Tag Archives: moto

My Weekly Editor Choice – By : Ilcharama

Foto ini merupakan stage photography kesekian saya, beberapa kali saya diajak temen yang jadi band pembuka dari artis artis yang manggung di kota saya, Pekalongan.

Di kesempatan kali ini, adalah geisha yang manggung, karena posisi saya cuma sebagai kru saja, maka saya nggak bisa dapet tempat didepan panggung, FYI, ini acara indoor, jadilah saya ada di samping panggung.

Pada kesempatan tersebut, saya berbekal satu lensa kit 18-55 dan satu lensa tele jadul 70-210. Setelah capek pake manual fokus dengan tele, akhirnya saya pasang lensa kit, dengan hitungan para artis pasti bakal ke samping panggung juga. Jadilah saya gambling dengan kondisi itu. 

Gambling saya hampir terbayar ketika beberapa kali momo dkk berjalan ke area samping panggung, namun tetap saja saya susah dapet momen yang pas. Namun ketika saya sejenak menghadap ke area penonton, saya liat ada lampu sorot berkekuatan besar dari atas yang pasti bakal ngikutin kemana sang artis gerak, disinilah ide untuk membuat foto ini muncul.

Continue reading My Weekly Editor Choice – By : Ilcharama

MY Crash Course – 26 Jan 2013 (FULL SEAT)

Banyak dari my-ers yang sudah “meraba-raba” belajar dari artikel di motoyuk & komunitas MY. Tapi kadang belum puas dan masih banyak yang ingin ditanyakan. Umumnya hal ini bisa dilakukan pada saat ketemuan / sesi offline motoyuk, tapi berhubung masing-masing my-ers juga sibuk moto, jadinya kadang kurang puas juga. So, kali ini akan dibuat crash course, sesi cepat buat tanya jawab dan juga belajar fotografi. D Dalam crash course hanya akan ada 1 pertemuan, selama kurang lebih 5 jam totalnya.

Tentunya sebelumnya akan ada materi yang harus dibaca terlebih dahulu oleh peserta. Ini yang membedakan dengan course biasanya, lebih cepat karena sudah harus baca materi terlebih dahulu. Praktek juga akan dibatasi, cuma sebentar saja sekedar testing ilmu yang baru diperoleh.

Apakah akan bermanfaat? Tentunya … karena handbook yang diberikan sudah sangat lengkap, sehingga dengan membaca sendiri sudah bisa menangkap cukup banyak. Ditambah dengan sedikit penjelasan + sesi tanya jawab saat crash course, 5 jam akan sangat penuh dan berarti. Dan tentunya karena waktu yang lebih pendek dan padat, maka biaya bisa jauh lebih terjangkau.

Dalam 5 jam itu akan dibahas hal – hal paling penting saja mengenai :

  • How to choose the right gadgets – camera, lens, filter, tripod, etc
  • Understanding Exposure : Apperture, Shutter Speed, ISO + Exposure Value & White Balance
  • On shoe flash photography – using your built-in / external flash on-shoe
  • Understanding Composition – how to make a better picture
  • Basic post-processing process using Raw convertion software & Adobe Photoshop

Mengapa belajar fotografi di motoyuk!!! ?

  • Trainer yang berpengalaman & passionate dengan fotografi + teaching – tidak sekedar bisa memotret, tapi lebih penting bisa menyampaikan materi nya dengan baik
  • Modul pelatihan yang lengkap & full color, sudah diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, bukan sekedar copy slide presentasi.
  • Bahan yang tidak hanya mencakup dasar, tapi sudah cukup advance
  • Biaya yang terjangkau karena dilakukan di cafe + bukan uang prioritas utama dari motoyuk!!!

Silahkan isi Form Registrasi (KLIK DISINI), dan setelahnya hubungi : register@motoyuk.com / 0812 9393 779

  • Schedule :
    • 26 Januari 2013 – 13.00 – 18.00 WIB (Kelapa Gading)
  • Lokasi : Kelapa Gading
  • Biaya : Rp 325.000 / peserta – diskon Rp 40.000 buat mereka yang telah membeli bukunya sendiri (transfer ke no rekening tertera di side bar – setelah transfer silahkan konfirmasi via email / sms)
  • Jumlah peserta per kelas : 5-8 orang
  • Mentor : Edo Kurniawan
Calon Peserta (First Payment First Served) :
  1. Tony (PAID)
  2. Rudy (PAID)
  3. Adang Iskandar (PAID)
  4. Khairil (PAID)
  5. Alex R Jacob (PAID)
  6. Dwi Wahyudi (PAID)
  7. Sandy (PAID)
  8. G Petrus Wenno (PAID)
Detil & other in-coming course? Visit here.

Continue reading MY Crash Course – 26 Jan 2013 (FULL SEAT)

Teknik memotret bunga

[REPOST] – Ini sharing ilmu yang diperoleh dari Om Jeffry Surianto, maestro Macro dan Bunga. Kebetulan aku mendapat kesempatan emas belajar dari beliau.

Persiapan

Sebagai materi tentunya kita perlu membeli bunga segar. Bunga segar disimpan sesuai dengan aturan penyimpanannya, misalnya Tulip harus disimpan di ruangan ber-AC sebelum dikeluarkan untuk difoto. Jenis bunga yang akan di foto bisa beragam sesuai dengan keinginan.

Sebagai background bisa digunakan papan yang dilapisi kain beludru (misalnya hitam). Kenapa beludru? Karena kain ini serapan cahayanya paling baik, jadi tidak memantul.

Teknik

Aku tidak akan membahas mengenai teknik dasar seperti angle pemotretan, apperture yang digunakan agar DOF-nya dapat, ISO yang digunakan agar tidak noise tapi masih dapat speed-nya, dll. Pembahasan ini khusus ilmu yang “berbeda” dibandingkan pemotretan biasa.

Pencahayaan pada pemotretan bunga diusahakan adalah dari cahaya alami / window lighting. Hal ini dikarenakan menggunakan flash akan membutuhkan kontrol yang lebih sulit untuk mengeluarkan warna pada bunga, kebanyakan akan pucat. Selain itu gunakan white balance “daylight” dan bukan auto-white balance agar warnanya tidak salah.

Teknik yang diajarkan Om Jeffry adalah dengan melakukan pemotretan under-exposure terlebih dahulu. Untuk melakukan ini umumnya dibutuhkan Mode Manual pada kamera. Lakukan beberapa kali percobaan sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan, yaitu keseluruhan foto agak gelap dan tidak ada area over-exposure sama sekali.

Continue reading Teknik memotret bunga

Street Photography @ Ancol

Terinspirasi dari eBook (free download) Thomas Leuthard mengenai street photography maka saya dan teman-teman di MotoYuk!!! berusaha mencoba di Ancol. Kenapa Ancol? Karena area ini relatif area turis dimana foto-foto bebas dilakukan. Orang yang berkunjung kesana juga dari berbagai kalangan yang pastinya memperbesar kemungkinan menghasilkan foto yang unik.

Street Photography adalah foto candid perjalanan / human interest / dll yang bercerita mengenai kondisi di lapangan secara langsung. Tanpa setup, tanpa pengarahan gaya, tanpa aba-aba … pure what it is in the street. Banyak yang bilang “Ahhhhh, di Indonesia mah susah, bisa di gaplok orang …”. Hal yang sama terlintas di pikiran kami, tapi tentunya kami tidak ingin ter-intimidasi hanya dengan hal seperti ini. Saya merasa dengan teknik yang benar maka kita bisa melakukannya bahkan di Indonesia. Jangan bilang takut / tidak bisa sebelum mencoba itu prinsip saya.

Saya sebenarnya ingin menggunakan lensa 85mm seperti yang digunakan oleh Thomas (dia menggunakan lensa 50mm pada crop factor 1.5x = 75mm). Tapi apa daya, tidak ada lensa segitu, so saya pakai lensa makro 100mm f2.8 saya. Lensa ini di setting di f4 (agar dof tidak terlalu tipis, tapi masih menghasilkan background blur). Sisanya saya set auto. Hal ini untuk mempercepat respons di lapangan.

Continue reading Street Photography @ Ancol




Weekend Photography

Coba lihat kamera yang ada di kamar, yang ada di dalam dry box, sudah berapa lama nganggur? Berapa lama gak ditekan shutter nya? 🙂 Ayo coba motret lagi. Walau tidak jauh dari rumah ada banyak obyek yang bisa ditemui. Buat yang suka makro tentunya bisa mencari obyek makro di sesemakan. Siapa tahu dapat obyek yang menarik.

Tapi bukan hanya makro-ish yang bisa memotret di sekitar rumah. Kebetulan belakangan ini langit pancaroba sedang memberikan sunset yang menarik. Hal ini ditandai umumnya dengan kondisi siang hari yang sangat panas & kering, sementara langit di hiasi dengan awan cumulonimbus yang bulat-bulat. Kalau beruntung maka sore hari motoyuk-ers bisa ke daerah terbuka dan memotret sunset yang indah.

Foto diatas diambil di lapangan rumput dekat dengan perumahan kota wisata cibubur, rumah saya. Tidak jauh dari rumah, hanya 3 menit palingan. Tapi kebetulan memang sunsetnya sangat indah, jadi tanpa filter macem-macem hanya berbekal kamera & tripod foto diatas diambil. Berikut adalah foto yang diambil pada sudut yang lain.

Kunci foto diatas hanyalah : timing yang tepat, tripod dan white balance yang tepat. Saya selalu menggunakan white balance “Daylight” pada saat pemotretan twilight moment seperti ini. Hal ini karena apabila menggunakan white balance yang Auto maka biru langit tidak bisa keluar sepenuhnya.

Continue reading Weekend Photography

Backlight photography

Seringkali kita menghadapi kondisi dimana kita harus memotret dengan cahaya matahari / lampu di belakang obyek. Kondisi ini biasanya dikenal dengan nama “Backlight”. Oleh karena cahaya masuk semua ke kamera kita secara langsung (bukan dari hasil pantulan) maka biasanya hasilnya tidaklah seindah fotografi dengan side-light (matahari/cahaya datang dari samping obyek) atau front-light (cahaya datang dari belakang kita, atau dari arah depan si obyek).

Hasil yang sering terjadi adalah siluet, alias si obyek menjadi bayang-bayang hitam saja. Sulit dipisahkan antara mata, hidung dan pipi nya. Hal ini karena cahaya di belakang si obyek begitu kuatnya dan mengakibatkan sistem metering dari kamera kita ‘salah’ mengukur shutter speed / apperture yang dibutuhkan. Akan tetapi dengan cara pemotretan yang benar maka hasilnya justru bisa luar biasa. Hal ini karena backlight bisa berfungsi sebagai hair light, sehingga rambut terlihat bersinar indah.

Contoh pemotretan backlight dimana sinar membuat rambut bersinar – courtesy of : http://photo.tutsplus.com/

Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk mengatasi kondisi backlight ini. Dari yang paling sederhana sampai yang rumit :

  • Memindahkan obyek. Ini cara paling sederhana yang sering dilupakan para fotografer. Kita bisa menghindari terjadinya backlight dan siluet dengan cara memindahkan obyek (misalnya teman yang kita akan potret) sehingga cahaya menjadi side-light atau front-light. Seringkali kita terlalu heboh untuk memotret sehingga lupa mengatur posisi obyek kita sendiri.
  • Kita juga bisa membuat cahaya backlight hanya keluar sedikit, misalnya dengan memposisikannya agar terhalang sebagian. Seperti contoh di bawah ini matahari yang menjadi sumber cahaya backlight dikurangi dampaknya dengan meletakkannya di sela tangan model. Tentunya ini masih membutuhkan teknik misalnya exposure compensation / penggunaan flash. Tapi ini mengurangi dampaknya.
Courtesy of : http://photo.tutsplus.com/

10 Tips Photography Macro ala MotoYuk!!!

Ada banyak tips fotografi macro diluar sana, tinggal cari dengan Google. Tapi saya mencoba membuat tips berdasarkan pengalaman saya :

1. Cari lokasi yang potensial

Obyek macro sebenarnya ada dimana-mana. Tapi apabila kita mencari serangga maka lokasi tertentu umumnya memiliki populasi yang lebih banyak dibanding yang lain. Kupu-kupu menyukai lokasi yang agak hangat / kena sinar matahari dan banyak bunga. Tidak semua jenis bunga, kupu-kupu suka dengan bunga yang kecil dan memiliki madu banyak. Hal yang sama dengan tawon.

Sedangkan serangga seperti lady bug, belalang, dll lebih suka daerah yang dekat dengan air tenang. Misalnya danau / kolam. Agak lembab menjadi habitat yang sangat baik buat mereka. Tentunya mereka akan menghilang dari daerah padat pemukiman yang setiap beberapa saat sekali di semprot pestisida. Jadi buat warga jakarta anda lebih baik mencari lokasi di luar jakarta, taman kota, atau lokasi lainnya.

2. Pilih waktu yang tepat

Terlalu siang maka akibatnya adalah serangga menjadi sangat aktif dan juga matahari terlalu terik. Hasil pemotretan tidak akan maksimal dengan kondisi demikian. Saya sarankan pemotretan di pagi hari kisaran jam 8-10 pagi. Sebelum jam 8 pagi? Biasanya mereka masih bersembunyi dan sulit di lihat, walaupun memang nyaman untuk memotret karena mereka cenderung lebih diam.

Contrast

Continue reading 10 Tips Photography Macro ala MotoYuk!!!

Photo Gathering…Reveal #2

Bagaimana dengan foto ini :

Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 20mm | Manual Mode | f8 | 1/30 secs | ISO400 | Flash with tronic trigger (sepertinya 50mm power -1)

Ada yang terbayang cara memotretnya? Menggunakan flash, sudah pasti 🙂 Hal ini dikarenakan cahaya senja (jam 17.59 WIB) sudah tidak mungkin menyinari Fani yang menjadi model. Tidak ada pula cahaya lampu yang membantu. Jadi mau tidak mau kita harus menciptakan sendiri cahaya-nya, dengan menggunakan flash. Teknik ini umumnya dikenal dengan teknik strobist.

Teknik memotret dengan flash dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut :

1. Gunakan mode Manual (mode Apperture priority dan mode yang lain akan melakukan kompensasi metering yang hasilnya jadi kurang ok).

Lakukan langkah-langkah seperti di Photo Gathering Reveal #1, yaitu memilih apperture, shutter speed (tidak ada EV pada mode manual) dan ISO. Kalau perlu gunakan mode apperture priority sebagai benchmark. Tidak usah pedulikan si model yang menjadi gelap dan tidak kelihatan detilnya sama sekali. Buat dulu setting dimana background langit senja kelihatan bagus dan exposure-nya tepat.

Pada pemotretan ini dipilih setting apperture f8 untuk meyakinkan bahwa ketajaman gambar mencukupi. Shutter speed 1/30 secs + ISO400 dibutuhkan agar langit senja dibelakangnya masih kelihatan cukup terang dan awannya keliatan detilnya.

2. Setelah setting untuk backgroundnya sudah kita dapatkan barulah kita setting flash sebagai fill-in light bagi model. Flash bisa menggunakan built-in flash, flash yang dipasangkan di hot-shoe, atau pada contoh ini kita menggunakan off shoe flash + trigger. Keuntungan menggunakan flash trigger adalah flash-nya bisa kita atur-atur posisi-nya, tidak harus nangkring di atas kamera.

Dalam foto ini flash berada di kiri belakang kamera (terlihat dari bayangan yang terbentuk). Sebagai dampak dari peletakan flash ini maka sinarnya bisa menyorot ke sudut tertentu saja. Hasilnya tentunya lebih eksotis dibandingkan lurus dari depan saja.

Walau ada teorinya untuk mengukur berapa kekuatan flash tapi saya lebih sering menggunakan metode TEF (trial, error dan feeling). Cara TEF-nya ya coba aja dipotret. Kalau terlalu gelap / terang tinggal diatur lagi. Untuk mengurangi exposure flash (yang bsia mengakibatkan muka model putih semua karena over exposure) bisa dilakukan dengan :

  • Mengurangi power flash, baik dari dalam DSLR untuk built in, maupun dari flash nya sendiri (baca buku panduan flash nya ya)
  • Menjauhkan flash dari model, makin jauh flash dari model maka cahaya yang sampai ke muka model makin berkurang – ingat dengan menjauhkan maka sudut sinarnya juga berubah ya

Pada kasus ini flash berada sekitar 4-5 meter dari model, dengan flash compensation -1 dan flash focal length indicator 50mm.

Pusing ya? Hehe kalau dicobain langsung gak serumit teori-nya koq. Jadi gabung saja di photo gathering motoyuk!!! berikutnya.

MOTO YUK !!!

Photo Gathering Reveal…#1

Udah liat fotonya? Sekarang gimana bikinnya 🙂

Sunset by Edo | Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 17mm | Apperture Priority | f8 | 1/3 secs | ISO400 | EV -1 | Picture Style landcape

Untuk foto ini cukup mudah caranya. Kunci terpenting bukan pada kamera atau skill, tapi timing. Foto ini diambil pada sore menjelang malam, dikenal dengan nama twilight, tepatnya jam 18.06 WIB. Waktu yang cenderung cukup malam dan banyak orang sudah pulang. Tapi justru pada saat seperti ini paduan warna langitnya paling indah. Jadi skill pertama : sabar menunggu momen.

Pada saat pemotretan saya menggunakan picture style landscape, karena sejauh ini untuk kondisi landscape & Canon 40D inilah picture style canon yang paling ok, saturasi warnanya paling nendang. Sedangkan untuk mode pemotretan saya pilih mode Apperture Priority (Av) karena saya ingin atur ruang tajam-nya. Maunya tentu saja sampai apperture f16 atau f22. Tapi mengingat ini adalah foto siluet dimana detil 3 dimensi tidak terlalu masalah maka lebih baik mengejar shutter speed. Kalau saya paksakan dengan menggunakan f16 shutter speed bisa sampai dengan 5 secs. Hal ini kurang baik karena selain bisa goyang dan kurang tajam, daun kelapa juga bisa sudah tertiup angin, jadi bisa blur juga – kurang sharp. Jadi akhirnya saya pilih f8.

Setelah apperture dipilih maka saya cek kembali (pada Exposure compensation EV 0), ternyata speed yang diperoleh masih kurang memuaskan, sekitar 3 secs. Plus saat gambar diambil saya tahu pasti akan over exposure karena kebanyakan langit + obyeknya gelap. Jadi saya setting EV menjadi -1. Ini membuat foto lebih gelap tapi justru sesuai dengan kenyataannya.

Ternyata pada ISO 200 shutter speed masih di kisaran 0,5 secs. Dengan pertimbangan bahwa Canon EOS 40D pada ISO 400 masih acceptable noise-nya maka saya setting ISO nya menjadi ISO400. Didapatkan konfigurasi f8 | EV-1 | ISO400 | 1/3 secs. Bagi lensa biasa mungkin bisa goyang, tapi karena lensa saya memiliki Image Stabilizer + focal length yang digunakan adalah 17mm maka kecepatan shutter 1/3 secs masih memadahi.

Jepret!!! Hasilnya immediate…tidak perlu pengolahan aneh-aneh.

Sulit? Tidak sesulit teorinya koq setelah dipraktekkan di lapangan. MOTO YUK !!!




Cambodia #1

Sunrise – Angkor Wat – Cambodia