Tag Archives: sony

Sharing itu tidak sebatas EXIF

Ada sedikit kesalahpahaman bahwa di motoyuk semua foto harus di sertai EXIF (data mengenai kamera, aperture, shutter speed, iso, dll). Yang tepat sebenarnya adalah di motoyuk foto perlu disertai sharing, karena motoyuk adalah keluarga pembelajaran fotografi. So semua perlu share mengenai apapun mengenai foto yang diambil. Kadang EXIF adalah sharing yang relevan, tapi kadang mungkin bagaimana setting lighting, atau mungkin juga bagaimana setting stage nya atau bahkan wardrobe nya. Apapun yang dirasakan relevan buat pembelajaran teman motoyuk lainnya.

Kenapa tidak hanya EXIF … coba jujur, apakah dengan setting kamera sesuai dengan exif yang di nyatakan akan memungkinkan kita menghasilkan foto yang sama? Tidak juga. Karena fotografi itu tidak sekedar exif. Ada unsur komposisi, jenis kamera yang digunakan dan karakter nya, lokasi + date-time nya, post processing, interaksi dengan model, dll. Banyak sekali. So sekedar EXIF tentunya sangat minimal.

Sama halnya dengan foto di bawah ini :

Austinmer

Ya, foto di ambil dengan Sony a7r + 16-35mm pada 17mm f11 iso100 2 detik. Menggunakan NISI GND Reverse 0.9 + NISI CPL + Nisi v5 holder.

Continue reading Sharing itu tidak sebatas EXIF

Sony RX1 — a user perspective

Sony RX1 adalah kamera pro-sumers berukuran sedikit lebih besar dari kamera pocket dengan lensa fix 35mm f2, tidak bisa ganti lensa. Yang unik adalah kamera ukuran mungil ini memiliki sensor full frame, yang menjanjikan foto bersih noise di iso tinggi dan juga DOF yang mantap.

Penggunaan lensa Carl Zeiss 35mm f2 juga menjanjikan warna yang warm khas zeiss, dan 3d pop. Tentunya ketajaman prima juga.

Tapi bagi saya sebenarnya notes di atas good saja, bagi saya yang penting adalah mungil + mumpuni sehingga bisa di bawa setiap hari. Ya, kamera ini memang saya bawa setiap hari, kerja dan jalan. Karena saya yakin ada saja momen yang saya bisa foto.

checking my schedule

Momen di atas misalnya saya foto saat keluar dari kamar kecil di airport setelah landing di Changi. Momen yang hanya split second rasanya. Kalau kamera masih di tas, atau bahkan di rumah, ya jelas gak dapat momen ini.

Atau momen di bawah yang di dapat pas jalan mau makan malam. Walau bawa mirrorless pun saya malas bawa kamera kalau cuma rencana mau makan malam saja hahaha. Tentunya ini semua tidak berlaku buat MY-ers yang pada rajin bawa kamera setiap hari walau itu DSLR atau mirrorless ya.

Romantic Chat

So, bagaimana kesan saya tentang kamera RX1 ini? Apakah worthed? Sebagai kesimpulan saja …. kalau dapat harga second diskon an lumayan + memang niat di bawa bawa setiap hari sih worthed banget. Tapi kalau beli baru dengan harga yang ajigile itu sih gak worthed … banget !!

Ergonomi : kamera ini mungil, so grip memang terbatas. Bisa kita tambahkan grip tambahan yang jelas akan bikin pegangan jadi enak banget, tapi ya jadi gendut. Saya sendiri pakai apa adanya, gak pakai grip tambahan. Gak senyaman mirrorless apalagi dslr, tapi work alright dengan mungilnya.

Continue reading Sony RX1 — a user perspective

in Camera HDR

Fitur baru yang sedang saya uji coba di Sony RX1 (yea, saya mulai menggunakannya untuk day to day carry camera + street) adalah in camera HDR. Fitur ini memungkinkan kamera secara otomatis mengambil beberapa gambar dengan exposure berbeda, menganalisa nya, lalu mengatur supaya dynamic range nya menjadi lebih baik.

So far saya baru mencoba fitur HDR dengan perbedaan exposure Auto. Tetapi RX1 (dan saya rasa semua sony terbaru) memiliki pilihan dari 1 – 6 EV stop. Secara bertahap saya akan tambahkan koleksinya nanti.

Image di bawah di hosting di FLICKR, dan merupakan full resolution image, in case mau membandingkan pixel level — walau saya rasa tidak terlalu berbeda signifikan, kecuali di yang HDR sony membubuhkan sharpening.

Foto di atas adalah tanpa HDR, di bawahnya dengan HDR di aktifkan.

KGP non HDR

KGP HDR
CP non HDR
CP HDR
Pancoran non HDR

Pancoran HDR

Mirrorless bukan Panacea

Panacea

Tergelitik dengan beberapa tulisan mengenai mirrorless dan juga pertanyaan dari MY-ers yang kontak saya langsung, saya jadi ingin menuliskan bahwa pandangan bahwa mirrorless Panacea itu keliru. So kalau MY-ers berpendapat dengan pindah ke mirrorless akan mendapatkan foto yang lebih bagus, lebih ringan, lebih enak digunakan, dst dst , ya siap siap saja kecele dan kecewa.

Mirrorless hasil fotonya lebih bagusfoto bagus apa nggak itu hanya dipengaruhi sedikit oleh alat. Lebih banyak oleh orang yang menggunakannya, bukan sampai taraf jepret saja, tapi sampai akhir (post-pro juga terlibat). Alat yang bagus akan mempermudah mencapai hasil, mempersingkat workflow, mengurangi keribetan, mempercepat reaksi, dll. Tapi tidak secara siginifikan meningkatkan hasil.

Kita sering tertipu dengan pandangan bahwa si A sejak upgrade alat fotonya menjadi makin bagus. Coba dipikir ulang, itu karena upgrade alat nya, atau karena dia makin lama pengalamannya?

Foto saya lebih baik dibandingkan saat saya pakai canon 350d bukan karena sekarang saya pakai Fuji, tapi karena saya makin tinggi jam terbang nya saja. Yak, saya sangat terbantu dengan teknologi baru di kamera baru, tapi bukan berarti saya 100% tidak akan bisa menghasilkan karya yang sama dengan menggunakan kamera lama.

Spring is Coming

Ada banyak orang yang menggunakan kamera seharga puluhan juta di mode Auto – bukan karena ingin, tapi karena gak paham gimana mengaturnya – gak paham juga soal komposisi dll. Kamera puluhan juta digunakan selayaknya kamera pocket. Mereka bangga dengan hasil yang tajam, resolusi yang detil, dll. Tapi pada akhirnya? Ya foto liputan kayak kamera handphone.

Continue reading Mirrorless bukan Panacea

Racun ?

Belakangan ini saya sedang beralih ke sistem mirrorless. Penyebabnya sebenarnya simple saja, karena buat saya DSLR terlalu berat untuk di bawa bawa. Selain itu AF yang di mirrorless selalu menjadi kendala sampai saat ini, bukanlah masalah bagi genre pemotretan saya, lanskap.

Awalnya saya menggunakan Sony NEX. Tapi nampaknya kurang cocok dengan tonal warna dan juga kualitas lensa, body dan hasilnya. Sehingga akhirnya saya coba Fuji. So far cocok, walau belum 100% yakin karena belum mencoba nya di genre utama saya yaitu lanskap.

Manyar_DSC01815-web

Banyak my-ers yang merasa saya meracuni mereka dengan Fuji. Hahahaha. Buat saya sebenarnya peralatannya mau apa saja itu terserah. Kalau di bayarin ama vendor saya disuruh pakai Canon, Nikon, Fuji, Sony, Olympus, bebas saja … lha wong dibayarin. Kalau disuruh bayar sendiri ya terserah saya dong mau pilih yang mana yang rasanya cocok buat saya. Mau dibandingkan sih kagak ada selesai nya.

Continue reading Racun ?

Fuji XE2 vs Sony A7r

Artikel berikut ini mencoba membandingkan antar kedua kamera tersebut : An unfair comparison? — the Fuji X-E2 vs the Sony A7r

Memang tidak sepenuhnya bisa digunakan sebagai benchmark, karena tergantung dari lensa yang digunakan juga. Tapi senang juga melihat Image Quality XE2 bisa di blow out sehingga 36 MPixel dan bersaing (Full resolution XE2 vs Full resolution A7R).

Pada akhirnya pilihan tergantung dari kesukaan pribadi … kamera dan lensa hanya tools yang membantu mendapatkan hasil yang diinginkan.

Speed / Turbo Booster

Salah satu kendala yang sering dihadapi oleh pengguna sensor non full-frame adalah focal length yang ter-crop (sehingga tidak wide) dan/atau bokeh yang kurang nendang (karena area pinggir ter crop). Akibatnya orang berlomba lomba membeli DSLR / mirrorless full frame, dengan harga yang menjulang.

Metabone adalah salah satu perusahaan inovatif yang memanfaatkan kebutuhan ini. Awalnya mereka hanya memproduksi adapter sehingga lensa lensa tua / manual focus bisa digunakan di kamera moderen. Tetapi belakangan mereka mengeluarkan satu produk yang disebut dengan Speed Booster.

metabones-speedbooster-m43

Untuk memahami cara kerja speed booster ini maka kita bisa memahami nya sebagai kebalikan dari Tele Converter (TC).

Continue reading Speed / Turbo Booster

My-ers Articles : X100s Review – Part 1, By : Yohanes Sanjaya

Well, …. baru pertama kali ini sih saya buat review. mungkin bisa membantu para pembaca untuk mengambil keputusan membeli (atau tidak) kamera poket premium ini. Sepertinya saya tidak perlu membahas spesifikasi teknis dan juga perbandingan kamera X100s ini dengan pendahulunya (X100). Sudah banyak dibahas di review2 online lain.

Berawal dari kebutuhan saya untuk memiliki kamera poket yang dapat dibawa sehari2, ringkas dan kecil dan tentunya bisa menghasilkan gambar yang berkualitas. Sebelum memiliki Fuji X100s ini, saya menggunakan SONY NEX-5N lalu SONY NEX-6. Dari ke dua kamera mirrorless ini, memang tidak ada yang salah, kualitas gambar yang dihasilkan cukup baik, enteng, enak dibawa2. Tapi setelah banyak membaca review (baca: meracuni diri sendiri) dari Fuji X100s ini, saya berkesimpulan ada beberapa kelebihan yang akan berguna bagi saya dibandingkan tetap menggunakan SONY NEX.

Berikut ini sebagian dari kelebihan2 fuji X100s dibandingkan Sony NEX 6 menurut saya, perlu diingat, ini adalah kelebihan menurut saya pribadi lho.

Continue reading My-ers Articles : X100s Review – Part 1, By : Yohanes Sanjaya

Manyar Beach, Bali – on Sony NEX 5n + SEL 10-16mm f4 OSS

Mungkin buat yang sering ke Bali sudah cukup sering dengar mengenai pantai Kuta, DreamLand, Padang Padang, dll. Tapi mungkin belum semua pernah dengar pantai Manyar, Ketewel, Bali.

Manyar_DSC01815-web

Pantai ini sangat  unik, menghadap lepas ke Timur, sehingga memperoleh pemandangan matahari terbit Bali, dan memiliki foreground karang yang di tutupi lumut kehijauan. Sangat unik dan juga keren. Berikut adalah pengalaman saya mengunjungi pantai ini.

Continue reading Manyar Beach, Bali – on Sony NEX 5n + SEL 10-16mm f4 OSS




MY Weekly Editor’s Choice : HYPNOTIC, By : William Jusuf

Mulai minggu ini di BBM group MotoYuk akan diberikan award MY Weekly Editor’s Choice – dipilih oleh tim moderator Tedy & Edo. Tapi, khas motoyuk, award ini diberikan hanya ke mereka yang akhirnya mau share mengenai foto yang terpilih. Sehingga tidak sekedar memberikan kebanggaan bagi fotografer nya, melainkan juga manfaat buat yang lain. Dengan demikian semua bisa belajar.

Foto yang terpilih di minggu ini adalah foto berjudul “Hypnotic” oleh William Jusuf

weekly1

EXIF : F2.0 Center Weighted Metering , 1/125 second, ISO 400
Alat : lensa Canon LTM Sonnar 50 mm F1.5 dengan body Sony Nex 5N (equiv 75 mm)

Buat pribadi yang jarang berpergian secara khusus untuk hunting foto (contoh : saya) kegemaran foto menjadi suatu tantangan.

Lokasi foto yang didapatkan tentunya adalah tempat yang menjadi keseharian. Bisa di kantor, di jalanan, di mal, di restoran bahkan di area rumah kita.
Objek yang difoto tentunya bermacam-macam. Dari manusia, kerumunan manusia, pola laku masyarakat atau bentuk/ shape/ pola ruang dan benda

Continue reading MY Weekly Editor’s Choice : HYPNOTIC, By : William Jusuf