Tag Archives: dlsr

SLR vs RangeFinder

Bagi para penggemar fotografi mungkin SLR (single Lens Reflex) adalah jenis kamera yang paling dikenal, bagi kebanyakan malah satu-satunya yang dikenal. Padahal kamera sebenarnya ada berbagai jenis. Salah satu jenis kamera yang tidak terlalu populer walau sebenarnya di beberapa aspek superior adalah jenis Rangefinder. Saya sendiri baru aware dengan kamera ini setelah mulai iseng belajar kamera Leica M9 Digital yang belakangan ini di launch.

Kamera mungil leica m9 ini adalah salah satu rangefinder paling terkenal. Walau mungil tetapi harganya (body & lensa) sangat premium. Oleh sebab itulah pengguna kamera ini cenderung hanya sebagian kecil orang yang sangat fanatik. Tetapi memang hasil dari kamera ini luar biasa, baik tonal maupun sharpness, walau buat saya pribadi tidak bisa menjustifikasi harganya. Mungkin prestige lebih menjadi justifikasi yang lebih benar buat membelinya. Review mengenai Leica M9 sendiri banyak tersedia di internet, salah satunya yang saya suka adalah dari Steve Huff. Lihat sample hasilnya :

Baik, kembali ke Rangefinder … lain halnya dengan SLR yang menggunakan mirror untuk memantulkan cahaya (dalam bentuk gambar) yang datang dari lensa ke viewfinder, maka rangefinder memiliki jalur cahaya buat viewfinder nya sendiri. Lihat kotak di ujung kanan atas Leica M9 ? Itu adalah lubang viewfinder nya. Jadi tidak ada mirror pada rangefinder. Inilah sebenarnya perbedaan utama dari kamera jenis rangefinder. Perbedaan kecil ini memiliki dampak yang sangat BESAR terhadap berbagai kemampuan dari rangefinder.

Continue reading SLR vs RangeFinder




Backlight photography

Seringkali kita menghadapi kondisi dimana kita harus memotret dengan cahaya matahari / lampu di belakang obyek. Kondisi ini biasanya dikenal dengan nama “Backlight”. Oleh karena cahaya masuk semua ke kamera kita secara langsung (bukan dari hasil pantulan) maka biasanya hasilnya tidaklah seindah fotografi dengan side-light (matahari/cahaya datang dari samping obyek) atau front-light (cahaya datang dari belakang kita, atau dari arah depan si obyek).

Hasil yang sering terjadi adalah siluet, alias si obyek menjadi bayang-bayang hitam saja. Sulit dipisahkan antara mata, hidung dan pipi nya. Hal ini karena cahaya di belakang si obyek begitu kuatnya dan mengakibatkan sistem metering dari kamera kita ‘salah’ mengukur shutter speed / apperture yang dibutuhkan. Akan tetapi dengan cara pemotretan yang benar maka hasilnya justru bisa luar biasa. Hal ini karena backlight bisa berfungsi sebagai hair light, sehingga rambut terlihat bersinar indah.

Contoh pemotretan backlight dimana sinar membuat rambut bersinar – courtesy of : http://photo.tutsplus.com/

Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk mengatasi kondisi backlight ini. Dari yang paling sederhana sampai yang rumit :

  • Memindahkan obyek. Ini cara paling sederhana yang sering dilupakan para fotografer. Kita bisa menghindari terjadinya backlight dan siluet dengan cara memindahkan obyek (misalnya teman yang kita akan potret) sehingga cahaya menjadi side-light atau front-light. Seringkali kita terlalu heboh untuk memotret sehingga lupa mengatur posisi obyek kita sendiri.
  • Kita juga bisa membuat cahaya backlight hanya keluar sedikit, misalnya dengan memposisikannya agar terhalang sebagian. Seperti contoh di bawah ini matahari yang menjadi sumber cahaya backlight dikurangi dampaknya dengan meletakkannya di sela tangan model. Tentunya ini masih membutuhkan teknik misalnya exposure compensation / penggunaan flash. Tapi ini mengurangi dampaknya.
Courtesy of : http://photo.tutsplus.com/

Battery Grip – Do I need it?

Kalau kebutuhannya adalah tampil keren menggunakan non-1D series body maka jawabannya adalah : Yes, you need it badly. Lihat betapa keren tampilan dari Canon 400d yang sudah dilengkapi dengan battery grip.

Canon 400d dengan Battery Grip - courtesy of : http://www.flickr.com/

Battery grip (BG) / Vertical Grip (VG) adalah aksesoris tambahan buat body DSLR. Kegunaannya secara umum ada 2 (selain membuat tampak lebih keren ya) :

  • Memberikan daya tambahan (karena bisa 2 batere dipasangkan langsung / menggunakan batere ukuran AA) – ada juga yang kegunaannya wireless adapter. Sehingga body DSLR kita bisa terhubung langsung dengan jaringan wireless. Walau tidak umum disebut sebagai BG tapi bentunya mirip.
  • Memberikan kenyamanan saat memegang kamera, baik posisi horisontal maupun vertikal. Hal ini dikarenakan BG membuat body menjadi lebih panjang sehingga nyaman di genggam.
Canon BG E2N

Jadi kapan sebenarnya kita membutuhkan BG ?

Continue reading Battery Grip – Do I need it?

Bali … #3

Sayang sekali lensa yang kupunya tidak cukup wide, sepertinya aku butuh 10mm untuk pemandangan ini. Hal ini karena indahnya ray of light berwarna merah dengan background langit biru gelap tidak sepenuhnya bisa ditangkap pada foto ini. Keindahan yang akhirnya pasrah aku nikmati dengan mataku saja 🙂

Momen fotografi pagi hari ada 2. Sunrise adalah salah satu yang semua orang cukup paham. Tapi 5-15 menit sebelum sunrise sebenarnya juga ada momen twilight dimana langit sangat indah. Warna biru gelap langit malam bertransformasi jadi langit pagi. Seringkali awan putih, merah, kuning atau ray of light nampak. Jadi, jangan telat bangun 🙂

“Sunrise at Nikko” | 17mm | Av @ f22 | 0.8 secs | ISO100 | EV0 | GND 0.6x | Tripod mounted | Hyperfocals

Begitu matahari mulai muncul maka kendala utama pemotretan landscape muncul pula….dynamic range. Kalau kita metering langit maka bagian bawah dari foto akan gelap. Sebaliknya metering pada bagian bawah foto (foreground) maka langit akan overexposed (putih). Oleh sebab itu filter Gradual Neutral Density biasanya adalah wajib.

Untuk menentukan GND mana yang tepat ada 2 opsi. Coba – coba adalah opsi 1. Opsi lain adalah menggunakan spot metering dan melihat berapa perbedaaan metering antara langit dan daratan. Misalnya waktu kita spot metering langit jatuh di f8 sementara di daratan butuh f4 maka sebenarnya kita hanya butuh 2 stop GND (GND 0.6x)

PS : tiap 1 stop maka angka apperture kurang lebih naik 1.4x. Misalnya : f1.4, f2, f2.8, f4, f5.6, f8 –> masing masing beda 1 stop

Foto yang ini masih bisa handheld karena lensa yang aku gunakan ada image stabilizer-nya, dan obyeknya adalah landscape yang “tidak bergerak”.

“Reflection of sunrise” | 17mm | Av @ f22 | 0.6 secs | ISO100 | EV0 | Tripod Mounted | GND 0.6x | Crop using Canon DPP

Selain keindahan sunrise fotografi di tepi pantai yang dangkal seperti di Nikko Hotel bali ini ada keuntungannya, refleksi. Hal ini karena pada laut dangkal maka goyangan air dan ombak minimal.

“Bentangan langit” | 17mm | Av @ f11 | 1/80 secs | ISO100 | EV-1/3 | Handheld

Oleh karena matahari sudah mulai muncul maka tidak memungkinkan mendapatkan “proper” metering. Bagian matahari pasti over exposed. Sehingga aku putuskan untuk mengambil pendekatan yang berbeda, yaitu lebih fokus pada pantulan-pantulan yang ada di pantai. Salah satu idenya adalah membuat seakan-akan kita sedang terbang melintasi kepulauan menuju matahari, seperti di foto di bawah ini :

“Fly to the sun” | 17mm | Av @ f11 | 1/80 secs | ISO100 | EV0 | Handheld

Flare memang salah satu kendala, sulit dihindarkan bahkan menggunakan lens hood sekalipun. Hal ini karena sinar matahari masuk langsung ke lensa, garis lurus.

VISIT INDONESIA….visit bali….enjoy “The Land of God”

Klub Foto – Landscape in Theory

Untuk teori landscape photography minggu ini aku menggunakan link dari Pak Yadi Yasin. Beliau adalah salah stau fotografer landscape yang hebat, dan kebetulan sudah menuliskan tulisan yang cukup panjang mengenai tips motret landscape di Fotografer.net.

Dalam tips nya Pak Yadi Yasin menekankan beberapa hal seperti :

  1. Perlunya depth-of-field yang seluas-luasnya dengan menggunakan apperture sempit, seperti f22. Akan tetapi saya juga ingin mengingatkan bahwa dengan resolusi kamera digital yang makin tinggi maka penggunaan apperture sempit seperti ini akan berdampak pada difraksi lensa. Akibatnya adalah foto yang kurang tajam. Jadi kenali kamera dan lensa anda.
  2. Penggunaan hyperfocal distance sebagai alat bantu memperluas depth-of-field dari foto kita.
  3. Perlunya komposisi, dengan rule-of-third, foreground, point-of-interest, line & pattern, dll
  4. Pemahaman cuaca dan waktu – terutama golden hours dan twilight time
  5. Penggunaan alat bantu filter & lensa yang sesuai

Selamat menikmati artikel diatas dan mari dicoba teorinya.




Klub Foto – Week 3 – More about apperture

Di minggu ketiga ini kita mencoba untuk mengaplikasikan konsep apperture pada foto produk dengan model. Konsepnya tentu bisa beragam dan tidak ada benar salah, tapi aku coba tunjukkan konsep yang aku buat. Modelnya disini juga salah satu anggota klub (Thanks Septi), dan produknya adalah handphone ku sendiri hehe, just for fun.

Ada 2 hal yang ingin aku lakukan disini :

  1. Menonjolkan produknya
  2. Memberikan technical specs pada foto ini

Buat tujuan pertama aku capai dengan :

  • Menggunakan apperture besar (f3.5) dan fokus diarahkan pada produk. Hal ini membuat ada efek depth of field dan jarak antara produk dan model. Efek ini juga makin menonjolkan produknya (karena modelnya menjadi agak blur). Kenapa aku tidak menggunakan f2.8? Karena pada percobaan sebelumnya ternyata f2.8 membuat tidak semua bagian produk tajam, ada yang out of focus sedikit
  • Menggunakan tele lens. Pada pemotretan ini aku menggunakan lensa 70-200 f2.8 IS L di focal length 80mm. Focal length ini aku pilih untuk menambah efek depth of field pada foto. Selain itu focal length sepanjang ini diperlukan untuk menonjolkan handphone yang ukurannya relatif kecil. Jika kita menggunakan lensa wide maka handphonenya terlihat terlalu kecil dan kurang menonjol.
  • Membuat jarak antara foreground (handphone) dan background (model), ini diperlukan juga untuk menambahkan efek depth of field yang diinginkan. Jika handphone dipegang di samping wajah model maka sulit untuk kita mendapatkan efek ini, karena jarak foreground dan background terlalu dekat. Oleh sebab itu pose yang dipilih pun dengan menjauhkan handphone dan wajah.
  • Memberikan background yang kontras, aku pilih warna oranye yang kebetulan adalah warna dinding di ruangan klub kita. Posisi handphone juga diarahkan agar kontras, bayangkan jika handphone pada foto dibawah ini diletakkan di depan tubuh model. Akan sulit keliatan karena kebetulan baju yang digunakan model warnanya gelap.

Canon EOS 40D | EF 70-200 f2.8 L IS @ 80mm | Apperture priority @ f3.5 | 1/80 secs | ISO 1600 | EV 0
Canon EOS 40D | EF 70-200 f2.8 L IS @ 80mm | Apperture priority @ f3.5 | 1/80 secs | ISO 1600 | EV 0

Untuk kebutuhan yang kedua maka saya posisikan model dan obyek sehingga masih ada ruang kosong di sebelah kiri untuk teks. Memang betul bahwa hal ini bisa dilakukan lebih lanjut di photoshop (extend background), apalagi dengan background yang polos begini. Tapi kali ini saya ingin melakukannya langsung dari kamera. Setelah itu saya gunakan Picasa 3.5 dari Google (freeware…keren abis) untuk menambahkan teks spesifikasi dari handphone yang ditunjukkan (saya tahu pemilihan font dan color masih bisa di improve, tapi saya sedang tidak punya banyak waktu hehehe)

IMG_2875 with text

So, itulah hasil percobaan yang dilakukan dengan menggunakan apperture dan teknik2 yang sudah disebutkan di klub foto sebelumnya.

Next 2 week : ….LANDSCAPE PHOTOGRAPHY….stay tuned




Klub Foto – Week 2 – Exposure compensation

Ada satu hal yang seringkali kurang dipahami fotografer, yaitu cara kerja metering kamera. Tidak seperti mata kita yang bisa menyebutkan bahwa warna papan tulis adalah hitam dan warna kertas putih adalah putih di dalam kondisi pencahayaan apapun, maka kamera tidaklah demikian.

Dalam menentukan mana yang hitam dan yang putih (dan warna lainnya sebenarnya yang berada di rentang hitam – putih) kamera mengandalkan 2 hal : metering (untuk menentukan terang gelap) dan white balance (menentukan mana yang disebut gray color). Di minggu kedua ini klub foto membahas mengenai exposure compensation, yang berhubungan dengan aspek 1 dari 2 hal diatas.

Metering kamera secara umum berusaha mengatur cahaya yang mengenai sensor sehingga rata-rata warna di dalam foto mencapai 18% middle gray. Jadi bayangkan kalau semua warna dalam foto di campur jadi satu kira kira akan jadi warna abu-abu muda. Biasanya hal ini cukup akurat pada berbagai foto. Tapi tidak pada kondisi ekstrem.

Pada kondisi dimana misalnya background dan juga obyek berwarna gelap, atau hitam pada ekstremnya, maka kamera tetap berusaha membawa rata-rata warna menjadi abu-abu. Akibatnya? warna hitam yang dihasilkan tidaklah benar-benar hitam, melainkan agak abu-abu, seringkali disebut sebagai “over exposure”

exposure-examples

Sedangkan pada kondisi dimana banyak obyek foto berwarna putih maka kamera juga berusaha membawanya ke abu-abu. Tentunya kali ini dengan cara membuat cahaya yang masuk ke kamera lebih sedikit / “under exposure”. Hasil yang terlihat adalah obyek foto tidak benar-benar putih, melainkan agak abu-abu/gelap.

Untuk mengatasi hal ini kita bisa melakukan 2 hal, menggunakan mode Manual atau mengatur exposure value (EV). Cara yang pertama memberikan kebebasan lebih luas, akan tetapi cara kedua adalah cara yang paling mudah dan cepat. Cara kedua ini pula yang paling sering saya gunakan.

Semua kamera DSLR dan sebagian kamera pocket memiliki kontrol exposure value ini. Coba cari di buku manual kamera anda. Biasanya ditandai dengan angka -2 s/d +2 (ada beberapa DSRL yang -3 s/d +3 bahkan -5 s/d +5). Biasanya nilainya merupakan kelipatan 1/3, menyatakan berapa “stop” penurunan / kenaikan exposure yang diperoleh.

Pada situasi dengan background gelap (over exposure) maka turunkan EV pada kamera anda, misalnya menjadi -1. Sedangkan pada pemotretan yang under exposure (gelap) naikkan EV di kamera anda, misalnya menjadi +2/3

Penggunaan EV akan berpengaruh pada metering kamera, seakan-akan kita mengkompensasi metering tersebut. Oleh sebab itu tentunya apperture dan shutter speed yang dihasilkan akan berbeda. Misalnya dengan setting di “Apperture Priority” dan kita menurunkan EV -1/3 maka shutter speed yang sebelumnya misalnya 1/100 seconds akan menjadi 1/125 seconds (turun 1/3 stop).

Tidak perlu terlalu pusing 🙂 coba saja mainkan EV pada kamera anda, dan lihat hasilnya, dijamin langsung mengerti koq.




Klub Foto – Week 1 – Apperture

Di kantorku lagi berusaha buat klub foto, jumlah peserta masih sedikit. Tapi yah namanya juga seneng buat share, jadi ya jalan terus 🙂

Hari ini kebetulan adalah pertemuan pertama. Di pertemuan pertama ini aku share mengenai penggunaan apperture. Seperti mungkin sebagian besar sudah paham bahwa fotografi bergantung pada exposure. Exposure sendiri bergantung pada 3 variabel :

  1. Apperture : menyatakan seberapa besar bukaan pada lensa. Apperture besar (misalnya f2.8) menyalurkan lebih banyak cahaya pada sensor kamera. Sedangkan apperture kecil (misalnya f11) membuat sensor butuh waktu lebih lama (shutter speed panjang) agar memperoleh jumlah cahaya yang sama.
  2. Shutter speed : menyatakan berapa lama kita mau membiarkan cahaya masuk melalui lensa dan mengenai sensor. Berapa banyak cahaya yang masuk tentunya tergantung dari apperture yang dipilih. Shutter speed yang lambat adalah penyebab paling sering foto kabur / goyang. Sebagai rule-of-thumb shutter speed yang dibutuhkan adalah lebih cepat dari 1/60 seconds, atau lebih cepat dari 1/focal length yang digunakan. Jadi misalnya kita menggunakan focal length 18mm maka shutter speed yang kita butuhkan paling tidak 1/60 seconds. Tapi dengan focal length 100mm maka paling tidak kita membutuhkan 1/100 seconds.
  3. ISO / ASA : menyatakan sensitifitas dari sensor. Makin tinggi angka ISO maka sensor akan makin sensitif, diberi cahaya sedikit saja sudah cukup. Dengan mempertinggi ISO maka kita bisa memperoleh shutter speed yang lebih cepat (dan dengan demikian gambar tidak goyang). Tetapi drawback nya adalah dengan ISO yang makin tinggi maka noise akan makin terlihat.

Minggu ini kebetulan klub foto-ku membahas mengenai apperture. Apperture yang berbeda memberikan efek yang berbeda karena adanya depth-of-field (DOF) yang berbeda. DOF adalah ruang tajam (area di foto yang masih tajam/tidak blur) yang terbentuk dari penggunaan apperture dan focal length tertentu.

Apperture besar (misalnya 2.8) secara umum memiliki DOF yang sempit. Sedangkan apperture kecil (misalnya f8) memiliki DOF yang lebih lebar. Untuk memahaminya lihat gambar dibawah ini :

F2.8 - 55mm
F2.8 - 55mm
F4 - 55mm
F4 - 55mm
f8 - 55mm
f8 - 55mm

Bisa kita lihat bahwa pada f2.8 bagian yang tajam hanya sedikit, sedangkan pada f8 terlihat bahwa pensil yang tajam makin banyak.

Tentunya focal length yang berbeda menghasilkan ruang tajam yang berbeda pula. Lensa tele cenderung memiliki ruang tajam yang lebih sempit pada apperture yang sama. Coba praktekkan dan kamu akan melihat bedanya.

Aplikasi dari apperture

Jika kamu mau memotret pemandangan alam, maka kamu akan berusaha memaksimalkan ruang tajam yang ada. Oleh sebab itu penggunaan apperture kecil (misalnya f8, f11 atau bahkan f22) lebih tepat.

Fajar menjelang di Sanur (f11 | 1/2 secs | ISO200 | EV-1)
Fajar menjelang di Sanur (17mm | f11 | 1/2 secs | ISO200 | EV-1)

Jika kamu mau memotret model / orang dan ingin membuat dimensi dengan cara mengaburkan background yang ada, maka lebih baik gunakan apperture besar (misalnya f2.8 atau bahkan f1.2). Hal ini akan membuat obyek yang di foto terasa separasinya dengan backgroundnya.

Belai angin (f4 | 1/1000 secs | ISO 200 | EV0)
Belai angin (200mm | f4 | 1/1000 secs | ISO 200 | EV0)

DOF yang sempit akan membuat background tampak blur, sangat cocok untuk model photography. Kemampuan membuat background blur adalah kombinasi dari :

  • Sensor kamera : makin besar sensor kamera maka DOF akan makin sempit dan background blur makin mudah diperoleh. Itu sebabnya kamera pocket (yang sensornya sangat kecil dibandingkan DSLR) sulit sekali memperoleh background blur.
  • Apperture : makin besar apperture maka background blur akan makin mudah diperoleh
  • Focal length : makin tele (misalnya 85mm ke atas) maka membuat background blur akan relatif akan makin mudah
  • Jarak antara obyek dan background : apabila jaraknya makin jauh maka background blur juga akan makin mudah diperoleh

Mengkombinasikan ke empat variabel diatas butuh pengalaman tentunya. Jadi sering seringlah mencoba berbagai alternatif pemotretan. Selamat belajar.




Liburan ke Singapore

Musim liburan anak sekolah sudah tiba. Terpikir untuk pergi ke Singapura sekaligus hunting foto tapi bingung mau atur jadwalnya gimana? Berikut sharing jadwal perjalanan pilihan saya berikut peralatan yang mungkin dibutuhkan, semoga bisa berguna ya 🙂 Dengan adanya penerbangan langsung airasia ke singapore maka biaya tentunya bisa lebih murah, so why dont you pack your bag and go 🙂

Day 1 – Jumat (cuti ajalah…)

Pagi : berangkat ke singapore. Pilihlah jadwal keberangkatan yang tiba di singapore sekitar jam 11, sehingga kurang lebih tepat waktu untuk check in ke hotel dan meninggalkan barang-barang yang kurang kita butuhkan.

Siang : begitu sampai di singapore langsung ke imigrasi dan meluncur ke pusat kota / hotel. Pilihan kendaraan tentu saja banyak. Tapi kalau saya maka saya pilih menggunakan MRT apabila hanya 1-2 orang saja, tetapi 3-4 orang maka saya akan pilih taxi. Di dalam stasiun MRT tidak diperkenankan memotret, tapi curi-curi menggunakan compact camera tentunya bisa saja dilakukan (hati-hati dan resiko tanggung sendiri ya hahaha). Sampai di hotel anda bisa makan siang dulu, mungkin mencoba nasi ayam hainam khas singapore? Setelah selesai makan langsung bongkar peralatan foto anda. Siapkan : kamera, lensa tele (misalnya 100mm, 200mm, 300mm, 400mm, atau 70-200mm), flash, tripod / monopod, filter CPL (dibutuhkan untuk menghilangkan efek pantulan kaca).

Sore-Malam : sebagai pilihan lokasi hunting pertama saya pilih Singapore Night Safari. Silahkan cek websites mereka untuk cara menuju kesana, biaya, dll. Saya anjurkan membungkus makan malam anda, karena harga makanan di lokasi relatif mahal. Saya anjurkan untuk datang agak awal sehingga bisa mengikuti show dan juga berjalan mengelilingi safari. Berjalan adalah pilihan yang lebih baik daripada naik bus yang ada. Mengapa? Karena anda memiliki lebih banyak kesempatan untuk memotret binatang, tidak terburu-buru.

Gunakan lensa tele anda agar bisa menjangkau lokasi binatang yang jauh (gak mau dimangsa ama singa kan? :p). Gunakan tripod / monopod untuk membantu memotret pada malam hari yang mengakibatkan shutter speed turun hingga dibawah 1/125mm. ISO speed bisa dipilih sesuai dengan noise yang bisa kita terima. Pengalaman saya sih menggunakan iso 800 pada canon EOS 40D masih memberikan noise yang dapat diterima.

Filter CPL bisa digunakan apabila binatang yang anda ingin potret ada di belakang kaca. CPL membantu kita menghilangkan pantulan pada kaca, sehingga foto menjadi lebih indah. Tentunya kompensasinya adalah shutter speed akan turun cukup banyak, sehingga iso tinggi dan atau tripod / monopod adalah keharusan.

Giant Flying Squirrel @ Singapore Night Safari
Giant Flying Squirrel @ Singapore Night Safari

Yang diatas adalah contoh satwa unik yang aktif hanya pada saat malam hari, Giant Flying Squirrel. Dia terbang kesana kemari di atas kepala malam itu. Sangat menyenangkan, baik melihat maupun memotretnya.

Pulang dari Singapore Night Safari kita charge energi dulu dengan istirahat yang cukup.

Day 2 – Sabtu

Sunrise di singapore agak siang (sama halnya dengan sunset yang terlambat), yaitu sekitar jam 7 pagi. Sehingga kita bisa berangkat sedikit lebih siang (dibandingkan hunting foto biasanya). Menu pagi ini saya sarankan ke Chinesse Garden. Lokasinya terletak ke arah Jurong bird Park / Jurong East.

Untuk mendapatkan cahaya pagi yang bagus dan juga sempet muter-muter di sana maka saya sarankan berangkat sekitar jam 5.30 pagi. MRT merupakan sarana transportasi yang cocok untuk menuju lokasi, mengingat jauhnya Chinesse Garden. Taman ini sendiri adalah taman umum (entry fee = 0, alias gratis). Disini kita akan menemukan berbagai bangunan yang menarik dan juga taman yang indah. Lensa wide adalah pilihan yang tepat disini. Lensa kit 18-55, 17-55, 17-40, 16-35 atau bahkan ultra wide 10-22 adalah pilihan yang tepat. Selain itu filter CPL (untuk birunya langit) dan Gradual ND (untuk meningkatkan dynamic range foto) juga diperlukan. Tripod hanya dibutuhkan apabila kita ingin juga foto-foto bersama.

Chinesse Garden
Chinesse Garden
Bridge over troubled water
Bridge over troubled water

Sekitar jam 9 matahari sudah mulai panas dan kurang cocok memotret landscape di chinesse garden. Jadi kita langsung melanjutkan perjalanan ke jurong bird park. Di lokasi ini kita dihadapkan dengan banyak sekali burung yang terbang bebas, maupun dalam kandang. Selain itu juga pertunjukkan yang sangat menarik. Beberapa lokasi / pertunjukkan yang menarik diantaranya adalah : Fuji World of Hawk, Birds n Buddies, King of the skies, danau flaminggo, kandang pinguin dan kandang raksasa burung parkit.

Untuk memotret di lokasi ini yang terpenting tentunya adalah lensa dengan kemampuan tele. Saya lebih menyarankan lensa 70-200mm atau 70-300mm yang memiliki fleksibilitas, dibandingkan lensa fixed seperti 300mm yang relatif akan kesulitan memotret di pertunjukan2 yang ada. Filter CPL dan tripod mungkin kita butuhkan di kandang pinguin & burung hantu yang memiliki kaca tebal dan lokasi agak gelap. Penggunaan flash di lokasi ini tidak saya sarankan karena hasilnya tidak akan maksimal, lebih baik menggunakan tripod dan slow shutter speed.

Makan siang bisa dilakukan di salah satu sudut Jurong Bird Park ini. Harganya memang agak mahal, tetapi daripada repot ya bolehlah ya :). Untuk mengejar event berikutnya maka saya sarankan anda sudah keluar dari Jurong Bird Park sebelum jam 4 sore.

Sore hari setelah dari Jurong Bird Park kita bisa langsung menuju ke Merlion Park / Esplanade menggunakan MRT. Di lokasi ini ada berbagai pilihan aktifitas yang dapat anda lakukan. Pilihan pertama adalah memotret gedung, pemandangan dan human interest di sekitar Esplanade. Sunset di singapore sekitar jam 19.00, sehingga kita masih punya cukup banyak waktu, termasuk untuk makan dahulu di mal – mal yang ada di sekitar Esplanade. Sedangkan twilight (kondisi dimana langit membiru gelap tak lama sesudah sunset, kondisi ideal memotret night scene) terjadi di kisaran jam 19.30. Tripod dan lensa wide adalah peralatan wajib bagi pemotretan di esplanade ini. Banyak sudut yang bisa diambil agar foto kita tidak terlihat seperti post card (red : biasa bangetttt).

Singapore City Scape at Night
Singapore City Scape at Night

Pilihan lain selain memotret esplanade dan patung Merlion-nya adalah pergi ke Singapore Flyer. Lokasinya tidak jauh dari esplanade, sekitar 15 menit berjalan kaki dari esplanade. Biaya masuknya relatif mahal, tetapi pengalamannya tidak tergantikan 🙂 baik untuk memotret atau sekedar pacaran. Berbeda dengan bianglala di Dunia Fantasi yang berotasi dengan kecepatan cukup cepat, maka flyer ini rotasinya sangat lambat. Oleh sebab itu kita bisa menyiapkan tripod dan memotret dari dalam flyer tersebut. Gunakan CPL juga untuk menghilangkan pantulan-pantulan pada kaca flyer. Sebagai tips saja, pilih waktu masuk ke dalam flyer dengan tepat. Pemilihan waktu yang tepat akan memberikan pemandangan twilight di sudut pemotretan terbaik.

Singapore Night at the Flyer
Singapore Night at the Flyer

Setelah selesai memotret esplanade / merlion / flyer kita bisa melanjutkan memotret Singapore Supreme Court (letaknya dekat dengan esplanade), atau bisa juga berbelanja berbagai barang elektronik, atau berjalan-jalan santai menyusuri sungai dan makan di dekat situ.

Masih belum puas belanja? Lanjutkan ke Mustafa di daerah Farrer Park. Di sekitar Mustafa banyak pemukiman India (dekat pula dengan Little India). Lokasi ini sempurna bagi peminat human interest. Lensa wide dan flash (karna malam hari) adalah peralatan wajibnya. Mustafa buka 24 jam, jadi jangan khawatir dia tutup setelah kita selesai memotret. Di Mustafa kita bisa temukan berbagai barang, dari sekedar barang kebutuhan sehari-hari, elektronik, emas, parfum, dll. Ingat saja bahwa esok hari anda masih harus travelling lagi, jadi simpan tenaga sedikit.

Perjalanan di Singapore memang banyak berjalan kaki. Salah satu obat yang melegakan pegal di kaki adalah merendam kaki kita di bath tub dengan air panas yang dicampur garam sedikit. Rasanya sangat nyaman, membantu kita untuk tidur lebih nyenyak.

Day 3 – Minggu

Kita mulai hari dengan sedikit lebih siang…ambil nafas sedikit kan setelah capek kemaren seharian. So kita bisa belanja dahulu di Orchard Road, atau berjalan – jalan di Chinatown. Keduanya menawarkan wisata belanja, sekaligus foto – foto human interest (lensa wide dan tele) juga foto-foto berbagai souvenir lucu (lensa tele atau makro).

Sekitar jam 11 langsung lanjut ke arah Harbourfront untuk menuju Sentosa Island. Pulau ini bisa dicapai dengan berbagai cara, tapi menurut saya pengalaman yang paling menarik adalah dengan naik kereta gantung. Kereta gantung ini akan melintasi selat laut yang ada. Sesampainya di Sentosa Island kita bisa melihat banyak atraksi, tinggal pilih. Tapi pilihan saya adalah :

  • Butterfly park & insect kingdom (lensa tele dan macro berjaya disini)
  • Dolphin lagoon (lumba-lumba warna merah muda tentunya hanya bisa di ambil gambarnya dengan menggunakan lensa tele)
  • Image of singapore (lensa wide, flash dan tripod dibutuhkan untuk foto-foto disini)
  • Song of the sea (must watch attraction, tapi untuk memotretnya kita membutuhkan tripod dan iso / lensa yang cepat, hal ini karna atraksinya hanya ada malam hari)

Karena song of the sea baru selesai jam 9 malam dan jadwal airasia terakhir ke Jakarta juga jam 9 malam, maka menginap 1 malam lagi di singapore adalah satu-satunya pilihan apabila ingin menonton song of the sea.

Tentu terbuka kemungkinan untuk menggeser jadwal hari sabtu menjadi jadwal hari minggu. Dengan demikian setelah selesai memotret di merlion / esplanade / flyer bisa langsung ke airport setelah mengambil barang-barang kita di concierge hotel. Jeleknya adalah kemungkinan kita tidak memperoleh pemandangan twilight yang mempesona, karna jam 5/6 sore kita harus sudah pulang.

Apabila kita memilih untuk menginap semalam lagi maka malam itu bisa digunakan untuk berbelanja, atau juga berjalan – jalan di mal2 yang ada di Singapore. Paginya apabila anda sampai di Changi Airport jangan lupa untuk mengunjungi orchid & sunflower garden di dalam airport tersebut. It’s a wonderfull place to shoot using macro and tele lens.

Sunflower Solitaire
Sunflower Solitaire

Selamat berlibur dan juga tentunya…MEMOTRET 🙂




The beauty of small thing – Macro Photography

 

Aduh basah

Pernah lihat mahluk diatas? Mungkin pernah tahu tapi tidak pernah memperhatikan kali ya? Atau pernah lihat yang dibawah ini ?

 

Aneh bahwa benda yang tidak pernah kita lihat secara detil ternyata indah. Itulah keindahan dari fotografi makro. Fotografi makro adalah aliran fotografi yang memotret benda – benda yang relatif kecil. Benda ini bisa beragam, dari serangga, bunga, mainan kecil, tetes embun, dll. Saya akan coba share sedikit mengenai aliran fotografi ini.

The beginning

Apa yang dibutuhkan untuk memulai fotografi makro? Aliran ini cenderung lebih “murah”, mengapa? Karena dengan sebuah kamera pocket yang memiliki mode macro (baca manual kamera pocket tersebut) maka kita udah bisa memotret. Foto dibawah ini di ambil menggunakan canon powershot A610 oleh adik saya.

 

Wah ternyata bisa ya? Ya…..kamera pocket adalah salah satu kamera yang sangat cocok digunakan untuk fotografi macro. Mengapa?

  1. Murah…jauh relatif lebih murah dibandingkan DSLR dan lensa khusus
  2. Pembesaran besar, karena sensor yang relatif kecil maka fotografi makro bisa dilakukan dengan baik, barang kecil bisa keliatan besar dengan mode macro (baca buku manual kamera dahulu untuk tahu mana mode macro itu)
  3. DOF yang lebar, DOF / ruang tajam (bagian di foto yang tajam / tidak blur) pada kamera pocket relatif luas. Jadi dengan apperture f2.8 pun kita bisa dapat foto yang cukup tajam. Padahal pada kamera DSLR kita harus menggunakan f8 untuk mendapatkan ruang tajam yang sama, yang akibatnya shutter speed yang lebih lambat, akibatnya lagi gambar bisa blur karena goyang – well more about this later on ya.

DLSR? Tentunya masih meraja karena faktor kualitas foto yang lebih baik dan fleksibilitas yang lebih bagus, bisa ganti lensa sesuai dengan kebutuhannya. Tapi mari kita coba dengan menggunakan kamera pocket dulu.

Perangkat lain yang dibutuhkan?

  • Tripod, kadangkala fotografi makro dilakukan pada kondisi pencahayaan yang minim. Jadi tripod dibutuhkan untuk membuat kamera lebih stabil dan hasilnya foto yang lebih tajam. Tripod sebenarnya bebas, tetapi untuk fleksibilitas maka baik jika kita membeli tripod yang bisa memotret dengan ketinggian sampai dengan 10-15 cm. Bagaimana hal ini dilakukan? Dengan membentangkan kaki tripod sampai hampir 180 derajat.
  • Lens converter dan macro filter, tipenya mungkin berbeda untuk tiap jenis kamera pocket. Tapi intinya lens converter ini dipasangkan di lensa kamera pocket agar filter bisa dipasangkan
  • Flash, kita mungkin membutuhkannnya apabila kondisi pencahayaan sedang kurang. Hal ini terutama karena serangga (yang biasa menjadi obyek macro) biasanya baru sedikit tenang kalau sudah agak sore.

How to do it ?

Langkah pertama adalah mencari obyek tentunya. Obyek macro ada dimana – mana, disekitar rumah kita pun tersedia (ini sebabnya saya sangat suka dengan macro, indah dan “murah”). Tergantung kesukaan kita maka dapat kita pilih bunga, daun, serangga, butiran embun, sarang laba-laba, dll. Lakukan observasi kapan obyek ini dalam kondisi paling indah. Misalnya : untuk memotret bunga dengan embun tentunya tidak dapat kita lakukan sore hari, so kita harus memotretnya pagi-pagi benar.

Setelah obyeknya dan waktunya kita ketahui barulah kita dapat menentukan peralatan yang kita butuhkan. Apabila kondisi pencahayaan sedikit / gelap (misalnya pagi2 benar) maka kita membutuhkan tripod / flash. Sedangkan apabila obyeknya sangat kecil maka kita membutuhkan lens converter / macro filter untuk memperbesar obyek.

Setelah kita sampai ke lokasi maka :

  1. Siapkan kamera (dan settingnya) dan tripod anda
  2. Dekati serangga dengan hati – hati. Tiap serangga memiliki “circle of fear” yaitu radius dimana mereka tidak terganggu / terbang. Apabila kita melebihi radius itu biasanya mereka akan terbang / pergi. Salah satu trick adalah dengan memperhatikan tingkat serangga / binatang tersebut. Apabila dia sudah mendongakkan kepalanya (bersikap waspada) maka lebih baik kita berhenti dahulu mendekatinya. Setelah dia lebih tenang barulah kita mendekatinya lagi
  3. Apabila obyeknya adalah benda mati (misalnya sarang laba-laba, bunga, dll) maka hal ini lebih mudah. Perhatikan sisi terbaik dari obyek, jangan langsung main potret saja. Perhatikan dulu dari sisi mana obyek itu terlihat paling indah. Dari atas, samping kanan, kiri atau bahkan dari belakang mungkin?
  4. Sesuai dengan kata salah satu maestro foto Capa “If your photos is not good enough, then you’re not close enough”. Artinya coba dekati obyek secara perlahan – lahan. Kadangkala semakin dekat kita dengan obyek maka keindahannya menjadi lebih nyata. Hal ini dikarenakan foto obyek tidak terganggu hal – hal yang lain (misalnya background)
  5. Setting :
    • Gunakan Mode Av (Apperture Priority) – hal ini untuk memberikan fleksibilitas bagi kita dalam mengatur ruang tajam
    • Gunakan iso yang terkecil jika anda menggunakan kamera pocket. Hal ini dikarenakan noise kamera pocket relatif tinggi.
    • Apabila anda menggunakan DSLR maka gunakan iso 200-400
    • Untuk kamera pocket start dengan f4, apabila speed masih lambat (untuk tanpa tripod yaitu dibawah 1/125, atau dengan tripod dibawah 1/10) maka perbesar apperturenya menjadi misalnya f2.8
    • Untuk DSLR gunakan apperture sekitar f8 atau lebih. Penggunaan apperture sangat tergantung pada ruang tajam yang mau kita buat. Gunakan tombol dof preview pada DSLR untuk menguji ruang tajam
    • Untuk autofocus gunakan center autofocus, hal ini supaya mempermudah saja. Tekan shutter setengah untuk auto focus pada area yang kita inginkan tajam, lalu geser (sambil tidak melepaskan jari dari shutter) sampai mencapai komposisi yang kita inginkan.

Banyak sekali hal yang tidak bisa saya tuliskan disini. Well, media tulisan selalu terbatas bukan? So feel free to contact me kalau ada pertanyaan mengenai macro…mungkin saya bisa share pengalaman, atau juga bisa kita cari solusinya bersama….Salam jepret !!!