Tag Archives: camera

Peralatan Yang Terlupakan — Tas Kamera : Mindshift 180 Panorama Review

Kita sering fokus (banget) pada peralatan utama, kamera – lensa – filter, dan menganggap sepele urusan tas kamera. Padahal tas kamera yang gak nyaman menimbulkan banyak masalah :

  • Tas yang kurang kuat lalu mengakibatkan peralatan jatuh dan rusak
  • Padding (bagian empuk di dalam) yang kurang juga menimbulkan resiko terbentur
  • Ergonomi tas yang kurang nyaman membuat tas tidak nyaman di sanding, akhirnya motret juga tidak nyaman

Saya sudah 8 tahun lebih sepertinya tidak mengganti tas kamera. Saya menggunakan Lowepro MiniTrekker sejak jaman DSLR, dan menambah dengan lowepro Fastpack 100 pada saat mulai travel dan pakai mirrorless.

$T2eC16ZHJGUFFhz0LPGvBSKChojz9!~~60_35

Fastpack_100_Stuffed

Merek lowepro ini tahan banting, sudah terbukti 8 tahun menemani saya ke berbagai penjuru. Tapi saya punya kendala dengan nya :

  • Minitrekker walau kapasitas cukup besar dan lumayan ergonomis, tapi ukuran besar dan kalau mau ambil peralatan maka tas perlu di taruh di bawah. Sangat beresiko kalau mengambil lensa dan peralatan yang ada di bagian agak bawah dari tas tanpa tas di taruh di bawah. Akibatnya repot banget kalau motret landscape di laut, atau travel yang sering kamera keluar masuk.
  • Kendala lain dengan minitrekker adalah tripod terletak di depan, sehingga kalau tripod tergantung akan sangat repot buat buka tas nya.
  • Fastpack adalah andalan saya sebelumnya untuk travel, mungil, cukup untuk mirrorless saya dan beberapa tambahan lain (filter, topi, dll). Tas ini juga praktis karena ambil barang dari samping, so tinggal di miringkan maka kita bisa ambil peralatan.
  • Kendala dengan si fastpack ini adalah ergonomi, kalau di bawa jalan jauh maka gendongannya akan menekan sisi lengan dan bikin tangan pegal dan kebas lama lama. Gak nyaman.

Itu sebabnya pas naik ke Rinjani saya masukkan XT1 dan XF 10-24mm saya ke padding tambahan, lalu masuk ke daypack Deuter Futura saya. Tas gunung. Bukan tas kamera. Karena gak ada tas kamera yang enak buat naik gunung, percaya deh.

Tapi dengan begitu saya repot juga, karena keluar masukin repot, dan juga padding nya gak maksimal.

Saya selalu mikir, ini gak ada produsen tas kamera yang mikir untuk menggabungkan ergonomi daypack (misalnya Deuter Futura) dengan tas kamera apa ya? Kenapa semua tas kamera gak di desain untuk trekking dan “landscape”

5035-762_FRE18_view1_1000x1000

Beberapa bulan lalu akhirnya saya ketemu satu artikel yang menyarankan untuk melihat merek MindShift. Produsen ini adalah anak perusahaan ThinkTank. Mereka spesialisasi nya adalah tas kamera untuk trekking / travel / landscape. So, gendongan dan segala macam desainnya dipikirkan untuk bawa kamera + travel / trekking.

Saya tertarik dengan seri Panorama, yang ukurannya kecil. Tidak sebesar dan seberat seri Pro nya.

Yang menarik adalah semua seri MindShift memiliki mekanisme 180, dimana kita bisa meraih sisi kanan dari tas, melepas kaitan magnet, dan menarik semacam tas pinggang berisi kamera kita. GENIUS !!!!!

muench-workshops-mindshift-panorama-1default_09-03471-2014PD-1 Untuk ambil kamera jadinya tas bahkan tidak perlu turun dari punggung, tidak kotor dengan tanah / air. Kerennya lagi adalah buat ganti lensa jadi sangat mudah, karena ada tempat kita menaruh lensa ganti dll. I LOVE IT !!!!

Continue reading Peralatan Yang Terlupakan — Tas Kamera : Mindshift 180 Panorama Review

Kamera Fuji yang mana?

Ada banyak MY-ers yang nanya ke saya mengenai kamera Fuji yang mana yang sebaiknya dipilih kalau mau coba / hijrah. Daripada mengulang berulang kali, so lebih baik saya tulis saja mungkin ya.

Ganti lensa vs Gak Ganti Lensa

Fuji punya 2 kategori besar terlebih dahulu, yaitu kamera yang bisa ganti lensa dan yang gak bisa ganti lensa. Ini tergantung kebutuhan, kalau suka yang enteng ya gak ganti lensa, karena sudah pasti ukuran lebih kecil. Tapi kalau mau fleksibel ya cari yang bisa ganti lensa.

Yang gak bisa ganti lensa ada yang ukuran sensor kecil : X10, X20 dan X30 – dan ada yang ukuran sensor mirip DSLR : X100, X100s dan X100T. Gua gak akan bahas yang kelompok ini.

Buat yang ganti lensa contohnya adalah : XA1, XM1, XPro1, XE1, XE2, XT1

X_index

 

Image Quality & Tonal

Image quality tergantung pada sensor yang digunakan. Sampai saat ini ada 3 kelompok sensor yang digunakan oleh Fuji :

  1. CMOS : digunakan di XA1
  2. XTrans1 : digunakan di XM1, XPro1, XE1 – adalah sensor khas fuji dengan ketajaman yang mumpuni karena di hilangkannya anti alias filter. Ini adalah sensor fuji yang terkenal itu.
  3. XTrans2 : digunakan di XE2 dan XT1 – ini image quality sih sama dengan XTrans1, kurang lebih lah, perbedaan utama bukan di tonal ataupun image quality. Tetapi XTrans2 sudah menggunakan teknologi yang membuat auto focus lebih cepat.

So dari segi image quality bisa dibilang kecuali XA1 (which is also good) kurang lebih sama saja. Tonal bahkan tidak bisa dibedakan antara menggunakan XE1 atau XT1. Buat saya ini sebenarnya nilai tambah, karena saya bisa motret dengan 2 body berbeda tetapi menghasilkan signature tone dan sharpness yang kurang lebih sama.

Continue reading Kamera Fuji yang mana?

DOF Preview Button

Mungkin tidak semua orang sadar bahwa ada tombol yang namanya DOF preview button ini. Lokasinya biasanya ada di dekat pertemuan lensa dan body, beda merk kamera biasanya berbeda pula lokasinya. Selain tempatnya tersembunyi, setelah di tekan kok rasanya tidak ada dampak apapun, makanya sering dilupakan. Padahal ini sebenarnya cukup berguna di beberapa kesempatan.

dofpreviewbutton

Sebelum membahas guna tombol ini maka perlu dipahami cara kerja kamera terlebih dahulu.

Apa yang kita lihat di viewfinder adalah cahaya yang masuk dari lensa. Supaya viewfinder terang dan nyaman digunakan maka salah satu “trik” produsen DSLR adalah dengan mensetting lensa pada bukaan maksimal.

Jadi kalau kita menggunakan lensa 70-200 f2.8, walaupun kita menggunakan aperture f8 maka pada saat kita melihat dari viewfinder lensa sebenarnya dalam posisi aperture f2.8. Sedangkan misalnya kita menggunakan lensa 70-200 f4, berapapun aperture yang kita setting maka saat kita melihat di viewfinder itu adalah hasil dari bukaan maksimal, yaitu f4.

Ini menjelaskan kenapa viewfinder terasa lebih nyaman dan terang apabila kita menggunakan lensa dengan bukaan maksimal yang lebar. Dan sebaliknya. Karena viewfinder memanfaatkan bukaan maksimal ini.  << Auto focus juga menggunakan cahaya yang berlimpah dari lensa dengan bukaan lebar, itu sebabnya lensa bukaan lebar cenderung sedikit lebih cepat melakukan focusing >>

Continue reading DOF Preview Button

MY-ers Articles : Noise pada DSLR, By : Frans Gunterus

Teman saya (sebut saja namanya Abdi / bukan nama sebenarnya) belum lama membeli Camera Canon EOS 600 D yang tergolong ‘DSLR entry level’. Abdi belajar fotografi DSLR melalui berbagai sumber termasuk membaca tulisan-tulisan tip dan trik yang saya kirim kepadanya. Abdi tinggal di kota Medan dan ketika jatuh hari perayaan Cap Go Meh 2013, kami berdua pergi untuk ‘foto hunting’ ke beberapa Vihara di kota Medan.

Abdi banyak bertanya kepada saya dan memberikan seluruh hasil fotonya dan meminta saya untuk memberikan komentar. Salah satu pertanyaannya adalah hakekat perbedaan DSLR entry level dengan DSLR yang lebih canggih (mahal). Di bawah ini adalah penjelasan saya atas pertanyaannya yang sekaligus saya ‘sharingkan’ bagi pembaca tip dan trik yang lain.

Rekan Abdi, kamera sederhana tidak harus membatasi kreasi Anda karena bagus tidaknya suatu foto tidak melulu ditentukan oleh kecanggihan kamera. Kata Arbain Rambey foto yang baik tergantung pada teknikposisi,komposisimomen, dan rasa. 

Continue reading MY-ers Articles : Noise pada DSLR, By : Frans Gunterus

The InfraRed ….

Semenjak dulu mau nyemplung ke ranah fotografi infrared selalu ragu dan gak jadi-jadi. Tapi akhirnya hari ini kesampaian juga, karena pas kebetulan ada yang jual Canon 50d versi 9.3 IR (yang memang g mau) dengan harga lumayan ok.

Saya baru nyemplung, so mungkin belum bisa banyak share. Tapi sedikit tentang fotografi IR, fotografi ini tidak memotret dengan cahaya yang kita lihat dengan mata kita. Seperti kita pernah belajar di SMP / SMA bahwa mata kita hanya bisa melihat sampai spektrum mejikuhibiniu … tidak spektrum sesudah (UV) atau sebelum (IR).

Infrared sesuai dengan namanya ya warnanya hanya merah … tapi dengan gradasi. Jadi kayak BW tapi bukan grey di antaranya, melainkan merah. Berikut contoh foto yang dihasilkan langsung tanpa post processing :

Sample_Leaf_IMG_9000

Setelah kita melakukan post processing (dalam hal ini saya ubah menjadi normal BW) maka hasilnya terlihat normal. Bedanya adalah sebenarnya yang kita lihat di foto bukanlah yang kita lihat dengan mata kita. Daun ini kalau di foto dengan kamera normal maka hasilnya dia tidak akan putih terang begini, melainkan agak grey bahkan cenderung hitam karena warnanya. Dia menjadi putih karena dia memantulkan IR lebih banyak daripada backgroundnya.

Leaf_IMG_9000_web

Apakah camera yang sudah di oprek IR sama dengan menggunakan filter IR di depan lensa?

Ya dan tidak. Pada prinsipnya kamera kita sudah dipasang suatu filter di depan sensor nya oleh produsen kamera untuk memblock IR mengenai sensor. Tujuannya adalah supaya hasil foto dengan visible spektrum (mejikuhibiniu) lebih tajam. Jadi sinar IR yang mampu mengenai sensor sangat sangat terbatas.

Filter IR pada prinsipnya adalah untuk memblock visible spectrum, sehingga sinar yang diteruskan hanyalah sinar IR. Karena IR yang diterima sensor kamera biasa sangat sedikit, maka kamera biasa + filter IR membutuhkan shutter speed luar biasa panjang. Kadang saat siang hari bolong saja butuh sampai lebih dari 30 detik (tergantung jenis IR filter nya).

Continue reading The InfraRed ….

Seven Things Photographers Do To Ruin Their Photographs

Hahaha … artikel ini sangat lucu dan menggugah para hobby-ist seharusnya, tapi entah berapa yang beneran tergugah. What the hell saya kutip saja deh …

They worry more about low-light camera performance than they do finding a compelling subject with a nice background – or finding something to photograph that they are passionate about. To all you who are of the religion of low-light I got news for you. You’re traveling in the wrong direction. As photographers we WANT light. We look for it, chase it, pray for it, beg for it, and when necessary make it. We don’t try to shoot a black cat in a black barn at night when the moon is obscured by clouds. Worship the light. Don’t obsess over low-light camera performance. Go find a nicely-lit scene and any $500 camera will make a great image if it’s operated by someone who knows what to look for and how to execute.

Taken from : http://photofocus.com/2012/12/13/seven-things-photographers-do-to-ruin-their-photographs/

Maksud-nya : janganlah terlalu pusing, terlalu bingung, terlalu ribet dengan segala macam fitur kamera yang baru. Terutama soal ISO tinggi yang lebih baik, dynamic range yang lebih baik, bla bla bla.

Saya setuju dengan hal ini, partially – I explained later. Pada akhirnya insting – art dan kemampuan kita mengkomposisi adalah yang terutama. Fotografi itu bukan angkat kamera dan jepret. Kalau begini doang sih semua orang bisa jadi fotografer. Fotografi itu mikir … fotografi itu menuangkan apa yang ada di kepala kita, gagasan, ide, pandangan dalam bentuk foto.

Ya, betul ada batas bawahnya. Kamera super murah tentunya merepotkan kita dan akhirnya kita tidak bisa dengan leluasa menuangkan gagasan kita ke foto – karena tiap kamera ada keterbatasannya. Tapi kalau batas bawah sudah terlewati, DSLR entry level saja sudah more than enough, kita sudah bisa menuangkan gagasan kita. Ya, karena seperti saya bilang tiap kamera ada keterbatasannya, maka DSLR entry level juga memiliki keterbatasannya. Tapi kalau kita pahami dan siasati, kita bisa menghasilkan foto yang bagus kok.

Umbrella-maker_DSC00861-web

Sony NEX 5n dan lensa kit nya bukan lah kamera yang perfect. Mau dapat super DOF dan blur? Cukup sulit … tapi tidak semua foto harus super bokeh bukan? Tonal Sony yang agak “lari” juga cukup saya pahami – harus di siasati dengan menggunakan post processing. Lebih repot dibanding kan menggunakan Canon 5d saya? Ya, tapi bukan berarti tidak bisa. [ Aperture priority | 55mm @ f5.6 | 1/125secs | iso100 | Photoshop for burning & dodging | DxO FilmPack Photoshop Plugin – Fuji Sensia 100 ]

Vendor kamera, seperti Canon-Nikon-Sony, bisnis nya menjual kamera. Kalau my-ers gak upgrade ya mereka tidak dapat uang. Mereka tidak dapat uang, ya bisa bangkrut. Jadi para foto hobby-ist yang gemar upgrade setiap kali ada kamera baru dengan Max ISO lebih tinggi, MPixel lebih, dll adalah sumber dana mereka. Tapi apa iya kita mau menyumbang dana ke para vendor ini setiap 1-2 tahun sekali? Hahahaha …. coba kapan semua fitur itu dipakai sepenuhnya? Ask yourself.

Kantor saya untuk pemotretan packaging & event masih menggunakan Canon 5d Mark 1 yang dibeli sekitar 8 tahun lalu … masih berfungsi dengan baik, masih menghasilkan karya yang luar biasa. Saya menggunakan Canon 5d Mark II dan tidak ada niat untuk upgrade juga ke Mark III …. lha wong gak ada kebutuhan (red : kamera rusak) … buat apa menyumbang ke vendor yang sudah kaya? Lebih baik uang nya dipakai untuk mencari lokasi dengan cahaya yang “magical” seperti disebut di atas.

Travel More, Experiment More, Take a Picture More …… and NOT Buy More.

 

PS:

  • Ya, ISO tinggi memang berguna di beberapa kondisi pemotretan. Misalnya para fotografer candid / street life (night scene) / concert, dll. Tapi bukan buat semua fotografer
  • Sisa tips bisa dibaca di artikel yang ada link nya diatas
  • Saya bukan menyarankan untuk semua tidak upgrade ya … nanti canon / nikon bangkrut kan repot juga saya wkwkwkwkwk, yang kelebihan duit ya silahkan saja lho

 

Sony “Killer” Pocket

Kemunculan Sony RX100 dan dilanjutkan dengan RX1 ibaratnya ajang “Show-off” dari Sony. Dan berhasil. Bagaimana tidak … kamera pocket (ya pocket, bukan mirrorless apalagi DSLR), lensa fix focal length (untuk RX1 – hanya 35mm saja), tetapi dengan kualitas hasil yang dahsyat, sensor full frame (RX1) dan harga yang skyrocketing.

Buat yang tertarik baca review detilnya silahkan baca di : Dpreview RX100 atau Dpreview RX1

Apakah worthed untuk dibeli?

Yang saya sudah pernah “pegang” hanyalah RX100 … secara ergonomis kamera ini mungil, cantik & indah, dan hasilnya (terutama BW nya) mantap sekali. Memegang dan menggunakannya terasa nyaman dan berkelas. Harganya memang cukup tinggi dibandingkan compact biasa. Akan tetapi menurut saya memang kamera ini tidak bisa dibandingkan dengan kamera compact biasa. Penggunaan lensa carl zeiss vario sonnar jelas memberi dampak.

Worthed dibeli buat yang mempertimbangkan pembelian kamera mungil dengan skala harga di kisaran 5jt ++. Buat mereka yang masih “acceptable” membawa kamera seukuran NEX, saya sarankan untuk membeli sony NEX alih alih membeli sony RX100 ini.

Sedangkan RX1 harganya luar biasa (USD 2.800) sehingga walaupun hasilnya luar biasa, dan lensanya juga mantap (CZ Sonnar 35mm f2 T*) – tetapi buat saya lebih cocok hanya buat mereka yang sangat membutuhkan portabilitas & kepraktisan. Misalnya para reporter / jurnalis spot news ? Dimana nilai foto yang mereka mampu hasilkan dengan menggunakan kamera semungil ini sebanding dengan harganya. Buat photo-hobbyist, menurut saya way too over-priced.

RX1 menurut saya lebih sebagai “flagship” dari sony … menyatakan bahwa “kami mampu membuat compact camera dengan sensor full frame”. Saya menunggu sensor yang juga digunakan di Nikon D600 ini di “cangkok” kan ke NEX mirrorless …


Kamera second ?

[REPOST] – Harga kamera yang makin murah mendorong banyak orang ikutan motret, termasuk saya. Saya termasuk orang yang mulai menyukai fotografi setelah harga kamera murah, dan berubah menjadi digital. Bukan karena saya orang IT, tapi karena dengan digital saya tidak lagi butuh film. Film dan biaya cetaknya bagi saya menjadi penghalang hobi fotografi, mahal bok !! hahaha….

Ok, saya termasuk orang yang “price sensitive” tapi apa pendapat saya tentang barang second / bekas, terutama di fotografi? I love cheap stuff, saya suka dengan barang second – yang notabene murah. Bahkan sebagian besar peralatan saya adalah barang bekas. Let see :

  • Lensa Canon EF 70-200 f2.8 IS L – beli dari seseorang di Surabaya, second kondisi mulus, harga 80% an dari harga baru
  • Lensa Canon EFS 17-55 f2.8 IS – beli dari seseorang di Jakarta, second mulus udah ditambah bonus hood pula, harga 75% an
  • Lensa Canon EF 50 f1.4 – beli dari seseorang di Jakarta, second mulus juga, harga 75% an
  • dan banyak lagi

Wuih, penggemar barang bekas? Bukan…tidak semua barang saya second. Saya memiliki beberapa pertimbangan untuk memutuskan pada akhirnya beli bekas aja :

  • Buat camera pocket & body camera DSLR : buat yang satu ini saya pribadi lebih suka beli baru . Atau kalaupun beli second dari “tangan” yang bisa dipercaya. Kenapa? Karena menurut saya bagian ini komponen elektroniknya cukup banyak, dan komponen elektronik yang jenis ini worn out cukup cepat. Misalnya umur sensor elektronik, shutter (jumlah berapa kali kamera sudah di jepretkan), dll. Lagipula selisih harganya tidak akan banyak. So : beli baru aja…
  • Lensa : buat yang punya DSLR, atau kamera pocket dengan tambahan holder lensa, pasti tahu ini barang “jahanam”. Lho kenapa? Kameranya sih murah, lensanya yang mahal. Sudah begitu satu juga tidak cukup, tambah terussss….Oleh sebab itu saya menganjurkan untuk beli second. Tentunya kalau sudah cukup bisa membedakan mana barang yang ok dan tidak. Kalau belum ahli ada 2 pilihan : belajar jadi ahli dulu, atau ya beli baru hihihi.
  • Aksesoris : barang seperti tas kamera, filter, tripod, dll seperti ini highly recommended untuk beli second . Kenapa? Ya jelas karena barang ini lebih mudah untuk dilihat ok atau tidak ok kondisinya. So tawar-tawaran harga lebih mudah. Selain itu resikonya juga tidak banyak, karena harganya relatif murah.

Continue reading Kamera second ?

Bersih bersih setelah motret

Motret, terutama landscape dan wildlife, jelas berpotensi bikin orang-orang OCD (Obsesive Compulsive Disorder – alias terlalu rapi) seperti saya mengernyit. Bukan karena gak dapat sunset, tapi karena petualangannya berpotensi mengotori peralatan. Mulai dari kotoran di lensa  dan filter (debu, minyak, cipratan air, dll), atau  di body kamera, dan yang sudah pasti di tripod yang terendam air laut dan kena pasir. Ya, ya, semuanya itu hanya peralatan, jadi harus menerima bahwa mereka akan kotor kalau kita gunakan, tapi paling tidak karena mereka itu mahal kita perlu paham bagaimana menjaganya. Jadi bagaimana kita bebersih ?

 

Lensa

Musuh utama lensa adalah debu, minyak (karena tersentuh tangan maupun yang lain) dan cipratan air (air laut adalah yang terburuk). Sedikit debu dan minyak tidak akan sampai mengganggu hasil foto. Tapi cipratan air bisa jadi noda di foto, kalau kena di bagian langit sih gampang tinggal di Patch Tool di photoshop, tapi kalau di bagian detil mungkin agak repot.

Untuk pencegahan :

  1. Gunakan filter UV sebagai proteksi – alih alih nempel ke bagian depan lensa, maka UV yang kena. Jadi lebih “mudah” untuk kita membersihkannya. Selain itu UV filter berguna sebagai penutup tambahan sehingga debu mikro tidak masuk ke bagian dalam lensa.
  2. Gunakan lens hood – pada kondisi hujan rintik-rintik atau debu yang cukup parah maka lens hood menghalangi sedikit kotoran mengenai permukaan lensa langsung.
  3. Buka tutup lens cap – saat percikan ombak / air terjun yang terbawa angin terus “mengguyur” maka lens cap bisa jadi penutup sementara. Tunggu sampai kondisi angin lebih baik, baru buka dan jepret. Lalu tutup kembali.

Nah, segera setelah pulang dari sesi pemotretan bersihkan lensa supaya siap di pemotretan berikutnya. Yang punya kacung (baca : asisten) ya silahkan minta tolong. Buat yang belum punya seperti saya, ya harus bersihkan sendiri wkwk.

Untuk debu (dan juga langkah pertama bebersih) adalah menggunakan blower. Blower berguna untuk meniup debu debu ukuran besar. Tujuannya supaya debu ini tidak menggores saat kita menggunakan lap. Lap + debu = amplas.

Setelah debu di tiup menggunakan blower maka kita bisa menggunakan Lap Microfiber untuk membersihkan debu yang kecil / noda. Bersihkan perlahan dengan menggunakan gerakan memutar. Kalau masih ada noda membandel maka gunakan “uap dari mulut kita” untuk melembabkan sedikit permukaan lensa / filter UV. Biasanya ini berfungsi dengan baik untuk membersihkan noda.

Tapi apabila noda masih belum juga mau hilang, maka gunakan cairan lens cleaner, misalnya Zeiss lens spray cleaner. Semprotkan sedikit di lap microfiber yang bersih. Lalu ulaskan di area yang ada noda membandel, tunggu sebentar sampai dia menguap dengan sendirinya. Tinggal lap lagi dengan lap microfiber yang kering. Hanya butuh satu semprot untuk membersihkan 1-2 lensa.

Lap microfiber yang sudah digunakan berulang kadang perlu dicuci juga. Jangan gunakan deterjen pencuci pakaian, tapi gunakan sabun/shampoo bayi yang lembut untuk mencuci lap microfiber ini. Lalu angin anginkan di area yang teduh dan tidak berdebu. Tenang, proses mencuci ini jarang kok, palingan juga 3-6 bulan sekali saja.

Continue reading Bersih bersih setelah motret

Fuji Pro X1 – hands on

Beberapa waktu lalu dapat kesempatan memegang dan menggunakan kamera fuji mirrorless dengan lensa yang bisa diganti, Fuji Pro X1. Review nya sudah ada dimana-mana, hands on juga bisa dibaca di web seperti Dpreview maupun Steve Huff Photo. Tetapi akhirnya saya coba sendiri kamera ini … Lensa yang dijajal kebanyakan adalah lensa “kit” nya yaitu Fuji 35mm f1.4 – saya juga akan “membandingkan” experience saya dengan Sony NEX 5n milik saya.

Secara umum body kamera ini lebih nyaman digunakan dibandingkan nex. Maklum ukurannya lebih besar, dan shortcut juga lebih banyak. Kamera yang saya coba dipasangi tambahan grip, sehingga ukurannya menjadi sedikit lebih besar. Memang memegangnya jadi lebih nyaman, tapi saya personally lebih suka tanpa grip ini. Selain jadi lebih besar, buka tutup pintu batere & SDCard jadi repot.

Fuji X1 menyediakan banyak shortcut yang bisa digunakan untuk mensetting, misalnya Fn button di bagian atas yang bisa digunakan untuk ISO maupun banyak fungsi lain. Lalu ada tombol “Drive”, “AE” dan “AF” di kiri LCD. Selain itu kita bisa menekan tombol “Q” di kanan LCD yang akan memunculkan menu shortcut untuk mengatur banyak hal, mulai dari jenis film (semacam picture style di canon), ISO, Drive, Flash, White Balance, Color saturation-sharpness, dll. Yang menarik adalah karena Fuji X1 menggunakan viewfinder optical + electronic maka menu “Q” ini bisa dimunculkan di viewfinder juga (dalam mode electronic tentunya). Jadi kita bisa melakukan setting sembari mata kita tetap masih ada di viewfinder (indahnya dunia).

Viewfinder di Fuji memang menjadi keunikan tersendiri dibandingkan mirrorless lainnya. Saya suka menggunakannya. Viewfinder ini terdiri dari viewfinder elektronik (sama seperti viewfinder di NEX 7) yang terang dan jelas, dan viewfinder optical. Viewfinder optical ini sebenarnya prinsipnya meniru viewfinder di kamera rangefinder (Leica M8 / M9 misalnya). Jadi kita melihat melalui kaca kecil di atas lensa (lihat gambar disamping). Ada paralaks? Pastinya … ini diatasi dengan sesaat setelah kita menekan tombol shutter akan dimunculkan grid putih untuk menandai mana yang masuk ke dalam frame. It’s really fun to use – agak bingung pastinya buat yang belum pernah pegang rangefinder.

Kenapa saya suka viewfinder optical? Karena di Sony NEX saya mengalami saat saat sulit menggunakan LCD / viewfinder elektronik saat mengkomposisi di kondisi pencahayaan sangat gelap. LCD tidak menampilkan detil, sehingga saya kesulitan melakukan komposisi saat pemotretan landscape. Padahal di kondisi pencahayaan yang sama biasanya saya masih bisa meraba-raba komposisi dengan menggunakan viewfinder optical Canon 5d mk2 saya.

————————-

Bagaimana hasil dari kamera ini? Saya belum explore sampai terlalu jauh, tetapi berikut adalah beberapa hasil yang sempat saya coba :

Continue reading Fuji Pro X1 – hands on