Tag Archives: lensa

Lensa Fuji yang Mana?

Setelah post body kamera Fuji yang mana, saya mau ulas sedikit mengenai lensa yang mana untuk kamera fuji yang di beli. Ini tentunya bukan rekomendasi teknis berdasarkan chart dll, lebih ke pengalaman saya dengan beberapa lensa Fuji yang saya gunakan dan juga genre saya. So kalau MY-ers beda genre tentu saja bisa punya preference yang berbeda.

Sejauh ini lensa dengan X Mount yang saya miliki (hasil konversi dari seluruh koleksi Canon saya sebelumnya) :

  • Fuji XF 10-24mm f4 R OIS
  • Fuji XF 18-55mm f2.8-4 R LM OIS
  • Fuji XF 55-200mm f2.5-4.9 R LM OIS
  • Fuji XF 18mm f2 R
  • Fuji XF 23mm f1.4 R
  • Fuji XF 35mm f1.4 R
  • Fuji XF 56mm f1.2 R
  • Samyang Fish Eye 8mm f2.8 MK2
  • Samyang 12mm f2

Sedangkan koleksi lensa tua untuk keperluan moto manual focus dengan metabone speed booster saya fokuskan pada lensa Canon FD. Hal ini supaya saya cukup punya 1 adapter speed booster saja. Lebih hemat. Sejauh ini ada 3 lensa : FL 55mm f1.2, FD 50mm f1.4 SSC dan FD 135mm f2.

new-fuji-lenses

Ada juga lensa Zeiss Flektogon 35mm f2.4.

Continue reading Lensa Fuji yang Mana?

MY Articles : Fish Eye Lens, By : Tedy

Hallo MY’ers ini sdikit saya intro mengenai arsitektur photography dalam kaitan penggunaan lensa fish eye…

Ulasan kecil ini dapat teman2 temui di buku “Dancing Perspectives” by Narsiskus Tedy terbitan elexmedia yang akan terbit agustus 2014 nanti.. sdikit saya buka dulu skrg… buat intro…

————————–

FISH EYE dalam arsitektur photography

Lensa apa yang memungkinkan kita bermain dengan distorsi? Fish eye jawaban nya. Penggagas lensa fish eye di dunia photography adalah Nikon pada tahun 1935, selanjutnya berkembang diikuti brand2 lain nya. Secara karakter lensa ini terbagi menjadi dua:

  • Fish eye circular: distorsi di kedua arah vertikal dan horisontal
  • Fish eye diagonal: distorsi terjadi pada sisi horisontal saja..

Beberapa jenis lensa fish eye yang banyak digunakan:

  • Canon – 15mm f2.8 Fish eye
  • Canon – EF 8-15mm f/4L Fisheye USM
  • Nikon – Nikkor 10.5mm f/2.8G AF DX Fish-Eye Lens
  • SAMYANG 8 mm f/3.5 Aspherical IF MC dijual untuk pasar Eropa dengan nama Rokinon 8mm
  • Tokina 10-17 mm Fish eye
  • SIGMA 15mm f/2.8 EX DG FISHEYE

Continue reading MY Articles : Fish Eye Lens, By : Tedy

Fuji XF 27mm f2.8 – a quick review

Memanfaatkan promo yang ada di US + kedatangan sepupu ke Indonesia, saya akhirnya meminang XF 27mm f2.8 Pancake. Lensa ini namanya juga pancake design, so mungil dan tipis kayak pancake. Tapi waktu pertama kali saya memegangnya dan memasangkannya di X Pro1 saya, tetap saja amazed dengan betapa kecil dan mungilnya lensa ini. Saat lensa ini dipasangkan maka terasa bobot kamera tidak bertambah, maklum bobot lensa ini hanya 78 gram.

highres-Fujifilm-XF-27mm-lens-3_1375692480

Tidak seperti lensa XF lainnya maka ring aperture lensa ini tidak terletak di body lensa. Dengan menggunakan firmware terbaru pengaturan dipindahkan ke dial yang ada di belakang dekat LCD. Wajar mengingat tipisnya lensa ini.

Build lensa ini walau mungil tetap mengikuti standard XF, alias tetap baik dan tidak murahan (iyalah, harganya juga kagak murah hahaha). Filter size dan tutupnya relatif sangat kecil, 39mm – saya khawatir saya akan menghilangkan tutup lensa ini someday haha.

Continue reading Fuji XF 27mm f2.8 – a quick review

Fuji XF 10-24 Landscape Samples & First Impression

Weekend ini saya punya kesempatan membawa Fuji XF 10-24 dengan X Pro1 untuk pemotretan landscape. Berikut adalah beberapa sample nya (more to come di Flickr Gallery saya).

Sunburst in SanurFoto ini relatif Straight Out Of Camera / SOOC - terlihat kemampuan Fuji menghasilkan warna yang akurat 

(Aperture Priority - f22 iso200 0.2 seconds - Velvia Film Simulation - Daylight WB - GND Reverse 0.9x)
Mengening BaliDetil yang berhasil di tangkap XF 10-24 juga sangat memadahi. Warna hijau lumut yang ada tidak perlu saya angkat lanjut, sudah langsung jadi. Pada foto ini post pro saya lakukan untuk langit yang warnanya agak berubah karena GND 

(Aperture Priority - f16 iso200 1/10 seconds - Velvia Film Simulation - Daylight WB - GND Reverse 0.9x)

Secara umum saya puas dengan paduan lensa dan body ini. Warna dan kontras yang saya harapkan nampaknya sesuai. Walau memang Daylight White Balance di padukan dengan Velvia nampaknya bukan pilihan yang tepat pada kondisi twilight. Cenderung terlalu biru. Padahal di Canon saya biasa gunakan Daylight white balance hampir setiap saat.

Continue reading Fuji XF 10-24 Landscape Samples & First Impression

Focal Length vs Kompresi

Membaca artikel ini membuat saya jadi berpikir ulang mengenai mitos bahwa lensa tele membuat kompresi perspektif. Mitos ini menyatakan bahwa saat kita menggunakan lensa tele maka focal length ini menyebabkan ukuran foreground dan background relatif sama, atau disebut mengalami kompresi.

Sedangkan pada lensa wide, foreground tampak lebih besar dan background mengecil. Lagi lagi ini di mitoskan dikarenakan pengaruh focal length wide.

Lebih detilnya beserta contoh bisa di baca di artikel ini : http://admiringlight.com/blog/perspective-correcting-myth/

Tetapi buat yang bingung, saya summary :

    • Kompresi dikarenakan focal length sebenarnya mitos. Berapapun focal length yang kita gunakan sebenarnya kompresinya sama.
    • Tetapi yang membedakan adalah posisi kita berdiri vs foreground / background. Makin kita menjauh dari foreground maka ukuran foreground dan background akan makin mirip – kita melihatnya sebagai kompresi focal length.
    • Makin kita mendekat dengan foreground maka ukuran foreground akan makin membesar dibandingkan dengan background nya.
    • Hanya saja, focal length tele membuat kita menjauh … karena kalau tidak foreground tidak bisa masuk ke dalam ruang bidik. Sedangkan focal length wide membuat kita (secara fisik) mendekat dengan foreground.
    • Pergerakan kita inilah sebenarnya yang membuat perbedaan … bukan focal length yang kita gunakan

Jadi apa gunanya? Artinya kita bisa mendapatkan hasil kompresi yang sama dengan focal length yang berbeda, asal kita berdiri di posisi yang sama (dan tentunya melakukan cropping setelahnya).

PS : apakah DOF nya berbeda? Ya pastinya. *topik lain yang lebih memusingkan

Fuji 2014 Lenses Roadmap

pic_02_zps3ebd9e00

Sejauh ini Fuji sudah men-deliver sesuai dengan roadmap mereka, selisih selisih paling beberapa bulan saja. Hasilnya adalah saat ini Fuji sudah memiliki jajaran lensa yang sangat berkualitas di berbagai range. Kita tunggu makin lengkapnya koleksi lensa berkualitas Fuji (SAMBIL NABUNG CUYYYYY….)

Speed / Turbo Booster

Salah satu kendala yang sering dihadapi oleh pengguna sensor non full-frame adalah focal length yang ter-crop (sehingga tidak wide) dan/atau bokeh yang kurang nendang (karena area pinggir ter crop). Akibatnya orang berlomba lomba membeli DSLR / mirrorless full frame, dengan harga yang menjulang.

Metabone adalah salah satu perusahaan inovatif yang memanfaatkan kebutuhan ini. Awalnya mereka hanya memproduksi adapter sehingga lensa lensa tua / manual focus bisa digunakan di kamera moderen. Tetapi belakangan mereka mengeluarkan satu produk yang disebut dengan Speed Booster.

metabones-speedbooster-m43

Untuk memahami cara kerja speed booster ini maka kita bisa memahami nya sebagai kebalikan dari Tele Converter (TC).

Continue reading Speed / Turbo Booster

Guide to Choose Samyang / Rokinon Lenses

The-Phoblographer-Guide-to-Rokinon-Lenses-680x510

Lensa Samyang / Rokinon adalah lensa yang fenomenal. Dengan harganya yang murah, kualitas body dan image quality yang bagus, tetapi manual focus & aperture, jelas lensa ini bukan buat semua orang. So, review yang dibuat oleh PHOBLOGRAPHER ini bisa dijadikan patokan untuk memilih.

Untuk menggunakan lensa ini memang agak perjuangan. Karena seperti lensa manual umumnya, kita perlu membuka aperture ke maksimal dulu, melakukan focusing, baru melakukan step down ke aperture yang kita mau. Tanpa demikian maka viewfinder akan sangat gelap. Selain itu masalah lainnya adalah manual focusing.

Tapi kedua kendala di atas sebenarnya tidak terlalu masalah untuk lensa ultra wide / wide (dimana ruang tajam sangat lebar) atau pemotretan dengan obyek diam (misalnya arsitektur dan lanskap). So, buat yang ingin menggunakan lensa – lensa ini bisa start dengan lensa ultra wide / wide nya terlebih dahulu. Relatif mudah untuk digunakan, walaupun manual focus.

Saya pribadi ingin menggunakan 14mm nya semenjak dulu. Belum kesampaian juga haha. Sampai akhirnya malah beli Sigma 10-24 DG.

 


More samples of XF Lenses

Sebagian MY-ers ada yang bingung mungkin kenapa saya doyan sekali meracuni soal Fuji (dulu NEX). Sebenarnya tidak ada niat meracuni, hanya saja saya senang share sesuatu yang saya sendiri suka / percaya. Pada saat awal menggunakan NEX paradigma saya adalah beralih dari DSLR ke mirrorless. Saat itu mirrorless belumlah digunakan secara umum. Banyak yang masih bahkan belum sadar ada mirrorless. Saya ngomong banyak soal mirrorless (NEX dalam hal ini) karena keunggulannya dibandingkan DSLR. Yaitu masalah portabilitas nya, nyaman di bawa traveling dan juga tidak mencolok mata.

Dengan berjalannya waktu akhirnya mirrorless bisa lebih diterima. Beberapa orang akhirnya percaya bahwa masa depan DSLR bisa digantikan mirrorless (walau belum sekarang saatnya). Beberapa orang turut mencoba mirrorless. Bahkan beberapa orang, karena kebutuhannya, meninggalkan DSLR sepenuhnya.

Saya belakangan banyak bicara soal Fuji karena memang saya menggunakannya dan saya suka dengan hasilnya. Saya tidak lagi membandingkan DSLR dan mirrorless, tapi lebih Fuji vs mirrorless lainnya. Yang masih belum percaya soal mirrorless silahkan minggir dulu hehe. Fuji buat saya walaupun mahal memberikan hasil yang lebih daripada yang diberikan mirrorless lain. Baik secara build, ergonomi (menu NEX sungguh bikin frustasi), image quality, tone, etc. I love it …. seperti banyak yang sudah mencoba X series mencintai nya. Mungkin pengguna Fuji belum lah banyak dibandingkan mirrorless lain, tetapi hampir selalu yang mencoba nya jatuh cinta.

Berikut adalah beberapa sample lain dari penggunaan lensa XF di Fuji X Pro 1. Full resolution nya bisa di lihat di Flickr dengan meng-klik foto yang ada di bawah, lalu click kanan dan pilih original size.

———————

XF 35/1.4 – lensa legendaris ini memang tokcer, hasilnya tajam sekali dan bokehnya tetap ber karakter. Ukurannya yang mungil membuat lensa ini jadi pilihan utama untuk di bawa bawa traveling. Foto ini di jepret di f1.4 – iso200 – 1/1400 secs – Provia Film Simulation – Straight Out of Camera (SOOC)

The Pillars

 

XF 14mm/2.8 – lensa ini punya teman sebenarnya, karena saya masih menunggu lensa 10-24mm saja nanti. Foto ini sendiri tidak sempurna, karena saya tidak bisa menggunakan tripod (dan dengan demikian iso rendah) dan GND. Maklum, foto ini di jepret tanpa sengaja setelah saya terbangun di pagi hari dan melihat sunrise indah ini di jendela apartemen saya. f8 – iso1250 – 1/30secs – Provia Film Simulation – Post Pro on Photoshop

Continue reading More samples of XF Lenses

Fuji XF 23mm & 14mm samples

Berikut adalah beberapa sample penggunaan dari lensa XF 23mm f1.4 dan XF 14mm f2.8 (body X Pro1). Silahkan click untuk resolusi 1280 pixel max (maaf gak gede gede amat … habisin storage server).

 

XF 23mm f1.4

Sample-23-DSCF1667

23mm – f1.4 iso400 (auto) 1/240secs – BW film simulation + S-Curve for contrast in Photoshop
 

Sample-23-DSCF1593

23mm – f1.4 iso200 (auto) 1/34secs – Standard Provia film simulation
 

Sample23-DSCF1671

23mm – f1.4 iso400 (auto) 1/100secs – BW film simulation + S-Curve for contrast & Vignette in Photoshop
 

Overall : 

  • Focal length yang mantap untuk street, must have kalau suka street style. 35/1.4 agak terlalu tele dan ketat untuk memasukkan scene dalam foto. 23mm ini pas sekali.
  • Body mantap, as always with XF lens, all metal. Ukurannya memang agak besar, tapi masih pas – walau saya berharap sedikit lebih kecil lagi, seperti XF 14mm lah
  • Ketajaman optik mantap, warna jozz (lihat yang contoh warna no.2), bokeh halus, very nice transisi nya. Smooth like butter.
  • Apakah XF23/1.4 atau X100? Mengingat harganya mendekati. Kalau butuh body tambahan dan tidak butuh f1.4 (merasa cukup dengan f2) maka bisa pilih x100 saja. Tapi ingat bahwa di APS-C sensor maka bokeh berkurang ya, f1.4 milik XF23mm ini paling setara sekitar f2. Sedangkan f2 hanya setara dengan f2.8 di Full Frame.

 

XF 14mm f2.8

Sample-14-DSCF1702

14mm – f2.8 iso200 (auto) 1/40secs – Standard Provia film simulation + Vignette in Photoshop

 

Sample-14-DSCF1705

14mm – f2.8 iso250 (auto) 1/30secs – Standard Provia film simulation