Tag Archives: carl zeiss

A little touch of HDR

Foto arsitektur dan landscape seringkali terkendala dengan tinggi nya dynamic range. Mengakibatkan area gelap terlalu gelap, atau area terang terlalu terang. Memang GND membantu, tetapi kalau area yang berbeda dynamic range nya “ambulakral” alias tidak beraturan, maka GND bisa membawa masalah lain : area hitam ketutup GND wkwk.

Oleh sebab itu banyak fotografer sekarang menggunakan tools software High Dynamic Range (HDR). Aplikasi ini tersedia di Canon DPP yang baru, Adobe Photoshop atau (yang saya gunakan) Photomatix. Masing masing memiliki plus minus sendiri. Saya sendiri menggunakan HDR ringan saja … seringkali strength nya saya kurangi 25% dari default yang ada. Hal ini supaya tidak terlalu nampak sureal.

Foto diatas diperoleh di jembatan penyebrangan antara garden by the bay ke shopping centre marina sands bay – melintasi hotelnya. Saya kebetulan sudah “enggan” membentangkan tripod, sehingga saya tumpangkan saja kamera di railing yang ada. Cara praktis hehe … kebetulan sudut pandang railing nya pas dengan yang saya mau.

Setelah diambil foto saya post processing di photomatix dengan setting default saja, tetapi strength saya kurangi sekitar 10% … hasilnya seperti di atas. So, jangan khawatir untuk menggunakan HDR asal tidak terlalu berlebihan.

Pada foto dibawah ini HDR saya gunakan pada fotografi landscape. Tentunya hasil yang mendekati sama bisa saya peroleh dengan menggunakan metode burning dan dodging … cuma prosesnya lebih lama saja. HDR tools adalah jalan pintas awal buat mengolah foto. Akan tetapi hasilnya tentu saja lebih banyak “artefact” dibandingkan metode burn and dodge manual.

 





Carl Zeiss Sonnar 135mm f2.8 T* Quick Review

Berturut-turut beberapa minggu tulisannya soal lensa manual … bukan karena berniat meracuni, tapi pas kebetulan ada barang jualan yang di uji coba sebelum dijual. Lensa ini dibeli di ebay beberapa waktu lalu. Dari awal saya memang hanya ingin mencoba, karena 135mm buat saya agak terlalu tele. Ternyata memang benar, setelah saya uji coba saya kurang prefer terhadap focal length lensa ini. Tapi kualitas hasilnya? Well, CZ gitu ……

Lensa Carl Zeiss Sonnar 135mm f2.8 T* ini adalah lensa lawas keluaran Carl Zeiss, “pencipta” lensa. “Sonnar” menyatakan nama desain dari struktur lensa ini. Nama-nama di carl zeiss menyatakan karakter dari lensa akibat dari desain susunan optik nya. Tapi tidak secara langsung menyatakan kualitas seperti di Canon L Series misalnya.

T* sendiri menyatakan jenis coating yang digunakan, ini adalah jenis coating “paling moderen” dari carl zeiss. Coating yang membuat CZ berbeda dibandingkan lensa lainnya. Bukan berarti lensa CZ tanpa coating T* jelek lho … marketing gimmick saja lah. Buktinya lensa CZ Flektogon 35mm f2.4 walau bukan T* hasilnya sama saja mengagumkan dan CZ banget.

Mounting lensa ini adalah Contax Yashica atau biasa dikenal dengan C/Y mount. Mounting ini bisa digunakan di berbagai kamera dengan menggunakan adapter. Saya menggunakan adapter C/Y to EOS generik (China version) dengan focus confirmation chip. Tinggal pasang di bagian belakang dan lensa “siap digunakan”. Sedangkan untuk Nikon bisa menggunakan adapter Leitax apabila tidak ingin mem-bubut pantat lensa ini demi memperoleh infinity focus.

Saya berikan tanda kutip pada kata siap digunakan, karena untuk menggunakan lensa ini di Canon Full Frame maka kita perlu melakukan operasi. Operasinya mirip dengan operasi yang saya lakukan di Nikon 20mm f4 AIS. Hal ini dikarenakan pada mounting ini ada bagian yang menonjol dan menghambat pergerakan mirror pada canon full frame. Pada canon non full frame tidak akan ada kendala karena posisi sensor dan mirror yang lebih menjorok ke dalam. Operasinya sendiri saya lakukan hampir 2 jam, karena material besinya yang keras sekali *lap jidat.

 

SAMPLE …..

Overall saya puas dengan lensa ini. Tajam, memiliki karakter warna – kontras – 3d effect yang CZ sekali. Ukurannya sendiri juga masih manageable (585 gram – Canon EF 135 f2 : 750 gram). Minimum focus distance nya tidak sampai istimewa (1.6 meter – sementara EF 135 : 90 cm).

Continue reading Carl Zeiss Sonnar 135mm f2.8 T* Quick Review

Lensa Manual

“Di jaman era digital moderen begini pake lensa manual focus? Astagaaaaa … kurang kerjaan bener”

Kalimat itu muncul pertama kali beberapa tahun lalu dari mulut saya waktu mulai tahu keberadaan lensa manual. Para penggemar lensa manual ini sering berkumpul di forum LensaManual.Net dan forum lainnya. Bagi saya pada waktu itu (fanatic lensa canon) menggunakan lensa manual sungguh kemunduran besar. Mengapa pula menggunakan teknologi yang “kuno”, sementara para engineer Canon dan Nikon berlomba lomba membuat sistem Auto Focus yang canggih dan moderen. Tidak ada dasarnya pula menggunakan lensa tua dibandingkan lensa moderen saat ini.

Saya makin tidak paham saat melihat salah satu produsen lensa paling terkenal, Carl Zeiss, masih membuat lensa moderen mereka dalam versi manual focus. Harganya? Fiuhhhh bikin bulu kuduk merinding. Setara bahkan lebih sedikit dari L Series nya Canon. Kenal Leica? Namanya yang legendaris siapa yang tak kenal. Mereka juga masih bikin lensa moderen mereka dalam format manual focus. Haizzzzz dugaan saya awalnya karena masalah segmentasi pasar nih. Supaya berbeda dibanding crowd nya. Hahaha ….

(sembari mengingat-ingat) …. saya pertama kali mengenal lensa manual saat mau mencoba lensa legendaris Nikon 28 mm f2.8 AIS. Awalnya karena mau mencoba saja, dan lensa ini relatif murah. Sekalian mau coba apakah lensa nikon bisa memberikan nuansa berbeda. Eh ternyata asik juga warnanya dan kemampuannya untuk close focus (semi makro). Ketajaman lensa ini juga mulai membuka mata saya bahwa ada lensa non canon yang bisa dipasangkan di body canon dan menghasilkan foto yang lebih tajam dibandingkan lensa canon.

Mulailah saya iseng mencoba lensa lawas lainnya. Kali ini lensa yang menjadi andalan mendiang Galen Rowell, Nikon 20mm f4 AIS. Lensa ini walau menarik dan memberikan pengalaman baru “ngoprek” mounting tetapi masih kalah dibandingkan dengan lensa nikon 28mm yang pertama saya coba.

Berlanjut dengan keinginan saya memiliki lensa 35mm (yang merupakan lensa all round fix di full frame). Setelah membeli lensa Canon 35mm f2 saya tergoda mencoba salah satu lensa manual yang disebut-sebut legendaris, Carl Zeiss Jena Flektogon 35mm f2.4. Bahkan saya sempat bikin perbandingan juga antara kedua lensa ini. Saya jatuh hati dengan lensa CZ, terutama dengan desain body nya yang cantik. Saya masih ingat pertama kali memegangnya saya bilang “Wow, ini kayak jewelry buat fotografer nih”.

Berangkat dari situ saya mulai mempelajari lensa manual, sejarah, kelebihan dan teknis yang terkait. Sampai akhirnya saya tiba pada kesimpulan bahwa manual focusing is not that bad for hobiist (bukan profesional). Selain itu lensa memiliki karakter yang tidak tunggal (hanya masalah sharpness), melainkan banyak aspek. Dan finalnya adalah saat saya membeli Carl Zeiss Distagon 18mm f3.5 dan bahkan mengganti hampir semua jajaran lensa otomatis saya menjadi lensa manual.

 

MENGAPA MANUAL ?

Ada beberapa hal yang membuat saya menyukai manual :

  • Untuk landscaper yang sering menggunakan wide lens maka saya lebih nyaman menggunakan lensa manual. Hal ini karena ada DOF  scale pada lensa. DOF Scale memungkinkan kita melihat jarak yang masuk ke dalam ruang tajam di berbagai aperture. Jadi untuk mengaplikasikan hypefocals techniques akan jauhhh lebih mudah. Cukup set di aperture yang kita inginkan dan lihat DOF scale yang ada. DOF scale ini sudah tidak ada lagi di lensa AF, kalaupun ada dalam skala yang sangat tidak membantu proses focusing.
  • Continue reading Lensa Manual

Bunga – Bunga Liar – Part 2

Ini sehari setelah pemotretan bunga liar yang pertama. Saya kembali datang ke lokasi yang sama untuk memotret sedikit lebih lama (well cuma 15 menit juga sih). Kali ini suasananya agak berbeda karena matahari sudah lebih tinggi sedikit. Jadi selain mengambil dari angle yang sama (membelakangi matahari) seperti pada pemotretan pertama. Saya coba ambil angle menghadap matahari.

Akibat dari pose pemotretan ini maka muncul flare (lihat garis garis sinar matahari di bagian atas) dan juga posisi ini membuat sisi terluar dari bunga ter-ekspose sinar matahari. Lihat bulu-bulu bunga yang terlihat jelas pada foto dibawah ini.

Efek lain dari pemotretan dengan arah backlight ini adalah warna cenderung lebih “mendem” dibandingkan foto sebelumnya. Maklum, arah cahaya matahari berbeda maka dampak terhadap warna juga berbeda.

Salah satu trik pemotretan backlight adalah jangan memasukkan matahari sepenuhnya kedalam frame foto. Selain pasti over exposed parah dan jadi blok warna putih, dampak lainnya adalah flare yang tidak terkontrol. Kalau kita meletakkan matahari pada sudut luar foto maka flarenya relatif lebih bisa terkontrol. Malahan menjadi elemen pemanis dari foto.

Garis flare di sudut kiri atas foto diatas adalah hasil meletakkan matahari tepat diluar foto, sehingga yang masuk ke foto hanyalah flare yang terkontrol saja. Tidak sampai OE kemana mana. Tentunya beda lensa akan memiliki karakater flare yang berbeda pula.

Ayo, mumpung barusan mulai hujan dan tanaman liar mulai merebak, indah buat di foto. Coba pula tangkap keindahan embun / bekas air hujan di pagi hari. Have fun …





Bunga – Bunga Liar

Jum’at lalu saat berangkat ke kantor saya bawa kamera. Kebetulan ada keperluan yang membuat harus membawa peralatan ini. Sesaat melewati rumah saya, pas di belokan, saya melihat kumpulan bunga liar yang sedang mulai bersemi (karena hujan mulai turun). Kebetulan pula langit sedang agak mendung. Aihhhh, lightingnya cukup bagus, diffused dan lembut. Jadi mikir, berhenti motret gak ya.

Tapi akhirnya saya putuskan untuk berhenti juga motret barang 5 menit. Soalnya teringat  beberapa waktu lalu saya ketemu tempat yang sangat indah dengan lighting yang indah, waktu itu saya skip, tidak motret. Eh waktu diulang lagi ke lokasi yang sama dan kira-kira jam yang sama ternyata sudah tidak sama dan tidak bisa deh ambil foto yang saya mau. Jadi saya berpikir daripada nanti menyesal, lebih baik saya berhenti sebentar deh.

Foto ini diambil menggunakan lensa manual Carl Zeiss Flektogon 35mm f2.4. Lensa ini jangan dipikir mahal sekali, ini lensa tua tahun 1980an … tapi masih dalam kondisi yang sangat bagus. Salah satu kelebihan lensa ini adalah minimum focus distance yang dekat, membuat bunga liar yang diameter nya tak lebih dari 1 cm ini bisa terlihat cukup detil. Sembari menghasilkan bokeh yang indah. Saya sangat menyukai lensa ini, salah satu lensa favorit saya.

Setting yang digunakan tidaklah aneh-aneh. Hanya menggunakan aperture terlebar (f2.4) dipadu dengan auto ISO & Faithfull picture style + Daylight WB. Salah satu karakter yang berbeda dengan lensa Canon adalah lensa manual CZ & Leica cenderung lebih asyik warnanya jika menggunakan picture style Faithfull (selera saya ya) dibandingkan Standard.

Post processing juga tidak ada aneh-aneh, hanya naikin saturasi sampai +3 dan buat S-Curve di Canon DPP. Di Photoshop untuk foto diatas hanya menambahkan vignette sedikit. Sedangkan foto disamping tidak di olah lebih lanjut. Nyaman memang bekerja dengan lensa manual buat saya, post processing nya tidak banyak karena tonalnya sesuai dengan yang saya mau.

Tentunya saya perlu melakukan sharpening pada foto setelah proses resized. Tapi walaupun demikian lensa CZ Flek 2.4/35 ini memang sudah menghasilkan foto yang tajam. Sehingga sedikit saja sharpening sudah memadahi.

Yang ingin digaris-bawahi di post ini adalah bahwa melatih mata (A Photographer’s Eyes) sangatlah penting. Dan apabila ada momen yang menurutmu layak dan bagus buat di foto, jangan ragu dan jangan tunda. Ambil foto pada saat itu juga. Dan yang terakhir :

Nothing happens when you sit at home. I always make it a point to carry a camera with me at all times…I just shoot at what interests me at that moment. – Elliott Erwitt




The Wide Princess … Carl Zeiss Distagon 18mm f3.5 ZE

The Intro …

Selama periode yang cukup lama saya mencari jati diri dalam hal memotret. Berbagai bidang dan metode pemotretan saya coba. Sampai akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa saya adalah landscaper dengan karakter foto wide. Udah nenteng berbagai lensa di backpack tetap saja yang paling banyak dipakai adalah lensa wide.

Karakter kedua saya adalah warna. Saya suka dengan warna-warna yang pekat dan kuat. Oleh sebab itu seringkali picture style saya push sampai standard saturasi +3 bahkan +4. Hal ini karena memang karakter warna body Canon agak pastel. Enak buat pemotretan human interest, tetapi kurang nendang kalau tidak di tweak untuk landscape.

Selama periode yang cukup lama saya mengandalkan lensa Canon EF-S 10-22 (saat menggunakan 40d) dan EF 17-40 (saat menggunakan 5d). Kedua lensa ini performance nya bagus. Saya cukup senang menggunakannya dan para “pemirsa” juga amazed dengan hasilnya. Tetapi hobiist yang dipentingkan adalah kepuasan pribadi. Saya masih belum puas dengan ketajaman di corner (kedua lensa), distorsi (17-40) dan warna (keduanya).

Pencarian saya “berakhir” saat pertama kali saya memegang lensa Carl Zeiss distagon 18mm f3.5 di salah satu toko di bangkok. Saya langsung jatuh cinta dengan body nya yang full metal – kokoh tetapi cantik sekali (saya menyebut lensa ini princess CZ). Kehalusan ring focusnya dll juga membuat saya terpana. Tetapi saya makin terpana saat melihat sample hasil dari lensa Carl Zeiss di Fred Miranda. Semua lensa CZ ini menghasilkan ketajaman, 3d effect dan warna yang sangat saya inginkan.

Setelah lama mikir, akhirnya dilepaskan juga 17-40 f4 L dan 70-200 f2.8 L IS untuk lensa CZ 18mm ini. Sebenarnya ada pilihan CZ Distagon 21mm f2.8, akan tetapi saya merasa karakter foto saya kurang sesuai dengan focal length “hanya” 21mm … dan benar memang (kadang malah pengen 16mm).

 

Why Do I Choose “Her” ?

Memilih lensa ini tidaklah mudah buat kebanyakan orang. Pertama karena dia adalah full manual lens .. artinya tidak ada sistem auto focus. Kita harus memutar sendiri ring focus sampai gambar di viewfinder tajam. Walaupun di sistem ZE (mounting canon) ini dia sudah memiliki focus confirm (saat kita menekan separuh tombol shutter dan ring kita putar maka pada area focus dia akan menyala titik focus & bunyi beep) dan aperture sudah bisa di kontrol dari body kamera. Tetapi hal ini tidak menjadi kendala buat saya karena :

  1. Pemotretan wide tidak terlalu sensitif dengan focusing, mengingat wide + biasanya aperture sempit – apalagi  landscape yang menggunakan hyperfocals distance techniques … malah lebih enak dengan lensa ini. Karena di bagian depan lensa ada skala jarak. Jadi kita bahkan tidak usah melakukan focusing, cukup memutar ring focus dan memposisikan tanda infinity pada bagian paling kanan dari batas aperture yang kita gunakan. Praktis dan mudah bagi landscaper.
  2. Bagi hobiist memutar ring focus secara perlahan dan menemukan titik focus adalah kenikmatan tersendiri … jelas bukan untuk fotografer profesional, apalagi liputan, yang butuh kecepatan. Tetapi buat seorang penikmat fotografi prosesnya sungguh menyenangkan.

Jangan pikir menggunakan lensa manual dan lensa AF yang di set manual itu sama. Experience nya sangat jauh berbeda. Hal ini terutama karena lensa AF ring focusnya tidak di desain untuk di setting manual focus. Sehingga kurang presisi. Jauh sekali bedanya dengan lensa manual yang presisi (bisa berputar hampir 270 derajat).

Continue reading The Wide Princess … Carl Zeiss Distagon 18mm f3.5 ZE




Carl Zeiss Distagon 35mm f2 ZE

Nah kalau sebelumnya adalah hasil dari Carl Zeiss Flektogon 35mm f2.4 maka ini adalah hasil dari teman kita Indra dengan Carl Zeiss Distagon 35mm f2 ZE nya. Agak berbeda dengan lensa carl zeiss lama maka lensa ini sudah bisa diatur aperture nya secara elektronik (via body kamera). Tetapi tentunya tetap manual focus (click for larger size) :

Karakternya memang berbeda sedikit, tapi saya tidak yakin 100% karena tidak membandingkan langsung dengan lensa lain. Selain itu juga karakter langit Eropa berbeda dibanding lokal, dimana langit birunya “selalu” mantap untuk di foto. Semoga suatu saat bisa membandingkan langsung.


Carl Zeiss Jena Flektogon 2.4/35mm vs Canon EF 35mm f2

Selain mencoba Canon EF 35mm f2 saya juga membeli lensa lawas milik Carl Zeiss, Flektogon 35mm f2.4. Lensa CZ Jena memang jadi perdebatan apakah benar – benar Carl Zeiss atau bukan, tapi saya tidak terlalu peduli lah. Saya hanya ingin tahu karakter kedua lensa ini berbeda dalam hal apa sebenarnya. Setelah saya uji coba maka saya peroleh kesimpulan bahwa memang CZ sedikit berbeda dengan Canon.

Untuk menggunakan lensa dengan mounting kuno M42 ini saya menggunakan generic adapter dengan chip focus-confirm. Adapter ini memungkinkan lensa ini digunakan di Canon 5d Mark II yang saya gunakan. Saat tombol shutter ditekan separuh dan ring focus kita putar maka focus confirm akan ditandai dengan bunyi beep. Akurasinya cukup baik.

Sebelum membahas perbedaan – perbedaan yang saya temukan, berikut beberapa foto yang diambil dengan CZ Flektogon 2.4/35mm seharga sekitar 2.8jt ini :

Karakter warna CZ adalah warm dengan color cast relatif normal, sementara Canon agak magenta sedikit

Lensa ini bisa sampai makro 1:2 karena bisa sangat dekat dengan obyek, bunga ini hanya berukuran diameter 5mm

Karakter bokeh dari CZ tidak smooth creamy, tapi masih ada bentuk, buat beberapa orang suka, ada juga yang kurang suka

Continue reading Carl Zeiss Jena Flektogon 2.4/35mm vs Canon EF 35mm f2