Tag Archives: nikon

Mirrorless bukan Panacea

Panacea

Tergelitik dengan beberapa tulisan mengenai mirrorless dan juga pertanyaan dari MY-ers yang kontak saya langsung, saya jadi ingin menuliskan bahwa pandangan bahwa mirrorless Panacea itu keliru. So kalau MY-ers berpendapat dengan pindah ke mirrorless akan mendapatkan foto yang lebih bagus, lebih ringan, lebih enak digunakan, dst dst , ya siap siap saja kecele dan kecewa.

Mirrorless hasil fotonya lebih bagusfoto bagus apa nggak itu hanya dipengaruhi sedikit oleh alat. Lebih banyak oleh orang yang menggunakannya, bukan sampai taraf jepret saja, tapi sampai akhir (post-pro juga terlibat). Alat yang bagus akan mempermudah mencapai hasil, mempersingkat workflow, mengurangi keribetan, mempercepat reaksi, dll. Tapi tidak secara siginifikan meningkatkan hasil.

Kita sering tertipu dengan pandangan bahwa si A sejak upgrade alat fotonya menjadi makin bagus. Coba dipikir ulang, itu karena upgrade alat nya, atau karena dia makin lama pengalamannya?

Foto saya lebih baik dibandingkan saat saya pakai canon 350d bukan karena sekarang saya pakai Fuji, tapi karena saya makin tinggi jam terbang nya saja. Yak, saya sangat terbantu dengan teknologi baru di kamera baru, tapi bukan berarti saya 100% tidak akan bisa menghasilkan karya yang sama dengan menggunakan kamera lama.

Spring is Coming

Ada banyak orang yang menggunakan kamera seharga puluhan juta di mode Auto – bukan karena ingin, tapi karena gak paham gimana mengaturnya – gak paham juga soal komposisi dll. Kamera puluhan juta digunakan selayaknya kamera pocket. Mereka bangga dengan hasil yang tajam, resolusi yang detil, dll. Tapi pada akhirnya? Ya foto liputan kayak kamera handphone.

Continue reading Mirrorless bukan Panacea

Racun ?

Belakangan ini saya sedang beralih ke sistem mirrorless. Penyebabnya sebenarnya simple saja, karena buat saya DSLR terlalu berat untuk di bawa bawa. Selain itu AF yang di mirrorless selalu menjadi kendala sampai saat ini, bukanlah masalah bagi genre pemotretan saya, lanskap.

Awalnya saya menggunakan Sony NEX. Tapi nampaknya kurang cocok dengan tonal warna dan juga kualitas lensa, body dan hasilnya. Sehingga akhirnya saya coba Fuji. So far cocok, walau belum 100% yakin karena belum mencoba nya di genre utama saya yaitu lanskap.

Manyar_DSC01815-web

Banyak my-ers yang merasa saya meracuni mereka dengan Fuji. Hahahaha. Buat saya sebenarnya peralatannya mau apa saja itu terserah. Kalau di bayarin ama vendor saya disuruh pakai Canon, Nikon, Fuji, Sony, Olympus, bebas saja … lha wong dibayarin. Kalau disuruh bayar sendiri ya terserah saya dong mau pilih yang mana yang rasanya cocok buat saya. Mau dibandingkan sih kagak ada selesai nya.

Continue reading Racun ?

Makro dengan Mirrorless

Saat ingin beralih menggunakan mirrorless secara penuh, salah satu kendala yang muncul adalah fotografi makro. Maklum saya doyan juga moto makro. Kendala yang muncul adalah :

    1. Lensa auto focus yang tersedia antara terlalu pendek focal length nya (misalnya Zeiss 50mm macro) atau tidak bisa makro maksimal (rasio 1:1 – misalnya Fuji XF 60mm macro dengan rasio 1:2)
    2. Kalau saya gunakan lensa DSLR (misalnya lensa terkenal Canon 100mm f2.8 L IS) maka kendala nya adalah bilah aperture di kontrol oleh body. Sehingga saat digunakan di mirrorless dengan menggunakan adapter, maka hanya bisa bukaan paling maksimal (misalnya f2.8). Bisa memang kita akali dengan menggunakan DOF button di DSLR, tetapi akan tidak fleksibel karena tiap mau ganti aperture harus di pasangkan di DSLR.

Padahal sebenarnya moto makro di mirrorless cukup enak, karena fitur live view nya lebih baik. Belum lagi focus peaking yang juga lebih enak. Walau memang kekurangan lain selain masalah ketidakadaan lensa adalah AF yang lambat, sehingga kurang cocok untuk pemotretan makro yang butuh kecepatan tinggi.

So, mulai lah saya mencari alternatif lensa manual (tua) yang bisa digunakan nge makro 1:1. Sayangnya pilihannya ternyata tidak banyak. Kalaupun ada kebanyakan hanya 1:2 karena pada jaman itu memang makro maksimal sampai rasio 1:2.

Continue reading Makro dengan Mirrorless

Speed / Turbo Booster

Salah satu kendala yang sering dihadapi oleh pengguna sensor non full-frame adalah focal length yang ter-crop (sehingga tidak wide) dan/atau bokeh yang kurang nendang (karena area pinggir ter crop). Akibatnya orang berlomba lomba membeli DSLR / mirrorless full frame, dengan harga yang menjulang.

Metabone adalah salah satu perusahaan inovatif yang memanfaatkan kebutuhan ini. Awalnya mereka hanya memproduksi adapter sehingga lensa lensa tua / manual focus bisa digunakan di kamera moderen. Tetapi belakangan mereka mengeluarkan satu produk yang disebut dengan Speed Booster.

metabones-speedbooster-m43

Untuk memahami cara kerja speed booster ini maka kita bisa memahami nya sebagai kebalikan dari Tele Converter (TC).

Continue reading Speed / Turbo Booster

MY Weekly Editor’s Choice : Pengrajin Batok Kelapa, By : Bayoe Wanda

Suprise! Pasti.

Untuk nubie seperti saya, sebuah apresiasi sekecil apapun adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
Pun demikian dengan foto yang saya beri judul “Perajin Batok Kelapa @Cinangneng” suatu kehormatan bagi saya karena mendapatkan apresiasi Editor Choice of the Week di grup MY.

Foto ini saya ambil di desa Cinangneng, Bogor Jawa Barat, saat hunting bersama beberapa teman. Setelah berkeliling hampir separuh jalan, saya dan beberapa teman yang masih terengahengah, bertemu dengan si bapak yg menjajakan berbagai kerajinan dari batok kelapa dan bambu. Barangbarang tersebut terpajang rapih di teras rumahnya yang sekaligus berfungsi sebagai etalase. Dan ternyata bengkel kerjanya pun, tak jauh dari situ. Kemudian dengan senang hati si bapak, memperagakan cara membuat kerajianan tersebut. Klop! Saya dan beberapa teman langsung bersiap dengan kamera dan shutterpun bekerja.

My-Weekly-Bayoe-Wanda-2

Data exif foto ini : FL 24mm || Speed 1/125 || ISO 320
Diambil dalam format RAW selanjutnya saya edit dengan PS6 saya beri sentuhan HDR dan colornya DxO-FilmPack

Demikianlah sedikit cerita tentang foto ini, semoga berkenan.

Salam Jepret! – Bayoe Wanda




Seven Things Photographers Do To Ruin Their Photographs

Hahaha … artikel ini sangat lucu dan menggugah para hobby-ist seharusnya, tapi entah berapa yang beneran tergugah. What the hell saya kutip saja deh …

They worry more about low-light camera performance than they do finding a compelling subject with a nice background – or finding something to photograph that they are passionate about. To all you who are of the religion of low-light I got news for you. You’re traveling in the wrong direction. As photographers we WANT light. We look for it, chase it, pray for it, beg for it, and when necessary make it. We don’t try to shoot a black cat in a black barn at night when the moon is obscured by clouds. Worship the light. Don’t obsess over low-light camera performance. Go find a nicely-lit scene and any $500 camera will make a great image if it’s operated by someone who knows what to look for and how to execute.

Taken from : http://photofocus.com/2012/12/13/seven-things-photographers-do-to-ruin-their-photographs/

Maksud-nya : janganlah terlalu pusing, terlalu bingung, terlalu ribet dengan segala macam fitur kamera yang baru. Terutama soal ISO tinggi yang lebih baik, dynamic range yang lebih baik, bla bla bla.

Saya setuju dengan hal ini, partially – I explained later. Pada akhirnya insting – art dan kemampuan kita mengkomposisi adalah yang terutama. Fotografi itu bukan angkat kamera dan jepret. Kalau begini doang sih semua orang bisa jadi fotografer. Fotografi itu mikir … fotografi itu menuangkan apa yang ada di kepala kita, gagasan, ide, pandangan dalam bentuk foto.

Ya, betul ada batas bawahnya. Kamera super murah tentunya merepotkan kita dan akhirnya kita tidak bisa dengan leluasa menuangkan gagasan kita ke foto – karena tiap kamera ada keterbatasannya. Tapi kalau batas bawah sudah terlewati, DSLR entry level saja sudah more than enough, kita sudah bisa menuangkan gagasan kita. Ya, karena seperti saya bilang tiap kamera ada keterbatasannya, maka DSLR entry level juga memiliki keterbatasannya. Tapi kalau kita pahami dan siasati, kita bisa menghasilkan foto yang bagus kok.

Umbrella-maker_DSC00861-web

Sony NEX 5n dan lensa kit nya bukan lah kamera yang perfect. Mau dapat super DOF dan blur? Cukup sulit … tapi tidak semua foto harus super bokeh bukan? Tonal Sony yang agak “lari” juga cukup saya pahami – harus di siasati dengan menggunakan post processing. Lebih repot dibanding kan menggunakan Canon 5d saya? Ya, tapi bukan berarti tidak bisa. [ Aperture priority | 55mm @ f5.6 | 1/125secs | iso100 | Photoshop for burning & dodging | DxO FilmPack Photoshop Plugin – Fuji Sensia 100 ]

Vendor kamera, seperti Canon-Nikon-Sony, bisnis nya menjual kamera. Kalau my-ers gak upgrade ya mereka tidak dapat uang. Mereka tidak dapat uang, ya bisa bangkrut. Jadi para foto hobby-ist yang gemar upgrade setiap kali ada kamera baru dengan Max ISO lebih tinggi, MPixel lebih, dll adalah sumber dana mereka. Tapi apa iya kita mau menyumbang dana ke para vendor ini setiap 1-2 tahun sekali? Hahahaha …. coba kapan semua fitur itu dipakai sepenuhnya? Ask yourself.

Kantor saya untuk pemotretan packaging & event masih menggunakan Canon 5d Mark 1 yang dibeli sekitar 8 tahun lalu … masih berfungsi dengan baik, masih menghasilkan karya yang luar biasa. Saya menggunakan Canon 5d Mark II dan tidak ada niat untuk upgrade juga ke Mark III …. lha wong gak ada kebutuhan (red : kamera rusak) … buat apa menyumbang ke vendor yang sudah kaya? Lebih baik uang nya dipakai untuk mencari lokasi dengan cahaya yang “magical” seperti disebut di atas.

Travel More, Experiment More, Take a Picture More …… and NOT Buy More.

 

PS:

  • Ya, ISO tinggi memang berguna di beberapa kondisi pemotretan. Misalnya para fotografer candid / street life (night scene) / concert, dll. Tapi bukan buat semua fotografer
  • Sisa tips bisa dibaca di artikel yang ada link nya diatas
  • Saya bukan menyarankan untuk semua tidak upgrade ya … nanti canon / nikon bangkrut kan repot juga saya wkwkwkwkwk, yang kelebihan duit ya silahkan saja lho

 

Sony “Killer” Pocket

Kemunculan Sony RX100 dan dilanjutkan dengan RX1 ibaratnya ajang “Show-off” dari Sony. Dan berhasil. Bagaimana tidak … kamera pocket (ya pocket, bukan mirrorless apalagi DSLR), lensa fix focal length (untuk RX1 – hanya 35mm saja), tetapi dengan kualitas hasil yang dahsyat, sensor full frame (RX1) dan harga yang skyrocketing.

Buat yang tertarik baca review detilnya silahkan baca di : Dpreview RX100 atau Dpreview RX1

Apakah worthed untuk dibeli?

Yang saya sudah pernah “pegang” hanyalah RX100 … secara ergonomis kamera ini mungil, cantik & indah, dan hasilnya (terutama BW nya) mantap sekali. Memegang dan menggunakannya terasa nyaman dan berkelas. Harganya memang cukup tinggi dibandingkan compact biasa. Akan tetapi menurut saya memang kamera ini tidak bisa dibandingkan dengan kamera compact biasa. Penggunaan lensa carl zeiss vario sonnar jelas memberi dampak.

Worthed dibeli buat yang mempertimbangkan pembelian kamera mungil dengan skala harga di kisaran 5jt ++. Buat mereka yang masih “acceptable” membawa kamera seukuran NEX, saya sarankan untuk membeli sony NEX alih alih membeli sony RX100 ini.

Sedangkan RX1 harganya luar biasa (USD 2.800) sehingga walaupun hasilnya luar biasa, dan lensanya juga mantap (CZ Sonnar 35mm f2 T*) – tetapi buat saya lebih cocok hanya buat mereka yang sangat membutuhkan portabilitas & kepraktisan. Misalnya para reporter / jurnalis spot news ? Dimana nilai foto yang mereka mampu hasilkan dengan menggunakan kamera semungil ini sebanding dengan harganya. Buat photo-hobbyist, menurut saya way too over-priced.

RX1 menurut saya lebih sebagai “flagship” dari sony … menyatakan bahwa “kami mampu membuat compact camera dengan sensor full frame”. Saya menunggu sensor yang juga digunakan di Nikon D600 ini di “cangkok” kan ke NEX mirrorless …


Lensa non full frame di kamera full frame

Beberapa waktu lalu ada teman yang karena fanatik ama merk lensa tertentu ingin menggunakan lensa non full frame ke kamera full frame nya. Apakah ini satu langkah yang bijaksana? Coba dipikir hayo hehehe ….

Lensa non full frame di desain memang untuk body non full frame (ada crop factor). Karena sensor dengan crop factor lebih kecil ukurannya maka “pantat” lensa non full frame bisa menjorok lebih dalam, lebih dekat ke si sensor. Lihat pada foto di bawah ini lensa non full frame (type EF-S kalau di canon – sebelah kiri) memiliki ujung yang lebih menonjol dibandingkan lensa full frame (EF kalau canon – sebelah kanan).

Hal ini membuat lingkaran gambar yang dihasilkan lensa juga lebih kecil dibandingkan lensa full frame. Lihat ilustrasi di bawah ini – pada ilustrasi ini terlihat mengapa lensa EF-S tidak bisa digunakan di kamera full frame. Simply karena image circle EF-S lebih kecil dibandingkan sensor full frame. Akibatnya adalah munculnya vignette (lebih tepat disebut blockage karena hitam total) pada foto yang dihasilkan.

Continue reading Lensa non full frame di kamera full frame

Cheap Body + Expensive Lens …or… Expensive Body + Cheap Lens ???

Lihat video “amatir”  mengenai perbandingannya dibawah ini (saya bilang “amatir” karena perbandingan dibuat dalam kondisi yang tidak terkontrol, cahaya mungkin saja berubah, tangan bisa saja shake dll).

Kesimpulan memang investasi ada pada lensa, bukan pada body. Sharpness dan warna lebih dipengaruhi oleh pilihan lensa (dan optik penyusunnya). Sedangkan body Pro memberikan free noise yang lebih baik + durability. Tapi selalu menarik untuk melihat seberapa efek sih sebenarnya kedua pilihan ini :

 

 

MOTO YUK!!!

Kelangkaan DSLR & Lensa

Beberapa minggu terakhir ini dampak dari gempa Jepang mulai dirasakan oleh penggemar fotografi, kelangkaan produk. Coba cek ke banyak toko, kebanyakan dari mereka tidak memiliki stok lagi. Dari datascrip & Alta sendiri juga belum ada kejelasan mengenai kapan kelangkaan barang ini akan berakhir.

Saat yang tepat untuk menjual lensa-lensa & body yang tidak lagi dibutuhkan (harga sedang naik) dan menahan pembelian sesabar-sabarnya. Berikut kutipan dari blog sebelah :

————-

Continue reading Kelangkaan DSLR & Lensa