Tag Archives: landscape photography

Pentingnya kontras dalam fotografi lanskap

Ada beberapa rekan menanyakan bagaimana membuat foto lanskap yang tajam/sharp menggigit. Apakah ini berhubungan dengan perangkat yang digunakan? … hemmmm … ya, sedikit banyak berpengaruh, tapi faktor yang utama adalah teknik yang benar dan kontras yang cukup.

Teknik yang benar sudah dibahas dalam buku fotografi lanskap motoyuk (bisa di beli di Gramedia). Ini berhubungan dengan penggunaan aperture, shutter speed dan iso yang tepat. Berhubungan pula dengan penggunaan tripod untuk shutter speed yang lambat.

Nah, kalau kontras? Coba lihat foto di bawah ini :

NORAH HEAD_HDR_BEFORE
Norah-Head-HDR-FINAL

Foto yang bawah nampak lebih tajam? Ya, salah satunya karena kontras yang memadahi.

Tonal contrast adalah seberapa jauh berbeda antara area paling terang dan paling gelap di foto. Foto dengan contrast rendah akan terlihat seperti memiliki selaput, dan akibatnya di persepsikan kurang tajam. Foto dengan kontras terlalu tinggi juga tidak bagus karena terlihat kasar. Kontras harus pas.

Continue reading Pentingnya kontras dalam fotografi lanskap

Just Before Sunset – Ujung Genteng Jan 2011 #6

Beberapa jam sebelum sunset adalah saat yang sangat menarik buat fotografer landscape. Hal ini karena :

  • Pada jam 16.00 – 17.30 inilah saat dimana sinar matahari umumnya bersinar cukup terang tetapi teduh. Nyaman untuk pemotretan human interest maupun juga landscape, walau tanpa tripod sekalipun.
  • Pada jam ini pula matahari masih cukup bersinar sehingga kita bisa “scouting” area untuk mengenali & mencari area pemotretan yang tepat

Jangan sia-siakan momen ini. Datanglah lebih awal, potret sesekali sembari mencari lokasi pemotretan pada saat sunset yang tepat.

Hal yang sama kami lakukan saat di ujung genteng. Area pantai barat yang menjadi lokasi sunset yang kami pilih sudah kami jelajahi sejak jam 4 sore. Saat menjelajah itu kami mencoba memahami mana area yang akan bagus difoto pada saat sunset, kemana arah matahari tenggelam, dari sudut mana akan indah di foto, di lokasi mana ada foreground yang bagus, dll. Salah satunya saya memotret tumbuhan laut yang nampak jelas saat air surut di pantai barat tersebut.

Canon 5dMarkII + 17-40 f4 L @ 17mm | Apperture Priority @ f22 | 1/2 secs | ISO100 | Daylight WB | Standard Pics Style +4 saturation | GND HE 0.9x | CPL | Tripod | Canon DPP for Raw Convertion & Cropping

Filter GND sudah jelas dibutuhkan untuk menyeimbangkan background dan foreground. Sedangkan CPL saya gunakan untuk mengurangi refleksi pada permukaan air, sehingga foreground terlihat lebih nyata. Tripod? Sudah pasti harus digunakan dengan shutter speed yang saya peroleh.

Ingatlah untuk segera mencuci & mengeringkan tripod yang kita gunakan. Air laut cenderung “jahat” dengan meninggalkan noda, atau bahkan membuat karat di area tripod yang masih terbuat dari besi, misalnya pada mur-baut yang digunakan di tripod. Kebanyakan batang tripod dewasa ini sudah terbuat dari alumunium atau bahkan serat karbon, sehingga tidak perlu terlalu khawatir dengan karat, tapi perlu sedikit khawatir dengan noda garam.

Continue reading Just Before Sunset – Ujung Genteng Jan 2011 #6

Different Angle – Ujung Genteng Jan 2011 #3

Saat saya pertama kali memotret sunrise di pantai timur ujung genteng maka saya mengambil lokasi & view yang “standard”. Yang saya maksud standard adalah yang paling mudah & paling sering fotografer / orang lain gunakan. Yaitu turun dari tempat pelelangan ikan, lihat ada kapal-kapal disana, jepret.

Canon 5dMarkII + 17-40 f4 L | Av Mode | 19mm | f14 | 30 secs | ISO250 | EV0 | Tripod | GND Hard Edge 0.9x | Daylight White Balance | Standard Pics Style | Canon DPP for Raw Processing | Adobe Photoshop for additional contrast & saturation

Ada masalah? Tidak juga sih. Akan tetapi foto yang dihasilkan bisa jadi mirip dengan yang fotografer lain hasilkan. Dalam foto diatas hasilnya adalah foto kapal & slow shutter sehingga ombak di pantai nampak halus. Banyak juga fotografer yang sudah jepret view ini mungkin. Bedanya mungkin hanya langit & cuaca yang memang tidak akan pernah sama.

Oleh sebab itu saya coba mencari perspektif lain. Mulai dari mencoba jongkok, mencari foreground di pantai (misalnya kerikil pantai, karang, dll). Sampai akhirnya saya mencoba memotret menggunakan ujung kapal sebagai foreground. Dipadu dengan GND maka warna biru cerah dari ujung kapal ini bisa terlihat dengan jelas.

Parameter pemotretan : Canon 5dMarkII + 17-40 f4 L | Av Mode | 17mm | f16 | 1/15 secs | ISO125 | EV0 | Handheld | GND Hard Edge 0.9x | Daylight White Balance | Canon DPP for Raw Processing | Standard Pics Style | Adobe Photoshop for additional contrast & saturation

Wah, sepertinya saya suka dengan percobaan kali ini. Nampak hidup & unik fotonya. Maka saya lanjutkan dengan memanjat ke atas kapal tersebut dan memotret dari angle yang sedikit beda dan format landscape. Continue reading Different Angle – Ujung Genteng Jan 2011 #3

Mendung Tak Selalu Berarti Hujan – Ujung Genteng Jan 2011 #2

Hari pertama saat kami tiba di Ujung Genteng cuaca tidak terlalu bersahabat buat fotografer, walau sangat bersahabat buat traveler, mendung tipis & suasana sejuk. Buat para landscaper ini cuaca yang tak menyenangkan, langit terlihat flat. Foto landscape juga akan kehilangan keindahannya. Itulah yang terjadi waktu memotret pertama kali di lokasi ini. Untunglah masih ada sedikit semburat biru di langit yang bisa di tangkap dengan baik oleh Canon 5d Mark II + 17-40 f4 L yang dibantu Hitech GND filter Hard Edge 0.9x.

Parameter pemotretan : Apperture Priority | f16 | 1/50 secs | ISO100 | 17mm | EV+1/3 | Hyperfocals Distance | GND HE 0.9x | Canon DPP for Raw Convertion + Adobe Photoshop for Additional Sharpening & Saturation

Siluet orang di kejauhan membantu keseluruhan foto ini karena memberikan elemen manusiawi pada foto landscape. Selain itu juga memberikan skala pada foto. Bebatuan hijau sudah pasti memiliki karakter warna tersendiri yang melengkapi warna langit yang biru dan pasir yang kekuningan.

Continue reading Mendung Tak Selalu Berarti Hujan – Ujung Genteng Jan 2011 #2

Sunrise & Sunset @ Vietnam

Coba bongkar arsip lama, well sebenarnya sejuprek file RAW hasil pemotretan kunjungan ke Hanoi yang belon sempat diproses. Ternyata ada saja foto yang bagus yang belum diproses.

Foto ini sendiri diambil saat sunrise, diatas deck kapal yang berlabuh di HalongBay. Bangun pagi sebenarnya merupakan siksaan di saat liburan. Tapi demi sunrise apa boleh buat hehe. Sayangnya memang sunrise sedang tidak optimal karena kabut dan mendung. Waktu kedatangan saya waktu itu memang kurang tepat karena langit kurang bersih.

Saya pribadi memang lebih menyukai sunset dibandingkan dengan sunrise. Dengan sudut datangnya cahaya yang berbeda sunset memberikan warna-warna yang lebih indah, dan relatif lebih photographer-friendly karena berlangsung lebih lama. Sunrise cenderung berlangsung hanya sekitar 5 menit, sedangkan sunset bisa sampai 15 menit. Tapi memang sunrise memiliki kelebihan karena sekitar 30 menit setelahnya di arah sebaliknya umumnya langit biru sangat indah.

Foto yang ini diambil saat sunset di CatBa Island. Pulau ini merupakan salah satu pulau terbesar di HalongBay, dan tentunya berpenghuni paling banyak. Hotel dan restoran juga banyak dibangun disana, so cukup nyaman untuk ditinggali. Yang indah adalah pelabuhannya menghadap ke barat, sehingga pemandangan matahari terbenam tiap sore dapat dilihat apabila cuaca memadahi.

MOTO YUK!!!


The right Apperture set for landscape

Landscape photography bicara mengenai foto yang tajam dari ujung ke ujung. Seperti telah saya tulis di artikel mengenai hyperfocals technique, penggunaan apperture yang sempit (misalnya f22) akan memaksimalkan hyperfocals distance yang dapat kita peroleh. Artinya, obyek yang masuk kategori tajam akan makin luas cakupan area-nya. Mencapai 12 cm s/d infinity di lensa 10mm + kamera dengan sensor APS-C.

Tapi memaksimalkan depth of field dengan menggunakan apperture sempit dan kepadatan resolusi (jumlah pixels yang makin meningkat pada sensor dengan ukuran yang sama) memiliki efek yang dikenal dengan lens diffraction. Difraksi inilah yang akhirnya menurunkan ketajaman foto yang kita ambil.

Difraksi lensa ini bisa dihitung secara matematis, berbeda untuk tiap kamera (karena merupakan kombinasi antara besarnya ukuran sensor dan Pixel yang digunakan). Untuk tahu limit difraksi dari kamera Canon anda bisa coba lihat di review kamera di web digital photograhy. Misalnya untuk Canon EOS 50D batas difraksinya adalah f7.6, artinya diatas f7.6 difraksi lensa akan mulai terjadi. Secara teoritis ketajaman gambar pun akan mulai menurun. Sedangkan di Canon EOS 5D Mark II karena ukuran sensornya lebih besar maka batas nya adalah f10.3.

Tentunya dengan teknologi yang terus dikembangkan oleh produsen kamera maka efek difraksi ini bisa diminimalkan. Ini misalnya dicapai dengan penggunaan teknologi micro-gap di sensor Canon yang terbaru. Jadi perhitungan Diffraction Limit Apperture (DLA) diatas tidaklah sepenuhnya tepat.

Jadi berapa apperture yang harus digunakan? Tidak ada rumus pasti. Yang jelas anda perlu tahu efek penggunaan apperture yang sempit, baik dalam hal penambahan depth of field maupun ketajaman gambar. Dengan demikian kita bisa memilih apperture yang tepat dengan situasi.

Tapi bagi saya pada pemotretan landscape dengan Canon EOS 40D (DLA : f9.3) saya biasa menggunakan f8 s/d f16. Saya mulai jarang menggunakan f22 kecuali saya membutuhkan hyperfocal distance sampai dengan 12cm di depan lensa. Pada f8 bahkan sudah cukup luas depth of field nya.

MOTO YUK !!!