Tag Archives: motret

Memaksimalkan angle pemotretan lanskap

Salah satu teman saya pernah tanya, kalau motret lanskap di satu tempat cari angle nya gimana? Haruskah begitu ketemu angle yang “pas” nongkrong aja di situ menunggu sunrise/sunset nya? Hemmmm … kalau iya begitu sih di satu lokasi hasilnya cuma 1 foto, dengan background yang berbeda sedikit saja.

Salah satu “kesalahan” landscaper pemula adalah : tidak bergerak dari satu lokasi.

Tamarama 02

Penyebabnya bisa banyak hal sih. Di antaranya :

  1. Teknis belum paham – jadi di satu lokasi ubah setting bolak balik, gak jadi jadi juga. Ubah aperture, ubah iso, ganti filter, mbulet aja terus. Obat untuk penyebab yang ini ya cuma satu : pahami betul basic fotografi & pengoperasian kamera/aksesoris mu. Jadi mau nya apa bisa cepat setting nya.
  2. Kehabisan ide buat angle pemotretan – nah ini gawat, karena susah obat nya. Coba beberapa tips berikut : contek karya orang lain dulu dalam hal angle pemotretan, lakukan survey lokasi pada saat terang / gunakan senter, pikirkan mengenai dasar komposisi (misalnya pattern, garis, point of interest, dll)
  3. Malas – Nah ini ada aja, sudah “PW” – posisi wuenakkk … jadi pasang tripod dan kamera dan udah nongkrong di situ selama 15-45 menit. Obatnya : moto yang lain aja, jangan landscape hahaha
  4. Gak bisa bergerak lincah di kegelapan / outdoor – memang moto lanskap itu butuh kelincahan karena sering moto nya di alam, misalnya di pantai berkarang yang mungkin licin dll. Obatnya : olahraga ya … haha, biar lincah. Pakai senter yang terpasang di kepala biar mudah bergerak juga.
Tamarama 05

Continue reading Memaksimalkan angle pemotretan lanskap

MY Crash Course – 26 Jan 2013 (FULL SEAT)

Banyak dari my-ers yang sudah “meraba-raba” belajar dari artikel di motoyuk & komunitas MY. Tapi kadang belum puas dan masih banyak yang ingin ditanyakan. Umumnya hal ini bisa dilakukan pada saat ketemuan / sesi offline motoyuk, tapi berhubung masing-masing my-ers juga sibuk moto, jadinya kadang kurang puas juga. So, kali ini akan dibuat crash course, sesi cepat buat tanya jawab dan juga belajar fotografi. D Dalam crash course hanya akan ada 1 pertemuan, selama kurang lebih 5 jam totalnya.

Tentunya sebelumnya akan ada materi yang harus dibaca terlebih dahulu oleh peserta. Ini yang membedakan dengan course biasanya, lebih cepat karena sudah harus baca materi terlebih dahulu. Praktek juga akan dibatasi, cuma sebentar saja sekedar testing ilmu yang baru diperoleh.

Apakah akan bermanfaat? Tentunya … karena handbook yang diberikan sudah sangat lengkap, sehingga dengan membaca sendiri sudah bisa menangkap cukup banyak. Ditambah dengan sedikit penjelasan + sesi tanya jawab saat crash course, 5 jam akan sangat penuh dan berarti. Dan tentunya karena waktu yang lebih pendek dan padat, maka biaya bisa jauh lebih terjangkau.

Dalam 5 jam itu akan dibahas hal – hal paling penting saja mengenai :

  • How to choose the right gadgets – camera, lens, filter, tripod, etc
  • Understanding Exposure : Apperture, Shutter Speed, ISO + Exposure Value & White Balance
  • On shoe flash photography – using your built-in / external flash on-shoe
  • Understanding Composition – how to make a better picture
  • Basic post-processing process using Raw convertion software & Adobe Photoshop

Mengapa belajar fotografi di motoyuk!!! ?

  • Trainer yang berpengalaman & passionate dengan fotografi + teaching – tidak sekedar bisa memotret, tapi lebih penting bisa menyampaikan materi nya dengan baik
  • Modul pelatihan yang lengkap & full color, sudah diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, bukan sekedar copy slide presentasi.
  • Bahan yang tidak hanya mencakup dasar, tapi sudah cukup advance
  • Biaya yang terjangkau karena dilakukan di cafe + bukan uang prioritas utama dari motoyuk!!!

Silahkan isi Form Registrasi (KLIK DISINI), dan setelahnya hubungi : register@motoyuk.com / 0812 9393 779

  • Schedule :
    • 26 Januari 2013 – 13.00 – 18.00 WIB (Kelapa Gading)
  • Lokasi : Kelapa Gading
  • Biaya : Rp 325.000 / peserta – diskon Rp 40.000 buat mereka yang telah membeli bukunya sendiri (transfer ke no rekening tertera di side bar – setelah transfer silahkan konfirmasi via email / sms)
  • Jumlah peserta per kelas : 5-8 orang
  • Mentor : Edo Kurniawan
Calon Peserta (First Payment First Served) :
  1. Tony (PAID)
  2. Rudy (PAID)
  3. Adang Iskandar (PAID)
  4. Khairil (PAID)
  5. Alex R Jacob (PAID)
  6. Dwi Wahyudi (PAID)
  7. Sandy (PAID)
  8. G Petrus Wenno (PAID)
Detil & other in-coming course? Visit here.

Continue reading MY Crash Course – 26 Jan 2013 (FULL SEAT)




Teknik memotret bunga

[REPOST] – Ini sharing ilmu yang diperoleh dari Om Jeffry Surianto, maestro Macro dan Bunga. Kebetulan aku mendapat kesempatan emas belajar dari beliau.

Persiapan

Sebagai materi tentunya kita perlu membeli bunga segar. Bunga segar disimpan sesuai dengan aturan penyimpanannya, misalnya Tulip harus disimpan di ruangan ber-AC sebelum dikeluarkan untuk difoto. Jenis bunga yang akan di foto bisa beragam sesuai dengan keinginan.

Sebagai background bisa digunakan papan yang dilapisi kain beludru (misalnya hitam). Kenapa beludru? Karena kain ini serapan cahayanya paling baik, jadi tidak memantul.

Teknik

Aku tidak akan membahas mengenai teknik dasar seperti angle pemotretan, apperture yang digunakan agar DOF-nya dapat, ISO yang digunakan agar tidak noise tapi masih dapat speed-nya, dll. Pembahasan ini khusus ilmu yang “berbeda” dibandingkan pemotretan biasa.

Pencahayaan pada pemotretan bunga diusahakan adalah dari cahaya alami / window lighting. Hal ini dikarenakan menggunakan flash akan membutuhkan kontrol yang lebih sulit untuk mengeluarkan warna pada bunga, kebanyakan akan pucat. Selain itu gunakan white balance “daylight” dan bukan auto-white balance agar warnanya tidak salah.

Teknik yang diajarkan Om Jeffry adalah dengan melakukan pemotretan under-exposure terlebih dahulu. Untuk melakukan ini umumnya dibutuhkan Mode Manual pada kamera. Lakukan beberapa kali percobaan sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan, yaitu keseluruhan foto agak gelap dan tidak ada area over-exposure sama sekali.

Continue reading Teknik memotret bunga

MY FFLC 2

MY FFLC (Fixed Focal Length Challenge) 2 diadakan di Monas, Jakarta – Minggu 22 Oktober 2011. Sama halnya dengan FFLC yang pertama maka event ini juga merupakan street photography. Teknik yang digunakan juga sama seperti yang digunakan pada FFLC pertama. Dimana focal length di setting dari awal, aperture di set di bukaan tertentu, dan hampir semua parameter lain di set otomatis.

Tim MotoYuk Jakarta yang ikutan FFLC2 ber-foto bersama

Sama halnya dengan event FFLC sebelumnya pula, esensi dari event ini bukan hanya street photography. Well, saya adalah landscaper dan bukan penggemar street photo. Tapi FFLC sangat efektif untuk melatih keberanian, komposisi, lighting dan pemahaman lensa (seperti telah dijelaskan di artikel sebelumnya).

Kali ini saya juga belajar bahwa auto ISO kadang bukanlah pilihan yang terbaik. Maklum Auto ISO mendasarkan pada kecepatan 1 / focal length. Karena saya menggunakan lensa 100mm maka kecepatannya paling cepat 1/100 secs. Nah, kadangkala buat obyek orang bergerak speed ini kurang. Oleh sebab itu saya ubah strategi saya di FFLC 2 ini dengan menggunakan ISO 400 yang menghasilkan speed yang lebih cepat pada kondisi pencahayaan kemarin.

Selain itu saya juga belajar bahwa 100mm di full frame sebenarnya bukan focal length ideal saya. Seringkali kaki obyek yang saya foto terpotong di frame. Saya rasa idealnya saya menggunakan lensa 85mm – sama seperti yang di sarankan Thomas Leuthard sebenarnya. Mungkin lain kali saya akan gunakan lensa dengan focal length itu saja. Berikut adalah hasil pemotretan yang diperoleh selama di Monas. Enjoy …

 

Continue reading MY FFLC 2

Weekend Photography

Coba lihat kamera yang ada di kamar, yang ada di dalam dry box, sudah berapa lama nganggur? Berapa lama gak ditekan shutter nya? 🙂 Ayo coba motret lagi. Walau tidak jauh dari rumah ada banyak obyek yang bisa ditemui. Buat yang suka makro tentunya bisa mencari obyek makro di sesemakan. Siapa tahu dapat obyek yang menarik.

Tapi bukan hanya makro-ish yang bisa memotret di sekitar rumah. Kebetulan belakangan ini langit pancaroba sedang memberikan sunset yang menarik. Hal ini ditandai umumnya dengan kondisi siang hari yang sangat panas & kering, sementara langit di hiasi dengan awan cumulonimbus yang bulat-bulat. Kalau beruntung maka sore hari motoyuk-ers bisa ke daerah terbuka dan memotret sunset yang indah.

Foto diatas diambil di lapangan rumput dekat dengan perumahan kota wisata cibubur, rumah saya. Tidak jauh dari rumah, hanya 3 menit palingan. Tapi kebetulan memang sunsetnya sangat indah, jadi tanpa filter macem-macem hanya berbekal kamera & tripod foto diatas diambil. Berikut adalah foto yang diambil pada sudut yang lain.

Kunci foto diatas hanyalah : timing yang tepat, tripod dan white balance yang tepat. Saya selalu menggunakan white balance “Daylight” pada saat pemotretan twilight moment seperti ini. Hal ini karena apabila menggunakan white balance yang Auto maka biru langit tidak bisa keluar sepenuhnya.

Continue reading Weekend Photography




Backlight photography

Seringkali kita menghadapi kondisi dimana kita harus memotret dengan cahaya matahari / lampu di belakang obyek. Kondisi ini biasanya dikenal dengan nama “Backlight”. Oleh karena cahaya masuk semua ke kamera kita secara langsung (bukan dari hasil pantulan) maka biasanya hasilnya tidaklah seindah fotografi dengan side-light (matahari/cahaya datang dari samping obyek) atau front-light (cahaya datang dari belakang kita, atau dari arah depan si obyek).

Hasil yang sering terjadi adalah siluet, alias si obyek menjadi bayang-bayang hitam saja. Sulit dipisahkan antara mata, hidung dan pipi nya. Hal ini karena cahaya di belakang si obyek begitu kuatnya dan mengakibatkan sistem metering dari kamera kita ‘salah’ mengukur shutter speed / apperture yang dibutuhkan. Akan tetapi dengan cara pemotretan yang benar maka hasilnya justru bisa luar biasa. Hal ini karena backlight bisa berfungsi sebagai hair light, sehingga rambut terlihat bersinar indah.

Contoh pemotretan backlight dimana sinar membuat rambut bersinar – courtesy of : http://photo.tutsplus.com/

Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk mengatasi kondisi backlight ini. Dari yang paling sederhana sampai yang rumit :

  • Memindahkan obyek. Ini cara paling sederhana yang sering dilupakan para fotografer. Kita bisa menghindari terjadinya backlight dan siluet dengan cara memindahkan obyek (misalnya teman yang kita akan potret) sehingga cahaya menjadi side-light atau front-light. Seringkali kita terlalu heboh untuk memotret sehingga lupa mengatur posisi obyek kita sendiri.
  • Kita juga bisa membuat cahaya backlight hanya keluar sedikit, misalnya dengan memposisikannya agar terhalang sebagian. Seperti contoh di bawah ini matahari yang menjadi sumber cahaya backlight dikurangi dampaknya dengan meletakkannya di sela tangan model. Tentunya ini masih membutuhkan teknik misalnya exposure compensation / penggunaan flash. Tapi ini mengurangi dampaknya.
Courtesy of : http://photo.tutsplus.com/

Photo Gathering…Reveal #2

Bagaimana dengan foto ini :

Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 20mm | Manual Mode | f8 | 1/30 secs | ISO400 | Flash with tronic trigger (sepertinya 50mm power -1)

Ada yang terbayang cara memotretnya? Menggunakan flash, sudah pasti 🙂 Hal ini dikarenakan cahaya senja (jam 17.59 WIB) sudah tidak mungkin menyinari Fani yang menjadi model. Tidak ada pula cahaya lampu yang membantu. Jadi mau tidak mau kita harus menciptakan sendiri cahaya-nya, dengan menggunakan flash. Teknik ini umumnya dikenal dengan teknik strobist.

Teknik memotret dengan flash dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut :

1. Gunakan mode Manual (mode Apperture priority dan mode yang lain akan melakukan kompensasi metering yang hasilnya jadi kurang ok).

Lakukan langkah-langkah seperti di Photo Gathering Reveal #1, yaitu memilih apperture, shutter speed (tidak ada EV pada mode manual) dan ISO. Kalau perlu gunakan mode apperture priority sebagai benchmark. Tidak usah pedulikan si model yang menjadi gelap dan tidak kelihatan detilnya sama sekali. Buat dulu setting dimana background langit senja kelihatan bagus dan exposure-nya tepat.

Pada pemotretan ini dipilih setting apperture f8 untuk meyakinkan bahwa ketajaman gambar mencukupi. Shutter speed 1/30 secs + ISO400 dibutuhkan agar langit senja dibelakangnya masih kelihatan cukup terang dan awannya keliatan detilnya.

2. Setelah setting untuk backgroundnya sudah kita dapatkan barulah kita setting flash sebagai fill-in light bagi model. Flash bisa menggunakan built-in flash, flash yang dipasangkan di hot-shoe, atau pada contoh ini kita menggunakan off shoe flash + trigger. Keuntungan menggunakan flash trigger adalah flash-nya bisa kita atur-atur posisi-nya, tidak harus nangkring di atas kamera.

Dalam foto ini flash berada di kiri belakang kamera (terlihat dari bayangan yang terbentuk). Sebagai dampak dari peletakan flash ini maka sinarnya bisa menyorot ke sudut tertentu saja. Hasilnya tentunya lebih eksotis dibandingkan lurus dari depan saja.

Walau ada teorinya untuk mengukur berapa kekuatan flash tapi saya lebih sering menggunakan metode TEF (trial, error dan feeling). Cara TEF-nya ya coba aja dipotret. Kalau terlalu gelap / terang tinggal diatur lagi. Untuk mengurangi exposure flash (yang bsia mengakibatkan muka model putih semua karena over exposure) bisa dilakukan dengan :

  • Mengurangi power flash, baik dari dalam DSLR untuk built in, maupun dari flash nya sendiri (baca buku panduan flash nya ya)
  • Menjauhkan flash dari model, makin jauh flash dari model maka cahaya yang sampai ke muka model makin berkurang – ingat dengan menjauhkan maka sudut sinarnya juga berubah ya

Pada kasus ini flash berada sekitar 4-5 meter dari model, dengan flash compensation -1 dan flash focal length indicator 50mm.

Pusing ya? Hehe kalau dicobain langsung gak serumit teori-nya koq. Jadi gabung saja di photo gathering motoyuk!!! berikutnya.

MOTO YUK !!!

Photo Gathering Reveal…#1

Udah liat fotonya? Sekarang gimana bikinnya 🙂

Sunset by Edo | Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 17mm | Apperture Priority | f8 | 1/3 secs | ISO400 | EV -1 | Picture Style landcape

Untuk foto ini cukup mudah caranya. Kunci terpenting bukan pada kamera atau skill, tapi timing. Foto ini diambil pada sore menjelang malam, dikenal dengan nama twilight, tepatnya jam 18.06 WIB. Waktu yang cenderung cukup malam dan banyak orang sudah pulang. Tapi justru pada saat seperti ini paduan warna langitnya paling indah. Jadi skill pertama : sabar menunggu momen.

Pada saat pemotretan saya menggunakan picture style landscape, karena sejauh ini untuk kondisi landscape & Canon 40D inilah picture style canon yang paling ok, saturasi warnanya paling nendang. Sedangkan untuk mode pemotretan saya pilih mode Apperture Priority (Av) karena saya ingin atur ruang tajam-nya. Maunya tentu saja sampai apperture f16 atau f22. Tapi mengingat ini adalah foto siluet dimana detil 3 dimensi tidak terlalu masalah maka lebih baik mengejar shutter speed. Kalau saya paksakan dengan menggunakan f16 shutter speed bisa sampai dengan 5 secs. Hal ini kurang baik karena selain bisa goyang dan kurang tajam, daun kelapa juga bisa sudah tertiup angin, jadi bisa blur juga – kurang sharp. Jadi akhirnya saya pilih f8.

Setelah apperture dipilih maka saya cek kembali (pada Exposure compensation EV 0), ternyata speed yang diperoleh masih kurang memuaskan, sekitar 3 secs. Plus saat gambar diambil saya tahu pasti akan over exposure karena kebanyakan langit + obyeknya gelap. Jadi saya setting EV menjadi -1. Ini membuat foto lebih gelap tapi justru sesuai dengan kenyataannya.

Ternyata pada ISO 200 shutter speed masih di kisaran 0,5 secs. Dengan pertimbangan bahwa Canon EOS 40D pada ISO 400 masih acceptable noise-nya maka saya setting ISO nya menjadi ISO400. Didapatkan konfigurasi f8 | EV-1 | ISO400 | 1/3 secs. Bagi lensa biasa mungkin bisa goyang, tapi karena lensa saya memiliki Image Stabilizer + focal length yang digunakan adalah 17mm maka kecepatan shutter 1/3 secs masih memadahi.

Jepret!!! Hasilnya immediate…tidak perlu pengolahan aneh-aneh.

Sulit? Tidak sesulit teorinya koq setelah dipraktekkan di lapangan. MOTO YUK !!!




Cambodia #1

Sunrise – Angkor Wat – Cambodia

My Last Day in Cambodia

Well sebenarnya besok hari terakhirnya, tapi karna ga bisa berbuat banyak juga besok mengingat pesawat jam 08.30 so di consider ini hari terakhir. Hari ini perjalanannya jauh, baik ke utara maupun selatan. Tapi semuanya worthed, walau selama perjalanan debu kayak “disiram” ke muka dan panas ga ketulungan.

Sunrise @ Angkor Wat

Memulai hari jam 05.30 (lagi) akhirnya aku putuskan untuk berhenti di Angkor Wat demi sunrise nya yang terkenal. Memang terbukti terkenal karena jam 6 pagi saja udah ada mungkin ratusan orang berkeliaran. Memiliki lensa super wide akan sangat membantu karena dengan demikian kita bisa mendekat ke Angkor Wat (lensa biasa butuh jarak cukup jauh untuk bisa cover semua sisi) dan kita bisa mendekati kolam yang terkenal dengan refleksi nya.

Sunrise – Angkor Wat – Cambodia

Tripod dan GND + CPL tentunya adalah “kewajiban” mengingat situasi nya dimana langit dan bumi beda exposure cukup jauh. Satu hal lagi adalah karena kita menghadap sunrise maka foto-foto cenderung akan cukup gelap (jadi siluet) kalau tidak diatur penggunaan GND nya dengan baik. Sunrise berlangsung cukup cepat di sini, jadi jam 7 pagi sudah bisa pack and go.

Banteay Srei

Lokasi Banteay Srei cukup jauh, sekitar 1 jam perjalanan dari Angkor Wat, atau 1,5 jam dari Siem Reap. Sepanjang perjalanan tentunya debu akan “menebal” di muka kita. Jadi berangkat jam 7 pagi adalah pilihan yang sangat baik, karena cuaca masih relatif sejuk.

Banteay Srei adalah candi kecil, tapi ukirannya luar biasa detil dan menggunakan batu candi & sandstone yang unik (warna merah bata dan merah muda). Detil ukirannya benar-benar luar biasa, tiap gerbang bahkan memiliki ukiran yang berbeda. Sebenarnya pilihan terbaik begitu sampai sana adalah mampir ke exhibition center dimana kita bisa membaca mengenai sejarah dan detil Banteay Srei sebelum masuk dan melihat sendiri. Tapi karena sampai sana sudah jam 8 (dan karena tidak tahu juga) maka begitu datang langsung motret.

Lokasinya sendiri menghadap timur, sangat cocok untuk pemotretan pagi. Sinar matahari yang lembut mengenai nya dan background nya langit yang biru. Cukup setting white balance ke Daylight atau Cloudy dan digabung dengan warna dasar candi yang merah bata lengkap sudah foto yang diambil, kombinasi tanah kuning, candi merah bata, langit biru dan middle-ground pepohonan yang hijau. Pastikan mengambil foto dari sudut kolam dimana refleksi candi terlihat melengkapi foto yang diambil.

Keluar dari belakang candi dan mengikuti jalan kita bisa melihat beberapa “viewpoint” yang sebenarnya ditujukan agar kita bisa memotret burung. Tapi pada saat saya datang tidak ada segelintirpun burung disana. Jadi masih bersyukur karena tidak membawa lensa tele saya yang super duper berat. Selesai dengan viewpoint ini maka sampailah saya di exhibition hall. Menarik sekali proses restorasi yang dilakukan, sejarah ini harus dilihat sendiri di sini. Very recommended place to visit.

PS : Mengingat berangkat pagi dari Siem Reap maka lebih baik bawalah sarapan anda dan makan saat di TukTuk.

Angkor Wat (lagi)

Kembali dari Banteay Srei saya sempatkan mampir lagi ke Angkor Wat. Bukan hanya karena ini kesempatan terakhir melihatnya, tapi juga karena belum sempat melihat relief & ruangan dimana bunyi gema terdengar waktu kita menepuk dada kita. Hal ini semua tidak berhubungan dengan fotografi jadi bisa dilakukan di tengah hari, antara jam 11-14 dimana matahari pas tinggi-tingginya. Relief di semua sisi lantai 1 Angkor Wat detil dan indah. Agak berbeda mungkin dengan relief candi borobudur misalnya. Candi borobudur dibangun jauh sebelum Angkor Wat dibangun. Jadi tingkat kehalusan ukirannya agak  berbeda, Angkor Wat lebih halus. Total ada 8 relief yang bercerita mengenai 8 hal berbeda. Mulai dari cerita Ramayana, perang Baratayudha, penggambaran surga dan neraka di agama Hindhu/Budha, dan yang terkenal adalah “The Churn of the sea of milk”. Relief yang terkenal ini bercerita mengenai epik di Hindhu yang menceritakan bagaimana “bad guy” dan “good guy” bekerjasama memerah lautan untuk menghasilkan Amirta, air kehidupan. Apabila ingin memotret relief ini dibutuhkan lensa super wide, setting dengan EV antara -1/3 s/d -1, ISO 400, Daylight White Balance dan cuaca yang terik. Hal ini mengingat lokasi relief ini ada di “dalam” ruangan, tidak seperti candi borobudur yang di lokasi terbuka.

Ruangan dimana gema terdengar kalau kita menepuk dada kita (dan hanya dada kita, bagian lain dari tubuh tidak akan bergema) ada di lantai 2. Lokasinya ada persis di depan patung Budha yang ada disitu. Cukup menarik untuk dicoba. Tanya saja dengan tour guide yang bertebaran disana.

Sepulangnya dari Angkor Wat saya coba makanan khas Kamboja, daging babi yang ditumis dengan akar bunga lotus. Well rasanya agak aneh (akar lotus nya). Tapi kalau ingin mencoba sih boleh saja. Kebetulan sehari sebelumnya saya ditawari oleh salah satu tour guide yang sedang menunggu di Nek Poan biji bunga lotus. Dimakan seperti kacang / melinjo. Rasanya tawar. Tapi menurutnya bisa menjernihkan pikiran.

Tonle Sap Lake & Floating Village Cheong Knah

Sorenya saya berangkat jam 15.30 menuju ke arah Selatan, ke Tonle Sap Lake. Danau air tawar ini merupakan danau air tawar terluas di asia tenggara apabila sedang musim hujan, karena luasannya mencapai 12.000 km persegi. Yang luar biasa adalah kalau sedang musim kemarau (seperti saat saya pergi) luasannya hanya 2.500 km persegi. Jadi sejauh perjalanan kita bisa melihat area yang akan “tergenang” pada saat musim hujan. Luar biasa luasnya. Itu pula sebabnya bangunan di kiri kanan jalan menuju Tonle Sap Lake antara rumah panggung, atau merupakan floating house (bagian bawahnya seperti perahu). Keren sekali dilihatnya, sayang tidak sempat memotretnya karena agak ngeri juga melihat pemukimannya yang cenderung sangat kumuh. Menuju Tonle Sap Lake kita bisa juga berhenti di perkebunan bunga lotus.

Sesampainya di “pelabuhan” kita bisa kena charge USD 30 untuk perahu menuju danau dan floating village. Mahal sekali memang, tapi mengingat saya sendirian naik perahu itu maka itu cenderung cukup “murah”. Ada cara agar kita bisa naik dengan lebih murah, yaitu dengan memesannya melalui agen tour di Siem Reap. Hal ini dikarenakan dengan ikut grup maka satu perahu diisi lebih banyak orang. Tapi entah bisa seberapa murah. Tapi perjalanan menuju danau, floating village dan crocodille farm (yang ada di tengah danau) memang worthed untuk dilakukan.

Di perahu saya ditemani oleh satu orang anak, mungkin anak SMP. Dia bicara dengan bahasa inggris sangat lancar. Hal ini karena di pagi hari dia sekolah dan siang harinya belajar bahasa inggris di tempat pelatihan lokal. Sore harinya dia datang ke pelabuhan untuk menemani turis. Selain untuk praktek bahasa inggris, juga untuk mendapatkan tips untuk sekolahnya. Sekolahnya sendiri terletak 15 km dari rumahnya, di Siem Reap. Luar biasa ya semangatnya? Ditemani dia saya sangat terbantu karena dijelaskan banyak bangunan yang ada sepanjang perjalanan dengan menggunakan perahu itu. Mulai dari perahu yang digunakan sebagai alat transportasi, gereja terapung, pengisian air bersih (terapung tentunya), toko kelontong, pasar ikan, dll semuanya terapung diatas sungai. Selain itu juga ada semacam tiang yang sangat tinggi di pinggir sungai. Ternyata itu tanda perairan dangkal apabila dimusim hujan airnya meluap (tanpa melihat sendiri tidak akan terbayang luapan airnya, luar biasa sekali luasnya).

Di tengah perjalanan saya juga baru tahu bahwa selain etnis Kamboja adapula etnis Vietnam yang tinggal di perkampungan tersebut. Tapi perbedaannya adalah etnis Vietnam tidak mengirimkan anaknya sekolah, melainkan “menggunakannya” sebagai obyek foto bagi turis. Sangat disedihkan budaya seperti ini. Anak-anak etnis Kamboja sendiri harus melintasi sungai (sendirian menaiki perahu) selama 30 menit, kemudian melanjutkan perjalanan darat sekitar 30 menit untuk mencapai sekolahnya. Itu mereka lakukan tiap hari.

Lensa yang paling tepat digunakan pada perjalanan ini menurut saya adalah lensa medium, misalnya 17-55 mm (untuk sensor APS-C seperti Canon 40D) atau 24-105 mm (untuk full frame, misalnya Canon 5D Mark II). Hal ini dikarenakan jarak dengan obyek sangat bervariasi, kadang dekat kadang cukup berjarak. Jadi lensa medium akan sangat membantu. Penggunaan hood juga akan sangat membantu mengingat kadangkala ada cipratan air sedikit masuk ke area kapal. Setting kamera sendiri harus membuat shutter speed yang diperoleh mencukupi. Hal ini dikarenakan kecepatan kapal yang lumayan, kalau shutter speed terlalu lambat maka foto akan blur. Saya sendiri menggunakan setting f8 dan ISO400 untuk mendapatkan speed di kisaran 1/200 seconds. Apperture sesempit f8 saya gunakan untuk menghindari miss focused yang sangat mungkin terjadi pada momen yang berlangsung cepat seperti di kapal ini.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 30 menit terlihatlah Cheong Knah, the floating village. Jika kita membayangkan floating village = belasan rumah terapung, salah besar. Ada ratusan rumah terapung di tengah danau yang luar biasa luas itu (sebagai perbandingan danau toba di sumatra utara memiliki luasan 3.000 km persegi, sedangkan Tonle Sap luasan di saat musim kemarau mencapai 2.500 km persegi, dan di musim hujan mencapai 12.500 km persegi). Merupakan obyek fotografi yang sangat indah karena rumah-rumah ini di cat dengan warna – warna mencolok seperti biru, hijau, kuning atau merah. Menarik sekali.

Setelah menjelajah sebentar perkampungan ini kita berhenti di satu rumah terapung besar, dimana kita bisa melihat berbagai cara menangkap ikan gaya Kamboja. Berbagai jala dan keramba dipertunjukkan disitu. Di bagian paling atas dari rumah tersebut ada dek dimana kita bisa menunggu sunset. Sayang  pada saat saya datang matahari bersembunyi di balik awan yang cukup tebal.

Makan malam hari itu saya coba BBQ Pork Ribs yang ada di dekat hotel. Lebih tepatnya di ujung “Pub Street” di depan Red Piano Resto. Harganya cukup manusiawi untuk ukuran Kamboja, USD 1.5 untuk ribs. Rasanya cukup enak dan lokasinya sendiri cukup ramai. Jadi kalau tidak berminat dengan ribs ya tinggal mampir ke warung tenda sebelah dimana ada Amok, Beef Curry, Nasi goreng khas Kamboja, dll.