Tag Archives: mirrorless

Hyperfocal Using Fuji Lens

Buat yang belum paham apa itu hyperfocal, baca dulu artikel-artikel di motoyuk yang terkait dengannya. Artikel ini tidak akan membahas lagi apa dan mengapa hyperfocal.

Menggunakan lensa manual dengan distance scale adalah cara yang praktis untuk menggunakan teknik hyperfocal. Selain itu ada juga cara focusing di jarak tertentu menggunakan AF. Tapi cara kedua ini agak repot karena biasanya kamera sudah terpasang di tripod. Focusing ke jarak tertentu kadang membuat kamera perlu di kendorkan dari tripod.

Fuji (dan saya rasa beberapa mirrorless lain) ternyata memiliki distance scale ini pada LCD ataupun electronic viewfinder mereka. Ini terlihat apabila kita mengubah menjadi mode Manual Focus.

IMG_0482

Pada gambar di atas kita fokus pada jarak sekitar 1.7 meter (lihat garis kuning di tengah garis biru) dan ruang tajamnya adalah mulai dari 1.5 meter sampai dengan 2 meter (lihat garis biru di distance scale).

Continue reading Hyperfocal Using Fuji Lens

Apakah Fuji Mirrorless bisa pakai lensa Canon DSLR ?

Ok most frequent question berikutnya berkaitan dengan lensa fuji yang sering saya dapatkan dari pengguna baru. Pertanyaan wajar karena pengguna DSLR (tidak hanya Canon, tapi Nikon dll) ingin menggunakan lensa koleksinya sementara mencoba coba menggunakan sistem yang baru ini. Kan sayang sudah keburu beli. Lagipula masak harus punya 2 lensa dengan range sama, satu buat DSLR satu lagi buat mirrorless.

Lensa Moderen

Sebelum menjawab saya jelaskan dulu bahwa lensa DSLR moderen tidak di lengkapi dengan pengatur bilah aperture di badan lensa.

aperture ring

Hal ini karena lensa di desain untuk diatur aperture nya via body kamera. Jauh lebih praktis dibandingkan jaman dulu dimana aperture harus di buka manual ke posisi paling lebar untuk focusing, baru di ubah lagi manual ke aperture yang diinginkan sebelum jepret.

Lensa moderen di desain selalu terbuka dalam kondisi aperture maksimalnya. Jadi kalau lensa Canon 16-35 f2.8 L saat tidak digunakan akan berada dalam aperture f2.8 setiap saat. Sedangkan misalnya lensa 17-40 f4 L akan berada dalam kondisi f4 setiap saat.

Continue reading Apakah Fuji Mirrorless bisa pakai lensa Canon DSLR ?

Alternatif lensa portrait untuk mirrorless – Canon FD 135mm f2

Buat penggemar lensa tele dengan bokeh (bukaan lebar) maka kamera mirrorless mungkin memiliki sedikit “keterbelakangan”. Selain karena DOF yang relatif sempit sehingga agak lebih susah menciptakan bokeh, juga lensa yang dibutuhkan tidak semuanya tersedia.

Hal ini wajar, mengingat mirrorless baru saja muncul di permukaan. Belumlah selama DSLR dan belum “mature” betul sistemnya – dalam arti belum banyak pilihan juga.

Belakangan Fuji (yang kebetulan saya gunakan) muncul dengan lensa 56/1.2 – ini lensa portrait, setara dengan sekitar 85mm f1.8. Lensa ini enak dipakai, tapi tetap saja kadang kita butuh yang lebih tele lagi untuk isolasi background sesuai dengan konsep yang kita mau. Sayangnya lensa 90mm (yang setara dengan 135mm) masih belum tersedia.

fd135mm2_

Semenjak awal saya memang sudah berniat untuk investasi di lensa wide aperture Canon FD dan FL. Tentunya di combine dengan Metabone Speedbooster. Kenapa Canon FD/FL ? Simply karena pasokan masih banyak, pilihan juga banyak dan harganya masih “masuk akal”. Kalau saya pilih misalnya Leica R, atau Zeiss maka harganya pasti fiuhhhhhh buat mengumpulkan lensa lensa wide aperture ini.

Lensa Canon FD 135mm f2 ini relatif agak langka. Tetapi saya berhasil memperolehnya dari Jepang (via ebay). Harganya sekitar 4jt – relatif murah dibandingkan dengan saudaranya EF 135mm f2 – hahaha. Sedangkan biaya metabone speed booster saya anggap sharing cost dengan lensa Canon FD / FL lain yang saya miliki. Continue reading Alternatif lensa portrait untuk mirrorless – Canon FD 135mm f2

Mirrorless bukan Panacea

Panacea

Tergelitik dengan beberapa tulisan mengenai mirrorless dan juga pertanyaan dari MY-ers yang kontak saya langsung, saya jadi ingin menuliskan bahwa pandangan bahwa mirrorless Panacea itu keliru. So kalau MY-ers berpendapat dengan pindah ke mirrorless akan mendapatkan foto yang lebih bagus, lebih ringan, lebih enak digunakan, dst dst , ya siap siap saja kecele dan kecewa.

Mirrorless hasil fotonya lebih bagusfoto bagus apa nggak itu hanya dipengaruhi sedikit oleh alat. Lebih banyak oleh orang yang menggunakannya, bukan sampai taraf jepret saja, tapi sampai akhir (post-pro juga terlibat). Alat yang bagus akan mempermudah mencapai hasil, mempersingkat workflow, mengurangi keribetan, mempercepat reaksi, dll. Tapi tidak secara siginifikan meningkatkan hasil.

Kita sering tertipu dengan pandangan bahwa si A sejak upgrade alat fotonya menjadi makin bagus. Coba dipikir ulang, itu karena upgrade alat nya, atau karena dia makin lama pengalamannya?

Foto saya lebih baik dibandingkan saat saya pakai canon 350d bukan karena sekarang saya pakai Fuji, tapi karena saya makin tinggi jam terbang nya saja. Yak, saya sangat terbantu dengan teknologi baru di kamera baru, tapi bukan berarti saya 100% tidak akan bisa menghasilkan karya yang sama dengan menggunakan kamera lama.

Spring is Coming

Ada banyak orang yang menggunakan kamera seharga puluhan juta di mode Auto – bukan karena ingin, tapi karena gak paham gimana mengaturnya – gak paham juga soal komposisi dll. Kamera puluhan juta digunakan selayaknya kamera pocket. Mereka bangga dengan hasil yang tajam, resolusi yang detil, dll. Tapi pada akhirnya? Ya foto liputan kayak kamera handphone.

Continue reading Mirrorless bukan Panacea

Fuji XF 27mm f2.8 – a quick review

Memanfaatkan promo yang ada di US + kedatangan sepupu ke Indonesia, saya akhirnya meminang XF 27mm f2.8 Pancake. Lensa ini namanya juga pancake design, so mungil dan tipis kayak pancake. Tapi waktu pertama kali saya memegangnya dan memasangkannya di X Pro1 saya, tetap saja amazed dengan betapa kecil dan mungilnya lensa ini. Saat lensa ini dipasangkan maka terasa bobot kamera tidak bertambah, maklum bobot lensa ini hanya 78 gram.

highres-Fujifilm-XF-27mm-lens-3_1375692480

Tidak seperti lensa XF lainnya maka ring aperture lensa ini tidak terletak di body lensa. Dengan menggunakan firmware terbaru pengaturan dipindahkan ke dial yang ada di belakang dekat LCD. Wajar mengingat tipisnya lensa ini.

Build lensa ini walau mungil tetap mengikuti standard XF, alias tetap baik dan tidak murahan (iyalah, harganya juga kagak murah hahaha). Filter size dan tutupnya relatif sangat kecil, 39mm – saya khawatir saya akan menghilangkan tutup lensa ini someday haha.

Continue reading Fuji XF 27mm f2.8 – a quick review

Fuji XF 10-24 Landscape Samples & First Impression

Weekend ini saya punya kesempatan membawa Fuji XF 10-24 dengan X Pro1 untuk pemotretan landscape. Berikut adalah beberapa sample nya (more to come di Flickr Gallery saya).

Sunburst in SanurFoto ini relatif Straight Out Of Camera / SOOC - terlihat kemampuan Fuji menghasilkan warna yang akurat 

(Aperture Priority - f22 iso200 0.2 seconds - Velvia Film Simulation - Daylight WB - GND Reverse 0.9x)
Mengening BaliDetil yang berhasil di tangkap XF 10-24 juga sangat memadahi. Warna hijau lumut yang ada tidak perlu saya angkat lanjut, sudah langsung jadi. Pada foto ini post pro saya lakukan untuk langit yang warnanya agak berubah karena GND 

(Aperture Priority - f16 iso200 1/10 seconds - Velvia Film Simulation - Daylight WB - GND Reverse 0.9x)

Secara umum saya puas dengan paduan lensa dan body ini. Warna dan kontras yang saya harapkan nampaknya sesuai. Walau memang Daylight White Balance di padukan dengan Velvia nampaknya bukan pilihan yang tepat pada kondisi twilight. Cenderung terlalu biru. Padahal di Canon saya biasa gunakan Daylight white balance hampir setiap saat.

Continue reading Fuji XF 10-24 Landscape Samples & First Impression

Racun ?

Belakangan ini saya sedang beralih ke sistem mirrorless. Penyebabnya sebenarnya simple saja, karena buat saya DSLR terlalu berat untuk di bawa bawa. Selain itu AF yang di mirrorless selalu menjadi kendala sampai saat ini, bukanlah masalah bagi genre pemotretan saya, lanskap.

Awalnya saya menggunakan Sony NEX. Tapi nampaknya kurang cocok dengan tonal warna dan juga kualitas lensa, body dan hasilnya. Sehingga akhirnya saya coba Fuji. So far cocok, walau belum 100% yakin karena belum mencoba nya di genre utama saya yaitu lanskap.

Manyar_DSC01815-web

Banyak my-ers yang merasa saya meracuni mereka dengan Fuji. Hahahaha. Buat saya sebenarnya peralatannya mau apa saja itu terserah. Kalau di bayarin ama vendor saya disuruh pakai Canon, Nikon, Fuji, Sony, Olympus, bebas saja … lha wong dibayarin. Kalau disuruh bayar sendiri ya terserah saya dong mau pilih yang mana yang rasanya cocok buat saya. Mau dibandingkan sih kagak ada selesai nya.

Continue reading Racun ?

DOF Preview Button

Mungkin tidak semua orang sadar bahwa ada tombol yang namanya DOF preview button ini. Lokasinya biasanya ada di dekat pertemuan lensa dan body, beda merk kamera biasanya berbeda pula lokasinya. Selain tempatnya tersembunyi, setelah di tekan kok rasanya tidak ada dampak apapun, makanya sering dilupakan. Padahal ini sebenarnya cukup berguna di beberapa kesempatan.

dofpreviewbutton

Sebelum membahas guna tombol ini maka perlu dipahami cara kerja kamera terlebih dahulu.

Apa yang kita lihat di viewfinder adalah cahaya yang masuk dari lensa. Supaya viewfinder terang dan nyaman digunakan maka salah satu “trik” produsen DSLR adalah dengan mensetting lensa pada bukaan maksimal.

Jadi kalau kita menggunakan lensa 70-200 f2.8, walaupun kita menggunakan aperture f8 maka pada saat kita melihat dari viewfinder lensa sebenarnya dalam posisi aperture f2.8. Sedangkan misalnya kita menggunakan lensa 70-200 f4, berapapun aperture yang kita setting maka saat kita melihat di viewfinder itu adalah hasil dari bukaan maksimal, yaitu f4.

Ini menjelaskan kenapa viewfinder terasa lebih nyaman dan terang apabila kita menggunakan lensa dengan bukaan maksimal yang lebar. Dan sebaliknya. Karena viewfinder memanfaatkan bukaan maksimal ini.  << Auto focus juga menggunakan cahaya yang berlimpah dari lensa dengan bukaan lebar, itu sebabnya lensa bukaan lebar cenderung sedikit lebih cepat melakukan focusing >>

Continue reading DOF Preview Button

Makro dengan Mirrorless

Saat ingin beralih menggunakan mirrorless secara penuh, salah satu kendala yang muncul adalah fotografi makro. Maklum saya doyan juga moto makro. Kendala yang muncul adalah :

    1. Lensa auto focus yang tersedia antara terlalu pendek focal length nya (misalnya Zeiss 50mm macro) atau tidak bisa makro maksimal (rasio 1:1 – misalnya Fuji XF 60mm macro dengan rasio 1:2)
    2. Kalau saya gunakan lensa DSLR (misalnya lensa terkenal Canon 100mm f2.8 L IS) maka kendala nya adalah bilah aperture di kontrol oleh body. Sehingga saat digunakan di mirrorless dengan menggunakan adapter, maka hanya bisa bukaan paling maksimal (misalnya f2.8). Bisa memang kita akali dengan menggunakan DOF button di DSLR, tetapi akan tidak fleksibel karena tiap mau ganti aperture harus di pasangkan di DSLR.

Padahal sebenarnya moto makro di mirrorless cukup enak, karena fitur live view nya lebih baik. Belum lagi focus peaking yang juga lebih enak. Walau memang kekurangan lain selain masalah ketidakadaan lensa adalah AF yang lambat, sehingga kurang cocok untuk pemotretan makro yang butuh kecepatan tinggi.

So, mulai lah saya mencari alternatif lensa manual (tua) yang bisa digunakan nge makro 1:1. Sayangnya pilihannya ternyata tidak banyak. Kalaupun ada kebanyakan hanya 1:2 karena pada jaman itu memang makro maksimal sampai rasio 1:2.

Continue reading Makro dengan Mirrorless

NEX to Fuji

Terinspirasi dari artikel “Switching from Sony NEX to Fuji X” saya ingin share mengenai apa yang akhirnya membuat saya berpindah dari Sony NEX 5n ke Fuji. Sharing ini tentunya personal, sehingga bisa dilihat ada perbedaan dengan alasan yang dikemukakan penulis di artikel di atas.

Salah satu alasan utama saya adalah masalah warna / tonal dari Sony NEX. Karakter sony memang saturated dan berbeda dengan karakter Canon. Tidak ada masalah sebenarnya dengan warna yang lebih saturated, tinggal di de-saturate di saat post pro, atau di setting kamera. Tapi kendala yang saya hadapi seringkali warna NEX tidak sinkron, artinya kalau saya push berdasarkan warna biru, maka warna lain akan over. Jadi bisa dibilang proporsi nya tidak pas dengan selera saya.

Manyar_DSC01815-webDalam foto di pantai Manyar menggunakan NEX 5n dan SEL 10-18 ini saya melakukan sedikitnya 4 layer masking : untuk area batu, langit biru, langit kuning dan laut. Tanpa layer masking ini saya kesulitan mendapatkan hasil seperti yang saya inginkan

Akibatnya saya sering frustasi pada saat post processing. Banyak layer masking perlu saya lakukan terhadap satu foto. Sehingga tentunya memakan waktu yang cukup signifikan. Kalau saya bandingkan dengan Canon maka saya butuh 1.5 – 2 kali lipat waktu lebih di post processing. Kembali lagi ini adalah personal taste. So bisa jadi orang lain tidak merasa ada masalah dengan soal tonal ini. Good for them 🙂

Continue reading NEX to Fuji