Tag Archives: teknik

Hyperfocal Using Fuji Lens

Buat yang belum paham apa itu hyperfocal, baca dulu artikel-artikel di motoyuk yang terkait dengannya. Artikel ini tidak akan membahas lagi apa dan mengapa hyperfocal.

Menggunakan lensa manual dengan distance scale adalah cara yang praktis untuk menggunakan teknik hyperfocal. Selain itu ada juga cara focusing di jarak tertentu menggunakan AF. Tapi cara kedua ini agak repot karena biasanya kamera sudah terpasang di tripod. Focusing ke jarak tertentu kadang membuat kamera perlu di kendorkan dari tripod.

Fuji (dan saya rasa beberapa mirrorless lain) ternyata memiliki distance scale ini pada LCD ataupun electronic viewfinder mereka. Ini terlihat apabila kita mengubah menjadi mode Manual Focus.

IMG_0482

Pada gambar di atas kita fokus pada jarak sekitar 1.7 meter (lihat garis kuning di tengah garis biru) dan ruang tajamnya adalah mulai dari 1.5 meter sampai dengan 2 meter (lihat garis biru di distance scale).

Continue reading Hyperfocal Using Fuji Lens

Menggabungkan Ide dan Teknik

Fotografi adalah bidang seni. So, kembali ide orisinal / kreatif memegang peranan yang penting. Tanpa ide maka foto cenderung akan hambar dan tidak menonjol. Banyak cara untuk mendapatkan ide, tapi semua berhubungan dengan bagaimana mengembangkan kreatifitas kita.

Contoh hal yang bisa mengembangkan kreatifitas kita adalah mencoba hal baru, melihat dan menggabungkan ide dari orang lain, atau mengadopsi ide dari bidang lain (bukan fotografi). Banyak cara, tapi butuh disiplin dan kemauan keras untuk mengembangkan ide kreatif. Salah satu yang penting adalah “open minded” – terbuka atas saran dan masukan dan tidak berhenti disitu tetapi mencoba.

Nah setelah idenya dapat muncul problem kedua, bagaimana menghasilkan / mewujudkan ide tersebut. Disinilah teknik berperan. Sudah tahu untuk menguatkan POI maka dibutuhkan slow speed di awan dan ombak misalnya. Tapi terbentur dengan tidak tahu bagaimana mewujudkannya, kan sayang juga.

Mengening Bali

So penting untuk paham dan “mengkoleksi” teknik. Jangan belajar teknik pada saat pemotretan yang sebenarnya, sehingga motret juga bisa konsentrasi pada pewujudan ide dan bukan trial teknik. Gak buang buang waktu dan momen pula.

Awalnya mungkin masih mikir bagaimana cara melakukan teknik tertentu, tapi lama kelamaan ini akan jadi otomatis dan bawah sadar. Jadi dengan cepat kita bisa menangkap momen.

Selain itu jangan obral teknik juga, semua teknik dipakai mentang mentang baru belajar teknik tersebut. Sesuaikan dengan ide dan konsep. Pakai teknik yang memperkuat ide dan bukan sebaliknya.

Teknik disini bukan hanya masalah exposure atau warna, tetapi juga tips dan trik mengenai komposisi, penggunaan POI, pengaturan elemen dalam fotografi, bahkan soal cuaca dan mengatasinya. Banyak sekali yang bisa dikumpulkan.

Disini sebenarnya peran grup. Di grup yang baik maka kita bisa melihat teknik yang digunakan orang lain, bertanya detilnya dan kemudian mencoba sendiri. Itu proses kita mengumpulkan teknik. So, peran aktif bertanya dan mencoba sangatlah penting.

Photo dari Andrey W – featured photo 6 Juli 2014

Tidak hanya itu, grup juga memungkinkan kita mengumpulkan ide dan di kemudian hari bisa kita gabung gabungkan sesuai dengan kebutuhan. Itu sebabnya Featured Photos on MY FB Group dan juga BBM editor choice hadir. Setelah terpilih jangan mau rugi, baca teknik nya, tanya ke yang menghasilkannya dan belajar + coba. Di motoyuk kita percaya bahwa dengan kita share teknik kita adalah cara kita mengasah teknik kita itu sendiri. Tidak akan ada ruginya share, ada justru lebih untung.

So kita ada di komunitas yang tepat, kenapa juga tidak dimanfaatkan untuk belajar lebih?


MY Weekly Editor’s Choice : Pengrajin Batok Kelapa, By : Bayoe Wanda

Suprise! Pasti.

Untuk nubie seperti saya, sebuah apresiasi sekecil apapun adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
Pun demikian dengan foto yang saya beri judul “Perajin Batok Kelapa @Cinangneng” suatu kehormatan bagi saya karena mendapatkan apresiasi Editor Choice of the Week di grup MY.

Foto ini saya ambil di desa Cinangneng, Bogor Jawa Barat, saat hunting bersama beberapa teman. Setelah berkeliling hampir separuh jalan, saya dan beberapa teman yang masih terengahengah, bertemu dengan si bapak yg menjajakan berbagai kerajinan dari batok kelapa dan bambu. Barangbarang tersebut terpajang rapih di teras rumahnya yang sekaligus berfungsi sebagai etalase. Dan ternyata bengkel kerjanya pun, tak jauh dari situ. Kemudian dengan senang hati si bapak, memperagakan cara membuat kerajianan tersebut. Klop! Saya dan beberapa teman langsung bersiap dengan kamera dan shutterpun bekerja.

My-Weekly-Bayoe-Wanda-2

Data exif foto ini : FL 24mm || Speed 1/125 || ISO 320
Diambil dalam format RAW selanjutnya saya edit dengan PS6 saya beri sentuhan HDR dan colornya DxO-FilmPack

Demikianlah sedikit cerita tentang foto ini, semoga berkenan.

Salam Jepret! – Bayoe Wanda




MY Weekly Editor’s Choice : HYPNOTIC, By : William Jusuf

Mulai minggu ini di BBM group MotoYuk akan diberikan award MY Weekly Editor’s Choice – dipilih oleh tim moderator Tedy & Edo. Tapi, khas motoyuk, award ini diberikan hanya ke mereka yang akhirnya mau share mengenai foto yang terpilih. Sehingga tidak sekedar memberikan kebanggaan bagi fotografer nya, melainkan juga manfaat buat yang lain. Dengan demikian semua bisa belajar.

Foto yang terpilih di minggu ini adalah foto berjudul “Hypnotic” oleh William Jusuf

weekly1

EXIF : F2.0 Center Weighted Metering , 1/125 second, ISO 400
Alat : lensa Canon LTM Sonnar 50 mm F1.5 dengan body Sony Nex 5N (equiv 75 mm)

Buat pribadi yang jarang berpergian secara khusus untuk hunting foto (contoh : saya) kegemaran foto menjadi suatu tantangan.

Lokasi foto yang didapatkan tentunya adalah tempat yang menjadi keseharian. Bisa di kantor, di jalanan, di mal, di restoran bahkan di area rumah kita.
Objek yang difoto tentunya bermacam-macam. Dari manusia, kerumunan manusia, pola laku masyarakat atau bentuk/ shape/ pola ruang dan benda

Continue reading MY Weekly Editor’s Choice : HYPNOTIC, By : William Jusuf




MY-ers Articles : Low Budget Macro, By: Fadholi

Sudah lama sebetulnya saya tahu ada beberapa teknik low budget untuk foto makro, salah satunya adalah dengan membalik lensa, namun tidak segera mencobanya karena sudah terlanjur pesimis dengan hasilnya, terutama soal ketajaman. Demi meramaikan Macro Learning Challenge di Motoyuk FB Group, akhirnya timbul keinginan mencoba dengan membeli copler ring ukuran 58/52mm untuk menyambung lensa kit EF-S 18-55mm dengan EF 50/1.8.

Dengan mempertimbangkan ukuran dan berat kedua lensa, diputuskan yang menempel di body adalah lensa kit sedangkan 50/1.8 dipasang di depan dalam posisi terbalik. Setting kamera yang dipakai adalah dengan Av mode, f:16 (karena DOF yang sangat tipis), autoISO, format RAW+JPEG untuk memudahkan post pro.

Setelah kedua lensa terpasang dan dicoba untuk memotret ada dua kesan yang muncul, kesan baik dan kesan tidak baik. Kesan baik pertama ternyata ketajamannya masih acceptable, (ya jangan disamakan dengan lensa makro tentunya…) dan kesan baik kedua pembesarannya meningkat drastis.

Sementar kesan tidak baik pertama fokusing yang sangat sulit karena mengharuskan maju mundur dengan jarah ke obyek yang sangat dekat. Kesan tidak baik kedua adalah timbulnya vignet yang sangat tebal. Semula saya menduga vignet ini muncul karena diameter ring lensa depan lebih kecil daripada lensa yang terpasang di body. Tapi ternyata dugaan saya salah, karena ketika posisi lensanya diubah sebaliknya, vignet yang muncul makin parah. Akhirnya saya simpulkan (walaupun masih dugaan juga…) bahwa munculnya vignet lebih karena keberadaan lensa yang dipasang di depan lensa. Dan tebal tipisnya vignet tergantung dari panjang lensa yang ada di depan Mungkin lebih tepanya disebut bayangan lensa ya…).

Foto di bawah ini adalah hasil dari kamera:

IMG_4569 original

Continue reading MY-ers Articles : Low Budget Macro, By: Fadholi

A Photographer’s Eyes

Belajar teknik itu penting, tanpa teknik fotografi yang benar maka foto yang dihasilkan antara : hoki (kadang bagus, kadang nggak – atau yang diinginkan gimana, hasilnya gimana, kalau hoki ya bagus deh jadinya) atau plain (foto kayak pemula motret pake kamera pocket – biasa aja dan tidak ada yang unik) atau kacau (terang dan gelap tidak teratur, acak-acakan).

Belajar komposisi juga penting, tanpa komposisi yang menarik maka foto juga akan jadi “just another photo“. Fotonya biasa saja, tidak unik, tidak menggugah, tidak menarik untuk dibicarakan pula. Komposisi bahkan merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam belajar fotografi (dan seni pada umumnya). Kenapa? Karena kalau teknik si kamera bisa di otomatis kan (mode otomatis, auto iso, auto aperture, auto segala macam dah), tapi tidak dengan komposisi. Pernah dengar kamera yang auto compose? Tidak rasanya hahaha.

Tapi tahu teknik komposisi dan tahu mengaplikasikannya di lapangan adalah 2 hal yang sangat berbeda. Seringkali obyek yang bisa menjadi foto yang indah tidaklah ber-label FOTO AKU!!! SEKARANG!!! . Obyek yang seperti ini seringkali tersembunyi dari pandangan mata biasa. Lihat foto bunga di atas … obyek foto ini ada di kerumunan bunga yang jadi hiasan di sepanjang travelator di bandara soekarno hatta. Dilihat dengan cara pandang biasa? Tidak ada yang spesial … SUMPAH!!!

Atau foto berbagai macam bangku (dan bagian-nya) ini, foto pertama adalah jajaran bangku di bandara changi, singapore. Memang bangku ini baru, tapi sungguh tidak ada menariknya kalau dilihat biasa, seringkali malah kita kelewatan tidak melihatnya karena buru-buru ingin ke imigrasi dan ambil bagasi (demi foto di kota singapura-nya ….)

Foto kedua adalah lekuk bagian belakang dari sebuah kursi meja di restoran. Spesial? Tidak sama sekali … restorannya juga biasa saja koq. Hanya saja lekuknya yang menarik dengan cahaya dari samping, ditambah dengan penggunaan lensa yang “menyembunyikan” bagian kursi lainnya yang kurang menarik membuatnya spesial.

Semuanya tersembunyi dari mata biasa. Tapi justru karena tersembunyi seringkali foto-nya bisa menjadi menonjol, terasa “wah”, terasa berbeda, dll. Jadi yang dibutuhkan oleh seorang fotografer bukan hanya teknik, bukan hanya teori komposisi, tapi terlebih adalah “A Photographer’s Eyes“.

“Mata” seperti ini tidak bisa diperoleh dengan cara belajar teori. Apalagi dengan transplantasi mata. Karena mata disini adalah kombinasi dari banyak hal :

Pikiran Kreatif

Ujung awal-nya tidak lain adalah otak kita. Apa yang kita bayangkan, yang ingin kita sampaikan, yang ingin kita tampilkan.

Misalnya foto disamping ingin menyampaikan pesan bahwa si turis mengagumi foto yang di foto-nya. Eh kebetulan pula turis tersebut memakai topi ala koboi amerika dan yang di foto adalah foto Barrack Obama dengan hiasan wajah bendera Amerika. Suatu kebetulan? Ya mungkin, tapi itulah cara fotografer menyampaikan pikirannya.

Bagaimana melatih pikiran kreatif? Sama halnya dengan melatih kreatifitas … mencoba terbuka dengan segala macam hal baru. Mencicipi dan mengalami berbagai pengalaman baru akan membuka pikiran kita sehingga lebih berani untuk berpikir di luar “norma” dan menjadi “thinking out of the box”.

Jadi awalilah fotografi dengan berusaha menjadi kreatif juga. Coba berbagai hal baru, termasuk berbagai genre fotografi. Serap dan cerna semua pengalaman baru, niscaya kreatifitas akan masuk ke dalam dirimu. Coba lihat dan nikmati puluhan foto tiap hari demi menambah “database” keindahan dan komposisi di otak mu. Kunjungi website seperti fotografer.net, fineart-portugal.com, 500px.com, 1x.com dll demi perbendaharaan komposisi dan keindahan foto. Jangan takut pula menghamburkan shutter count dari kamera-mu, pelajaran yang diperoleh akan jauh lebih berharga dibandingkan harga ganti shutter.

Continue reading A Photographer’s Eyes

Focusing

Salah satu elemen yang sangat penting dalam fotografi adalah focusing. Tanpa focusing kita bisa menghasilkan foto yang “well exposed” dan juga komposisinya bagus, tapi tidak tajam. Pada foto dibawah ini focusing dilakukan keliru, sehingga yang fokus / tajam adalah pada bagian yang merah (pagar kayu) dan bukan di bagian yang biru (wajah model).

Focusing bisa dilakukan secara manual maupun auto. Kalau secara manual ya artinya kita mengandalkan mata kita (dan alat bantu lain misalnya split screen) untuk melakukan focusing dengan tangan kita sendiri. Sedangkan auto focus menggunakan berbagai metode, termasuk diantaranya ultrasonic sound untuk melakukan focusing buat kita. Biasanya switch manual / autofocus ada di lensa kamera.

Continue reading Focusing