Tag Archives: photo

Congratulation for MY-ers Gerdie Hutomo – 1st winner of TSI Photo Competition 2013

Gerdie

Foto dengan momen yang langka ini adalah milik Gerdie Hutomo, MY-ers yang tahun ini memenangkan juara 1 untuk lomba foto internasional Taman Safari. Selamat bagi Gerdie dan juga Narsiskus Tedy yang kembali meraih juara Harapan 1 dalam kompetisi tahun ini.

Salam MotoYuk!!!

MY Mentoring Session – Bali – 2-5 Nov 2013

Memanfaatkan HarPitNas di awal minggu ini, 15 orang my-ers menuju tanah dewata Bali untuk melakukan pemotretan lanskap. Dalam 4 hari waktu pemotretan sungguh bersyukur dikaruniai cuaca yang sangat bagus. Sehingga baik Sunrise maupun Sunset bisa ditangkap dengan indah.

Keluarga

Pemotretan kali ini mencakup area : Dreamland, Kintamani, Desa Pinggan, Pantai Sanur & Mengening serta Tanah Lot. Saking indahnya Sanur dan Mengening maka tim sampai 2 kali balik, demi mengulang kembali tips yang hari sebelumnya sudah di uji coba.

Berikut adalah hasil dari beberapa fotografer yang ikut serta, foto foto lengkap mereka ada di FB Group Motoyuk.

 


Congratulation to Tedy – Winner of Taman Safari Photo Contest

Selamat buat admin MY, Tedy, atas terpilihnya foto “Love Scream” sebagai juara 1 lomba foto satwa internasional Taman Safari. Semoga terus menginsipirasi dan berbagi ilmu dan semangat dengan teman-teman MY


Teknik memotret bunga

[REPOST] – Ini sharing ilmu yang diperoleh dari Om Jeffry Surianto, maestro Macro dan Bunga. Kebetulan aku mendapat kesempatan emas belajar dari beliau.

Persiapan

Sebagai materi tentunya kita perlu membeli bunga segar. Bunga segar disimpan sesuai dengan aturan penyimpanannya, misalnya Tulip harus disimpan di ruangan ber-AC sebelum dikeluarkan untuk difoto. Jenis bunga yang akan di foto bisa beragam sesuai dengan keinginan.

Sebagai background bisa digunakan papan yang dilapisi kain beludru (misalnya hitam). Kenapa beludru? Karena kain ini serapan cahayanya paling baik, jadi tidak memantul.

Teknik

Aku tidak akan membahas mengenai teknik dasar seperti angle pemotretan, apperture yang digunakan agar DOF-nya dapat, ISO yang digunakan agar tidak noise tapi masih dapat speed-nya, dll. Pembahasan ini khusus ilmu yang “berbeda” dibandingkan pemotretan biasa.

Pencahayaan pada pemotretan bunga diusahakan adalah dari cahaya alami / window lighting. Hal ini dikarenakan menggunakan flash akan membutuhkan kontrol yang lebih sulit untuk mengeluarkan warna pada bunga, kebanyakan akan pucat. Selain itu gunakan white balance “daylight” dan bukan auto-white balance agar warnanya tidak salah.

Teknik yang diajarkan Om Jeffry adalah dengan melakukan pemotretan under-exposure terlebih dahulu. Untuk melakukan ini umumnya dibutuhkan Mode Manual pada kamera. Lakukan beberapa kali percobaan sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan, yaitu keseluruhan foto agak gelap dan tidak ada area over-exposure sama sekali.

Continue reading Teknik memotret bunga

MY FFLC 2

MY FFLC (Fixed Focal Length Challenge) 2 diadakan di Monas, Jakarta – Minggu 22 Oktober 2011. Sama halnya dengan FFLC yang pertama maka event ini juga merupakan street photography. Teknik yang digunakan juga sama seperti yang digunakan pada FFLC pertama. Dimana focal length di setting dari awal, aperture di set di bukaan tertentu, dan hampir semua parameter lain di set otomatis.

Tim MotoYuk Jakarta yang ikutan FFLC2 ber-foto bersama

Sama halnya dengan event FFLC sebelumnya pula, esensi dari event ini bukan hanya street photography. Well, saya adalah landscaper dan bukan penggemar street photo. Tapi FFLC sangat efektif untuk melatih keberanian, komposisi, lighting dan pemahaman lensa (seperti telah dijelaskan di artikel sebelumnya).

Kali ini saya juga belajar bahwa auto ISO kadang bukanlah pilihan yang terbaik. Maklum Auto ISO mendasarkan pada kecepatan 1 / focal length. Karena saya menggunakan lensa 100mm maka kecepatannya paling cepat 1/100 secs. Nah, kadangkala buat obyek orang bergerak speed ini kurang. Oleh sebab itu saya ubah strategi saya di FFLC 2 ini dengan menggunakan ISO 400 yang menghasilkan speed yang lebih cepat pada kondisi pencahayaan kemarin.

Selain itu saya juga belajar bahwa 100mm di full frame sebenarnya bukan focal length ideal saya. Seringkali kaki obyek yang saya foto terpotong di frame. Saya rasa idealnya saya menggunakan lensa 85mm – sama seperti yang di sarankan Thomas Leuthard sebenarnya. Mungkin lain kali saya akan gunakan lensa dengan focal length itu saja. Berikut adalah hasil pemotretan yang diperoleh selama di Monas. Enjoy …

 

Continue reading MY FFLC 2

Materi Sharing Komposisi – Ujung Genteng May 2011

Karena ukuran file powerpoint yang besar maka di bagi jadi beberapa bagian. Dibutuhkan Microsoft Powerpoint 2010 untuk membuka file ini. Enjoy …

komposisi Part 1

komposisi Part 2

komposisi Part 3

komposisi Part 4

komposisi Part 5

Canon Photo Marathon 2010

Canon PhotoMarathon Indonesia ke-2, ajang kompetisi fotografi terbesar di Indonesia hadir untuk Anda. Kompetisi foto berskala internasional yang diadakan di 6 negara asia yaitu Indonesia, Singapura, Vietnam, India, Malaysia, dan Thailand yang menguji kebolehan fotografi Anda.

Kategori kamera Digital SLR :

Tema 1

  • Juara 1 : Trip Photo Clinic ke Turki + Kamera Canon EOS 7D Body Only
  • Juara 2 : Kamera Canon EOS 7D Body Only
  • Juara 3 : Kamera Canon EOS 500D Body Only

 Tema 2

  • Juara 1 : Trip Photo Clinic ke Turki + Kamera Canon EOS 7D Body Only
  • Juara 2 : Kamera Canon EOS 7D Body Only
  • Juara 3 : Kamera Canon EOS 500D Body Only

 3 Juara harapan : @ Kamera digital Canon PowerShot SX120 IS

Kategori kamera Digital Saku :

  • Juara 1 : Kamera Canon PowerShot G11 + Compact Photo Printer Selphy CP 790
  • Juara 2 : Kamera Canon PowerShot SX210 + Compact Photo Printer Selphy CP 790
  • Juara 3 : Kamera Canon IXUS 130 + Compact Photo Printer Selphy CP 790

 5 Juara harapan : @ Kamera Canon PowerShot A3100 + Compact Photo Printer Selphy CP 790

Continue reading Canon Photo Marathon 2010

Photo Gathering…Reveal #2

Bagaimana dengan foto ini :

Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 20mm | Manual Mode | f8 | 1/30 secs | ISO400 | Flash with tronic trigger (sepertinya 50mm power -1)

Ada yang terbayang cara memotretnya? Menggunakan flash, sudah pasti 🙂 Hal ini dikarenakan cahaya senja (jam 17.59 WIB) sudah tidak mungkin menyinari Fani yang menjadi model. Tidak ada pula cahaya lampu yang membantu. Jadi mau tidak mau kita harus menciptakan sendiri cahaya-nya, dengan menggunakan flash. Teknik ini umumnya dikenal dengan teknik strobist.

Teknik memotret dengan flash dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut :

1. Gunakan mode Manual (mode Apperture priority dan mode yang lain akan melakukan kompensasi metering yang hasilnya jadi kurang ok).

Lakukan langkah-langkah seperti di Photo Gathering Reveal #1, yaitu memilih apperture, shutter speed (tidak ada EV pada mode manual) dan ISO. Kalau perlu gunakan mode apperture priority sebagai benchmark. Tidak usah pedulikan si model yang menjadi gelap dan tidak kelihatan detilnya sama sekali. Buat dulu setting dimana background langit senja kelihatan bagus dan exposure-nya tepat.

Pada pemotretan ini dipilih setting apperture f8 untuk meyakinkan bahwa ketajaman gambar mencukupi. Shutter speed 1/30 secs + ISO400 dibutuhkan agar langit senja dibelakangnya masih kelihatan cukup terang dan awannya keliatan detilnya.

2. Setelah setting untuk backgroundnya sudah kita dapatkan barulah kita setting flash sebagai fill-in light bagi model. Flash bisa menggunakan built-in flash, flash yang dipasangkan di hot-shoe, atau pada contoh ini kita menggunakan off shoe flash + trigger. Keuntungan menggunakan flash trigger adalah flash-nya bisa kita atur-atur posisi-nya, tidak harus nangkring di atas kamera.

Dalam foto ini flash berada di kiri belakang kamera (terlihat dari bayangan yang terbentuk). Sebagai dampak dari peletakan flash ini maka sinarnya bisa menyorot ke sudut tertentu saja. Hasilnya tentunya lebih eksotis dibandingkan lurus dari depan saja.

Walau ada teorinya untuk mengukur berapa kekuatan flash tapi saya lebih sering menggunakan metode TEF (trial, error dan feeling). Cara TEF-nya ya coba aja dipotret. Kalau terlalu gelap / terang tinggal diatur lagi. Untuk mengurangi exposure flash (yang bsia mengakibatkan muka model putih semua karena over exposure) bisa dilakukan dengan :

  • Mengurangi power flash, baik dari dalam DSLR untuk built in, maupun dari flash nya sendiri (baca buku panduan flash nya ya)
  • Menjauhkan flash dari model, makin jauh flash dari model maka cahaya yang sampai ke muka model makin berkurang – ingat dengan menjauhkan maka sudut sinarnya juga berubah ya

Pada kasus ini flash berada sekitar 4-5 meter dari model, dengan flash compensation -1 dan flash focal length indicator 50mm.

Pusing ya? Hehe kalau dicobain langsung gak serumit teori-nya koq. Jadi gabung saja di photo gathering motoyuk!!! berikutnya.

MOTO YUK !!!

Photo Gathering Reveal…#1

Udah liat fotonya? Sekarang gimana bikinnya 🙂

Sunset by Edo | Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 17mm | Apperture Priority | f8 | 1/3 secs | ISO400 | EV -1 | Picture Style landcape

Untuk foto ini cukup mudah caranya. Kunci terpenting bukan pada kamera atau skill, tapi timing. Foto ini diambil pada sore menjelang malam, dikenal dengan nama twilight, tepatnya jam 18.06 WIB. Waktu yang cenderung cukup malam dan banyak orang sudah pulang. Tapi justru pada saat seperti ini paduan warna langitnya paling indah. Jadi skill pertama : sabar menunggu momen.

Pada saat pemotretan saya menggunakan picture style landscape, karena sejauh ini untuk kondisi landscape & Canon 40D inilah picture style canon yang paling ok, saturasi warnanya paling nendang. Sedangkan untuk mode pemotretan saya pilih mode Apperture Priority (Av) karena saya ingin atur ruang tajam-nya. Maunya tentu saja sampai apperture f16 atau f22. Tapi mengingat ini adalah foto siluet dimana detil 3 dimensi tidak terlalu masalah maka lebih baik mengejar shutter speed. Kalau saya paksakan dengan menggunakan f16 shutter speed bisa sampai dengan 5 secs. Hal ini kurang baik karena selain bisa goyang dan kurang tajam, daun kelapa juga bisa sudah tertiup angin, jadi bisa blur juga – kurang sharp. Jadi akhirnya saya pilih f8.

Setelah apperture dipilih maka saya cek kembali (pada Exposure compensation EV 0), ternyata speed yang diperoleh masih kurang memuaskan, sekitar 3 secs. Plus saat gambar diambil saya tahu pasti akan over exposure karena kebanyakan langit + obyeknya gelap. Jadi saya setting EV menjadi -1. Ini membuat foto lebih gelap tapi justru sesuai dengan kenyataannya.

Ternyata pada ISO 200 shutter speed masih di kisaran 0,5 secs. Dengan pertimbangan bahwa Canon EOS 40D pada ISO 400 masih acceptable noise-nya maka saya setting ISO nya menjadi ISO400. Didapatkan konfigurasi f8 | EV-1 | ISO400 | 1/3 secs. Bagi lensa biasa mungkin bisa goyang, tapi karena lensa saya memiliki Image Stabilizer + focal length yang digunakan adalah 17mm maka kecepatan shutter 1/3 secs masih memadahi.

Jepret!!! Hasilnya immediate…tidak perlu pengolahan aneh-aneh.

Sulit? Tidak sesulit teorinya koq setelah dipraktekkan di lapangan. MOTO YUK !!!

Cambodia #1

Sunrise – Angkor Wat – Cambodia