Tag Archives: flektogon 2.4/35

Bunga – Bunga Liar – Part 2

Ini sehari setelah pemotretan bunga liar yang pertama. Saya kembali datang ke lokasi yang sama untuk memotret sedikit lebih lama (well cuma 15 menit juga sih). Kali ini suasananya agak berbeda karena matahari sudah lebih tinggi sedikit. Jadi selain mengambil dari angle yang sama (membelakangi matahari) seperti pada pemotretan pertama. Saya coba ambil angle menghadap matahari.

Akibat dari pose pemotretan ini maka muncul flare (lihat garis garis sinar matahari di bagian atas) dan juga posisi ini membuat sisi terluar dari bunga ter-ekspose sinar matahari. Lihat bulu-bulu bunga yang terlihat jelas pada foto dibawah ini.

Efek lain dari pemotretan dengan arah backlight ini adalah warna cenderung lebih “mendem” dibandingkan foto sebelumnya. Maklum, arah cahaya matahari berbeda maka dampak terhadap warna juga berbeda.

Salah satu trik pemotretan backlight adalah jangan memasukkan matahari sepenuhnya kedalam frame foto. Selain pasti over exposed parah dan jadi blok warna putih, dampak lainnya adalah flare yang tidak terkontrol. Kalau kita meletakkan matahari pada sudut luar foto maka flarenya relatif lebih bisa terkontrol. Malahan menjadi elemen pemanis dari foto.

Garis flare di sudut kiri atas foto diatas adalah hasil meletakkan matahari tepat diluar foto, sehingga yang masuk ke foto hanyalah flare yang terkontrol saja. Tidak sampai OE kemana mana. Tentunya beda lensa akan memiliki karakater flare yang berbeda pula.

Ayo, mumpung barusan mulai hujan dan tanaman liar mulai merebak, indah buat di foto. Coba pula tangkap keindahan embun / bekas air hujan di pagi hari. Have fun …





Bunga – Bunga Liar

Jum’at lalu saat berangkat ke kantor saya bawa kamera. Kebetulan ada keperluan yang membuat harus membawa peralatan ini. Sesaat melewati rumah saya, pas di belokan, saya melihat kumpulan bunga liar yang sedang mulai bersemi (karena hujan mulai turun). Kebetulan pula langit sedang agak mendung. Aihhhh, lightingnya cukup bagus, diffused dan lembut. Jadi mikir, berhenti motret gak ya.

Tapi akhirnya saya putuskan untuk berhenti juga motret barang 5 menit. Soalnya teringat  beberapa waktu lalu saya ketemu tempat yang sangat indah dengan lighting yang indah, waktu itu saya skip, tidak motret. Eh waktu diulang lagi ke lokasi yang sama dan kira-kira jam yang sama ternyata sudah tidak sama dan tidak bisa deh ambil foto yang saya mau. Jadi saya berpikir daripada nanti menyesal, lebih baik saya berhenti sebentar deh.

Foto ini diambil menggunakan lensa manual Carl Zeiss Flektogon 35mm f2.4. Lensa ini jangan dipikir mahal sekali, ini lensa tua tahun 1980an … tapi masih dalam kondisi yang sangat bagus. Salah satu kelebihan lensa ini adalah minimum focus distance yang dekat, membuat bunga liar yang diameter nya tak lebih dari 1 cm ini bisa terlihat cukup detil. Sembari menghasilkan bokeh yang indah. Saya sangat menyukai lensa ini, salah satu lensa favorit saya.

Setting yang digunakan tidaklah aneh-aneh. Hanya menggunakan aperture terlebar (f2.4) dipadu dengan auto ISO & Faithfull picture style + Daylight WB. Salah satu karakter yang berbeda dengan lensa Canon adalah lensa manual CZ & Leica cenderung lebih asyik warnanya jika menggunakan picture style Faithfull (selera saya ya) dibandingkan Standard.

Post processing juga tidak ada aneh-aneh, hanya naikin saturasi sampai +3 dan buat S-Curve di Canon DPP. Di Photoshop untuk foto diatas hanya menambahkan vignette sedikit. Sedangkan foto disamping tidak di olah lebih lanjut. Nyaman memang bekerja dengan lensa manual buat saya, post processing nya tidak banyak karena tonalnya sesuai dengan yang saya mau.

Tentunya saya perlu melakukan sharpening pada foto setelah proses resized. Tapi walaupun demikian lensa CZ Flek 2.4/35 ini memang sudah menghasilkan foto yang tajam. Sehingga sedikit saja sharpening sudah memadahi.

Yang ingin digaris-bawahi di post ini adalah bahwa melatih mata (A Photographer’s Eyes) sangatlah penting. Dan apabila ada momen yang menurutmu layak dan bagus buat di foto, jangan ragu dan jangan tunda. Ambil foto pada saat itu juga. Dan yang terakhir :

Nothing happens when you sit at home. I always make it a point to carry a camera with me at all times…I just shoot at what interests me at that moment. – Elliott Erwitt