Tag Archives: sharpness

Pentingnya kontras dalam fotografi lanskap

Ada beberapa rekan menanyakan bagaimana membuat foto lanskap yang tajam/sharp menggigit. Apakah ini berhubungan dengan perangkat yang digunakan? … hemmmm … ya, sedikit banyak berpengaruh, tapi faktor yang utama adalah teknik yang benar dan kontras yang cukup.

Teknik yang benar sudah dibahas dalam buku fotografi lanskap motoyuk (bisa di beli di Gramedia). Ini berhubungan dengan penggunaan aperture, shutter speed dan iso yang tepat. Berhubungan pula dengan penggunaan tripod untuk shutter speed yang lambat.

Nah, kalau kontras? Coba lihat foto di bawah ini :

NORAH HEAD_HDR_BEFORE
Norah-Head-HDR-FINAL

Foto yang bawah nampak lebih tajam? Ya, salah satunya karena kontras yang memadahi.

Tonal contrast adalah seberapa jauh berbeda antara area paling terang dan paling gelap di foto. Foto dengan contrast rendah akan terlihat seperti memiliki selaput, dan akibatnya di persepsikan kurang tajam. Foto dengan kontras terlalu tinggi juga tidak bagus karena terlihat kasar. Kontras harus pas.

Continue reading Pentingnya kontras dalam fotografi lanskap

Lens Quality – Karakter Suatu Lensa

Lensa adalah komponen yang paling sering diperdebatkan (selain merek). Area perdebatannya tidak jauh dari kualitas si lensa … dan kualitas ini sering (sekali) dihubungan dengan (hanya) ketajaman lensa tersebut. Apakah memang kualitas suatu lensa hanya ditentukan oleh ketajamannya? Tidak, paling tidak menurut saya demikian.

Ketajaman lensa (Resolution) adalah salah satu komponen yang paling mudah dilihat oleh mata seorang fotografer. Itu pula sebabnya banyak sekali yang berfokus pada hal ini. Ketajaman lensa ditentukan oleh desain dan coating dari lensa tersebut. Pengukurannya dilakukan cukup rumit dengan berbagai peralatan rumit (teknik nya di buat pertama kali oleh Carl Zeiss dan tim-nya). Untuk kita pengguna kita dapat melihat saja hasil pengukuran resolusi ini di internet. Ada banyak websites yang menunjukkan hasil test ini, misalnya :

Pada prinsipnya kita bisa melihat lensa mana pada aperture berapa yang bisa menghasilkan ketajaman maksimal via test-test diatas. Selain masalah ketajaman maka test tersebut juga sebenarnya memberikan informasi lain mengenai suatu lensa. Misalnya soal distorsi. Distorsi memberikan informasi kepada kita seberapa efek cembung (biasanya di lensa wide) dan cekung (di lensa tele) yang dihasilkan suatu lensa. Ada lensa yang mungkin secara ketajaman tidak semaksimal lensa yang lain, tetapi secara distorsi dia juara, karena tanpa distorsi. Misalnya lensa tua Carl Zeiss Jena Flektogon 20mm f4 yang terkenal dengan distorsi almost zero. Sedangkan lensa fish eye memberikan distorsi yang luar biasa besar (seperti foto dibawah ini).

Aspek lain dari suatu lensa adalah masalah Vignette. Efek gelap di ujung – ujung foto (terutama di aperture lebar) ini biasanya dihindari oleh sebagian besar fotografer. Tapi ada juga orang seperti saya yang suka dengan lensa-lensa dengan vignette. Jadi masalah memilih lensa bukan hanya resolusi dan distorsi, tapi juga masalah seberapa tebal vignette nya.

Continue reading Lens Quality – Karakter Suatu Lensa




Canon EF 35mm f2

Barusan saja mengganti 70-200 f2.8 L IS saya dengan 70-300 f4-5.6 L IS membuat Extender 1.4x saya tidak digunakan. Akhirnya saya memutuskan untuk tukar tambah dengan focal length yang dari dulu saya ingin coba, 35mm. Focal length ini cukup unik karena tidak terlalu lebar juga tidak terlalu normal. FL ini pula yang digunakan oleh kamera yang jadi buah bibir di 2011, yaitu Fujifilm Finepix X100.

Saya memilih menggunakan Canon EF 35mm f2. Sebelumnya tentu saya membaca review dari banyak web, misalnya The-Digital-Picture ataupun Photozone. Secara umum website ini menyatakan lensa ini :

  • Center sharpness nya mantap (tajam) – tetapi corner nya agak parah
  • Blur bisa dengan cukup mudah diperoleh apalagi dengan minimum focus distance yang pendek
  • Contrast dan saturation terkontrol dengan baik
  • Body cukup mantap jika dibandingkan dengan EF 50mm f1.8 II – paling tidak mountingnya sudah besi
  • Suaranya masih berisik karena bukan menggunakan mesin auto focus terbaru Canon : USM – maklum desain lensa ini adalah desain tahun 1990, walau masih diproduksi hingga saat ini.
  • Ukurannya mungil dan beratnya ringan (hampir mendekati 50mm f1.8 II) – dan harganya tentu saja cukup terjangkau

Saya kebetulan mendapatkan barang second yang masih relatif baru & mulus. Sehingga dengan harga 2.4jt saya sudah bisa meminang si lensa mungil ini. (Kesan pertama memegangnya memang mungil dan ringan, nyaman digunakan).

Lensa ini pada DSLR dengan crop factor 1.6x menjadi setara dengan lensa 56mm f2 – menarik buat para pengguna crop factor yang ingin “mendekati” focal length normal yang legendaris 50mm.

Kesan kedua setelah memegangnya dan mulai menggunakannya adalah : suara nya seperti robocop. Ya, suara autofocusnya memang seperti dikatakan di review cukup berisik. Akan tetapi ketepatan autofocusnya terbantu dengan bukaan lebarnya sehingga akurat dan lumayan cepat. Demikian pula kontras dan saturasinya, sesuai dengan yang dikatakan oleh review, bagus kontrolnya.

Saya menguji coba 35mm vs 50mm dalam hal range, hasilnya memang 35mm memberikan efek fotografi yang lebih dramatis dibandingkan 50mm. Hal ini karena mata kita sendiri adalah lensa normal, 50mm. Sehingga apa yang ditangkap lensa 50mm menjadi “sama” dengan mata kita. Akibatnya adalah foto yang dihasilkan kurang “dramatis”. Selain itu lensa 35mm ini memberikan minimum focus distance (jarak paling dekat yang bisa digunakan sembari masih fokus) yang lebih pendek dibandingkan 50mm f1.8 II. Jadi kita bisa mendekati obyek kita lebih dekat lagi dibandingkan lensa 50mm.

EF 35mm f2 @ f2.8
EF 50mm f1.8 II @ f2.8

Terasa bukan dampak 35mm lebih dramatis di foto dibandingkan dengan 50mm?

Continue reading Canon EF 35mm f2

Does sharpness matter?

Kenrockwell adalah salah satu penulis favorit saya. Idenya radikal, tapi sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Salah satu tulisannya yang sangat menggelitik adalah mengenai sharpness, yang di-agung-agungkan oleh banyak fotografer. Saya belum sempat men-summary kan tulisannya. Tapi kalau mau baca silahkan klik langsung di link ini. Semoga bisa jadi bahan perenungan hahaha

MOTO YUK!!!