Tag Archives: komposisi

Memaksimalkan angle pemotretan lanskap

Salah satu teman saya pernah tanya, kalau motret lanskap di satu tempat cari angle nya gimana? Haruskah begitu ketemu angle yang “pas” nongkrong aja di situ menunggu sunrise/sunset nya? Hemmmm … kalau iya begitu sih di satu lokasi hasilnya cuma 1 foto, dengan background yang berbeda sedikit saja.

Salah satu “kesalahan” landscaper pemula adalah : tidak bergerak dari satu lokasi.

Tamarama 02

Penyebabnya bisa banyak hal sih. Di antaranya :

  1. Teknis belum paham – jadi di satu lokasi ubah setting bolak balik, gak jadi jadi juga. Ubah aperture, ubah iso, ganti filter, mbulet aja terus. Obat untuk penyebab yang ini ya cuma satu : pahami betul basic fotografi & pengoperasian kamera/aksesoris mu. Jadi mau nya apa bisa cepat setting nya.
  2. Kehabisan ide buat angle pemotretan – nah ini gawat, karena susah obat nya. Coba beberapa tips berikut : contek karya orang lain dulu dalam hal angle pemotretan, lakukan survey lokasi pada saat terang / gunakan senter, pikirkan mengenai dasar komposisi (misalnya pattern, garis, point of interest, dll)
  3. Malas – Nah ini ada aja, sudah “PW” – posisi wuenakkk … jadi pasang tripod dan kamera dan udah nongkrong di situ selama 15-45 menit. Obatnya : moto yang lain aja, jangan landscape hahaha
  4. Gak bisa bergerak lincah di kegelapan / outdoor – memang moto lanskap itu butuh kelincahan karena sering moto nya di alam, misalnya di pantai berkarang yang mungkin licin dll. Obatnya : olahraga ya … haha, biar lincah. Pakai senter yang terpasang di kepala biar mudah bergerak juga.
Tamarama 05

Continue reading Memaksimalkan angle pemotretan lanskap

Sharing itu tidak sebatas EXIF

Ada sedikit kesalahpahaman bahwa di motoyuk semua foto harus di sertai EXIF (data mengenai kamera, aperture, shutter speed, iso, dll). Yang tepat sebenarnya adalah di motoyuk foto perlu disertai sharing, karena motoyuk adalah keluarga pembelajaran fotografi. So semua perlu share mengenai apapun mengenai foto yang diambil. Kadang EXIF adalah sharing yang relevan, tapi kadang mungkin bagaimana setting lighting, atau mungkin juga bagaimana setting stage nya atau bahkan wardrobe nya. Apapun yang dirasakan relevan buat pembelajaran teman motoyuk lainnya.

Kenapa tidak hanya EXIF … coba jujur, apakah dengan setting kamera sesuai dengan exif yang di nyatakan akan memungkinkan kita menghasilkan foto yang sama? Tidak juga. Karena fotografi itu tidak sekedar exif. Ada unsur komposisi, jenis kamera yang digunakan dan karakter nya, lokasi + date-time nya, post processing, interaksi dengan model, dll. Banyak sekali. So sekedar EXIF tentunya sangat minimal.

Sama halnya dengan foto di bawah ini :

Austinmer

Ya, foto di ambil dengan Sony a7r + 16-35mm pada 17mm f11 iso100 2 detik. Menggunakan NISI GND Reverse 0.9 + NISI CPL + Nisi v5 holder.

Continue reading Sharing itu tidak sebatas EXIF

MY Articles : Balance Composition, By : Tedy

Seimbang atau balance dalam sebuah komposisi tidak sama dengan harus simetris. Simetris pasti balance, tetapi balance tidak selalu simetris. Simetris adalah permainan bidang yang seimbang antara sisi kiri dan kanan.

Dalam dunia seni rupa dikenal dua konsep kesimbangan yaitu konsep simetris dan asimetris. Simetris tentunya lebih formal dengan konsep titik sumbu di tengah membagi dua sama rata dan sama berat, komposisi simetris lebh mudah dipahami oleh pikiran kita karena secara kodrati manusia sendiri terlahir simetris.

82

Simetris ini berlaku utuk objek2 arsitektur jaman tradisional, contohlah istana raja2 cenderung bangunan nya simetris antara sisi kiri dan kanan. Penerapan dalam photography tentunya mudah untuk bangunan seperti ini, Anda tinggal menuju di titik tengah membagi dua bidang kiri dan kanan lalu capture it…. aman dan mudah. Simple sekali. Secara teori ini mengakibatkan bangunan menjadi lebih cenderung monoton, terbatas dan agak kaku. Komposisi keseimbangan akan menjadi dinamis ketika Anda merubah angle terhadap gedung yang foto menjadi angle membentuk perspektif 2TH.

Continue reading MY Articles : Balance Composition, By : Tedy

Sudut alternatif

Dalam pemotretan selain exposure, maka angle / komposisi adalah aspek yang sangat penting. Foto jadi terasa berbeda atau tidak dipengaruhi signifikan oleh angle yang digunakan. Apabila angle nya sejuta umat maka cenderung sulit untuk membuat impresi.

Saya mau sharing pengalaman waktu ke Todaiji Jepang (Nara area). Kuil ini sangat terkenal, jadi tidak heran semenjak pagi pagi saat dia dibuka pun sudah sangat ramai. Sungguh sulit untuk memperoleh clean shot di area turis begini. Tantangan utama pemotretan travel.

Kalau saya mengikuti angle sejuta umat yang biasa saja, maka saya akan masuk ke dalam kuil dan memotret dari kejauhan.

Sample2

Angle sejuta umat …. mundur sedikit dapat framing, so agak sedikit tidak sejuta umat, tapi masih seribu umat mungkin

sample3

Continue reading Sudut alternatif

Going Low Angle … Part 2

Nature_DSC01702-web Banyak yang tanya apakah foto di post sebelumnya menggunakan flash? Menurut my-ers bagaimana?

Hehe … foto ini tidak menggunakan flash / strobist. Melainkan dia memanfaatkan beberapa komponen :

Cahaya matahari : cahaya matahari terakhir kebetulan sudutnya masih memungkinkan untuk menyinari rumput yang ada – tidak sekedar menyinari melainkan menyinari dari belakang (backlight). Kondisi rumput yang tembus pandang membuat sinar matahari tersebut memendarkan daun daunnya.

Apabila cahaya nya dari depan (matahari di belakang saya) maka karakter warnanya akan berbeda, yaitu cahaya nya memantul. Demikian pula kalau kita menggunakan flash dari depan. Kalaupun kita ingin mengulang scene ini menggunakan flash maka sebaiknya peletakan flash juga dalam kondisi backlight. Sehingga tidak memunculkan pantulan pada permukaan rumput.

GND Reverse : tanpa GND tentunya kita tidak bisa memunculkan dynamic range seperti dalam foto ini. Antara harus memilih rumputnya seperti ini tetapi langit putih semua (over exposed), atau kebalikannya langitnya seperti pada foto di samping, tetapi rumputnya hitam semua. Peran GND sangat besar.

Jenis GND yang digunakan juga Reverse, bukan Soft Edge atau Hard Edge. Keduanya dalam kasus ini tidak akan kuat mengangkat detil pada rumput, karena matahari di tengah horizon sangat kuat cahaya nya. Kita masih mungkin mendapatkan hasil yang mirip dengan menggunakan type Hard Edge, tetapi dengan post processing (dodging) lebih banyak. Tetapi soft edge tidak akan mampu membantu mengangkat detilnya, karena di area tengah area hitamnya terlalu lemah.

Post processing : Foto ini jelas bukan hanya kerjaan kamera dan GND dan lain lain. Dynamic range setinggi ini sulit sekali diperoleh langsung dari kamera. Jadi proses dodging (memperterang) area rumput dan burning (menggelapkan) area langit adalah hal yang perlu dilakukan. Tanpanya maka foto akan jauh lebih flat / kurang dinamis. Sebagai fotografer digital paling tidak proses burning dan dodging wajib bisa dilakukan.

Semoga membantu menerangkan ….

motoyuk signature white




Going Low Angle – With SEL 10-18 f4 OSS for NEX

Salah satu trik komposisi dalam lanskap adalah menggunakan low angle. Tapi apakah benar low angle ini bisa bermanfaat? Lalu seberapa low yang kita butuhkan? Kita coba lihat perbandingannya, sebelum akhirnya saya ambil super low angle untuk foto ini :

Nature_DSC01702-web

PS : Semua foto di jepret menggunakan Sony NEX 5n + SEL 10-18mm f4 OSS pada 12mm. Saya gunakan 12mm karena saya menggunakan UV filter + GND Holder, apabila dipaksakan pada 10mm maka akan muncul vignette sangat kentara di sudut sudut foto. GND filter yang saya gunakan adalah jenis GND Reverse 0.9x

Semua foto juga sudah di post processing menggunakan Adobe Photoshop untuk meningkatkan dynamic range dari foto. Yaitu dengan melakukan dodging pada area foreground, dan burning pada area langit – terutama di area matahari terbenam. Untuk foto final saya juga tambahkan saturasi dan vibrance tools selain sedikit burning di beberapa area.

Continue reading Going Low Angle – With SEL 10-18 f4 OSS for NEX

MY-ers Articles : Angle Terbaik ada 1 Meter di Dekat Kita, By : Arif K

Setelah membaca buku THE PHOTOGRAPHER’S MIND karangan Michael Freeman, saya terinspirasi untuk belajar lebih banyak soal komposisi. Dari buku itu saya pelajari jika komposisi dalam foto landscape bergantung pada posisi dimana kita mengambil gambar (baca: angle) dan terkadang angle terbaik hanya ada satu meter dari tempat kita memotret.

…..

Menjelang akhir tahun saya mengambil cuti liburan ke Yogyakarta dan sudah saya niatkan untuk landscape-an. Awalnya sih mau motret di pantai Indrayanti, tapi karena terhambat waktu dan jarak akhirnya saya putuskan untuk memotret di candi Ratu Boko yang berlokasi tidak terlalu jauh dari candi Prambanan. Sebelumnya saya coba browsing di Google dan melihat sendiri kalau sepertinya sudah punya angle sejuta umat. Yang saya maksud adalah foto candi dalam bentuk siluet dengan background langit senja.

Awalnya saya tidak mengerti kenapa para fotografer gemar sekali memotret Ratu Boko dalam siluet. Setelah melihat dengan mata kepala sendiri akhirnya saya paham, ternyata banyak sekali orang yang duduk atau berfoto di depan candi di saat matahari terbenam. Menghilangkan para pengunjung di Photoshop pasti menjadi pekerjaan rumah yang menyiksa, makanya mereka lebih memilih untuk memotret dalam siluet. Anehnya, saya merasa harus punya juga satu frame angle sejuta umat ini… hehehe..

angle sejuta umat

 

Setelah memenuhi kewajiban untuk punya frame siluet, saya coba melihat sekeliling dan menemukan tumpukan batu yang menarik untuk diambil sebagai foreground dan kebetulan langit masih berwarna kuning keemasan, maka saya coba ambil satu-dua frame disana dan hasilnya:

Continue reading MY-ers Articles : Angle Terbaik ada 1 Meter di Dekat Kita, By : Arif K

Street Photography @ Ancol

Terinspirasi dari eBook (free download) Thomas Leuthard mengenai street photography maka saya dan teman-teman di MotoYuk!!! berusaha mencoba di Ancol. Kenapa Ancol? Karena area ini relatif area turis dimana foto-foto bebas dilakukan. Orang yang berkunjung kesana juga dari berbagai kalangan yang pastinya memperbesar kemungkinan menghasilkan foto yang unik.

Street Photography adalah foto candid perjalanan / human interest / dll yang bercerita mengenai kondisi di lapangan secara langsung. Tanpa setup, tanpa pengarahan gaya, tanpa aba-aba … pure what it is in the street. Banyak yang bilang “Ahhhhh, di Indonesia mah susah, bisa di gaplok orang …”. Hal yang sama terlintas di pikiran kami, tapi tentunya kami tidak ingin ter-intimidasi hanya dengan hal seperti ini. Saya merasa dengan teknik yang benar maka kita bisa melakukannya bahkan di Indonesia. Jangan bilang takut / tidak bisa sebelum mencoba itu prinsip saya.

Saya sebenarnya ingin menggunakan lensa 85mm seperti yang digunakan oleh Thomas (dia menggunakan lensa 50mm pada crop factor 1.5x = 75mm). Tapi apa daya, tidak ada lensa segitu, so saya pakai lensa makro 100mm f2.8 saya. Lensa ini di setting di f4 (agar dof tidak terlalu tipis, tapi masih menghasilkan background blur). Sisanya saya set auto. Hal ini untuk mempercepat respons di lapangan.

Continue reading Street Photography @ Ancol




A Photographer’s Eyes

Belajar teknik itu penting, tanpa teknik fotografi yang benar maka foto yang dihasilkan antara : hoki (kadang bagus, kadang nggak – atau yang diinginkan gimana, hasilnya gimana, kalau hoki ya bagus deh jadinya) atau plain (foto kayak pemula motret pake kamera pocket – biasa aja dan tidak ada yang unik) atau kacau (terang dan gelap tidak teratur, acak-acakan).

Belajar komposisi juga penting, tanpa komposisi yang menarik maka foto juga akan jadi “just another photo“. Fotonya biasa saja, tidak unik, tidak menggugah, tidak menarik untuk dibicarakan pula. Komposisi bahkan merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam belajar fotografi (dan seni pada umumnya). Kenapa? Karena kalau teknik si kamera bisa di otomatis kan (mode otomatis, auto iso, auto aperture, auto segala macam dah), tapi tidak dengan komposisi. Pernah dengar kamera yang auto compose? Tidak rasanya hahaha.

Tapi tahu teknik komposisi dan tahu mengaplikasikannya di lapangan adalah 2 hal yang sangat berbeda. Seringkali obyek yang bisa menjadi foto yang indah tidaklah ber-label FOTO AKU!!! SEKARANG!!! . Obyek yang seperti ini seringkali tersembunyi dari pandangan mata biasa. Lihat foto bunga di atas … obyek foto ini ada di kerumunan bunga yang jadi hiasan di sepanjang travelator di bandara soekarno hatta. Dilihat dengan cara pandang biasa? Tidak ada yang spesial … SUMPAH!!!

Atau foto berbagai macam bangku (dan bagian-nya) ini, foto pertama adalah jajaran bangku di bandara changi, singapore. Memang bangku ini baru, tapi sungguh tidak ada menariknya kalau dilihat biasa, seringkali malah kita kelewatan tidak melihatnya karena buru-buru ingin ke imigrasi dan ambil bagasi (demi foto di kota singapura-nya ….)

Foto kedua adalah lekuk bagian belakang dari sebuah kursi meja di restoran. Spesial? Tidak sama sekali … restorannya juga biasa saja koq. Hanya saja lekuknya yang menarik dengan cahaya dari samping, ditambah dengan penggunaan lensa yang “menyembunyikan” bagian kursi lainnya yang kurang menarik membuatnya spesial.

Semuanya tersembunyi dari mata biasa. Tapi justru karena tersembunyi seringkali foto-nya bisa menjadi menonjol, terasa “wah”, terasa berbeda, dll. Jadi yang dibutuhkan oleh seorang fotografer bukan hanya teknik, bukan hanya teori komposisi, tapi terlebih adalah “A Photographer’s Eyes“.

“Mata” seperti ini tidak bisa diperoleh dengan cara belajar teori. Apalagi dengan transplantasi mata. Karena mata disini adalah kombinasi dari banyak hal :

Pikiran Kreatif

Ujung awal-nya tidak lain adalah otak kita. Apa yang kita bayangkan, yang ingin kita sampaikan, yang ingin kita tampilkan.

Misalnya foto disamping ingin menyampaikan pesan bahwa si turis mengagumi foto yang di foto-nya. Eh kebetulan pula turis tersebut memakai topi ala koboi amerika dan yang di foto adalah foto Barrack Obama dengan hiasan wajah bendera Amerika. Suatu kebetulan? Ya mungkin, tapi itulah cara fotografer menyampaikan pikirannya.

Bagaimana melatih pikiran kreatif? Sama halnya dengan melatih kreatifitas … mencoba terbuka dengan segala macam hal baru. Mencicipi dan mengalami berbagai pengalaman baru akan membuka pikiran kita sehingga lebih berani untuk berpikir di luar “norma” dan menjadi “thinking out of the box”.

Jadi awalilah fotografi dengan berusaha menjadi kreatif juga. Coba berbagai hal baru, termasuk berbagai genre fotografi. Serap dan cerna semua pengalaman baru, niscaya kreatifitas akan masuk ke dalam dirimu. Coba lihat dan nikmati puluhan foto tiap hari demi menambah “database” keindahan dan komposisi di otak mu. Kunjungi website seperti fotografer.net, fineart-portugal.com, 500px.com, 1x.com dll demi perbendaharaan komposisi dan keindahan foto. Jangan takut pula menghamburkan shutter count dari kamera-mu, pelajaran yang diperoleh akan jauh lebih berharga dibandingkan harga ganti shutter.

Continue reading A Photographer’s Eyes

Materi Sharing Komposisi – Ujung Genteng May 2011

Karena ukuran file powerpoint yang besar maka di bagi jadi beberapa bagian. Dibutuhkan Microsoft Powerpoint 2010 untuk membuka file ini. Enjoy …

komposisi Part 1

komposisi Part 2

komposisi Part 3

komposisi Part 4

komposisi Part 5