Tag Archives: photography

Pentingnya kontras dalam fotografi lanskap

Ada beberapa rekan menanyakan bagaimana membuat foto lanskap yang tajam/sharp menggigit. Apakah ini berhubungan dengan perangkat yang digunakan? … hemmmm … ya, sedikit banyak berpengaruh, tapi faktor yang utama adalah teknik yang benar dan kontras yang cukup.

Teknik yang benar sudah dibahas dalam buku fotografi lanskap motoyuk (bisa di beli di Gramedia). Ini berhubungan dengan penggunaan aperture, shutter speed dan iso yang tepat. Berhubungan pula dengan penggunaan tripod untuk shutter speed yang lambat.

Nah, kalau kontras? Coba lihat foto di bawah ini :

NORAH HEAD_HDR_BEFORE
Norah-Head-HDR-FINAL

Foto yang bawah nampak lebih tajam? Ya, salah satunya karena kontras yang memadahi.

Tonal contrast adalah seberapa jauh berbeda antara area paling terang dan paling gelap di foto. Foto dengan contrast rendah akan terlihat seperti memiliki selaput, dan akibatnya di persepsikan kurang tajam. Foto dengan kontras terlalu tinggi juga tidak bagus karena terlihat kasar. Kontras harus pas.

Continue reading Pentingnya kontras dalam fotografi lanskap

Lensa Fuji yang Mana?

Setelah post body kamera Fuji yang mana, saya mau ulas sedikit mengenai lensa yang mana untuk kamera fuji yang di beli. Ini tentunya bukan rekomendasi teknis berdasarkan chart dll, lebih ke pengalaman saya dengan beberapa lensa Fuji yang saya gunakan dan juga genre saya. So kalau MY-ers beda genre tentu saja bisa punya preference yang berbeda.

Sejauh ini lensa dengan X Mount yang saya miliki (hasil konversi dari seluruh koleksi Canon saya sebelumnya) :

  • Fuji XF 10-24mm f4 R OIS
  • Fuji XF 18-55mm f2.8-4 R LM OIS
  • Fuji XF 55-200mm f2.5-4.9 R LM OIS
  • Fuji XF 18mm f2 R
  • Fuji XF 23mm f1.4 R
  • Fuji XF 35mm f1.4 R
  • Fuji XF 56mm f1.2 R
  • Samyang Fish Eye 8mm f2.8 MK2
  • Samyang 12mm f2

Sedangkan koleksi lensa tua untuk keperluan moto manual focus dengan metabone speed booster saya fokuskan pada lensa Canon FD. Hal ini supaya saya cukup punya 1 adapter speed booster saja. Lebih hemat. Sejauh ini ada 3 lensa : FL 55mm f1.2, FD 50mm f1.4 SSC dan FD 135mm f2.

new-fuji-lenses

Ada juga lensa Zeiss Flektogon 35mm f2.4.

Continue reading Lensa Fuji yang Mana?

Planning for Landscape Photography

Merencanakan pemotretan lanskap bukanlah hal mudah. Banyak aspek yang harus diperhatikan. Di antaranya : cuaca, kondisi awan, posisi matahari, keamanan lokasi, pasang surut air laut, dll. Dulu saya seringkali melakukan pemotretan lanskap dengan model “Hajar Blehhh” alias tanpa planning. Dan akibatnya adalah kekecewaan karena meleset sana sini.

Belakangan ini saya menggunakan tools untuk merencanakan pemotretan. Tidak sempurna. Tapi paling tidak mengurangi aspek kesalahan perencanaan.

Ada banyak tools yang dapat digunakan, tapi saya akan coba bahas salah satu tools yang menurut saya paling berguna : PhotoPills. Aplikasi yang saat ini hanya tersedia di Apple iOS dengan harga USD 9.90 …. Bagi yang mengeluh kenapa berbayar … MALU !!!!!! beli lensa dan body harga jutaan tapi mengeluh untuk beli aplikasi dengan harga beberapa ratus ribu. Kamu pikir jadi software developer itu gampang apa? #CurCol

Lokasi Sunrise & Sunset

Selain cuaca (yang bisa dilihat melalui aplikasi weather atau website ramalan cuaca), salah satu aspek terpenting dalam pemotretan lanskap adalah posisi matahari.

Kirribili

Pada pemotretan di atas, bagaimana cara kita merencanakan pemotretan dari awal kalau kita tidak tahu posisi matahari secara tepat? Kita mungkin akan menunggu sunset di lokasi yang berbeda dan tidak memperoleh apa yang kita inginkan. Saya menggunakan Photopills untuk merencanakan dimana saya akan menunggu sunset, dan ketika sampai di lokasi, dimana saya harus berdiri menunggu sehingga matahari membentuk star karena tertutup sebagian oleh pohon di kejauhan.

Sebagai informasi bagi yang tidak sadar, posisi matahari terbit dan tenggelam itu bergeser dari waktu ke waktu. Ya, matahari terbit di timur dan tenggelam di barat, tapi timur bagian mana dan barat bagian mana.

Photopills memungkinkan kita mensimulasikan posisi dimana matahari akan terbit dan tenggelam. Kita tinggal mencari lokasi pemotretan lalu memilih tanggal dan waktu pemotretan, dan kita bisa melihat di arah mana matahari akan terbit (garis kuning) dan tenggelam (garis oranye).

sunrise sunset

Tidak hanya itu, apabila sudah sampai di lokasi kita bisa menggunakan Augmented Reality untuk memperkirakan dimana matahari akan terbit / tenggelam. Nah ini yang saya gunakan untuk “ngepasin” matahari tenggelam di pepohonan pada foto di atas. Saya tahu saya butuh itu agar matahari bisa dibuat jadi star burst menggunakan aperture yang sempit.

AR

Augmented Reality, buat yang gak paham istilahnya, adalah tools dimana kita bisa melihat kondisi di lapangan langsung (kayak lagi mau moto pakai handphone kita – live view) dan di frame yang sama kita bisa melihat berbagai informasi tambahan. Dalam kasus ini informasinya adalah arah gerakan matahari terbit / tenggelam.

Continue reading Planning for Landscape Photography

NISI Neutral Density (ND) 10 Stop

Salah satu filter yang tidak tergeser oleh teknologi digital adalah neutral density / ND. Secara mudahnya filter ini menahan cahaya masuk dan mengenai sensor. Yah, mirip dengan kaca mata hitam yang biasa kita gunakan saat sedang terik.

Simple? Ya dan tidak, untuk membuat filter ND dengan densitas (tingkat kegelapan) yang rendah sih tidaklah terlalu sulit. Tapi begitu makin pekat / gelap maka kesulitan akan meningkat. Ingat cahaya yang kita lihat terdiri dari berbagai spektrum warna cahaya. Warna pelangi. Pada ND dengan tingkat kepekatan 10 stop, maka produsen perlu membuat filter yang mampu meloloskan hanya 0.001 cahaya …. dan apabila levelnya tidak sama disemua spektrum cahaya, hasilnya adalah? Color cast.

Color cast adalah gejala warna tambahan yang kita lihat muncul pada foto akibat penggunaan filter, terutama ND yang sangat gelap. Kenapa bisa muncul? Seperti yang dijelaskan di atas, karena tingkat blocking semua spektrum cahaya nya tidak sama.

Mengening Bali

So, selain ketajaman, maka color cast yang netral (tanpa color cast) adalah satu hal yang sangat di cari dari filter ND. Saya pernah menggunakan merek Hitech ND 10 stop (square format) … OMG magenta color cast nya, parah. Sulit sekali post pro nya. Lalu saya juga coba Lee Big Stopper (foto di atas), filter ini relatif bagus karena color cast nya walaupun masih ada, adalah biru. So, perbaikannya di post pro relatif “mudah”.

Waktu mendapat kesempatan mencoba NISI ND Filter yang di kabarkan memiliki color cast netral, saya sempat ragu. Produsen sebesar Lee saja masih kena color cast, masak ini yang relatif lebih murah dibanding Lee bisa netral?

Continue reading NISI Neutral Density (ND) 10 Stop

(AU) Hornby Lighthouse, Watson bay, Sydney

Ini adalah salah satu tempat yang menarik di Sydney, komplit dengan pemandangan mercusuar nya, laut dan tebing yang indah, city view dan juga park. Lokasinya sendiri (Google map : -33.833315, 151.280584agak jauh dari pusat kota, tetapi masih terjangkau dengan mudah via kendaraan umum.

Hornby Lighthouse

Kita bisa naik ferry dari Circular Quay menuju Watson Bay. Setelahnya berjalan kaki melalui Cliff Street (sekitar 10-15 menit) dan masuk ke cagar alam di Camp Cove. Saran : bawa senter, karena begitu lewat sunset maka jalan di cagar alam ini gelap sekali.

Traveller

Tidak ada biaya masuk, biaya motret dan biaya preman lainnya. So murni hanya biaya transport menggunakan Ferry. Kalau mau murah ya pergi di hari minggu menggunakan OPAL Card. Karena untuk hari minggu maksimum charge adalah AUD 2.5. So mau sampai ujung dunia juga bayar maksimal segitu.

Pantai di Camp Cove sendiri cukup menarik untuk di eksplore. Juga dengan city view sepanjang perjalanan ke Hornby Lighthouse. Sayang saya tidak punya banyak waktu saat itu, sehingga langsung menuju area mercusuar.

Mercusuar nya sendiri sangat menarik dengan warna merah putih nya. Eye Catching.

Angle pemotretan bisa dilakukan persis di area bawah mercusuar, tetapi agak statis dan kurang menarik. Lebih menarik adalah dari tebing tidak jauh dari mercusuar itu (sekitar 20-30 meter). Tetapi kita perlu ekstra hati hati karena tebingnya sangat curam dan tidak memiliki pagar pembatas. Continue reading (AU) Hornby Lighthouse, Watson bay, Sydney

Sony RX1 — a user perspective

Sony RX1 adalah kamera pro-sumers berukuran sedikit lebih besar dari kamera pocket dengan lensa fix 35mm f2, tidak bisa ganti lensa. Yang unik adalah kamera ukuran mungil ini memiliki sensor full frame, yang menjanjikan foto bersih noise di iso tinggi dan juga DOF yang mantap.

Penggunaan lensa Carl Zeiss 35mm f2 juga menjanjikan warna yang warm khas zeiss, dan 3d pop. Tentunya ketajaman prima juga.

Tapi bagi saya sebenarnya notes di atas good saja, bagi saya yang penting adalah mungil + mumpuni sehingga bisa di bawa setiap hari. Ya, kamera ini memang saya bawa setiap hari, kerja dan jalan. Karena saya yakin ada saja momen yang saya bisa foto.

checking my schedule

Momen di atas misalnya saya foto saat keluar dari kamar kecil di airport setelah landing di Changi. Momen yang hanya split second rasanya. Kalau kamera masih di tas, atau bahkan di rumah, ya jelas gak dapat momen ini.

Atau momen di bawah yang di dapat pas jalan mau makan malam. Walau bawa mirrorless pun saya malas bawa kamera kalau cuma rencana mau makan malam saja hahaha. Tentunya ini semua tidak berlaku buat MY-ers yang pada rajin bawa kamera setiap hari walau itu DSLR atau mirrorless ya.

Romantic Chat

So, bagaimana kesan saya tentang kamera RX1 ini? Apakah worthed? Sebagai kesimpulan saja …. kalau dapat harga second diskon an lumayan + memang niat di bawa bawa setiap hari sih worthed banget. Tapi kalau beli baru dengan harga yang ajigile itu sih gak worthed … banget !!

Ergonomi : kamera ini mungil, so grip memang terbatas. Bisa kita tambahkan grip tambahan yang jelas akan bikin pegangan jadi enak banget, tapi ya jadi gendut. Saya sendiri pakai apa adanya, gak pakai grip tambahan. Gak senyaman mirrorless apalagi dslr, tapi work alright dengan mungilnya.

Continue reading Sony RX1 — a user perspective

Film Simulation

Sama halnya dengan Picture Style di Canon dan Picture Control di Nikon, adalah Film Simulation di Fuji. Prinsipnya sama, mengatur warna, kontras dll sehingga JPEG yang dihasilkan sudah setengah jadi post pro nya.

Ini merupakan kumpulan dari artikel di FB FujiWorld mengenai Film simulation … saya bukan penterjemah, jadi silahkan gunakan google translate buat yang bingung dengan bahasa inggris nya 🙂


If you shoot with a digital camera and are serious about photography, chances are that you shoot in RAW format. RAW is flexible and therefore undeniably a very attractive option. But if you own a FUJIFILM camera, put that thought on the side for a second. You may be wasting just about half of the camera’s potential.

First of all, the color reproduction is not just a “tendency” for FUJIFILM cameras, but rather a “world of its own” to put it more correctly. It does not just look “vivid” or “soft”. They are in their own world of color reproduction of “Velvia” and “ASTIA”.

When you shoot a photo, you would first look at the subject. It can be anything from “autumn leaves” to “person”. And you would set it to “Vivid” or “Soft” depending on the subject. You may be happy with the result if the autumn leaves appear vivid or the skin appears soft.  At the same time, you may be unsatisfied with the result, but think that “it can be edited later” if they were shot in RAW.

If you use FUJIFILM camera, your style of photography can be a bit different. How would the autumn leaves or the person appear if they were shot in Velvia? How would they appear if they were shot in ASTIA?

11046604_839072869498851_6621604002451851846_n

This is the fundamental idea of FUJIFILM’s approach to color reproduction and photography. We regard the time you spend shooting very important.

And as the FUJIFILM cameras are mirrorless, you can check the final image before the shot is taken. You can preview the world of Velvia and ASTIA.

Continue reading Film Simulation

in Camera HDR

Fitur baru yang sedang saya uji coba di Sony RX1 (yea, saya mulai menggunakannya untuk day to day carry camera + street) adalah in camera HDR. Fitur ini memungkinkan kamera secara otomatis mengambil beberapa gambar dengan exposure berbeda, menganalisa nya, lalu mengatur supaya dynamic range nya menjadi lebih baik.

So far saya baru mencoba fitur HDR dengan perbedaan exposure Auto. Tetapi RX1 (dan saya rasa semua sony terbaru) memiliki pilihan dari 1 – 6 EV stop. Secara bertahap saya akan tambahkan koleksinya nanti.

Image di bawah di hosting di FLICKR, dan merupakan full resolution image, in case mau membandingkan pixel level — walau saya rasa tidak terlalu berbeda signifikan, kecuali di yang HDR sony membubuhkan sharpening.

Foto di atas adalah tanpa HDR, di bawahnya dengan HDR di aktifkan.

KGP non HDR

KGP HDR
CP non HDR
CP HDR
Pancoran non HDR

Pancoran HDR

Custom White Balance

Buat yang belum paham soal white balance dan pengaruhnya, silahkan baca dulu artikel di motoyuk berikut ini.

Nah buat yang sudah paham … ini sekedar sharing singkat mengenai situasi yang sering kita hadapi di lapangan. Di lapangan sering kita ketemu masalah di mana pencahayaan terlalu ekstrem warnanya. Misalnya pada saat saya memotret di event Manchester United Live beberapa waktu lalu di dalam dome nya digunakan lampu merah. Akibatnya kalau kita motret pakai daylight white balance pasti hancur lebur.

Menggunakan Auto White Balance sifatnya ya untung2an. Ada kamera yang AWB nya relatif cukup canggih untuk kompensasi, tapi karena saking ekstrem nya ya relatif susah memang untuk dapat tonal yang netral.

IMG_0702

Foto di atas di ambil menggunakan XT1 dan XF 18mm f2 dengan menggunakan AWB. Lihat warnanya masih parah merah nya. Ya wajar, karena tidak ada cahaya lain di lokasi tersebut.

Salah satu trik yang bisa digunakan adalah menggunakan Custom White Balance.

Custom WB ada di setiap kamera, hanya saja cara aplikasinya agak berbeda-beda. Saya ambil contoh kamera canon, yang perlu dilakukan adalah :

  1. Foto kertas abu-abu / putih menggunakan AWB
  2. Lalu masuk ke menu dan pilih custom white balance
  3. Pilih foto yang tadi sebagai referensi nya

Sedangkan di Fuji XT1 agak berbeda :

  1. Pilih custom white balance, Fuji akan menampilkan kamera siap jepret
  2. Foto kertas abu-abu / bidang putih – otomatis maka custom white balance akan di setting berdasarkan foto tadi

Hasil penggunaan custom white balance bisa dilihat di bawah ini :

IMG_0699

Kalau kita lihat warnanya sudah jauh lebih netral. Skin tone sudah lebih betul walau belum sempurna (karena keterbatasan cahaya nya).

Kita dapat mengulang proses registrasi custom white balance ini beberapa kali untuk mendapatkan acuan yang paling pas.





Hyperfocal Using Fuji Lens

Buat yang belum paham apa itu hyperfocal, baca dulu artikel-artikel di motoyuk yang terkait dengannya. Artikel ini tidak akan membahas lagi apa dan mengapa hyperfocal.

Menggunakan lensa manual dengan distance scale adalah cara yang praktis untuk menggunakan teknik hyperfocal. Selain itu ada juga cara focusing di jarak tertentu menggunakan AF. Tapi cara kedua ini agak repot karena biasanya kamera sudah terpasang di tripod. Focusing ke jarak tertentu kadang membuat kamera perlu di kendorkan dari tripod.

Fuji (dan saya rasa beberapa mirrorless lain) ternyata memiliki distance scale ini pada LCD ataupun electronic viewfinder mereka. Ini terlihat apabila kita mengubah menjadi mode Manual Focus.

IMG_0482

Pada gambar di atas kita fokus pada jarak sekitar 1.7 meter (lihat garis kuning di tengah garis biru) dan ruang tajamnya adalah mulai dari 1.5 meter sampai dengan 2 meter (lihat garis biru di distance scale).

Continue reading Hyperfocal Using Fuji Lens