Tag Archives: strobist

MY-ers Articles : Leaf Shutter, By : Yohanes Sanjaya

Leaf Shutter adalah teknologi shutter yg cukup unik dan jarang digunakan pada kamera2 digital masa kini. Untuk saat ini, yang saya tahu, kamera yang menggunakan leaf shutter dan masih dijual di pasaran adalah Fujifilm Finepix X100, X10, X100s dan X20 dan SONY RX1 / RX1R

Secara mekanisme, leaf shutter umumnya diletakkan di pantat lensa (berbeda dengan focal plane shutter -digunakan di DSLR umumnya – diletakkan dekat sensor/penangkap gambar). Leaf shutter ini berbentuk bilah2 metal (metal leaves), membuka dan menutup seperti layaknya bilah aperture.

Leaf shutter

Focal plane shutter (shutter yg umumnya digunakan di kamera2 DSLR saat ini) membuka dan menutup mengunakan “tirai” mekanis.

Continue reading MY-ers Articles : Leaf Shutter, By : Yohanes Sanjaya

Gingerbread Man … behind the scene, By : Yohanes Sanjaya

Berikut adalah trik menarik untuk toys photography dari master toys, Yohanes Sanjaya.

sujo ginger1

Dalam foto ini SuJo (panggilan Yohanes Sanjaya di MY) menggunakan berbagai benda reflektif untuk menimbulkan bokeh yang menarik. Idenya sangat menarik untuk di coba.

Tentunya untuk menghasilkan bokeh nya kita membutuhkan ruang tajam yang super sempit, dengan demikian lensa tele makro dibutuhkan. Juga jarak fokus yang sangat dekat.

Continue reading Gingerbread Man … behind the scene, By : Yohanes Sanjaya

Blackberry Group Editor Choice – Jerry Harif

Berikut adalah sharing yang super lengkap dari rekan MY-ers Jerry Harif mengenai fotonya yang terpilih menjadi MY BB Group Editor Choice.

——————-

Wow..!!     Thanks to MY before..
Jujur, saya nggak membayangkan masuk di weekly choice MY.. Hehehe..  Thx Ayway.

Ok, singkat kata.. Project foto ini memang project yang kami buat untuk commercial photography, dalam hal ini prewedding..  Krn saya memang bergerak di bidang commercial photography, termasuk wedding dan prewedding photography.. Pdhl awalnya saya hanya hobby2 saja..  Akhirnya Keterusan..  Hahahaha

Lokasi pemotretan sengaja kami pilih di Taman Ujung, Candi Dasa, Bali. Dimana disana terdapat sisa2 reruntuhan kerajaan Karangasem yg terkenal itu..  Beberapa lokasi memang udah diperbaiki/direnovasi pemerintah.. Tp ada beberapa lokasi yang masih kelihatan asli dari sono nya…

Sesi foto ini adalah sesi terakhir kami di Taman Ujung.  Reruntuhan puing bangunan yg berarsitektur campuran Bali-Eropa.. Tempatnya lbh tinggi dr Taman Air dibawahnya. Sangat cape naik puluhan tangga ke atas dengan membawa peralatan2 camera.. Hehehe

Pada saat itu matahari sudah mulai condong ke barat.. Agak sore, sekitar pukul 15:20 atau 16:20 waktu Bali. Langit terlihat cukup bagus dengan awan2 kecil menyebar, walaupun kadang langit kelihatan mendem karena mendung2.. Dan kadang terang kembali..

Segera saya minta klien untuk berpose dengan mengambil framing BG(Back Ground) lengkungan pintu masuk bangunan. Saya sangat berhati2 dengan framing tersebut, karena BG pintu masuknya tampak kecil dan ketat kalau diisi dengan object klien kami.

Jadi saya sengaja mengatur supaya pas di tengah2 frame pintu, supaya kepala klien tidak sampai kena BG tembok dibelakangnya… Karena kalo kepala klien kena BG tembok gelap dibelakangnya, maka POI dan komposisi akan terganggu..

Weekly Editor Choice

Ok, mari kita bahas tentang teknis pemotretan dan parameternya.
Parameter yg saya gunakan :

  • Lens & Body: Canon EF 17-40mm f4 L + body Canon 5Dmk2
  • Mode : Manual dan handheld
  • FL : 17mm, f4, 1/250, iso100
  • Time : pk. 15:20 atau 16:20 waktu Bali, Awan setengah mendung.
  • Lighting : 2 Canon flashgun di strobist dengan Trigger, 1 backlight dr belakang object, 1 dari +- 2m disebelah kiri atas saya. Tidak Menggunakan asesories tambahan lighting apapun.
  • Post Pro : Adjustment secukupnya di Adobe Camera Raw PS 6, dan naikin tone dll di PS

Continue reading Blackberry Group Editor Choice – Jerry Harif

“Human Interest” Learning Challenge

45344_4117794864508_1355993254_n

Selamat buat Anggit Hermanuadi atas terpilihnya sebagai Learning Challenge Winner buat edisi “Water” 2 minggu lalu. Berikut adalah foto Anggit yang terinpirasi dari artikel yang di share di motoyuk.com …. super niat Mas Anggit hehehe

Berikut sedikit sharing nya :

Saya membuat ini meniru teory tante Corrie White , ( yg link-nya ditulis di Motoyuk.com ),…. jadi, kalau punya alatnya dan baca itu pasti bisa …..

Nah, bagi teman2 yg mau coba beginian dgn cara ‘murmer’ , seperti yg pernah saya lakukan, bisa menggunakan botol infus (beli di apotek) dgn mengganti jarum nya dgn jarum infus tinta isi ulang (krn lubangnya lebih besar). 

Prinsipnya adlh terjadi benturan antara air yg turun dgn air yg memantul, pada botol infus ini ada setelan kecepatan tetesan air shg kita bisa mengatur frekuensinya. 

 

 

 

Variabel yg lain yg perlu diperhatikan adlh

  • Jarak ketinggian jarum dgn permukaan air ( 40-50 cm);
  • Jarak ketinggian jarum dgn botol ( 25cm atau lebih);
  • Kedalaman wadah air, dan
  • Kekentalan air.

Saya menggunakan pengental air dgn CMC (Carboxy Methyl Cellulose), yg bisa dibeli di toko kimia/pembuat makanan.
Mas Rezky Roesjda utk pewarna sy gunakan pewarna makanan.
Selamat mencoba. ……dan jangan sedih kalau smp 200 jepret baru dpt 1 yg layak tayang …… wkwkwkwk ..

Untuk challenge berikutnya adalah “Human Interest” – dan berikut beberapa tips yang bisa dibaca :

… and now, the D.R.i.n.K

After the pastry … now it’s the drink ….

Well, ini memang bukan komposisi terbaik – dengan background yang juga agak suram (anehnya, aku suka kontrasnya). Tetapi cuma ingin menunjukkan bahwa flash kedua dibutuhkan untuk menampilkan warna yang tepat dari minuman dalam botol ini.

San-Pellegrino-Mandarino_IMG_7132-web

Flash pertama sama seperti sebelumya di arahkan ke langit langit – dengan demikian memberikan efek cahaya merata ke seluruh area. Hal yang sama bisa diperoleh dengan meletakkan flash di posisi atas, dengan menggunakan softbox yang cukup besar. [Flash YongNuo 560 – 1/2 power]

Continue reading … and now, the D.R.i.n.K

[ P.A.s.T.R.Y]

Minggu lalu adalah penutupan pelatihan motoyuk basic-advance. Saat ini sudah mencapai 16 batch yang motoyuk laksanakan. Gak kerasa sudah banyak ya hahaha. Kebetulan praktek pemotretan kali ini saya bikin agak berbeda, menggunakan bantuan flash (strobist). Maklum, lokasi di kelapa gading cahayanya tidak sebagus di Cinnamon Cafe cibubur.

Pada foto diatas saya menggunakan Canon 5dm2 + 100mm f2.8 L IS. Tapi tidak perlu khawatir, lensa kit pun bisa menghasilkan foto yang kurang lebih sama, karena saya menggunakan f5.6 pada foto diatas. Hanya saja memang perlu cukup dekat pengambilan gambarnya. Mode manual sudah pasti saya gunakan, karena saya menggunakan cahaya tambahan dari 2 buah flash. [Setting : Manual Mode | f5.6 | 1/125secs | ISO200 | AutoWhiteBalance | Faithfull Picture Style 7010]

Continue reading [ P.A.s.T.R.Y]

Closing Pameran Foto MotoYuk!!!

Setelah 3 bulan foto-foto karya MY-ers yang sudah di kurasi di pajang di Harris Hotel Tebet, Jakarta, maka saatnya untuk melakukan closing. Berikut adalah liputan acara yang ditulis oleh Sandy, yang mengkoordinasi acara-nya. Terima kasih untuk Sandy dan seluruh MY-ers yang telah berpartisipasi, mohon maaf tidak bisa ikut bergabung karena tugas kantor 🙂

——————

Motoyuk mendapatkan kesempatan untuk waktu dan ruang di bar tube yang berlokasi di harris hotel tebet. Kesempatan ini diberikan oleh pihak manajemen hotel harris karena pameran foto motoyuk yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir ini mendapatkan apresiasi baik dari pihak pengunjung hotel harris maupun dari pihak manajemen.

Waktu untuk merencanakan acara ini cukup sempit hanya seminggu. Maka saya didaulat oleh mas Edo untuk menjadi PIC pada acara ini. Karena kedua moderator tidak ada, maka saya akan mencoba share hal yang paling saya sukai yaitu strobis walaupun hanya basic strobis saja.

Continue reading Closing Pameran Foto MotoYuk!!!

Strobist with Umbrella

Beberapa waktu lalu saya “mengupgrade” peralatan strobist saya. Akhirnya saya beli juga light stand dan umbrella. Walau memang saya bukan fotografer model, tapi at least saya ingin tahu dan belajar efek dari cahaya flash yang di lembutkan dengan umbrella. Soalnya ini adalah tools paling standard yang sering digunakan oleh fotografer strobist di luar sana.

Posisi flash di kanan/kiri atas, dengan sudut 45 derajat dari subyek adalah posisi “klasik” dalam flash photography. Banyak sekali pemotretan dilakukan dengan menggunakan posisi ini. Hal ini karena posisi ini memang paling optimal dalam memberikan pencahayaan.

Penggunaan umbrella memberikan karakter cahaya yang lebih lembut daripada bare bulb (flash tanpa modifier apa-apa, alias langsung jebret). Akan tetapi juga mengurangi power dari flash yang sudah kecil. Itu sebabnya posisi umbrella biasanya cukup dekat dari obyek, hanya beberapa cm di luar frame pemotretan. Itu pula sebabnya banyak strobist menggunakan flash bare bulb saat pemotretan outdoor. Flash powernya kecil, jadi apabila masih dikasih modifier dan jarak dari obyek jauh maka powernya akan sangat kurang.

Umbrella sendiri umumnya ada 2 jenis :

  1. Shoot-through umbrella : warnanya putih transparan, flash ditembakkan langsung “menembus” umbrella (flash langsung menghadap obyek)
  2. Bounce-back umbrella : umumnya bagian dalam dari umbrella berwarna silver, lalu flash dipantulkan melaluinya (flash tidak menghadap ke obyek)

Ada beberapa jenis umbrella modifikasi terbaru, misalnya dipantulkan lapisan silver lalu di saring lagi dengan warna putih, dll. Tapi bentuk dasar yang paling umum adalah shoot-through dan pantul.

——————————–

Jadi :

  • Gunakan umbrella apabila ingin cahaya yang lembut di indoor / lokasi dengan ambient lighting rendah. Tapi dengan demikian flash perlu di dekatkan dengan obyek.
  • Gunakan bare bulb apabila ingin pemotretan outdoor dengan ambient light yang cukup – untuk mengatur keras lembutnya cahaya bisa kita lakukan dengan mendekatkan / menjauhkan si flash dari obyek.

Have fun …..


“Moonlight” – Strobist

Saya kagum dengan eksekusi sekaligus misi yang dibawa oleh Mathieu Young dalam pemotretan di Kamboja. Pemotretan ini menggunakan peralatan strobist yang “minim”, hanya 1 sumber cahaya tambahan, beserta dengan “Moonlight”.

“Moonlight” sendiri adalah proyek LSM untuk memberikan penerangan dengan harga terjangkau di desa terpencil di Kamboja. Alat ini menggunakan solar cell sebagai daya nya. Harganya relatif sangat terjangkau bagi warga disana. Cahaya ini walau hanya “remeh” tetapi memberikan banyak kemajuan, dengan adanya cahaya ini banyak penduduk bisa beraktifitas lebih banyak & produktif di malam hari. Anak-anak bisa belajar, para ibu bisa memasak, dll.

Coba lihat detil pemotretan yang dilakukan oleh Mathieu di website strobist.com. He’s really doing a great job.

MOTO YUK!!!

My Weekend (16 April) – Strobist on Cafe

Foto diatas adalah hasil sesi MY (MotoYuk) Weekend Photography 16 April lalu. Sesi kali ini adalah human interest dengan menggunakan strobist. Bagaimana membuatnya?

Continue reading My Weekend (16 April) – Strobist on Cafe