Tag Archives: kids

Full Resolution Files – dari Fuji X Pro1 dan XF 35mm f1.4

Buat yang doyan melototin full resolution 100% (yang kadang gak terlalu penting) dari kamera dan lensa, silahkan saya upload beberapa file nya di Flickr saya berikut ini.

FULL RESOLUTION FLICKR ALBUM

Memang tidak sepenuhnya bisa digunakan sebagai perbandingan karena ini foto bukan dalam kondisi pencahayaan terkontrol (studio dengan tripod dll) sehingga iso bisa serendah mungkin dan tidak ada shake / miss-focus. So, mohon dipahami kalau ada sedikit shake atau noise dll begitu sudah di zoom 100%.

Tapi ini masuk akal menurut saya, karena ini foto real di lapangan. Kondisi indoor tetapi masih ada cahaya yang memadahi. Dimana subyek juga tidak duduk diam seperti patung. Bukankah ini fungsi utama kamera kita nantinya? Hehehe… semua foto dibuat dengan wide open (f1.4) dan Sharpness +1 di kamera – semua Straight out of Camera (SOOC)

Yah, paling tidak memenuhi hasrat buat mereka yang penasaran kenapa saya jatuh cinta dengan Fuji X Series hahaha.

PS : untuk melihat EXIF dan juga full resolution image bisa click di kanan bawah foto tersebut di Flickr (…)

“Music” Learning Challenge

Kali ini learning challenge yang di usung temanya sangat unik … dan menantang? Temanya … MUSIC

Wow, jelas ini bikin kita mikir karena musik sendiri bukan obyek fisik, melainkan obyek audio. Jadi untuk mem-visualkannya butuh ide kreatif. Apakah musik berarti alat musik? Orang yang sedang bermusik? Atau justru sesuatu yang sama sekali terlihat tidak berhubungan …. foto alam dengan deskripsi “Music of the Nature” ?

Ide learning challenge ini datang dari pemenang learning challenge “Kids / Children” sebelumnya … Soo Sing Goh. Fotografer hobiist asal Singapura ini sudah lama menetap di Indonesia. Kebetulan nasib mempertemukan dengan Motoyuk.

Foto ini diambil dengan parameter teknis : Nikon d600. 16mm; F8; ISO100; 1/320; Exposure +2

Yang unik adalah walaupun obyek utama nya backlight tetapi detilnya tetap sempurna. Hal ini menurut Soo Sing Goh dikarenakan spot metering yang dilakukan pada anak yang melompat. Sehingga tidak terlalu over exposed. Selain itu tentunya ini terbantu dengan dynamic range dari D600 yang memang outstanding. Plus penggunaan RAW memungkinkan untuk mengangkat detilnya lebih jauh.

Have fun dalam learning challenge selanjutnya …..

 

“Kids & Children” Learning Challenge

Minggu lalu penuh dengan foto cantik dengan BW yang kental. Saya suka dengan foto BW karena karakternya yang kuat, pattern dan gradasi warna akan terlihat nyata. Eric Bonkhz memiliki foto yang sangat kuat … efek repetisi, dipadu dengan pencahayaan dan obyek yang unik.

Serenity
1/3200 sec at f1,8, ISO 3200, 35 mm

Berikut adalah salah satu keterangan yang di share di FB oleh Eric : “awalnya liat patung ini menarik kalo ditampilkan secara syahdu, jd lingkungan sekutar biar ilang dipake mode TV dgn tujuan hanya patung yg terlihat. Kebetulan pake live view jd bisa setel visualisasinya yg kita mau. Itu hrsnya iso bs diturunin biar hasil foto lbh halus lg, tp telanjur pake auto euy”

—–

Untuk Learning Challenge berikutnya topik yang dipilih oleh Eric sebagai pemenang challenge sebelumnya adalah “Kids / Children

Pemotretan anak – anak tidaklah mudah. Mengingat mereka sangat ekspresif, sulit di suruh pose (malah jadi tidak natural) dan sangat aktif. Beberapa kunci pemotretan jenis ini adalah :

  • Coba gunakan berbagai sudut pandang. Tidak hanya memotret dari atas (sembari kita berdiri) tetapi juga dengan berjongkok. Posisi ini meletakkan kita sejajar dengan posisi anak anak, yang cenderung menampilkan anak apa adanya. Sudut pandang atas akan menampilkan foto yang lebih superior
  • Gunakan shutter speed yang memadahi untuk pergerakan mereka – paling tidak 1/200secs. Untuk ini kita membutuhkan ISO tinggi atau (lebih baik) aperture lebar (bonus : background blur)
  • Berikan obyek untuk mereka bermain – entah itu bola, gelembung sabun, apapun agar mereka beraksi dengan sendirinya.
  • Gunakan lensa yang agak lebih tele supaya kita bisa menangkap ekspresi mereka secara lebih bebas dari jarak agak jauh

Have fun 🙂 ……

The Prince – Leica 90mm Summicron f2 (E55)

Buat yang sudah membaca artikel saya mengenai Lensa Manual tentu sudah cukup paham bahwa lensa ini adalah lensa dengan manual focus. Sama seperti The Princess (wide) Carl Zeiss Distagon yang saya miliki. Detil teknis mengenai lensa ini bisa dibaca di sini. Saya tidak bermaksud membahas detil teknis nya lagi, melainkan lebih pandangan dari saya sebagai pengguna.

Lensa ini saya peroleh dari kaskus beberapa waktu lalu. Awalnya saya hanya mau mencoba lensa legenda ini, tapi buntutnya saya pakai juga sebagai lensa kesayangan saya kalau lagi motret orang / model.

Leica, sama seperti Carl Zeiss, adalah perusahaan lensa yang terpandang dan ada jauh sebelum Canon dan Nikon exist. Leica sendiri mendasarkan desain lensanya pada Carl Zeiss Planar. Tetapi mengembangkannya lebih lanjut sehingga memiliki karakter tersendiri yang berbeda dari carl zeiss. Semua lensa Leica terkenal dengan ketajamannya mulai dari bukaan terlebarnya. Itu prinsip dasar Leica yang membedakannya dengan kompetitor lain.

Tatkala lensa canon dengan f1.4 baru mulai “ok” ketajamannya di f2.8 (2 stop dibawah bukaan terlebar), maka lensa Leica sudah tajam mulai dari f1.4 nya. Itu pula yang menyebabkan harga lensa Leica luar biasa dibandingkan lensa sejenis (selain karena masalah prestice juga).

 

Nama – nama lensa leica ditentukan dari bukaan terbesarnya :

  • Noctilux – bukaan terbesar f0.95 atau f1
  • Summilux – bukaan terbesar f1.4
  • Summicron – bukaan terbesar f2
  • Summarit – bukaan terbesar f2.5
  • Elmarit – bukaan terbesar f2.8
  • Elmar – bukaan terbesar f3.5

Jadi kalau misalnya lensa 50mm summicron (atau biasa disingkat “cron”) ini adalah lensa 50mm dengan bukaan terbesar f2. Cara penamaan yang unik. Dalam satu jenis, misalnya 50mm cron, ada banyak versi. Mulai dari versi 1 (pertama kali dikeluarkan) sampai dengan versi-versi yang lebih baru. Semuanya disebut dengan nama yang sama 50mm summicron. Jadi cek dulu type berapa dan apa karakternya, biasanya ada perbedaan sedikit antar tiap versi. Tapi yang namanya Leica, semua versi juga absolut tajamnya.

Lensa 90mm summicron yang saya gunakan adalah lensa yang memang terkenal digunakan untuk pemotretan human interest. Selain karena tonalnya yang khas leica, blurnya yang bagus, juga karena focal length nya “pas” untuk keperluan itu.

Foto diatas di potret dengan menggunakan f2.8 tanpa post processing yang berarti. Karakter yang sangat khas dari lensa Leica adalah warnanya yang netral. Tidak kuning (warm), tidak pula biru (cold). Apa adanya. Itu pula sebabnya skin tone human interest menjadi sangat nyaman untuk dilihat out of the camera dengan menggunakan lensa ini.

Continue reading The Prince – Leica 90mm Summicron f2 (E55)