Tag Archives: teknik memotret

Teknik memotret bunga

[REPOST] – Ini sharing ilmu yang diperoleh dari Om Jeffry Surianto, maestro Macro dan Bunga. Kebetulan aku mendapat kesempatan emas belajar dari beliau.

Persiapan

Sebagai materi tentunya kita perlu membeli bunga segar. Bunga segar disimpan sesuai dengan aturan penyimpanannya, misalnya Tulip harus disimpan di ruangan ber-AC sebelum dikeluarkan untuk difoto. Jenis bunga yang akan di foto bisa beragam sesuai dengan keinginan.

Sebagai background bisa digunakan papan yang dilapisi kain beludru (misalnya hitam). Kenapa beludru? Karena kain ini serapan cahayanya paling baik, jadi tidak memantul.

tulip07 img 3842small Teknik memotret bunga

Teknik

Aku tidak akan membahas mengenai teknik dasar seperti angle pemotretan, apperture yang digunakan agar DOF-nya dapat, ISO yang digunakan agar tidak noise tapi masih dapat speed-nya, dll. Pembahasan ini khusus ilmu yang “berbeda” dibandingkan pemotretan biasa.

Pencahayaan pada pemotretan bunga diusahakan adalah dari cahaya alami / window lighting. Hal ini dikarenakan menggunakan flash akan membutuhkan kontrol yang lebih sulit untuk mengeluarkan warna pada bunga, kebanyakan akan pucat. Selain itu gunakan white balance “daylight” dan bukan auto-white balance agar warnanya tidak salah.

Teknik yang diajarkan Om Jeffry adalah dengan melakukan pemotretan under-exposure terlebih dahulu. Untuk melakukan ini umumnya dibutuhkan Mode Manual pada kamera. Lakukan beberapa kali percobaan sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan, yaitu keseluruhan foto agak gelap dan tidak ada area over-exposure sama sekali.

Continue reading

Backlight photography

Seringkali kita menghadapi kondisi dimana kita harus memotret dengan cahaya matahari / lampu di belakang obyek. Kondisi ini biasanya dikenal dengan nama “Backlight”. Oleh karena cahaya masuk semua ke kamera kita secara langsung (bukan dari hasil pantulan) maka biasanya hasilnya tidaklah seindah fotografi dengan side-light (matahari/cahaya datang dari samping obyek) atau front-light (cahaya datang dari belakang kita, atau dari arah depan si obyek).

Hasil yang sering terjadi adalah siluet, alias si obyek menjadi bayang-bayang hitam saja. Sulit dipisahkan antara mata, hidung dan pipi nya. Hal ini karena cahaya di belakang si obyek begitu kuatnya dan mengakibatkan sistem metering dari kamera kita ‘salah’ mengukur shutter speed / apperture yang dibutuhkan. Akan tetapi dengan cara pemotretan yang benar maka hasilnya justru bisa luar biasa. Hal ini karena backlight bisa berfungsi sebagai hair light, sehingga rambut terlihat bersinar indah.

BacklitShots 16 Backlight photography
Contoh pemotretan backlight dimana sinar membuat rambut bersinar – courtesy of : http://photo.tutsplus.com/

Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk mengatasi kondisi backlight ini. Dari yang paling sederhana sampai yang rumit :

  • Memindahkan obyek. Ini cara paling sederhana yang sering dilupakan para fotografer. Kita bisa menghindari terjadinya backlight dan siluet dengan cara memindahkan obyek (misalnya teman yang kita akan potret) sehingga cahaya menjadi side-light atau front-light. Seringkali kita terlalu heboh untuk memotret sehingga lupa mengatur posisi obyek kita sendiri.
  • Kita juga bisa membuat cahaya backlight hanya keluar sedikit, misalnya dengan memposisikannya agar terhalang sebagian. Seperti contoh di bawah ini matahari yang menjadi sumber cahaya backlight dikurangi dampaknya dengan meletakkannya di sela tangan model. Tentunya ini masih membutuhkan teknik misalnya exposure compensation / penggunaan flash. Tapi ini mengurangi dampaknya.
BacklitShots 38 Backlight photography
Courtesy of : http://photo.tutsplus.com/

Photo Gathering…Reveal #2

Bagaimana dengan foto ini :

 Photo Gathering…Reveal #2
Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 20mm | Manual Mode | f8 | 1/30 secs | ISO400 | Flash with tronic trigger (sepertinya 50mm power -1)

Ada yang terbayang cara memotretnya? Menggunakan flash, sudah pasti icon smile Photo Gathering…Reveal #2 Hal ini dikarenakan cahaya senja (jam 17.59 WIB) sudah tidak mungkin menyinari Fani yang menjadi model. Tidak ada pula cahaya lampu yang membantu. Jadi mau tidak mau kita harus menciptakan sendiri cahaya-nya, dengan menggunakan flash. Teknik ini umumnya dikenal dengan teknik strobist.

Teknik memotret dengan flash dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut :

1. Gunakan mode Manual (mode Apperture priority dan mode yang lain akan melakukan kompensasi metering yang hasilnya jadi kurang ok).

Lakukan langkah-langkah seperti di Photo Gathering Reveal #1, yaitu memilih apperture, shutter speed (tidak ada EV pada mode manual) dan ISO. Kalau perlu gunakan mode apperture priority sebagai benchmark. Tidak usah pedulikan si model yang menjadi gelap dan tidak kelihatan detilnya sama sekali. Buat dulu setting dimana background langit senja kelihatan bagus dan exposure-nya tepat.

Pada pemotretan ini dipilih setting apperture f8 untuk meyakinkan bahwa ketajaman gambar mencukupi. Shutter speed 1/30 secs + ISO400 dibutuhkan agar langit senja dibelakangnya masih kelihatan cukup terang dan awannya keliatan detilnya.

2. Setelah setting untuk backgroundnya sudah kita dapatkan barulah kita setting flash sebagai fill-in light bagi model. Flash bisa menggunakan built-in flash, flash yang dipasangkan di hot-shoe, atau pada contoh ini kita menggunakan off shoe flash + trigger. Keuntungan menggunakan flash trigger adalah flash-nya bisa kita atur-atur posisi-nya, tidak harus nangkring di atas kamera.

Dalam foto ini flash berada di kiri belakang kamera (terlihat dari bayangan yang terbentuk). Sebagai dampak dari peletakan flash ini maka sinarnya bisa menyorot ke sudut tertentu saja. Hasilnya tentunya lebih eksotis dibandingkan lurus dari depan saja.

Walau ada teorinya untuk mengukur berapa kekuatan flash tapi saya lebih sering menggunakan metode TEF (trial, error dan feeling). Cara TEF-nya ya coba aja dipotret. Kalau terlalu gelap / terang tinggal diatur lagi. Untuk mengurangi exposure flash (yang bsia mengakibatkan muka model putih semua karena over exposure) bisa dilakukan dengan :

  • Mengurangi power flash, baik dari dalam DSLR untuk built in, maupun dari flash nya sendiri (baca buku panduan flash nya ya)
  • Menjauhkan flash dari model, makin jauh flash dari model maka cahaya yang sampai ke muka model makin berkurang – ingat dengan menjauhkan maka sudut sinarnya juga berubah ya

Pada kasus ini flash berada sekitar 4-5 meter dari model, dengan flash compensation -1 dan flash focal length indicator 50mm.

Pusing ya? Hehe kalau dicobain langsung gak serumit teori-nya koq. Jadi gabung saja di photo gathering motoyuk!!! berikutnya.

MOTO YUK !!!

Photo Gathering Reveal…#1

Udah liat fotonya? Sekarang gimana bikinnya icon smile Photo Gathering Reveal…#1

 Photo Gathering Reveal…#1
Sunset by Edo | Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 17mm | Apperture Priority | f8 | 1/3 secs | ISO400 | EV -1 | Picture Style landcape

Untuk foto ini cukup mudah caranya. Kunci terpenting bukan pada kamera atau skill, tapi timing. Foto ini diambil pada sore menjelang malam, dikenal dengan nama twilight, tepatnya jam 18.06 WIB. Waktu yang cenderung cukup malam dan banyak orang sudah pulang. Tapi justru pada saat seperti ini paduan warna langitnya paling indah. Jadi skill pertama : sabar menunggu momen.

Pada saat pemotretan saya menggunakan picture style landscape, karena sejauh ini untuk kondisi landscape & Canon 40D inilah picture style canon yang paling ok, saturasi warnanya paling nendang. Sedangkan untuk mode pemotretan saya pilih mode Apperture Priority (Av) karena saya ingin atur ruang tajam-nya. Maunya tentu saja sampai apperture f16 atau f22. Tapi mengingat ini adalah foto siluet dimana detil 3 dimensi tidak terlalu masalah maka lebih baik mengejar shutter speed. Kalau saya paksakan dengan menggunakan f16 shutter speed bisa sampai dengan 5 secs. Hal ini kurang baik karena selain bisa goyang dan kurang tajam, daun kelapa juga bisa sudah tertiup angin, jadi bisa blur juga – kurang sharp. Jadi akhirnya saya pilih f8.

Setelah apperture dipilih maka saya cek kembali (pada Exposure compensation EV 0), ternyata speed yang diperoleh masih kurang memuaskan, sekitar 3 secs. Plus saat gambar diambil saya tahu pasti akan over exposure karena kebanyakan langit + obyeknya gelap. Jadi saya setting EV menjadi -1. Ini membuat foto lebih gelap tapi justru sesuai dengan kenyataannya.

Ternyata pada ISO 200 shutter speed masih di kisaran 0,5 secs. Dengan pertimbangan bahwa Canon EOS 40D pada ISO 400 masih acceptable noise-nya maka saya setting ISO nya menjadi ISO400. Didapatkan konfigurasi f8 | EV-1 | ISO400 | 1/3 secs. Bagi lensa biasa mungkin bisa goyang, tapi karena lensa saya memiliki Image Stabilizer + focal length yang digunakan adalah 17mm maka kecepatan shutter 1/3 secs masih memadahi.

Jepret!!! Hasilnya immediate…tidak perlu pengolahan aneh-aneh.

Sulit? Tidak sesulit teorinya koq setelah dipraktekkan di lapangan. MOTO YUK !!!




My Last Day in Cambodia

Well sebenarnya besok hari terakhirnya, tapi karna ga bisa berbuat banyak juga besok mengingat pesawat jam 08.30 so di consider ini hari terakhir. Hari ini perjalanannya jauh, baik ke utara maupun selatan. Tapi semuanya worthed, walau selama perjalanan debu kayak “disiram” ke muka dan panas ga ketulungan.

Sunrise @ Angkor Wat

Memulai hari jam 05.30 (lagi) akhirnya aku putuskan untuk berhenti di Angkor Wat demi sunrise nya yang terkenal. Memang terbukti terkenal karena jam 6 pagi saja udah ada mungkin ratusan orang berkeliaran. Memiliki lensa super wide akan sangat membantu karena dengan demikian kita bisa mendekat ke Angkor Wat (lensa biasa butuh jarak cukup jauh untuk bisa cover semua sisi) dan kita bisa mendekati kolam yang terkenal dengan refleksi nya.

sunrise at angkor wat img 62101 My Last Day in Cambodia
Sunrise – Angkor Wat – Cambodia

Tripod dan GND + CPL tentunya adalah “kewajiban” mengingat situasi nya dimana langit dan bumi beda exposure cukup jauh. Satu hal lagi adalah karena kita menghadap sunrise maka foto-foto cenderung akan cukup gelap (jadi siluet) kalau tidak diatur penggunaan GND nya dengan baik. Sunrise berlangsung cukup cepat di sini, jadi jam 7 pagi sudah bisa pack and go.

Banteay Srei

Lokasi Banteay Srei cukup jauh, sekitar 1 jam perjalanan dari Angkor Wat, atau 1,5 jam dari Siem Reap. Sepanjang perjalanan tentunya debu akan “menebal” di muka kita. Jadi berangkat jam 7 pagi adalah pilihan yang sangat baik, karena cuaca masih relatif sejuk.

Banteay Srei adalah candi kecil, tapi ukirannya luar biasa detil dan menggunakan batu candi & sandstone yang unik (warna merah bata dan merah muda). Detil ukirannya benar-benar luar biasa, tiap gerbang bahkan memiliki ukiran yang berbeda. Sebenarnya pilihan terbaik begitu sampai sana adalah mampir ke exhibition center dimana kita bisa membaca mengenai sejarah dan detil Banteay Srei sebelum masuk dan melihat sendiri. Tapi karena sampai sana sudah jam 8 (dan karena tidak tahu juga) maka begitu datang langsung motret.

Lokasinya sendiri menghadap timur, sangat cocok untuk pemotretan pagi. Sinar matahari yang lembut mengenai nya dan background nya langit yang biru. Cukup setting white balance ke Daylight atau Cloudy dan digabung dengan warna dasar candi yang merah bata lengkap sudah foto yang diambil, kombinasi tanah kuning, candi merah bata, langit biru dan middle-ground pepohonan yang hijau. Pastikan mengambil foto dari sudut kolam dimana refleksi candi terlihat melengkapi foto yang diambil.

Keluar dari belakang candi dan mengikuti jalan kita bisa melihat beberapa “viewpoint” yang sebenarnya ditujukan agar kita bisa memotret burung. Tapi pada saat saya datang tidak ada segelintirpun burung disana. Jadi masih bersyukur karena tidak membawa lensa tele saya yang super duper berat. Selesai dengan viewpoint ini maka sampailah saya di exhibition hall. Menarik sekali proses restorasi yang dilakukan, sejarah ini harus dilihat sendiri di sini. Very recommended place to visit.

PS : Mengingat berangkat pagi dari Siem Reap maka lebih baik bawalah sarapan anda dan makan saat di TukTuk.

Angkor Wat (lagi)

Kembali dari Banteay Srei saya sempatkan mampir lagi ke Angkor Wat. Bukan hanya karena ini kesempatan terakhir melihatnya, tapi juga karena belum sempat melihat relief & ruangan dimana bunyi gema terdengar waktu kita menepuk dada kita. Hal ini semua tidak berhubungan dengan fotografi jadi bisa dilakukan di tengah hari, antara jam 11-14 dimana matahari pas tinggi-tingginya. Relief di semua sisi lantai 1 Angkor Wat detil dan indah. Agak berbeda mungkin dengan relief candi borobudur misalnya. Candi borobudur dibangun jauh sebelum Angkor Wat dibangun. Jadi tingkat kehalusan ukirannya agak  berbeda, Angkor Wat lebih halus. Total ada 8 relief yang bercerita mengenai 8 hal berbeda. Mulai dari cerita Ramayana, perang Baratayudha, penggambaran surga dan neraka di agama Hindhu/Budha, dan yang terkenal adalah “The Churn of the sea of milk”. Relief yang terkenal ini bercerita mengenai epik di Hindhu yang menceritakan bagaimana “bad guy” dan “good guy” bekerjasama memerah lautan untuk menghasilkan Amirta, air kehidupan. Apabila ingin memotret relief ini dibutuhkan lensa super wide, setting dengan EV antara -1/3 s/d -1, ISO 400, Daylight White Balance dan cuaca yang terik. Hal ini mengingat lokasi relief ini ada di “dalam” ruangan, tidak seperti candi borobudur yang di lokasi terbuka.

Ruangan dimana gema terdengar kalau kita menepuk dada kita (dan hanya dada kita, bagian lain dari tubuh tidak akan bergema) ada di lantai 2. Lokasinya ada persis di depan patung Budha yang ada disitu. Cukup menarik untuk dicoba. Tanya saja dengan tour guide yang bertebaran disana.

Sepulangnya dari Angkor Wat saya coba makanan khas Kamboja, daging babi yang ditumis dengan akar bunga lotus. Well rasanya agak aneh (akar lotus nya). Tapi kalau ingin mencoba sih boleh saja. Kebetulan sehari sebelumnya saya ditawari oleh salah satu tour guide yang sedang menunggu di Nek Poan biji bunga lotus. Dimakan seperti kacang / melinjo. Rasanya tawar. Tapi menurutnya bisa menjernihkan pikiran.

Tonle Sap Lake & Floating Village Cheong Knah

Sorenya saya berangkat jam 15.30 menuju ke arah Selatan, ke Tonle Sap Lake. Danau air tawar ini merupakan danau air tawar terluas di asia tenggara apabila sedang musim hujan, karena luasannya mencapai 12.000 km persegi. Yang luar biasa adalah kalau sedang musim kemarau (seperti saat saya pergi) luasannya hanya 2.500 km persegi. Jadi sejauh perjalanan kita bisa melihat area yang akan “tergenang” pada saat musim hujan. Luar biasa luasnya. Itu pula sebabnya bangunan di kiri kanan jalan menuju Tonle Sap Lake antara rumah panggung, atau merupakan floating house (bagian bawahnya seperti perahu). Keren sekali dilihatnya, sayang tidak sempat memotretnya karena agak ngeri juga melihat pemukimannya yang cenderung sangat kumuh. Menuju Tonle Sap Lake kita bisa juga berhenti di perkebunan bunga lotus.

Sesampainya di “pelabuhan” kita bisa kena charge USD 30 untuk perahu menuju danau dan floating village. Mahal sekali memang, tapi mengingat saya sendirian naik perahu itu maka itu cenderung cukup “murah”. Ada cara agar kita bisa naik dengan lebih murah, yaitu dengan memesannya melalui agen tour di Siem Reap. Hal ini dikarenakan dengan ikut grup maka satu perahu diisi lebih banyak orang. Tapi entah bisa seberapa murah. Tapi perjalanan menuju danau, floating village dan crocodille farm (yang ada di tengah danau) memang worthed untuk dilakukan.

Di perahu saya ditemani oleh satu orang anak, mungkin anak SMP. Dia bicara dengan bahasa inggris sangat lancar. Hal ini karena di pagi hari dia sekolah dan siang harinya belajar bahasa inggris di tempat pelatihan lokal. Sore harinya dia datang ke pelabuhan untuk menemani turis. Selain untuk praktek bahasa inggris, juga untuk mendapatkan tips untuk sekolahnya. Sekolahnya sendiri terletak 15 km dari rumahnya, di Siem Reap. Luar biasa ya semangatnya? Ditemani dia saya sangat terbantu karena dijelaskan banyak bangunan yang ada sepanjang perjalanan dengan menggunakan perahu itu. Mulai dari perahu yang digunakan sebagai alat transportasi, gereja terapung, pengisian air bersih (terapung tentunya), toko kelontong, pasar ikan, dll semuanya terapung diatas sungai. Selain itu juga ada semacam tiang yang sangat tinggi di pinggir sungai. Ternyata itu tanda perairan dangkal apabila dimusim hujan airnya meluap (tanpa melihat sendiri tidak akan terbayang luapan airnya, luar biasa sekali luasnya).

Di tengah perjalanan saya juga baru tahu bahwa selain etnis Kamboja adapula etnis Vietnam yang tinggal di perkampungan tersebut. Tapi perbedaannya adalah etnis Vietnam tidak mengirimkan anaknya sekolah, melainkan “menggunakannya” sebagai obyek foto bagi turis. Sangat disedihkan budaya seperti ini. Anak-anak etnis Kamboja sendiri harus melintasi sungai (sendirian menaiki perahu) selama 30 menit, kemudian melanjutkan perjalanan darat sekitar 30 menit untuk mencapai sekolahnya. Itu mereka lakukan tiap hari.

Lensa yang paling tepat digunakan pada perjalanan ini menurut saya adalah lensa medium, misalnya 17-55 mm (untuk sensor APS-C seperti Canon 40D) atau 24-105 mm (untuk full frame, misalnya Canon 5D Mark II). Hal ini dikarenakan jarak dengan obyek sangat bervariasi, kadang dekat kadang cukup berjarak. Jadi lensa medium akan sangat membantu. Penggunaan hood juga akan sangat membantu mengingat kadangkala ada cipratan air sedikit masuk ke area kapal. Setting kamera sendiri harus membuat shutter speed yang diperoleh mencukupi. Hal ini dikarenakan kecepatan kapal yang lumayan, kalau shutter speed terlalu lambat maka foto akan blur. Saya sendiri menggunakan setting f8 dan ISO400 untuk mendapatkan speed di kisaran 1/200 seconds. Apperture sesempit f8 saya gunakan untuk menghindari miss focused yang sangat mungkin terjadi pada momen yang berlangsung cepat seperti di kapal ini.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 30 menit terlihatlah Cheong Knah, the floating village. Jika kita membayangkan floating village = belasan rumah terapung, salah besar. Ada ratusan rumah terapung di tengah danau yang luar biasa luas itu (sebagai perbandingan danau toba di sumatra utara memiliki luasan 3.000 km persegi, sedangkan Tonle Sap luasan di saat musim kemarau mencapai 2.500 km persegi, dan di musim hujan mencapai 12.500 km persegi). Merupakan obyek fotografi yang sangat indah karena rumah-rumah ini di cat dengan warna – warna mencolok seperti biru, hijau, kuning atau merah. Menarik sekali.

Setelah menjelajah sebentar perkampungan ini kita berhenti di satu rumah terapung besar, dimana kita bisa melihat berbagai cara menangkap ikan gaya Kamboja. Berbagai jala dan keramba dipertunjukkan disitu. Di bagian paling atas dari rumah tersebut ada dek dimana kita bisa menunggu sunset. Sayang  pada saat saya datang matahari bersembunyi di balik awan yang cukup tebal.

Makan malam hari itu saya coba BBQ Pork Ribs yang ada di dekat hotel. Lebih tepatnya di ujung “Pub Street” di depan Red Piano Resto. Harganya cukup manusiawi untuk ukuran Kamboja, USD 1.5 untuk ribs. Rasanya cukup enak dan lokasinya sendiri cukup ramai. Jadi kalau tidak berminat dengan ribs ya tinggal mampir ke warung tenda sebelah dimana ada Amok, Beef Curry, Nasi goreng khas Kamboja, dll.


Bali … #3

Sayang sekali lensa yang kupunya tidak cukup wide, sepertinya aku butuh 10mm untuk pemandangan ini. Hal ini karena indahnya ray of light berwarna merah dengan background langit biru gelap tidak sepenuhnya bisa ditangkap pada foto ini. Keindahan yang akhirnya pasrah aku nikmati dengan mataku saja icon smile Bali … #3

Momen fotografi pagi hari ada 2. Sunrise adalah salah satu yang semua orang cukup paham. Tapi 5-15 menit sebelum sunrise sebenarnya juga ada momen twilight dimana langit sangat indah. Warna biru gelap langit malam bertransformasi jadi langit pagi. Seringkali awan putih, merah, kuning atau ray of light nampak. Jadi, jangan telat bangun icon smile Bali … #3

sunrise at nikko 02 img 4536 Bali … #3
“Sunrise at Nikko” | 17mm | Av @ f22 | 0.8 secs | ISO100 | EV0 | GND 0.6x | Tripod mounted | Hyperfocals

Begitu matahari mulai muncul maka kendala utama pemotretan landscape muncul pula….dynamic range. Kalau kita metering langit maka bagian bawah dari foto akan gelap. Sebaliknya metering pada bagian bawah foto (foreground) maka langit akan overexposed (putih). Oleh sebab itu filter Gradual Neutral Density biasanya adalah wajib.

Untuk menentukan GND mana yang tepat ada 2 opsi. Coba – coba adalah opsi 1. Opsi lain adalah menggunakan spot metering dan melihat berapa perbedaaan metering antara langit dan daratan. Misalnya waktu kita spot metering langit jatuh di f8 sementara di daratan butuh f4 maka sebenarnya kita hanya butuh 2 stop GND (GND 0.6x)

PS : tiap 1 stop maka angka apperture kurang lebih naik 1.4x. Misalnya : f1.4, f2, f2.8, f4, f5.6, f8 –> masing masing beda 1 stop

Foto yang ini masih bisa handheld karena lensa yang aku gunakan ada image stabilizer-nya, dan obyeknya adalah landscape yang “tidak bergerak”.

reflection of sunrise img 45431 Bali … #3
“Reflection of sunrise” | 17mm | Av @ f22 | 0.6 secs | ISO100 | EV0 | Tripod Mounted | GND 0.6x | Crop using Canon DPP

Selain keindahan sunrise fotografi di tepi pantai yang dangkal seperti di Nikko Hotel bali ini ada keuntungannya, refleksi. Hal ini karena pada laut dangkal maka goyangan air dan ombak minimal.

bentangan langit img 4560 Bali … #3
“Bentangan langit” | 17mm | Av @ f11 | 1/80 secs | ISO100 | EV-1/3 | Handheld

Oleh karena matahari sudah mulai muncul maka tidak memungkinkan mendapatkan “proper” metering. Bagian matahari pasti over exposed. Sehingga aku putuskan untuk mengambil pendekatan yang berbeda, yaitu lebih fokus pada pantulan-pantulan yang ada di pantai. Salah satu idenya adalah membuat seakan-akan kita sedang terbang melintasi kepulauan menuju matahari, seperti di foto di bawah ini :

fly to the sun img 4556 Bali … #3
“Fly to the sun” | 17mm | Av @ f11 | 1/80 secs | ISO100 | EV0 | Handheld

Flare memang salah satu kendala, sulit dihindarkan bahkan menggunakan lens hood sekalipun. Hal ini karena sinar matahari masuk langsung ke lensa, garis lurus.

VISIT INDONESIA….visit bali….enjoy “The Land of God”

Bali … #2

Masih di kisaran Bali, tepatnya Tenganan, Pantai Candidasa dan Pantai di Nikko Hotel

tenganan lontar carving img 4480 Bali … #2
“Tenganan Lontar Carving” | 28mm | Av @ f5 | 1/100 secs | ISO400 | EV0

Pilihan warna sephia digunakan untuk menguatkan kesan etnik yang ada. Angle dipilih untuk menambahkan kesan dinamis pada foto. Sedangkan apperture dan iso menyesuaikan dengan kebutuhan depth of field dan juga pencahayaan yang ada (ingat rule of thumbs shutter speed adalah 1/focal length – atau minimal 1/60 secs untuk still life dan 1/125 secs untuk human interest).

mendung di candidasa 01 img 4503 Bali … #2
“Mendung di candidasa” | 55mm | Av @ f11 | 1/125 secs | ISO400 | EV-1/3 | Warm custom White Balance

Kondisi pemotretan cukup menantang, karena hujan rintik-rintik dari arah muka. Sehingga potensi lensa kena rintik hujan menjadi sangat besar. Pada saat seperti inilah Lens Hood sangat berguna. Hood membuat rintik hujan tertahan sedikit.

f11 digunakan untuk memastikan depth of field maksimum. Tapi sebenarnya pada kasus dimana focal length tele yang digunakan kita bisa menggunakan f8 atau bahkan f6.3. Tapi untuk amannya maka gunakan apperture sempit seperti f11.

Custom white balance dengan nuansa warm digunakan untuk menguatkan efek sore hari yang memang terasa disana pada sore itu. Apabila kita menggunakan auto white balance maka nuansanya akan cenderung cold. Hal ini dikarenakan banyaknya porsi awan pada foto, mengakibatkan perhitungan auto white balance menjadi meleset.

Saat keluar dari kamar hotel untuk berburu sunrise ternyata langit pagi sudah begitu indahnya. Tergopoh gopoh saya berlari. Di kepala saya yang terbayang adalah siluet nyiur (pohon kelapa) yang berjejer menjadi foreground dari langit yang indah ini. Sayang sekali, tengok kanan kiri maka barisan nyiur dengan siluet payung-payung pantai ini adalah spot terdekat dan terbaik saat itu. Oleh sebab itu saya putuskan ambil saja foto disini, mengingat momen twilight sunrise hanya berlangsung 10-15 menit saja.

Image Stabilizer yang ada pada lensa EF-S 17-55 f2.8 IS milik saya sangat berguna dalam kondisi ini. ISO tidak mungkin saya push lebih jauh lagi karena batasan kamera saya untuk hasil yang masih considerably noise free adalah ISO400. Sedangkan apperture saya tidak berani push lebih lebar lagi misalnya di f5.6 (sebenarnya kalau sekarang mikir2 lagi sih harusnya berani aja, siluet ini kan ya?). Jadi pilihannya adalah mengandalkan IS yang bisa menahan getaran sampai dengan 2-3 stop.

Exposure compensation harus diturunkan (dalam kasus ini -1). Hal ini dikarenakan langit dan siluet yang cenderung gelap akan mengacaukan kalkulasi metering kamera. Akibatnya jika kita tidak turunkan EV nya maka kamera akan berusaha membawa overall tone ke gray 18%, alias menjadi over exposure.

reflection of sunrise img 4543 Bali … #2
“Reflection of sunrise” | 17mm | Av @ f22 | 0.6 secs | ISO100 | EV0 | Tripod

Sudah jelas ini adalah refleksi awan-awan yang ada di pantai hotel Nikko. Untuk mendapatkannya tentunya tripod adalah mutlak. Hal ini dikarenakan kita menyertakan foreground s/d background. Sehingga kita perlu memaksimalkan depth of field kita, misalnya dengan menggunakan f22, dan dibantu tripod untuk menjaga tingkat goyang dari kamera.

Selamat menikmati….




Another photo from CNX

CNX = Chiangmai…

renovation img 3358 Another photo from CNX
Renovation | Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 17mm | Apperture priority | f16 | 1/50 secs | ISO200 | EV 0 | Custom White Balance & further enhancement on color saturation on Canon DPP

Foto ini diambil untuk menampilkan usaha renovasi yang sedang dilakukan di Wat PhraTat Doi Suthep. Angle sengaja diambil rendah karena 2 hal :

  1. Supaya semua yang ingin dimasukkan masuk ke dalam frame, maklum lensa paling wide yang aku punya adalah 17mm. Tidak ada lensa superwide yang seharusnya bisa memasukkan semua dengan mudah tanpa low angle
  2. Dengan low angle maka kesan megah dan “grande” dari kuil diharapkan bisa lebih menonjol, dibandingkan jika diambil dari eye-level

Enjoy……..




Klub Foto – Week 3 – More about apperture

Di minggu ketiga ini kita mencoba untuk mengaplikasikan konsep apperture pada foto produk dengan model. Konsepnya tentu bisa beragam dan tidak ada benar salah, tapi aku coba tunjukkan konsep yang aku buat. Modelnya disini juga salah satu anggota klub (Thanks Septi), dan produknya adalah handphone ku sendiri hehe, just for fun.

Ada 2 hal yang ingin aku lakukan disini :

  1. Menonjolkan produknya
  2. Memberikan technical specs pada foto ini

Buat tujuan pertama aku capai dengan :

  • Menggunakan apperture besar (f3.5) dan fokus diarahkan pada produk. Hal ini membuat ada efek depth of field dan jarak antara produk dan model. Efek ini juga makin menonjolkan produknya (karena modelnya menjadi agak blur). Kenapa aku tidak menggunakan f2.8? Karena pada percobaan sebelumnya ternyata f2.8 membuat tidak semua bagian produk tajam, ada yang out of focus sedikit
  • Menggunakan tele lens. Pada pemotretan ini aku menggunakan lensa 70-200 f2.8 IS L di focal length 80mm. Focal length ini aku pilih untuk menambah efek depth of field pada foto. Selain itu focal length sepanjang ini diperlukan untuk menonjolkan handphone yang ukurannya relatif kecil. Jika kita menggunakan lensa wide maka handphonenya terlihat terlalu kecil dan kurang menonjol.
  • Membuat jarak antara foreground (handphone) dan background (model), ini diperlukan juga untuk menambahkan efek depth of field yang diinginkan. Jika handphone dipegang di samping wajah model maka sulit untuk kita mendapatkan efek ini, karena jarak foreground dan background terlalu dekat. Oleh sebab itu pose yang dipilih pun dengan menjauhkan handphone dan wajah.
  • Memberikan background yang kontras, aku pilih warna oranye yang kebetulan adalah warna dinding di ruangan klub kita. Posisi handphone juga diarahkan agar kontras, bayangkan jika handphone pada foto dibawah ini diletakkan di depan tubuh model. Akan sulit keliatan karena kebetulan baju yang digunakan model warnanya gelap.

img 2875 Klub Foto – Week 3 – More about apperture
Canon EOS 40D | EF 70-200 f2.8 L IS @ 80mm | Apperture priority @ f3.5 | 1/80 secs | ISO 1600 | EV 0

Untuk kebutuhan yang kedua maka saya posisikan model dan obyek sehingga masih ada ruang kosong di sebelah kiri untuk teks. Memang betul bahwa hal ini bisa dilakukan lebih lanjut di photoshop (extend background), apalagi dengan background yang polos begini. Tapi kali ini saya ingin melakukannya langsung dari kamera. Setelah itu saya gunakan Picasa 3.5 dari Google (freeware…keren abis) untuk menambahkan teks spesifikasi dari handphone yang ditunjukkan (saya tahu pemilihan font dan color masih bisa di improve, tapi saya sedang tidak punya banyak waktu hehehe)

img 2875 with text Klub Foto – Week 3 – More about apperture

So, itulah hasil percobaan yang dilakukan dengan menggunakan apperture dan teknik2 yang sudah disebutkan di klub foto sebelumnya.

Next 2 week : ….LANDSCAPE PHOTOGRAPHY….stay tuned




Klub Foto – Week 2 – Exposure compensation

Ada satu hal yang seringkali kurang dipahami fotografer, yaitu cara kerja metering kamera. Tidak seperti mata kita yang bisa menyebutkan bahwa warna papan tulis adalah hitam dan warna kertas putih adalah putih di dalam kondisi pencahayaan apapun, maka kamera tidaklah demikian.

Dalam menentukan mana yang hitam dan yang putih (dan warna lainnya sebenarnya yang berada di rentang hitam – putih) kamera mengandalkan 2 hal : metering (untuk menentukan terang gelap) dan white balance (menentukan mana yang disebut gray color). Di minggu kedua ini klub foto membahas mengenai exposure compensation, yang berhubungan dengan aspek 1 dari 2 hal diatas.

Metering kamera secara umum berusaha mengatur cahaya yang mengenai sensor sehingga rata-rata warna di dalam foto mencapai 18% middle gray. Jadi bayangkan kalau semua warna dalam foto di campur jadi satu kira kira akan jadi warna abu-abu muda. Biasanya hal ini cukup akurat pada berbagai foto. Tapi tidak pada kondisi ekstrem.

Pada kondisi dimana misalnya background dan juga obyek berwarna gelap, atau hitam pada ekstremnya, maka kamera tetap berusaha membawa rata-rata warna menjadi abu-abu. Akibatnya? warna hitam yang dihasilkan tidaklah benar-benar hitam, melainkan agak abu-abu, seringkali disebut sebagai “over exposure”

exposure examples Klub Foto – Week 2 – Exposure compensation

Sedangkan pada kondisi dimana banyak obyek foto berwarna putih maka kamera juga berusaha membawanya ke abu-abu. Tentunya kali ini dengan cara membuat cahaya yang masuk ke kamera lebih sedikit / “under exposure”. Hasil yang terlihat adalah obyek foto tidak benar-benar putih, melainkan agak abu-abu/gelap.

Untuk mengatasi hal ini kita bisa melakukan 2 hal, menggunakan mode Manual atau mengatur exposure value (EV). Cara yang pertama memberikan kebebasan lebih luas, akan tetapi cara kedua adalah cara yang paling mudah dan cepat. Cara kedua ini pula yang paling sering saya gunakan.

Semua kamera DSLR dan sebagian kamera pocket memiliki kontrol exposure value ini. Coba cari di buku manual kamera anda. Biasanya ditandai dengan angka -2 s/d +2 (ada beberapa DSRL yang -3 s/d +3 bahkan -5 s/d +5). Biasanya nilainya merupakan kelipatan 1/3, menyatakan berapa “stop” penurunan / kenaikan exposure yang diperoleh.

Pada situasi dengan background gelap (over exposure) maka turunkan EV pada kamera anda, misalnya menjadi -1. Sedangkan pada pemotretan yang under exposure (gelap) naikkan EV di kamera anda, misalnya menjadi +2/3

Penggunaan EV akan berpengaruh pada metering kamera, seakan-akan kita mengkompensasi metering tersebut. Oleh sebab itu tentunya apperture dan shutter speed yang dihasilkan akan berbeda. Misalnya dengan setting di “Apperture Priority” dan kita menurunkan EV -1/3 maka shutter speed yang sebelumnya misalnya 1/100 seconds akan menjadi 1/125 seconds (turun 1/3 stop).

Tidak perlu terlalu pusing icon smile Klub Foto – Week 2 – Exposure compensation coba saja mainkan EV pada kamera anda, dan lihat hasilnya, dijamin langsung mengerti koq.