanan 3 hari 2 malam ke Halong Bay. Dengan biaya USD 106 (standard room) atau USD 120 (deluxe room) kita memperoleh perjalanan yang sangat menarik dan akomodasi yang memadahi. Saya sarankan pesan paket deluxe mereka jauh-jauh hari, hanya ada 2 kamar deluxe di kapal. Kamar ini relatif besar dan lokasinya strategis.

Saya dijemput dengan shuttle bus mereka jam 8 pagi dari hotel. Setelah menitipkan koper besar di kantor mereka mulailah perjalanan selama kurang lebih 3 jam menuju halong bay. Selain tas kamera (berisi lensa wide, medium dan tele + filter; tripod tidak terlalu terpakai) siapkan juga tas kecil untuk baju dan peralatan lain. Akan agak sulit traveling dengan tas besar dalam paket perjalanan ini. Sesampainya di pelabuhan Halong barulah kita cruising melewati batu-batu eksotis Halong sambil makan siang. Siapkan lensa medium untuk memperoleh detil dari batu, atau foto kapal-kapal dengan background bebatuan yang mengagumkan ini.

Sore harinya saya sampai di Hang Sung Sot Cave, memasuki gua bawah tanah ini awalnya biasa saja. Tapi setelah melewati dinding batu pertama barulah terlihat dahsyatnya. Kubah di bawah tanah yang sangat besar, disinari dengan lampu warna – warni dan sinar matahari yang menerobos, luar biasa. Idealnya memang membutuhkan tripod + lensa wide. Tapi kalau terpaksa (seperti saya) maka high ISO + tas juga bisa mengatasinya. Walau tentunya resiko foto goyang + tidak tajam cukup besar.

Sekeluarnya dari gua kita juga disuguhi pemandangan pelabuhan yang sangat menarik. Saya gunakan lensa super wide EF-S 10-22 untuk menangkap keindahan pelabuhannya dari ketinggian.

Continue reading Hanoi #2

KL & Cambodia 2010

Monk at Bayon | Canon EOS 40D | EF-S 10-22 f3.5-4.5 @ 22mm | f8 | 1/250 secs | ISO200 | EV -0.3 | GIMP for layering & BW editting

Sunset at Petronas | Canon EOS 40D | EF-S 10-22 @ 10mm | f16 | 1/25 secs | EV +1.33 | Tripod + duduk di trotoar