Tag Archives: tajam

Pentingnya kontras dalam fotografi lanskap

Ada beberapa rekan menanyakan bagaimana membuat foto lanskap yang tajam/sharp menggigit. Apakah ini berhubungan dengan perangkat yang digunakan? … hemmmm … ya, sedikit banyak berpengaruh, tapi faktor yang utama adalah teknik yang benar dan kontras yang cukup.

Teknik yang benar sudah dibahas dalam buku fotografi lanskap motoyuk (bisa di beli di Gramedia). Ini berhubungan dengan penggunaan aperture, shutter speed dan iso yang tepat. Berhubungan pula dengan penggunaan tripod untuk shutter speed yang lambat.

Nah, kalau kontras? Coba lihat foto di bawah ini :

NORAH HEAD_HDR_BEFORE
Norah-Head-HDR-FINAL

Foto yang bawah nampak lebih tajam? Ya, salah satunya karena kontras yang memadahi.

Tonal contrast adalah seberapa jauh berbeda antara area paling terang dan paling gelap di foto. Foto dengan contrast rendah akan terlihat seperti memiliki selaput, dan akibatnya di persepsikan kurang tajam. Foto dengan kontras terlalu tinggi juga tidak bagus karena terlihat kasar. Kontras harus pas.

Continue reading Pentingnya kontras dalam fotografi lanskap

Fotoku tidak tajam

“Wah fotoku gak tajam nih, apakah karena lensa nya bukan L series ya?”

“Atau karena body nya yang bukan profesional series ya?”

Well, my-ers sebelum memutuskan untuk upgrade saja, coba cek beberapa hal berikut yang kemungkinan membuat foto milik teman – teman tidak tajam :

Foto ini kalau di zoom sampai sangat dekat memiliki kendala dengan bagian perahu yang tidak tajam. Bukan karena masalah lensa/body, melainkan karena perahu ada di atas air laut yang bergoyang. Sehingga walau kamera sudah ada di atas tripod, tapi karena agak long shutter speed maka bagian perahu tetap tidak full tajam.

Shutter Speed

Penyebab paling sering dari gambar tidak tajam sebenarnya bukan masalah lensa, melainkan teknik yang keliru. Shutter speed yang terlalu lambat lebih sering mengakibatkan foto tidak tajam, daripada lensa yang “murahan”.

Jadi berapa sebenarnya shutter speed yang dibutuhkan? Rule of thumbs nya : 1 / focal length.

Misalnya kita menggunakan lensa zoom 18-55mm lalu kita gunakan di 18 mm maka kita membutuhkan minimal 1/18 seconds  agar gambar tidak goyang (karena tidak ada speed itu di kamera, maka yang lebih dekat adalah 1/20 seconds). Sedangkan apabila kita mengaturnya di 55mm maka kita membutuhkan minimal 1/55 seconds (= 1/60 seconds) atau lebih cepat lagi.

Bagaimana kalau speed yang kita peroleh tidak secepat yang dibutuhkan (misalnya di situasi indoor) ? Jawabannya ya kembali ke Exposure Triangle :

  • Naikkan ISO (dengan konsekuensi noise meningkat), atau
  • Per lebar Aperture (dengan konsekuensi dof makin sempit), atau
  • Tambahkan cahaya (dengan menyalakan lampu, atau menggunakan flash), atau
  • Gunakan tripod (hanya bila obyeknya sendiri tidak bergerak – misalnya landscape / arsitektur)
Masing masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi intinya kita perlu mengusahakan supaya kita memperoleh kecepatan minimal 1/focal length.

Continue reading Fotoku tidak tajam

Sharpening Techniques

Ada yang pernah penasaran dengan apa sebenarnya yang dilakukan pada proses sharpening di Photoshop? Atau ada yang ingin tahu sebenarnya bagaimana sharpening yang benar harusnya dilakukan? Atau … apakah pemotretan yang tidak tajam (misalnya karena masalah lensa atau karena salah focus) bisa diselamatkan dengan menggunakan teknik sharpening di Adobe Photoshop?

Kita coba bedah ya … lihat foto dibawah ini :

Foto digital terbentuk dari kumpulan pixel yang berbentuk kotak. Jadi kalau kita lihat di level yang sangat detil (pixel peeping) kita akan melihat kotak-kotak pixel penyusun gambar diatas pada pembesaran 600% – ini bagian di bawah handle motor sebelah kanan (click untuk ukuran yang lebih besar) :

Foto yang digunakan adalah foto “asli” sebelum dilakukan sharpening apapun – dalam kualitas JPEG terbaik. Karena dihasilkan oleh 5d Mark II maka resolusinya memang cukup besar, up to 21 Mega Pixel. Bisa dilihat bahwa gradasi (di perbatasan bidang) masih terlihat halus, maksudnya ada peralihan secara bertahap dari warna gelap ke terang.

Teknik sharpening tidak lain adalah meningkatkan kontras di perbatasan bidang foto. Jadi kalau misalnya awalnya butuh 10 pixel untuk beralih dari terang menjadi gelap, dibuat menjadi hanya 5 pixel sudah terjadi peralihan. Karena kontras meningkat di garis-garis peralihan ini maka mata kita cenderung mempersepsikannya menjadi tajam. Tapi di tingkat pixel sebenarnya penggunaan sharpening ini “merusak” foto.

Continue reading Sharpening Techniques

Lens Quality – Karakter Suatu Lensa

Lensa adalah komponen yang paling sering diperdebatkan (selain merek). Area perdebatannya tidak jauh dari kualitas si lensa … dan kualitas ini sering (sekali) dihubungan dengan (hanya) ketajaman lensa tersebut. Apakah memang kualitas suatu lensa hanya ditentukan oleh ketajamannya? Tidak, paling tidak menurut saya demikian.

Ketajaman lensa (Resolution) adalah salah satu komponen yang paling mudah dilihat oleh mata seorang fotografer. Itu pula sebabnya banyak sekali yang berfokus pada hal ini. Ketajaman lensa ditentukan oleh desain dan coating dari lensa tersebut. Pengukurannya dilakukan cukup rumit dengan berbagai peralatan rumit (teknik nya di buat pertama kali oleh Carl Zeiss dan tim-nya). Untuk kita pengguna kita dapat melihat saja hasil pengukuran resolusi ini di internet. Ada banyak websites yang menunjukkan hasil test ini, misalnya :

Pada prinsipnya kita bisa melihat lensa mana pada aperture berapa yang bisa menghasilkan ketajaman maksimal via test-test diatas. Selain masalah ketajaman maka test tersebut juga sebenarnya memberikan informasi lain mengenai suatu lensa. Misalnya soal distorsi. Distorsi memberikan informasi kepada kita seberapa efek cembung (biasanya di lensa wide) dan cekung (di lensa tele) yang dihasilkan suatu lensa. Ada lensa yang mungkin secara ketajaman tidak semaksimal lensa yang lain, tetapi secara distorsi dia juara, karena tanpa distorsi. Misalnya lensa tua Carl Zeiss Jena Flektogon 20mm f4 yang terkenal dengan distorsi almost zero. Sedangkan lensa fish eye memberikan distorsi yang luar biasa besar (seperti foto dibawah ini).

Aspek lain dari suatu lensa adalah masalah Vignette. Efek gelap di ujung – ujung foto (terutama di aperture lebar) ini biasanya dihindari oleh sebagian besar fotografer. Tapi ada juga orang seperti saya yang suka dengan lensa-lensa dengan vignette. Jadi masalah memilih lensa bukan hanya resolusi dan distorsi, tapi juga masalah seberapa tebal vignette nya.

Continue reading Lens Quality – Karakter Suatu Lensa

Tajam ujung ke ujung (Hyperfocal techniques)

Pada pemotretan landscape kita seringkali memasukkan foreground (obyek yang ada di depan – dekat dengan kita) dan background dalam satu frame foto yang sama. Hal ini dimaksudkan untuk menimbulkan kesan kedalaman pada foto kita. Sehingga tidak lagi terlihat 2 dimensi, tetapi 3 dimensi. Penggunaan apperture yang sempit (misalnya f11, f16 atau f22) memang membantu proses ini. Hal ini dikarenakan pada apperture yang sempit ruang tajam cenderung meluas (lihat pembahasan mengenai apperture).

Akan tetapi pemotretan landscape seringkali menuntut yang lebih lagi. Foreground yang kita gunakan seringkali berjarak tak lebih dari 20-30 cm di depan lensa. Selain itu ketajaman semua area di foto menjadi sangat penting bagi fotografer landscape, mereka tidak ingin ada area yang tidak tajam. Hal ini menuntut pemilihan titik autofocus yang tepat.

Continue reading Tajam ujung ke ujung (Hyperfocal techniques)