Tag Archives: Fotografi

Lensa Fuji yang Mana?

Setelah post body kamera Fuji yang mana, saya mau ulas sedikit mengenai lensa yang mana untuk kamera fuji yang di beli. Ini tentunya bukan rekomendasi teknis berdasarkan chart dll, lebih ke pengalaman saya dengan beberapa lensa Fuji yang saya gunakan dan juga genre saya. So kalau MY-ers beda genre tentu saja bisa punya preference yang berbeda.

Sejauh ini lensa dengan X Mount yang saya miliki (hasil konversi dari seluruh koleksi Canon saya sebelumnya) :

  • Fuji XF 10-24mm f4 R OIS
  • Fuji XF 18-55mm f2.8-4 R LM OIS
  • Fuji XF 55-200mm f2.5-4.9 R LM OIS
  • Fuji XF 18mm f2 R
  • Fuji XF 23mm f1.4 R
  • Fuji XF 35mm f1.4 R
  • Fuji XF 56mm f1.2 R
  • Samyang Fish Eye 8mm f2.8 MK2
  • Samyang 12mm f2

Sedangkan koleksi lensa tua untuk keperluan moto manual focus dengan metabone speed booster saya fokuskan pada lensa Canon FD. Hal ini supaya saya cukup punya 1 adapter speed booster saja. Lebih hemat. Sejauh ini ada 3 lensa : FL 55mm f1.2, FD 50mm f1.4 SSC dan FD 135mm f2.

new-fuji-lenses

Ada juga lensa Zeiss Flektogon 35mm f2.4.

Continue reading Lensa Fuji yang Mana?

MY BB Group Challenge – October 2015

Ketika semua yang dirasa sedang tidak menentu ,negatif, ga mood, merubah semua keadaan ke tingkatan diri yang di sebut “stress”, emosi tidak terkendali, selalu mengeluh dengan keadaan yang ada, semua berawal dari perasaan yang ada di dalam diri dan kemudian turun ke dalam hati.

Hati yang ikhlas tak hanya menjauhkan kita dari stres dan penyakit. Tapi juga membuat hidup dipenuhi kedamaian, rasa syukur, dan berkat yang tak ada habisnya. Perasaaan positif atau biasa di sebut Feeling positive sangat berpengaruh sekali terhadap diri kita, momen ini sangat banyak kita temui didalam fotografi, bagaimana ketika kita mengabadikan moment dengan perasaan objek yang sedang dalam mood yang baik, semua keluapan kegembiraan yang di ekspresikan atau perasaan hati kita ketika melihat suatu foto yang kita ambil mengubah perasaan menjadi lebih baik atau gembira.

Berikut rekan2 yang foto nya terpilih menjadi foto pilihan Challenge bulan oktober :

MY1 :
1. Candy
Positif feeling LS (waduk/danau)

MY 1 BB Winner - #12. Dikye Real Happiness MY 1 BB Winner - #2

3. Chandra winoto
Loving You

MY 1 BB Winner - #3 

MY2 :

1. Asta – Positif feeling (2 anak kecil) MY 2 BB Winner - #1

2. MSA Aji
Happy Holiday

MY 2 BB Winner - #23. Luckman On That Face MY 2 BB Winner - #3

(AU) CooGee Beach, Sydney

Lokasi ini relatif sangat dekat dengan apartemen tempat saya tinggal di sub-urb Mascot (sub-urb itu kayak kabupaten / kecamatan lah). Tapi karena ini merupakan pantai wisata (mirip kuta) dengan pasir putih yang panjang, tanpa karang, jadi buat saya fotografer agak kurang menarik. Kebetulan pagi itu agak ramalan cuaca agak mendung, jadi saya pikir ya lumayan lah, daripada jauh jauh dan gak dapat sunrise.

Coogee BeachLokasi ini ada di ujung pantai CooGee. Ini adalah kolam renang alami, biasa di sebut Rock Pool. Dimana air laut menjadi sumber airnya.

Saya sempat muter muter cari obyek yang menarik, tapi tampaknya tidak terlalu banyak memang. Akhirnya saya putuskan untuk ke obyek sejuta umat pantai ini : CooGee Rock Pool.

Lokasinya mudah dicari dengan google map. Tinggal cari : “CooGee Surf Lifesaving Club” … rock pool nya ada tepat di depannya.

Dalam cuaca dingin seperti winter ini untungnya adalah tidak banyak orang berenang di sini, walau tetap ada saja yang cukup “gila” berenang di suhu sekitar 9-13 derajat celcius. Well, ini air laut, so jangan tanya ada pemanas nya gak *LOL

Continue reading (AU) CooGee Beach, Sydney

Film Simulation

Sama halnya dengan Picture Style di Canon dan Picture Control di Nikon, adalah Film Simulation di Fuji. Prinsipnya sama, mengatur warna, kontras dll sehingga JPEG yang dihasilkan sudah setengah jadi post pro nya.

Ini merupakan kumpulan dari artikel di FB FujiWorld mengenai Film simulation … saya bukan penterjemah, jadi silahkan gunakan google translate buat yang bingung dengan bahasa inggris nya 🙂


If you shoot with a digital camera and are serious about photography, chances are that you shoot in RAW format. RAW is flexible and therefore undeniably a very attractive option. But if you own a FUJIFILM camera, put that thought on the side for a second. You may be wasting just about half of the camera’s potential.

First of all, the color reproduction is not just a “tendency” for FUJIFILM cameras, but rather a “world of its own” to put it more correctly. It does not just look “vivid” or “soft”. They are in their own world of color reproduction of “Velvia” and “ASTIA”.

When you shoot a photo, you would first look at the subject. It can be anything from “autumn leaves” to “person”. And you would set it to “Vivid” or “Soft” depending on the subject. You may be happy with the result if the autumn leaves appear vivid or the skin appears soft.  At the same time, you may be unsatisfied with the result, but think that “it can be edited later” if they were shot in RAW.

If you use FUJIFILM camera, your style of photography can be a bit different. How would the autumn leaves or the person appear if they were shot in Velvia? How would they appear if they were shot in ASTIA?

11046604_839072869498851_6621604002451851846_n

This is the fundamental idea of FUJIFILM’s approach to color reproduction and photography. We regard the time you spend shooting very important.

And as the FUJIFILM cameras are mirrorless, you can check the final image before the shot is taken. You can preview the world of Velvia and ASTIA.

Continue reading Film Simulation

in Camera HDR

Fitur baru yang sedang saya uji coba di Sony RX1 (yea, saya mulai menggunakannya untuk day to day carry camera + street) adalah in camera HDR. Fitur ini memungkinkan kamera secara otomatis mengambil beberapa gambar dengan exposure berbeda, menganalisa nya, lalu mengatur supaya dynamic range nya menjadi lebih baik.

So far saya baru mencoba fitur HDR dengan perbedaan exposure Auto. Tetapi RX1 (dan saya rasa semua sony terbaru) memiliki pilihan dari 1 – 6 EV stop. Secara bertahap saya akan tambahkan koleksinya nanti.

Image di bawah di hosting di FLICKR, dan merupakan full resolution image, in case mau membandingkan pixel level — walau saya rasa tidak terlalu berbeda signifikan, kecuali di yang HDR sony membubuhkan sharpening.

Foto di atas adalah tanpa HDR, di bawahnya dengan HDR di aktifkan.

KGP non HDR

KGP HDR
CP non HDR
CP HDR
Pancoran non HDR

Pancoran HDR

MY Articles : Balance Composition, By : Tedy

Seimbang atau balance dalam sebuah komposisi tidak sama dengan harus simetris. Simetris pasti balance, tetapi balance tidak selalu simetris. Simetris adalah permainan bidang yang seimbang antara sisi kiri dan kanan.

Dalam dunia seni rupa dikenal dua konsep kesimbangan yaitu konsep simetris dan asimetris. Simetris tentunya lebih formal dengan konsep titik sumbu di tengah membagi dua sama rata dan sama berat, komposisi simetris lebh mudah dipahami oleh pikiran kita karena secara kodrati manusia sendiri terlahir simetris.

82

Simetris ini berlaku utuk objek2 arsitektur jaman tradisional, contohlah istana raja2 cenderung bangunan nya simetris antara sisi kiri dan kanan. Penerapan dalam photography tentunya mudah untuk bangunan seperti ini, Anda tinggal menuju di titik tengah membagi dua bidang kiri dan kanan lalu capture it…. aman dan mudah. Simple sekali. Secara teori ini mengakibatkan bangunan menjadi lebih cenderung monoton, terbatas dan agak kaku. Komposisi keseimbangan akan menjadi dinamis ketika Anda merubah angle terhadap gedung yang foto menjadi angle membentuk perspektif 2TH.

Continue reading MY Articles : Balance Composition, By : Tedy

Hyperfocal Using Fuji Lens

Buat yang belum paham apa itu hyperfocal, baca dulu artikel-artikel di motoyuk yang terkait dengannya. Artikel ini tidak akan membahas lagi apa dan mengapa hyperfocal.

Menggunakan lensa manual dengan distance scale adalah cara yang praktis untuk menggunakan teknik hyperfocal. Selain itu ada juga cara focusing di jarak tertentu menggunakan AF. Tapi cara kedua ini agak repot karena biasanya kamera sudah terpasang di tripod. Focusing ke jarak tertentu kadang membuat kamera perlu di kendorkan dari tripod.

Fuji (dan saya rasa beberapa mirrorless lain) ternyata memiliki distance scale ini pada LCD ataupun electronic viewfinder mereka. Ini terlihat apabila kita mengubah menjadi mode Manual Focus.

IMG_0482

Pada gambar di atas kita fokus pada jarak sekitar 1.7 meter (lihat garis kuning di tengah garis biru) dan ruang tajamnya adalah mulai dari 1.5 meter sampai dengan 2 meter (lihat garis biru di distance scale).

Continue reading Hyperfocal Using Fuji Lens

Cara cepat Post Pro

Salah satu artikel yang paling banyak di baca dan di cari di motoyuk adalah mengenai picture style. Sampai saat ini saya juga tidak paham kenapa. Saya sendiri tidak menggunakan picture style terlalu banyak di Canon. Picture style yang saya gunakan ujungnya cuma Faithful dan kadang IR wanna-be.

Tebakan saya (berdasarkan pengalaman pribadi) adalah karena sebagian fotografer sebenarnya malas / tidak tahu harus bagaimana melakukan post pro. Yah, belajar teknik foto (bukan bagian komposisi / ide ya) memang lebih cepat dan mudah jika dibandingkan post processing menggunakan photoshop. Butuh ratusan jam di depan komputer untuk menguasai sebagian besar teknik di photoshop. So, picture style mungkin adalah shortcut nya.

Clairine
Dengan menggunakan Plugin kita dapat mendapatkan tonal yang kita inginkan dalam waktu yang relatif sangat cepat – foto di ambil dengan menggunakan XPro1 dan Lensa 56/1.2 – Post pro menggunakan VSCO Kodak Portra 160.

Ya, memang picture style membantu, memberikan shortcut. Tetapi rasanya Canon maupun Nikon tidak terlalu variatif dalam hal picture style, so hanya membantu sedikit. Fuji memiliki film simulation, walaupun buat saya terasa lebih berdampak, tetapi tetap tidak menggantikan tonal buatan di photoshop. So, another dead-end. Sebenarnya ada banyak tools yang dapat digunakan di photoshop. Biasa di kenal sebagai plug-in. Dengan menggunakan plug-in ini kita bisa memilih tonal yang kita inginkan, lalu langsung melihat hasilnya di foto kita. One click dan beres deh urusan tonal.

Continue reading Cara cepat Post Pro

MY Article : Baduy Trip, By : Enggar

Tulisan by : Enggar SP

Menurut Wikipedia, Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam.

Sekitar Agustus 2014, Pak Yohanes Indro Kristanto mengemukakan di forum FB Motoyuk, mengusulkan hunting bareng terkait Baduy dengan tema kurang lebih mengangkat ke eksotisan suku Baduy baik dari sisi pemandangan, nilai budaya dan social, aktifitas keseharian dsb. Adapun wilayah yang dituju hanya sampai Baduy Tengah.

Jelas saya ngileeerr. Saya sudah lama gak travel photo hunting. Ada tawaran hunting bareng temen2 Bolang kantor, tetapi saya menolak karena rute mereka menuju Baduy Dalam dan saya pasti tidak akan sanggup mengikutinya karena cidera lutut pada bulan puasa yang mengharuskan saya tau diri akan kesehatan kaki (red : penuaan dini T_T)

Berdasar info dan kondisi diatas, akhirnya saya memutuskan IKUT Motoyuk karena pastinya saya akan mendapatkan banyak objek yang eksotis dan pastinya bisa ngerasain suka duka gimana sih hunting bareng komunitas fotografi 😀

Perjalanan saya feat Motoyuk diawali dengan meeting point di Driving Range Senayan. Sekitar pukul 19.00 WIB, kami  – ber 26 orang – dengan dikomandani oleh Pak Yohanes Indro Kristanto, Om Bayoe Wanda, Om Rachmat Yulyanto dan Om Rifka –  menggunakan bis kecil berangkat menuju Kabupaten Lebak, Banten.

Nantinya kami akan bertemu dengan pemandu guide Kang Chinul dan Kang Daniel dimana Kang Daniel adalah mantan Baduy Dalem yang sekarang menjadi warga Serang

image

Perjalanan Jakarta-Rangkas macet, sehingga rombongan sampai masjid Agung Rangkas sekitar pukul 23.30 WIB, sangat malam. Rombongan menginap di BKD – Balai Kepegawaian Daerah Kabupaten Lebak (semoga gak salah kepanjangan nama :D)

Continue reading MY Article : Baduy Trip, By : Enggar

Quick Setting Fuji Saya

Ada beberapa pertanyaan mengenai bagaimana saya men-setting quick setting di Fuji saya. Buat yang belum paham, quick setting adalah semacam custom setting di canon. Dimana kita bisa atur preset berbagai setting yang kita mau, so pada saat kita mau motret human interest tinggal pilih quick menu ttt dan ganti dengan quick setting lain untuk pemotretan BW misalnya. Ini jauh mempercepat reaksi kita terhadap berbagai kondisi.

Di Canon ini juga tersedia, biasanya ada 3 custom setting. Sedangkan di Fuji pilihan menu yang bisa disetting lebih terbatas, tetapi ada 7 slot quick setting yang tersedia.

FullSizeRender1
Custom setting 1 ini saya gunakan untuk pemotretan human interest non model – dengan film simulation Astia yang lembut warnanya. Noise reduction saya kurangi karena Fuji agak terlalu kejam dengan proses noise reduction, jadi saya kurangi sedikit.
Custom setting 2 adalah mode black and white yang saya sering gunakan dalam pemotretan street. Saya memilih jenis film simulation BW dengan yellow filter. Kontras nya lebih kuat sedikit daripada yang tanpa filter, tetapi tidak separah Red. Sharpness saya tambahkan karena umumnya untuk yang BW saya tidak proses lagi – SOOC. Sedangkan highlight tone saya tambahkan untuk memperluas dynamic range nya sedikit.

DPDHL GVD 2014
Continue reading Quick Setting Fuji Saya