Tag Archives: review

Sample Gallery – Fuji XF 14mm/2.8, XF 23mm/1.4 & XF 55-200mm f3.5-4.8


More samples of XF Lenses

Sebagian MY-ers ada yang bingung mungkin kenapa saya doyan sekali meracuni soal Fuji (dulu NEX). Sebenarnya tidak ada niat meracuni, hanya saja saya senang share sesuatu yang saya sendiri suka / percaya. Pada saat awal menggunakan NEX paradigma saya adalah beralih dari DSLR ke mirrorless. Saat itu mirrorless belumlah digunakan secara umum. Banyak yang masih bahkan belum sadar ada mirrorless. Saya ngomong banyak soal mirrorless (NEX dalam hal ini) karena keunggulannya dibandingkan DSLR. Yaitu masalah portabilitas nya, nyaman di bawa traveling dan juga tidak mencolok mata.

Dengan berjalannya waktu akhirnya mirrorless bisa lebih diterima. Beberapa orang akhirnya percaya bahwa masa depan DSLR bisa digantikan mirrorless (walau belum sekarang saatnya). Beberapa orang turut mencoba mirrorless. Bahkan beberapa orang, karena kebutuhannya, meninggalkan DSLR sepenuhnya.

Saya belakangan banyak bicara soal Fuji karena memang saya menggunakannya dan saya suka dengan hasilnya. Saya tidak lagi membandingkan DSLR dan mirrorless, tapi lebih Fuji vs mirrorless lainnya. Yang masih belum percaya soal mirrorless silahkan minggir dulu hehe. Fuji buat saya walaupun mahal memberikan hasil yang lebih daripada yang diberikan mirrorless lain. Baik secara build, ergonomi (menu NEX sungguh bikin frustasi), image quality, tone, etc. I love it …. seperti banyak yang sudah mencoba X series mencintai nya. Mungkin pengguna Fuji belum lah banyak dibandingkan mirrorless lain, tetapi hampir selalu yang mencoba nya jatuh cinta.

Berikut adalah beberapa sample lain dari penggunaan lensa XF di Fuji X Pro 1. Full resolution nya bisa di lihat di Flickr dengan meng-klik foto yang ada di bawah, lalu click kanan dan pilih original size.

———————

XF 35/1.4 – lensa legendaris ini memang tokcer, hasilnya tajam sekali dan bokehnya tetap ber karakter. Ukurannya yang mungil membuat lensa ini jadi pilihan utama untuk di bawa bawa traveling. Foto ini di jepret di f1.4 – iso200 – 1/1400 secs – Provia Film Simulation – Straight Out of Camera (SOOC)

The Pillars

XF 14mm/2.8 – lensa ini punya teman sebenarnya, karena saya masih menunggu lensa 10-24mm saja nanti. Foto ini sendiri tidak sempurna, karena saya tidak bisa menggunakan tripod (dan dengan demikian iso rendah) dan GND. Maklum, foto ini di jepret tanpa sengaja setelah saya terbangun di pagi hari dan melihat sunrise indah ini di jendela apartemen saya. f8 – iso1250 – 1/30secs – Provia Film Simulation – Post Pro on Photoshop

Continue reading More samples of XF Lenses

Landscape on Fuji X Pro1? Why Not?

Saya adalah yang pertama penasaran bagaiman performance Fuji X Pro1 saat digunakan untuk pemotretan lanskap. Maklum baru pindah agama dari NEX. Jadi penasaran apakah bisa sama bagus, atau lebih bagus dari NEX.

Kebetulan sekali MY-ers Siem MingChaw yang ikut dalam mentoring di Bali menggunakan Fuji X Pro 1 – lengkap dengan lensa wide 14mm milik Fuji. Lensa ini adalah, sejauh ini, lensa paling lebar milik Fuji. Di akhir November ini teori nya Fuji akan meluncurkan XF 10-24 f4 sebagai lensa ultra wide angle (siap siap pecah celengan ayam).

Selain itu Siem menggunakan jenis sistem GND baru, yaitu sistem Seven 5 milik Lee. Sistem ini alih alih menggunakan GND dengan ukuran besar, ukurannya relatif kecil : 75 x 90mm. Selain ukurannya kecil dan sangat ringan holder nya, filter ini bisa dibeli terpisah (satuan – bukan set seperti Lee GND umumnya). Pilihannya pun sudah lengkap, mulai dari Hard, Soft, maupun Reverse (dari produsen Singh Ray)

Continue reading Landscape on Fuji X Pro1? Why Not?

Fuji X Pro1 Review – Part 2 (The Tone)

Kebetulan kantor mengadakan acara hunting model bersama. Di kesempatan ini saya sempat mencoba ganasnya tajam dan tonal Fuji X Pro 1 dengan lensa 35/1.4 nya. Berikut adalah beberapa sample, semua cenderung tidak terlalu banyak di post pro – relatif sudah “jadi” dan di potret dengan 35mm wide open di f1.4

Devina Rebecca

Ini menggunakan film simulation jenis Astia – yang di gadang gadang memang sangat cocok buat model di outdoor condition. Dengan tonal yang soft dan kontras yang lembut. Enak sekali digunakan untuk pemotretan ini (kondisi agak cloudy – AWB digunakan).

Continue reading Fuji X Pro1 Review – Part 2 (The Tone)

My-ers Articles : X100s Review – Part 2, By : Yohanes Sanjaya

MY FUJI X100S REVIEW PART 2

OK, sekarang saya akan membahas keunggulan dan kekurangan dari Fuji X100s ini dengan lebih detil.

 

What I Love from X100s?

1. Build Quality, Design, and Focal Length

Fuji X100s ini adalah kamera poket mirrorless yang pas bagi saya. Focal Length-nya 23mm (setara dengan 35mm di full frame sensor) cocok untuk kebutuhan saya utk memotret casual, kegiatan sehari2, liburan bersama keluarga. Selain itu, built quality-nya yang di atas rata2 kamera lain yg seharga dan desain-nya yang retro memberi nilai tambah untuk saya. TIdak ada kesan ringkih pada saat menggenggam kamera ini

Sujo21

2. User Interface

Dari segi User Interface, saya menyukai desain dari X100s ini. Bukaan diafragma/aperture diatur dengan cara memutar di bagian depan lensa. Bukaan shutter/shutter speed diatur dari putaran tombol di top plate, dan juga ada putaran untuk menaik-turunkan Ev compensation dengan cepat.

Sujo22

Untuk tombol2 di bagian belakang kamera, walaupun agak rumit dibandingkan Canon, masih dapat ditoleransi oleh saya.

Sujo23

Continue reading My-ers Articles : X100s Review – Part 2, By : Yohanes Sanjaya

Fuji X Pro1 Review – Part 1

Saya sudah menggunakan Sony NEX 5n lebih dari setahun. Sejauh ini kemudahan dari mirrorless (ringan, lensa ukuran kecil, tilt LCD, dll) sangatlah membantu saat saya travelling dan tidak ingin membawa banyak barang. Seperti pernah saya tulis, total 1 tas kamera dengan DSLR lengkap bisa mencapai 7 kg sendiri. Tentunya merepotkan pada saat hanya business travel yang kesempatan motret nya juga sedikit.

Flower
Fuji X-Pro1 + XF 18-55mm f2.8-4 | 55mm f4 Macro Mode | 
RAW Convertion on Photoshop + Desaturate background (layer masking)
Bisa dilihat bahwa Fuji me-render warna sangat bagus dan mudah untuk di post pro

Salah satu kendala saya dengan Sony NEX 5n adalah warna nya yang “wild” untuk di post processing. Sering saya puyeng sendiri karena karakter warna nya yang agak unik. Setelah menimbang nimbang, dan terkena racun promosi jpckemang, maka saya putuskan ganti haluan ke Fuji. Apakah sudah pasti lebih baik? Ya dengan harga lebih mahal harapannya demikian …. tapi tetap menurut saya NEX adalah pilihan yang sangat baik buat mereka yang ingin value dalam hal mirrorless.

Kamera yang saya akan review adalah Fuji X Pro1 dengan lensa 18-55 f2.8-4 serta 35mm f1.4

Fuji XE1 sebenarnya sama persis dengan fuji x pro1 dengan harga yang lebih miring dan body sedikit lebih kecil. Hal ini dikarenakan XE1 menghilangkan komponen Optical ViewFinder (OVF) dan menggantikannya hanya dengan Electronic ViewFinder (EVF) + LCD.

——————

The Ergonomy

Seperti saya sebutkan sebelumnya, Fuji X Pro1 ini sangat ergonomis. Lekuk nya pas, peletakan tombolnya juga sangat pas. Menurut saya fuji sungguh melakukan riset nya dengan baik, dia tahu betul tombol apa saja yang perlu diletakkan di luar menu.

Aperture ring diletakkan di body lensa, mempermudah fotografer dalam melakukan setting. Sedangkan shutter speed dan EV juga diletakkan di luar menu. Selain itu masih ada banyak tombol lain yang penting, seperti : Function button (bisa di set sebagai ISO button atau yang lain), pemilihan metering mode, pemilihan titik fokus, pemilihan drive, dan bahkan pemilihan manual focus atau AF.

fujifilm_xpro1_lenses

Saya kagum bahkan Fuji memikirkan kalaupun kita sudah memilih manual focus, maka kita tetap bisa “memaksa” lensa melakukan AF dengan menekan tombol AF/AE Lock. Ini sangat penting pada saat kita melakukan pre focus. Saya biasa melakukan hal ini di Canon, dan untuk melakukannya saya perlu masuk ke Custom Function. Sedangkan disini saya cukup mengubah tuas menjadi Manual Focus.

Tombol “Q” sebagai Quick Button juga sangat praktis. Seketika saat tombol ini ditekan maka sederet fungsi bisa diatur. Mulai dari jenis simulasi film yang digunakan (Oh ya, ini KEREN!!), Dynamic Range, highlight dan shadow tone, sharpness, color, dll. Dan kerennya lagi, itu semua tampil di viewfinder juga, so tidak perlu menurunkan kamera dan melihat ke LCD (semua DSLR tidak menampilkan menu di viewfinder).

Selain itu kita bisa juga menyimpan custom setting kita, dan dengan cepat kita bisa memanggilnya melalui menu Q ini juga. Walau Canon lebih praktis dengan meletakkan shortcut di dial button nya (Menu C1, C2, C3) tetapi Fuji menyediakan lebih banyak lagi menu custom ini.

So poin 10 buat Fuji untuk urusan ergonomi dan desain.

Continue reading Fuji X Pro1 Review – Part 1

My-ers Articles : X100s Review – Part 1, By : Yohanes Sanjaya

Well, …. baru pertama kali ini sih saya buat review. mungkin bisa membantu para pembaca untuk mengambil keputusan membeli (atau tidak) kamera poket premium ini. Sepertinya saya tidak perlu membahas spesifikasi teknis dan juga perbandingan kamera X100s ini dengan pendahulunya (X100). Sudah banyak dibahas di review2 online lain.

Berawal dari kebutuhan saya untuk memiliki kamera poket yang dapat dibawa sehari2, ringkas dan kecil dan tentunya bisa menghasilkan gambar yang berkualitas. Sebelum memiliki Fuji X100s ini, saya menggunakan SONY NEX-5N lalu SONY NEX-6. Dari ke dua kamera mirrorless ini, memang tidak ada yang salah, kualitas gambar yang dihasilkan cukup baik, enteng, enak dibawa2. Tapi setelah banyak membaca review (baca: meracuni diri sendiri) dari Fuji X100s ini, saya berkesimpulan ada beberapa kelebihan yang akan berguna bagi saya dibandingkan tetap menggunakan SONY NEX.

Berikut ini sebagian dari kelebihan2 fuji X100s dibandingkan Sony NEX 6 menurut saya, perlu diingat, ini adalah kelebihan menurut saya pribadi lho.

Continue reading My-ers Articles : X100s Review – Part 1, By : Yohanes Sanjaya

Sigma 12-24 DG HSM II Review (2)

Pada sesi hunting bersama motoyuk saya coba eksplorasi sigma super lebar ini. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa lensa ini adalah lensa terlebar yang bisa digunakan di full frame (12 mm) tanpa adanya distorsi parah seperti lensa fish eye. Akibatnya? Super lebar … 120 derajat sudut pandang bisa di cover

SML_IMG_8315_DxO-web

Seperti terlihat pada foto diatas, lensa 18mm paling hanya mencakup sampai dengan cone oranye. Tentunya ini sangat nyaman untuk pemotretan arsitektur. Walau saya belum coba untuk lanskap, tapi saya rasa di pemotretan lanskap mungkin dampaknya tidak senyata di pemotretan arsitektur. Jadi 16 / 18mm to 12 mm –> DAHSYAT !!!

Ketajaman lensa ini menurut saya bagus / cukup tajam. Terutama area tengah (tentunya). Lihat crop 100% dekat area tengah ini.

Continue reading Sigma 12-24 DG HSM II Review (2)

Sigma 12-24 DG HSM II – Prelude

Akhirnya memutuskan untuk menggunakan dana penjualan kamera2 lama untuk membeli lensa super UWA … Sigma 12-24 DG HSM II. Lensa ini adalah satu satunya lensa untuk full frame yang mencapai focal length 12mm … artinya? 120 derajat pandang. Super wide.

Ya ada lensa 8-15mm canon, tetapi itu adalah lensa fish eye. Sedangkan lensa ini adalah lensa rectiliner (walau tentunya dengan lebar sedemikian maka distorsi pasti ada).

Sebagai prelude berikut seberapa lebar lensa ini di 5d Mark II saya :

Pada focal length 18mm – setara dengan Zeiss 18mm yang biasa saya gunakan

IMG_8223

Pada 12mm – superrrrr wide

IMG_8224

Perbandingan diatas hanya untuk perbandingan focal length nya saja … karena saya memotret dengan handhold dan ISO tinggi, sehingga soal ketajaman belum bisa di cek di foto diatas.

Gonna explore this lens first …. saya akan tulis review nya nanti.

Some of other review of this lens :

Sigma 180mm f3.5 EX DG HSM Macro Review

Selama ini saya memotret makro selalu dengan menggunakan lensa makro 100mm. Walau mungkin enak digunakan (lengkap dengan IS) di kamera crop factor, tetapi di FF cukup merepotkan. Posisi kita relatif sangat dekat dengan obyek – yang apabila serangga menjadi terlalu dekat dan berpotensi mereka kabur lebih banyak.

Awalnya saya berencana membeli EF 180mm Macro. Tapi harga yang ajubile bikin mikir beberapa kali. Sampai akhirnya ketemu dengan salah satu review mengenai Sigma 180mm f3.5 Macro EX DG HSM. Lensa ini macro 1:1, EX artinya kategori L kalau setara di Canon, DG artinya untuk full frame bisa, dan HSM artinya mesin AF nya sudah yang tokcer. Beberapa review bisa di cari di google. Tapi berikut review asal asal an versi saya ….

Into-the-Light_IMG_7789-web

Overview

  • Jarak focus minimal (MFD) lebih jauh, yaitu 460mm ( EF 100mm = 300mm, walau EF 180mm lebih jauh lagi 480mm) – yang ini enak banget, tidak perlu mengendap endap terlalu dekat ke serangga
  • Ukuran lebih besar – filter thread 72mm (EF 100mm lama 58mm, baru 67mm)
  • Lebih berat 965 gram – walau cuma selisih beberapa puluh gram tapi terasa dah pegal nya (EF 100mm 600gram, EF 100mm IS 625 gram, EF 180mm 1090gram)
  • Tanpa adanya IS maka butuh cahaya yang berlimpah untuk motret dengan lensa ini, mengingat minimum speed yang dibutuhkan tidak lagi 1/100 secs, melainkan 1/180 secs
  • Build quality secara umum cukup ok … walau saya bukan penggemar finishing body lensa Sigma, gak mantap rasanya beludru begitu

Painting-of-Nature_IMG_7814-web

Continue reading Sigma 180mm f3.5 EX DG HSM Macro Review