Tag Archives: nex 5n

Going Low Angle … Part 2

Nature_DSC01702-web Banyak yang tanya apakah foto di post sebelumnya menggunakan flash? Menurut my-ers bagaimana?

Hehe … foto ini tidak menggunakan flash / strobist. Melainkan dia memanfaatkan beberapa komponen :

Cahaya matahari : cahaya matahari terakhir kebetulan sudutnya masih memungkinkan untuk menyinari rumput yang ada – tidak sekedar menyinari melainkan menyinari dari belakang (backlight). Kondisi rumput yang tembus pandang membuat sinar matahari tersebut memendarkan daun daunnya.

Apabila cahaya nya dari depan (matahari di belakang saya) maka karakter warnanya akan berbeda, yaitu cahaya nya memantul. Demikian pula kalau kita menggunakan flash dari depan. Kalaupun kita ingin mengulang scene ini menggunakan flash maka sebaiknya peletakan flash juga dalam kondisi backlight. Sehingga tidak memunculkan pantulan pada permukaan rumput.

GND Reverse : tanpa GND tentunya kita tidak bisa memunculkan dynamic range seperti dalam foto ini. Antara harus memilih rumputnya seperti ini tetapi langit putih semua (over exposed), atau kebalikannya langitnya seperti pada foto di samping, tetapi rumputnya hitam semua. Peran GND sangat besar.

Jenis GND yang digunakan juga Reverse, bukan Soft Edge atau Hard Edge. Keduanya dalam kasus ini tidak akan kuat mengangkat detil pada rumput, karena matahari di tengah horizon sangat kuat cahaya nya. Kita masih mungkin mendapatkan hasil yang mirip dengan menggunakan type Hard Edge, tetapi dengan post processing (dodging) lebih banyak. Tetapi soft edge tidak akan mampu membantu mengangkat detilnya, karena di area tengah area hitamnya terlalu lemah.

Post processing : Foto ini jelas bukan hanya kerjaan kamera dan GND dan lain lain. Dynamic range setinggi ini sulit sekali diperoleh langsung dari kamera. Jadi proses dodging (memperterang) area rumput dan burning (menggelapkan) area langit adalah hal yang perlu dilakukan. Tanpanya maka foto akan jauh lebih flat / kurang dinamis. Sebagai fotografer digital paling tidak proses burning dan dodging wajib bisa dilakukan.

Semoga membantu menerangkan ….

motoyuk signature white

Going Low Angle – With SEL 10-18 f4 OSS for NEX

Salah satu trik komposisi dalam lanskap adalah menggunakan low angle. Tapi apakah benar low angle ini bisa bermanfaat? Lalu seberapa low yang kita butuhkan? Kita coba lihat perbandingannya, sebelum akhirnya saya ambil super low angle untuk foto ini :

Nature_DSC01702-web

PS : Semua foto di jepret menggunakan Sony NEX 5n + SEL 10-18mm f4 OSS pada 12mm. Saya gunakan 12mm karena saya menggunakan UV filter + GND Holder, apabila dipaksakan pada 10mm maka akan muncul vignette sangat kentara di sudut sudut foto. GND filter yang saya gunakan adalah jenis GND Reverse 0.9x

Semua foto juga sudah di post processing menggunakan Adobe Photoshop untuk meningkatkan dynamic range dari foto. Yaitu dengan melakukan dodging pada area foreground, dan burning pada area langit – terutama di area matahari terbenam. Untuk foto final saya juga tambahkan saturasi dan vibrance tools selain sedikit burning di beberapa area.

Continue reading Going Low Angle – With SEL 10-18 f4 OSS for NEX

Gadget Update : Fuji X-E1 dan Sony NEX 5R

Minggu yang penuh dengan kejutan, ada banyak gadget baru diluncurkan dalam beberapa minggu akhir ini. Dan semuanya “mind-blowing” hahaha … so buat yang masih memikirkan mau beli mirrorless apa, dua kamera ini bisa jadi salah satu bahan pertimbangan.

Fuji X-E1 (leaked)

Beritanya masih belum sepenuhnya confirm. Tapi apabila benar, maka ini bisa jadi salah satu pilihan yang menarik. Dengan spesifikasi yang sangat mirip dengan kakaknya (Infamous : Fuji X Pro1), minus hybrid viewfinder (yang beberapa orang juga tidak sepenuhnya paham – kecuali yang pernah pakai rangefinder seperti Leica M), tapi dengan harga yang jauh lebih atraktif. Oh, ya dia juga memiliki built in flash (penting ga sih?)

Fuji seri X ini memang menarik karena sensornya superior (tanpa anti-alias), lensanya juga sangat baik (walau masih sedikit) dan tentunya : bodynya sangat seksi menggoda buat para fotografer. Klasik.

Beritanya bisa dibaca disini.

Hemmmmm … thinking to have one.

 

Sony NEX 5R

Yang satu ini juga sama menggodanya, terutama buat yang sedang mikir beli sony nex 5n. Akan diluncurkan di Oktober tahun ini dengan harga sekitar USD 750 (with kit lens).

Spesifikasi dan bentuknya mirip dengan sony nex 5n, tapi dengan tambahan AF system yang lebih cepat (hybrid antara phase detection dan contrast) dan beberapa pengaturan tombol baru (termasuk satu buah functional dial di bagian atas – di nex 7 ada 2 buah).

Selain itu sony juga membenamkan sistem transfer WiFi antara kamera ini dengan smartphone android dan apple iOS. Dengan menggunakan aplikasi yang bisa di download di market kita bisa memindahkan foto (saya rasa JPEG ya) ke smartphone kita. Akibatnya? Bisa langsung di post pro dan di unggah ke berbagai social media & instagram. Kerennnnn !!!!

Selain itu sekarang touch screen nya sudah bisa digunakan untuk shutter juga (sudah makin mirip smartphone ya?) – ini akan mempermudah pengoperasian, terutama buat lensa manual yang butuh peeking ke area tertentu, lalu jepret segera.

Walau sony masih punya PR dengan jajaran lensanya, tapi kembali lagi sony meluncurkan body kamera mirrorless yang keren. PS : Sony, tolonglah, segera berikan kami lensa lensa yang lebih baik dan canggih – kami jamin penjualanmu akan meningkat drastis.

Buat mereka yang sudah memiliki sony nex 5n, mungkin ini bukan upgrade yang cukup “value” – tapi buat yang mau beli sony mirrorless, better nunggu yang ini keluar kayaknya.





Sony NEX 5n – The Review (Part 1)

Terdorong dari masih terasa beratnya Canon 5d Mark II + lensa-lensa travel yang harus dibawa saya mulai melirik kamera jenis mirrorless. Kamera ini sudah pasti lebih ringan dibandingkan DSLR paling ringan sekalipun. Hal ini karena memang desainnya memungkinkan ukuran yang lebih kecil dan posisi pantat lensa yang lebih dekat dengan sensor membuat lensa-lensa mirrorless lebih mungil (dan ringan) dibandingkan DSLR.

Review ini bukan review yang teknis dengan membandingkan foto di berbagai ISO atau dengan menggunakan berbagai lensa dengan pixel peeping sampai dengan level 100% di semua foto. Review ini adalah bagaimana saya sebagai pengguna merasakan menggunakan kamera ini selama 2 minggu lebih perjalanan saya ke Derawan, Kalimantan & Chiangmai, Thailand. Mungkin di beberapa area saya akan membandingkan atau menunjukkan 100% zoom. Saya juga tidak menunjukkan sample foto yang belum di sharpening / post processing – karena tidak demikian pula cara kerja saya akhirnya. Tapi sharpening & post-processing yang saya gunakan adalah sejauh yang masih wajar.

Apa itu Mirrorless ?

Sesuai dengan namanya maka kamera ini adalah kamera tanpa mirror / cermin. Akibatnya kalau kita buka lensa-nya akan langsung terlihat sensor kamera. Tidak seperti DSLR yang pada saat kita buka lensa nya yang terlihat adalah cermin yang memantulkan gambar ke pentaprism dan viewfinder.

Wajar hal ini mengakibatkan mirrorless tidak memiliki optical viewfinder, selain itu juga ukurannya bisa lebih kecil – walau dengan ukuran sensor yang sama dengan DSLR (saat ini belum ada mirrorless full frame – tetapi sudah ada dengan crop factor 2x dan 1.5x – setara dengan Nikon DSLR).

Tapi keuntungan utama dari mirrorless terletak bukan hanya dari body kamera yang kecil. Tetapi karena posisi lensa yang lebih menjorok masuk ke dalam body kamera dan mendekati sensor (ingat : tidak ada mirror yang menjadi penghalang) maka lensa tidak membutuhkan optik dengan ukuran besar. Itu sebabnya lensa mirrorless bisa cuma berdiameter filter 49mm misalnya, dengan panjang lensa yang jauh lebih pendek pula dibandingkan lensa DSLR. Sudah body kamera nya kecil, lensa lebih kecil, jadi total berat kamera ini juga sangat bersahabat buat traveler. Sony NEX 5n dengan lensa kit (18-55) memiliki total berat 463 gram, bandingkan dengan 695 gram pada Canon 1100d dengan lensa kit (18-55).

Kelebihan lain dari mirrorless adalah dia memungkinkan menggunakan hampir semua jenis lensa merek / jenis lain dengan menggunakan adapter. Yup, lensa tersebut akan jadi lensa manual focus, tapi dengan mirrorless kita bisa menggunakan lensa segala usia dari : Canon, Nikon, Pentax, Carl Zeiss, Leica, Hasselblad, Voigtlander, dll. Pilih saja dan beli adapternya … done. Tidak perlu oprek dll.

Market leader untuk kamera mirrorless saat ini dipimpin oleh Olympus dengan produknya Olympus Pen (E-P3 adalah versi yang paling baru). Olympus memiliki model yang retro dan cantik, dilengkapi dengan built-in filter (misalnya BW, toycamera, HDR, dll) dan juga pilihan lensa yang sangat beragam.

Mirrorless menurut saya adalah kamera yang “more than capable” menghasilkan foto-foto yang bagus, super ringan buat dibawa travelling dan tentunya dengan bentuk seperti pocket menjadi lebih tidak bermasalah (tidak di cegat satpam, tidak diusir, tidak di pelototin orang yang difoto, dll).

Tentunya mirrorless memiliki keterbatasannya sendiri (itu sebabnya saya masih mempertahankan Canon 5d Mark II saya untuk pemotretan landscape dll yang serius). Tapi overall kamera ini adalah “The One” untuk mereka yang suka foto travel atau butuh kamera untuk travelling dengan ukuran dan berat yang sangat masuk akal.

 

Kenapa Sony NEX 5n ?

Diantara banyak pilihan seperti :

  • Olympus E-P3
  • Olympus E-PL3
  • Olympus E-PM1
  • Olympus OM-D (coming soon)
  • Sony NEX C3
  • Sony NEX 5
  • Sony NEX 5n
  • Sony NEX 7
  • Panasonic GF3
  • Fuji X1 Pro (coming soon)

tentunya ada alasan kenapa akhirnya saya secara spesifik memilih Sony NEX 5n … bahkan jauh-jauh membelinya di Bangkok (karena di Indonesia sedang tidak ada barang tersebut dalam waktu cukup lama).

Continue reading Sony NEX 5n – The Review (Part 1)