Tag Archives: review

Sujo25

My-ers Articles : X100s Review – Part 2, By : Yohanes Sanjaya

MY FUJI X100S REVIEW PART 2

OK, sekarang saya akan membahas keunggulan dan kekurangan dari Fuji X100s ini dengan lebih detil.

 

What I Love from X100s?

1. Build Quality, Design, and Focal Length

Fuji X100s ini adalah kamera poket mirrorless yang pas bagi saya. Focal Length-nya 23mm (setara dengan 35mm di full frame sensor) cocok untuk kebutuhan saya utk memotret casual, kegiatan sehari2, liburan bersama keluarga. Selain itu, built quality-nya yang di atas rata2 kamera lain yg seharga dan desain-nya yang retro memberi nilai tambah untuk saya. TIdak ada kesan ringkih pada saat menggenggam kamera ini

Sujo21 My ers Articles : X100s Review – Part 2, By : Yohanes Sanjaya

 

2. User Interface

Dari segi User Interface, saya menyukai desain dari X100s ini. Bukaan diafragma/aperture diatur dengan cara memutar di bagian depan lensa. Bukaan shutter/shutter speed diatur dari putaran tombol di top plate, dan juga ada putaran untuk menaik-turunkan Ev compensation dengan cepat.

Sujo22 My ers Articles : X100s Review – Part 2, By : Yohanes Sanjaya

Untuk tombol2 di bagian belakang kamera, walaupun agak rumit dibandingkan Canon, masih dapat ditoleransi oleh saya.

Sujo23 My ers Articles : X100s Review – Part 2, By : Yohanes Sanjaya

Continue reading

fujifilm_xpro1_lenses

Fuji X Pro1 Review – Part 1

Saya sudah menggunakan Sony NEX 5n lebih dari setahun. Sejauh ini kemudahan dari mirrorless (ringan, lensa ukuran kecil, tilt LCD, dll) sangatlah membantu saat saya travelling dan tidak ingin membawa banyak barang. Seperti pernah saya tulis, total 1 tas kamera dengan DSLR lengkap bisa mencapai 7 kg sendiri. Tentunya merepotkan pada saat hanya business travel yang kesempatan motret nya juga sedikit.

10118410403 2d76de8719 z Fuji X Pro1 Review   Part 1
Fuji X-Pro1 + XF 18-55mm f2.8-4 | 55mm f4 Macro Mode | 
RAW Convertion on Photoshop + Desaturate background (layer masking)
Bisa dilihat bahwa Fuji me-render warna sangat bagus dan mudah untuk di post pro

Salah satu kendala saya dengan Sony NEX 5n adalah warna nya yang “wild” untuk di post processing. Sering saya puyeng sendiri karena karakter warna nya yang agak unik. Setelah menimbang nimbang, dan terkena racun promosi jpckemang, maka saya putuskan ganti haluan ke Fuji. Apakah sudah pasti lebih baik? Ya dengan harga lebih mahal harapannya demikian …. tapi tetap menurut saya NEX adalah pilihan yang sangat baik buat mereka yang ingin value dalam hal mirrorless.

Kamera yang saya akan review adalah Fuji X Pro1 dengan lensa 18-55 f2.8-4 serta 35mm f1.4

Fuji XE1 sebenarnya sama persis dengan fuji x pro1 dengan harga yang lebih miring dan body sedikit lebih kecil. Hal ini dikarenakan XE1 menghilangkan komponen Optical ViewFinder (OVF) dan menggantikannya hanya dengan Electronic ViewFinder (EVF) + LCD.

——————

The Ergonomy

Seperti saya sebutkan sebelumnya, Fuji X Pro1 ini sangat ergonomis. Lekuk nya pas, peletakan tombolnya juga sangat pas. Menurut saya fuji sungguh melakukan riset nya dengan baik, dia tahu betul tombol apa saja yang perlu diletakkan di luar menu.

Aperture ring diletakkan di body lensa, mempermudah fotografer dalam melakukan setting. Sedangkan shutter speed dan EV juga diletakkan di luar menu. Selain itu masih ada banyak tombol lain yang penting, seperti : Function button (bisa di set sebagai ISO button atau yang lain), pemilihan metering mode, pemilihan titik fokus, pemilihan drive, dan bahkan pemilihan manual focus atau AF.

fujifilm xpro1 lenses 885x1024 Fuji X Pro1 Review   Part 1

Saya kagum bahkan Fuji memikirkan kalaupun kita sudah memilih manual focus, maka kita tetap bisa “memaksa” lensa melakukan AF dengan menekan tombol AF/AE Lock. Ini sangat penting pada saat kita melakukan pre focus. Saya biasa melakukan hal ini di Canon, dan untuk melakukannya saya perlu masuk ke Custom Function. Sedangkan disini saya cukup mengubah tuas menjadi Manual Focus.

Tombol “Q” sebagai Quick Button juga sangat praktis. Seketika saat tombol ini ditekan maka sederet fungsi bisa diatur. Mulai dari jenis simulasi film yang digunakan (Oh ya, ini KEREN!!), Dynamic Range, highlight dan shadow tone, sharpness, color, dll. Dan kerennya lagi, itu semua tampil di viewfinder juga, so tidak perlu menurunkan kamera dan melihat ke LCD (semua DSLR tidak menampilkan menu di viewfinder).

Selain itu kita bisa juga menyimpan custom setting kita, dan dengan cepat kita bisa memanggilnya melalui menu Q ini juga. Walau Canon lebih praktis dengan meletakkan shortcut di dial button nya (Menu C1, C2, C3) tetapi Fuji menyediakan lebih banyak lagi menu custom ini.

So poin 10 buat Fuji untuk urusan ergonomi dan desain.

Continue reading

Sujo02

My-ers Articles : X100s Review – Part 1, By : Yohanes Sanjaya

Well, …. baru pertama kali ini sih saya buat review. mungkin bisa membantu para pembaca untuk mengambil keputusan membeli (atau tidak) kamera poket premium ini. Sepertinya saya tidak perlu membahas spesifikasi teknis dan juga perbandingan kamera X100s ini dengan pendahulunya (X100). Sudah banyak dibahas di review2 online lain.

Berawal dari kebutuhan saya untuk memiliki kamera poket yang dapat dibawa sehari2, ringkas dan kecil dan tentunya bisa menghasilkan gambar yang berkualitas. Sebelum memiliki Fuji X100s ini, saya menggunakan SONY NEX-5N lalu SONY NEX-6. Dari ke dua kamera mirrorless ini, memang tidak ada yang salah, kualitas gambar yang dihasilkan cukup baik, enteng, enak dibawa2. Tapi setelah banyak membaca review (baca: meracuni diri sendiri) dari Fuji X100s ini, saya berkesimpulan ada beberapa kelebihan yang akan berguna bagi saya dibandingkan tetap menggunakan SONY NEX.

Berikut ini sebagian dari kelebihan2 fuji X100s dibandingkan Sony NEX 6 menurut saya, perlu diingat, ini adalah kelebihan menurut saya pribadi lho.

Continue reading

SML_IMG_8315_DxO-web

Sigma 12-24 DG HSM II Review (2)

Pada sesi hunting bersama motoyuk saya coba eksplorasi sigma super lebar ini. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa lensa ini adalah lensa terlebar yang bisa digunakan di full frame (12 mm) tanpa adanya distorsi parah seperti lensa fish eye. Akibatnya? Super lebar … 120 derajat sudut pandang bisa di cover

SML IMG 8315 DxO web Sigma 12 24 DG HSM II Review (2)

Seperti terlihat pada foto diatas, lensa 18mm paling hanya mencakup sampai dengan cone oranye. Tentunya ini sangat nyaman untuk pemotretan arsitektur. Walau saya belum coba untuk lanskap, tapi saya rasa di pemotretan lanskap mungkin dampaknya tidak senyata di pemotretan arsitektur. Jadi 16 / 18mm to 12 mm –> DAHSYAT !!!

Ketajaman lensa ini menurut saya bagus / cukup tajam. Terutama area tengah (tentunya). Lihat crop 100% dekat area tengah ini.

Continue reading

Sigma 12-24 DG HSM II – Prelude

Akhirnya memutuskan untuk menggunakan dana penjualan kamera2 lama untuk membeli lensa super UWA … Sigma 12-24 DG HSM II. Lensa ini adalah satu satunya lensa untuk full frame yang mencapai focal length 12mm … artinya? 120 derajat pandang. Super wide.

Ya ada lensa 8-15mm canon, tetapi itu adalah lensa fish eye. Sedangkan lensa ini adalah lensa rectiliner (walau tentunya dengan lebar sedemikian maka distorsi pasti ada).

Sebagai prelude berikut seberapa lebar lensa ini di 5d Mark II saya :

Pada focal length 18mm – setara dengan Zeiss 18mm yang biasa saya gunakan

IMG 8223 Sigma 12 24 DG HSM II   Prelude

Pada 12mm – superrrrr wide

IMG 8224 Sigma 12 24 DG HSM II   Prelude

Perbandingan diatas hanya untuk perbandingan focal length nya saja … karena saya memotret dengan handhold dan ISO tinggi, sehingga soal ketajaman belum bisa di cek di foto diatas.

Gonna explore this lens first …. saya akan tulis review nya nanti.

Some of other review of this lens :

Painting-of-Nature_IMG_7814-web

Sigma 180mm f3.5 EX DG HSM Macro Review

Selama ini saya memotret makro selalu dengan menggunakan lensa makro 100mm. Walau mungkin enak digunakan (lengkap dengan IS) di kamera crop factor, tetapi di FF cukup merepotkan. Posisi kita relatif sangat dekat dengan obyek – yang apabila serangga menjadi terlalu dekat dan berpotensi mereka kabur lebih banyak.

Awalnya saya berencana membeli EF 180mm Macro. Tapi harga yang ajubile bikin mikir beberapa kali. Sampai akhirnya ketemu dengan salah satu review mengenai Sigma 180mm f3.5 Macro EX DG HSM. Lensa ini macro 1:1, EX artinya kategori L kalau setara di Canon, DG artinya untuk full frame bisa, dan HSM artinya mesin AF nya sudah yang tokcer. Beberapa review bisa di cari di google. Tapi berikut review asal asal an versi saya ….

Into the Light IMG 7789 web Sigma 180mm f3.5 EX DG HSM Macro Review

Overview

  • Jarak focus minimal (MFD) lebih jauh, yaitu 460mm ( EF 100mm = 300mm, walau EF 180mm lebih jauh lagi 480mm) – yang ini enak banget, tidak perlu mengendap endap terlalu dekat ke serangga
  • Ukuran lebih besar – filter thread 72mm (EF 100mm lama 58mm, baru 67mm)
  • Lebih berat 965 gram – walau cuma selisih beberapa puluh gram tapi terasa dah pegal nya (EF 100mm 600gram, EF 100mm IS 625 gram, EF 180mm 1090gram)
  • Tanpa adanya IS maka butuh cahaya yang berlimpah untuk motret dengan lensa ini, mengingat minimum speed yang dibutuhkan tidak lagi 1/100 secs, melainkan 1/180 secs
  • Build quality secara umum cukup ok … walau saya bukan penggemar finishing body lensa Sigma, gak mantap rasanya beludru begitu

Painting of Nature IMG 7814 web Sigma 180mm f3.5 EX DG HSM Macro Review

Continue reading

Nature_DSC01702-web

Going Low Angle … Part 2

Nature DSC01702 web 199x300 Going Low Angle ... Part 2 Banyak yang tanya apakah foto di post sebelumnya menggunakan flash? Menurut my-ers bagaimana?

Hehe … foto ini tidak menggunakan flash / strobist. Melainkan dia memanfaatkan beberapa komponen :

Cahaya matahari : cahaya matahari terakhir kebetulan sudutnya masih memungkinkan untuk menyinari rumput yang ada – tidak sekedar menyinari melainkan menyinari dari belakang (backlight). Kondisi rumput yang tembus pandang membuat sinar matahari tersebut memendarkan daun daunnya.

Apabila cahaya nya dari depan (matahari di belakang saya) maka karakter warnanya akan berbeda, yaitu cahaya nya memantul. Demikian pula kalau kita menggunakan flash dari depan. Kalaupun kita ingin mengulang scene ini menggunakan flash maka sebaiknya peletakan flash juga dalam kondisi backlight. Sehingga tidak memunculkan pantulan pada permukaan rumput.

GND Reverse : tanpa GND tentunya kita tidak bisa memunculkan dynamic range seperti dalam foto ini. Antara harus memilih rumputnya seperti ini tetapi langit putih semua (over exposed), atau kebalikannya langitnya seperti pada foto di samping, tetapi rumputnya hitam semua. Peran GND sangat besar.

Jenis GND yang digunakan juga Reverse, bukan Soft Edge atau Hard Edge. Keduanya dalam kasus ini tidak akan kuat mengangkat detil pada rumput, karena matahari di tengah horizon sangat kuat cahaya nya. Kita masih mungkin mendapatkan hasil yang mirip dengan menggunakan type Hard Edge, tetapi dengan post processing (dodging) lebih banyak. Tetapi soft edge tidak akan mampu membantu mengangkat detilnya, karena di area tengah area hitamnya terlalu lemah.

Post processing : Foto ini jelas bukan hanya kerjaan kamera dan GND dan lain lain. Dynamic range setinggi ini sulit sekali diperoleh langsung dari kamera. Jadi proses dodging (memperterang) area rumput dan burning (menggelapkan) area langit adalah hal yang perlu dilakukan. Tanpanya maka foto akan jauh lebih flat / kurang dinamis. Sebagai fotografer digital paling tidak proses burning dan dodging wajib bisa dilakukan.

Semoga membantu menerangkan ….

motoyuk signature white Going Low Angle ... Part 2




Nature_DSC01702-web

Going Low Angle – With SEL 10-18 f4 OSS for NEX

Salah satu trik komposisi dalam lanskap adalah menggunakan low angle. Tapi apakah benar low angle ini bisa bermanfaat? Lalu seberapa low yang kita butuhkan? Kita coba lihat perbandingannya, sebelum akhirnya saya ambil super low angle untuk foto ini :

Nature DSC01702 web Going Low Angle   With SEL 10 18 f4 OSS for NEX

PS : Semua foto di jepret menggunakan Sony NEX 5n + SEL 10-18mm f4 OSS pada 12mm. Saya gunakan 12mm karena saya menggunakan UV filter + GND Holder, apabila dipaksakan pada 10mm maka akan muncul vignette sangat kentara di sudut sudut foto. GND filter yang saya gunakan adalah jenis GND Reverse 0.9x

Semua foto juga sudah di post processing menggunakan Adobe Photoshop untuk meningkatkan dynamic range dari foto. Yaitu dengan melakukan dodging pada area foreground, dan burning pada area langit – terutama di area matahari terbenam. Untuk foto final saya juga tambahkan saturasi dan vibrance tools selain sedikit burning di beberapa area.

Continue reading

Fuji x1

Fuji Pro X1 – hands on

Beberapa waktu lalu dapat kesempatan memegang dan menggunakan kamera fuji mirrorless dengan lensa yang bisa diganti, Fuji Pro X1. Review nya sudah ada dimana-mana, hands on juga bisa dibaca di web seperti Dpreview maupun Steve Huff Photo. Tetapi akhirnya saya coba sendiri kamera ini … Lensa yang dijajal kebanyakan adalah lensa “kit” nya yaitu Fuji 35mm f1.4 – saya juga akan “membandingkan” experience saya dengan Sony NEX 5n milik saya.

Fuji x1 1024x1024 Fuji Pro X1   hands on

Secara umum body kamera ini lebih nyaman digunakan dibandingkan nex. Maklum ukurannya lebih besar, dan shortcut juga lebih banyak. Kamera yang saya coba dipasangi tambahan grip, sehingga ukurannya menjadi sedikit lebih besar. Memang memegangnya jadi lebih nyaman, tapi saya personally lebih suka tanpa grip ini. Selain jadi lebih besar, buka tutup pintu batere & SDCard jadi repot.

Fuji X1 menyediakan banyak shortcut yang bisa digunakan untuk mensetting, misalnya Fn button di bagian atas yang bisa digunakan untuk ISO maupun banyak fungsi lain. Lalu ada tombol “Drive”, “AE” dan “AF” di kiri LCD. Selain itu kita bisa menekan tombol “Q” di kanan LCD yang akan memunculkan menu shortcut untuk mengatur banyak hal, mulai dari jenis film (semacam picture style di canon), ISO, Drive, Flash, White Balance, Color saturation-sharpness, dll. Yang menarik adalah karena Fuji X1 menggunakan viewfinder optical + electronic maka menu “Q” ini bisa dimunculkan di viewfinder juga (dalam mode electronic tentunya). Jadi kita bisa melakukan setting sembari mata kita tetap masih ada di viewfinder (indahnya dunia).

Viewfinder di Fuji memang menjadi keunikan tersendiri dibandingkan mirrorless lainnya. Saya suka menggunakannya. Viewfinder ini terdiri dari viewfinder elektronik (sama seperti viewfinder di NEX 7) yang terang dan jelas, dan viewfinder optical. Viewfinder optical ini sebenarnya prinsipnya meniru viewfinder di kamera rangefinder (Leica M8 / M9 misalnya). Jadi kita melihat melalui kaca kecil di atas lensa (lihat gambar disamping). Ada paralaks? Pastinya … ini diatasi dengan sesaat setelah kita menekan tombol shutter akan dimunculkan grid putih untuk menandai mana yang masuk ke dalam frame. It’s really fun to use – agak bingung pastinya buat yang belum pernah pegang rangefinder.

Kenapa saya suka viewfinder optical? Karena di Sony NEX saya mengalami saat saat sulit menggunakan LCD / viewfinder elektronik saat mengkomposisi di kondisi pencahayaan sangat gelap. LCD tidak menampilkan detil, sehingga saya kesulitan melakukan komposisi saat pemotretan landscape. Padahal di kondisi pencahayaan yang sama biasanya saya masih bisa meraba-raba komposisi dengan menggunakan viewfinder optical Canon 5d mk2 saya.

————————-

Bagaimana hasil dari kamera ini? Saya belum explore sampai terlalu jauh, tetapi berikut adalah beberapa hasil yang sempat saya coba :

Fuji x1 sample 1 Fuji Pro X1   hands on

Fuji x1 sample 1 crop 1 Fuji Pro X1   hands on

Continue reading

sony-nex-7-vs-nex-5-side-by-side

Sony NEX 5n – The Review (Part 1)

Terdorong dari masih terasa beratnya Canon 5d Mark II + lensa-lensa travel yang harus dibawa saya mulai melirik kamera jenis mirrorless. Kamera ini sudah pasti lebih ringan dibandingkan DSLR paling ringan sekalipun. Hal ini karena memang desainnya memungkinkan ukuran yang lebih kecil dan posisi pantat lensa yang lebih dekat dengan sensor membuat lensa-lensa mirrorless lebih mungil (dan ringan) dibandingkan DSLR.

Review ini bukan review yang teknis dengan membandingkan foto di berbagai ISO atau dengan menggunakan berbagai lensa dengan pixel peeping sampai dengan level 100% di semua foto. Review ini adalah bagaimana saya sebagai pengguna merasakan menggunakan kamera ini selama 2 minggu lebih perjalanan saya ke Derawan, Kalimantan & Chiangmai, Thailand. Mungkin di beberapa area saya akan membandingkan atau menunjukkan 100% zoom. Saya juga tidak menunjukkan sample foto yang belum di sharpening / post processing – karena tidak demikian pula cara kerja saya akhirnya. Tapi sharpening & post-processing yang saya gunakan adalah sejauh yang masih wajar.

Sony NEX Sony NEX 5n   The Review (Part 1)

Apa itu Mirrorless ?

Sesuai dengan namanya maka kamera ini adalah kamera tanpa mirror / cermin. Akibatnya kalau kita buka lensa-nya akan langsung terlihat sensor kamera. Tidak seperti DSLR yang pada saat kita buka lensa nya yang terlihat adalah cermin yang memantulkan gambar ke pentaprism dan viewfinder.

dslr vs mirrorless Sony NEX 5n   The Review (Part 1)

Wajar hal ini mengakibatkan mirrorless tidak memiliki optical viewfinder, selain itu juga ukurannya bisa lebih kecil – walau dengan ukuran sensor yang sama dengan DSLR (saat ini belum ada mirrorless full frame – tetapi sudah ada dengan crop factor 2x dan 1.5x – setara dengan Nikon DSLR).

Tapi keuntungan utama dari mirrorless terletak bukan hanya dari body kamera yang kecil. Tetapi karena posisi lensa yang lebih menjorok masuk ke dalam body kamera dan mendekati sensor (ingat : tidak ada mirror yang menjadi penghalang) maka lensa tidak membutuhkan optik dengan ukuran besar. Itu sebabnya lensa mirrorless bisa cuma berdiameter filter 49mm misalnya, dengan panjang lensa yang jauh lebih pendek pula dibandingkan lensa DSLR. Sudah body kamera nya kecil, lensa lebih kecil, jadi total berat kamera ini juga sangat bersahabat buat traveler. Sony NEX 5n dengan lensa kit (18-55) memiliki total berat 463 gram, bandingkan dengan 695 gram pada Canon 1100d dengan lensa kit (18-55).

Kelebihan lain dari mirrorless adalah dia memungkinkan menggunakan hampir semua jenis lensa merek / jenis lain dengan menggunakan adapter. Yup, lensa tersebut akan jadi lensa manual focus, tapi dengan mirrorless kita bisa menggunakan lensa segala usia dari : Canon, Nikon, Pentax, Carl Zeiss, Leica, Hasselblad, Voigtlander, dll. Pilih saja dan beli adapternya … done. Tidak perlu oprek dll.

EP3 2 Sony NEX 5n   The Review (Part 1)

Market leader untuk kamera mirrorless saat ini dipimpin oleh Olympus dengan produknya Olympus Pen (E-P3 adalah versi yang paling baru). Olympus memiliki model yang retro dan cantik, dilengkapi dengan built-in filter (misalnya BW, toycamera, HDR, dll) dan juga pilihan lensa yang sangat beragam.

Mirrorless menurut saya adalah kamera yang “more than capable” menghasilkan foto-foto yang bagus, super ringan buat dibawa travelling dan tentunya dengan bentuk seperti pocket menjadi lebih tidak bermasalah (tidak di cegat satpam, tidak diusir, tidak di pelototin orang yang difoto, dll).

Tentunya mirrorless memiliki keterbatasannya sendiri (itu sebabnya saya masih mempertahankan Canon 5d Mark II saya untuk pemotretan landscape dll yang serius). Tapi overall kamera ini adalah “The One” untuk mereka yang suka foto travel atau butuh kamera untuk travelling dengan ukuran dan berat yang sangat masuk akal.

 

Kenapa Sony NEX 5n ?

Diantara banyak pilihan seperti :

  • Olympus E-P3
  • Olympus E-PL3
  • Olympus E-PM1
  • Olympus OM-D (coming soon)
  • Sony NEX C3
  • Sony NEX 5
  • Sony NEX 5n
  • Sony NEX 7
  • Panasonic GF3
  • Fuji X1 Pro (coming soon)

tentunya ada alasan kenapa akhirnya saya secara spesifik memilih Sony NEX 5n … bahkan jauh-jauh membelinya di Bangkok (karena di Indonesia sedang tidak ada barang tersebut dalam waktu cukup lama).

Continue reading