Sony NEX 5n – The Review (Part 2)

Ini adalah review lanjutan dari Sony NEX 5n yang saya gunakan selama perjalanan ke Derawan dan Chiangmai. Saya masih ingin menuliskan beberapa fitur lain yang menurut saya sangat membantu saya dalam penggunaan kamera ini.

Fitur yang sangat saya sukai adalah in camera filter. Dengan menggunakan filter ini maka JPEG yang dihasilkan sudah langsung “jadi” tidak perlu post processing terlalu banyak lagi (sebagian besar bahkan hanya perlu resized dan sharpening saja). Misalnya filter toy camera yang membuat hasil foto menjadi sedikit warm + saturated + memiliki vignette. Cocok untuk memotret benda benda “jadul”

Atau filter BW yang banyak ragamnya. Apabila di combine dengan filter silver effect di Adobe Photoshop, hasilnya nendangggggg seperti pemotretan di pulau Maratua dengan foreground kopra. BW nya terasa pekat dan juga kontras.

Saya sudah menyinggung mengenai image quality dari kamera ini. Demikian juga dengan portability nya (dan ringannya) kamera ini. Semuanya positif. Lalu apa saya yang sudah biasa menggunakan DSLR menemukan hambatan dengan kamera ini? Yup, seperti sudah saya singgung di artikel sebelumnya, ada beberapa kendala yang akhirnya mempengaruhi kesimpulan saya dalam hal penggunaan kamera ini.

Kendala yang pertama adalah terbatasnya shortcut untuk pengaturan kamera. Kendala ini awalnya sangat mengganggu, bahkan untuk mengatur ISO dan white balance saja saya harus masuk ke dalam menu dan submenu yang lumayan dalam. Ribet.

Sampai saya temukan bahwa saya bisa mensetting beberapa tombol di kamera sebagai shortcut. Misalnya saya setting tombol cursor ke kanan sebagai ISO, dan tombol OK sebagai “pemanggil” 5 tambahan shortcut (di dalam nya saya masukkan white balance, filter, flash, dll). Dengan demikian problem saya sedikit teratasi. Yah paling tidak saya tidak menghabiskan bermenit menit sendiri untuk mensetting Sony NEX 5n saya.

Kendala kedua yang saya hadapi adalah exposure Sony NEX 5n yang secara umum under sekitar 2/3 stop. Jadi saya harus mensetting EV di + 2/3, jika tidak maka foto saya akan cenderung under. Ini padahal di metering evaluative nya. So bisa saya bilang base metering nya kurang akurat. Tapi ini juga bukan satu kendala karena saya bisa set EV  sesuai kebutuhan saja.

White balance dan color menjadi kendala berikutnya. Di kebanyakan kondisi white balance dan color dari NEX 5n cukup akurat. Tapi saya merasakan untuk twilight time (sesaat sebelum sunrise dan sesaat sesudah sunset) maka white balance sony cenderung me-render warna agak cold.

Pada pemotretan twilight sunrise di samping misalnya, dengan menggunakan AWB dan Daylight white balance hasilnya sama-sama cold. Padahal saya biasa menggunakan AWB atau Daylight di Canon 5d mark 2 saya dan hasilnya sesuai situasi.

Hal ini bukan satu kendala yang super juga, karena saya masih bisa melakukan koreksi white balance dengan Kelvin white balance pada saat RAW processing dengan menggunakan Adobe Photoshop – belum bisa menggunakan aplikasi lain.

Tentunya hal ini akan menambah pekerjaan. Tapi karena ini hanya terjadi pada kondisi tertentu (dalam hal ini twilight) maka saya masih bisa “memaafkan” kekurangan ini.

Kendala lain yang muncul adalah karena kamera ini mengandalkan LCD di belakang kamera untuk melihat komposisi, maka pada saat twilight tanpa ada cahaya sama sekali landscaper pasti pusing.

Kenapa? Karena di LCD hampir tidak keliatan banyak detil. Sulit sekali melakukan komposisi dengan berpanduan pada LCD. Lho emangnya kalau DSLR ?

DSLR mendasarkan penglihatannya berdasarkan viewfinder optical. Jadi cahaya (dan gambar) yang di lihat oleh lensa, itulah yang dilihat oleh mata kita di viewfinder. Kondisi yang hampir gelap total pun mata kita seringkali masih bisa melakukan komposisi dengan baik. Tapi tidak dengan mirrorless kamera tanpa optical viewfinder.

Triknya? Tentu saja ada. Jepret dulu dengan menggunakan ISO tinggi, dengan demikian kita bisa memperbaiki komposisi dahulu. Begitu komposisi sudah nyaman barulah semua setting di lakukan untuk landscaping – Aperture sempit, lensa ultra wide, GND, dll.

Kasus yang sama saya temui di pemotretan di samping ini. Saya harus re-compose sampai beberapa kali, karena pada saat pemotretan cahaya sangat minim (shutter speed hampir 30 seconds). LCD hampir tidak membantu sama sekali dalam saya menentukan komposisi.

Kendala lain yang saya hadapi? Pilihan lensa yang sangat terbatas.

Entah mengapa sony hanya mengeluarkan lensa 18-55, 18-200 dan 16mm untuk seri NEX. Ada lensa CZ 24mm dan Sony 50mm yang sudah mereka launch beberapa waktu lalu. Tapi mendapatkannya juga susah setengah mati.

Mereka memang merencanakan launch beberapa lensa tambahan. Tapi tetap saja masih sedikit dibandingkan jajaran lensa olympus, apalagi (sangat jauhhhhhhhh) dibandingkan jajaran lensa DSLR (Canon dan nikon mencapai puluhan lensa yang ada dan bisa digunakan).

Untuk lensa ultra-wide saya terpaksa menggunakan Voigtlander 12mm f5.6 dengan mounting Leica M. Kenapa terpaksa? Ya karena lensa ini sebenarnya tidak maksimal ketajamannya. Corner sharpness nya tidak maksimal. Tapi saya tidak punya pilihan lain, tidak ada lensa lain yang lebih baik dan memiliki focal length ultra wide. Lensa voigtlander 12mm juga tidak memungkinkan saya menggunakan GND filter holder. Jadi saya harus memegang filter GND saya. Lebih parah kondisi hood yang menonjol membuat kadang pantulan cahaya dari belakang masuk juga ke dalam frame.

Tentu saya bisa mengatasinya dengan memegang filter GND dan mengatur supaya tidak memantul. Tapi saya bilang dulu bahwa pengalaman memotret landscape dengan kamera ini tidaklah semaksimal dengan menggunakan Canon 5d Mark 2 milik saya.

 

VERDICT :

So? Apakah saya menyesal membeli Sony NEX 5n ?

TIDAK … kamera ini menjadi second camera yang sangat baik. Saya tidak menyarankan buat para landscaper (juga para wildlife, macro, architecture photographers) mengganti DSLR nya dengan kamera ini. Karena masih banyak keterbatasan dengan sistem kamera ini seperti yang saya sebut diatas.

Tapi buat mereka yang ingin second camera, travel camera, atau juga para fotografer travel dan street, maka kamera ini perfect. Ringan, mudah dibawa, tidak mengganggu orang yang kita foto, tidak pula diusir oleh satpam.

So, kembali tergantung pada kebutuhan kita untuk memotret apa.





35 thoughts on “Sony NEX 5n – The Review (Part 2)”

  1. semakin motoyuk menjawab, semakin banyak pertanyaan. Punya email? atau di forum sini aja ya?

    Saya ada beberapa pertanyaan…
    1. Kenapa produsen mengeluarkan lensa khusus 50 mm saja? sementara lensa kit yang disediakan bukannya sudah tercover (18 – 50 mm)?
    2. “Mount” M42.. artinya adapter M42? apakah camera sony nex 5n compatible dgn semua jenis mount dari pabrikan lensa spt LEICA dll?
    3. Adakah firmware terbaru untuk sony nex 5n? krn saya beli di thn 2013. Pak bos beli di thn 2011.. bukankah teknologi udah ketinggalaman jaman?
    4. Untuk pemakaian sehari2 seperti travel.. apakah mode auto lebih recommended? Manual itu lbh condong ke fotografer profesional? Dengan foto auto apakah bs menghasilkan kualitas yang bagus?

    Sementara ini segini dulu.. maaf saya telalu banyak bertanya. Camera nya masih dalam proses pengiriman. Setelah tiba, mungkin sy masih punya banyak pertanyaan. Mohon pak bos jangan bosen menjawabnya.

    Oh yah satu hal lagi… umm.. saya sangat tertarik dengan hasil foto yang biasanya bernuasan misteri, dimana modelnya duduk di kursi direktur memegang cerutu. Wajahnya serius memberi kesan gelap, dengan terang yang kurang. Spt mafia. Area gelapnya bs terdapat di wajah… tp gak semuanya. Ini teknik foto apa namanya?

    1. Disini saja ok supaya my-ers lain bisa lihat juga 🙂

      Lensa fix dikeluarkan umumnya untuk :
      1. Kualitas hasil yang lebih baik, bobot yang lebih ringan, desain optik lebih mudah (so relatif lebih murah)
      2. Lensa zoom mentok cuma sampai f2.8, sementara fix lens bisa sampai f0.95 bahkan

      Sony nex bisa pakai hampir semua. Ada satu jenis lensa leica yang pantatnya bisa maju mundur yang agak beresiko digunakan di nex.
      M42 artinya mounting m42. So butuh adapter m42 to e-mount (nex)

      Saya lupa apakah sudah ada firmware baru lagi. Silahkan google.
      Tapi dalam hal ketinggalan rasanya tidak terlalu jauh tuh. 5N didesain sangat baik.

      Saya menyarankan mode Av bukan Manual.
      Tetapi Auto bisa saja digunakan. Yang terpenting sebenarnya apakah hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan
      Apabila Auto menghasilkan sesuai yang kita inginkan, kenapa juga harus pakai mode yang lebih ribet
      Tapi kalau tidak, maka kita perlu tahu bagaimana mengatasinya

      Teknik ini umumnya disebut Low-Key photography

  2. Tolong bagiin tips memotret portrait dengan background bangunan yang tinggi spt Twin Tower.. menggunakan camera sony nex 5n dengan lensa kit.. saya agak kesulitan.

    1. Saya kurang paham yang dimaksud. Apabila yang dimaksud adalah ada orangnya plus bangunan juga masuk maka yang dibutuhkan adalah :
      – jarak yang jauh dari bangunan, atau
      – lensa ultra wide misalnya Sony SEL 10-18mm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *