Sony NEX 5n – The Review (Part 1)

Terdorong dari masih terasa beratnya Canon 5d Mark II + lensa-lensa travel yang harus dibawa saya mulai melirik kamera jenis mirrorless. Kamera ini sudah pasti lebih ringan dibandingkan DSLR paling ringan sekalipun. Hal ini karena memang desainnya memungkinkan ukuran yang lebih kecil dan posisi pantat lensa yang lebih dekat dengan sensor membuat lensa-lensa mirrorless lebih mungil (dan ringan) dibandingkan DSLR.

Review ini bukan review yang teknis dengan membandingkan foto di berbagai ISO atau dengan menggunakan berbagai lensa dengan pixel peeping sampai dengan level 100% di semua foto. Review ini adalah bagaimana saya sebagai pengguna merasakan menggunakan kamera ini selama 2 minggu lebih perjalanan saya ke Derawan, Kalimantan & Chiangmai, Thailand. Mungkin di beberapa area saya akan membandingkan atau menunjukkan 100% zoom. Saya juga tidak menunjukkan sample foto yang belum di sharpening / post processing – karena tidak demikian pula cara kerja saya akhirnya. Tapi sharpening & post-processing yang saya gunakan adalah sejauh yang masih wajar.

Apa itu Mirrorless ?

Sesuai dengan namanya maka kamera ini adalah kamera tanpa mirror / cermin. Akibatnya kalau kita buka lensa-nya akan langsung terlihat sensor kamera. Tidak seperti DSLR yang pada saat kita buka lensa nya yang terlihat adalah cermin yang memantulkan gambar ke pentaprism dan viewfinder.

Wajar hal ini mengakibatkan mirrorless tidak memiliki optical viewfinder, selain itu juga ukurannya bisa lebih kecil – walau dengan ukuran sensor yang sama dengan DSLR (saat ini belum ada mirrorless full frame – tetapi sudah ada dengan crop factor 2x dan 1.5x – setara dengan Nikon DSLR).

Tapi keuntungan utama dari mirrorless terletak bukan hanya dari body kamera yang kecil. Tetapi karena posisi lensa yang lebih menjorok masuk ke dalam body kamera dan mendekati sensor (ingat : tidak ada mirror yang menjadi penghalang) maka lensa tidak membutuhkan optik dengan ukuran besar. Itu sebabnya lensa mirrorless bisa cuma berdiameter filter 49mm misalnya, dengan panjang lensa yang jauh lebih pendek pula dibandingkan lensa DSLR. Sudah body kamera nya kecil, lensa lebih kecil, jadi total berat kamera ini juga sangat bersahabat buat traveler. Sony NEX 5n dengan lensa kit (18-55) memiliki total berat 463 gram, bandingkan dengan 695 gram pada Canon 1100d dengan lensa kit (18-55).

Kelebihan lain dari mirrorless adalah dia memungkinkan menggunakan hampir semua jenis lensa merek / jenis lain dengan menggunakan adapter. Yup, lensa tersebut akan jadi lensa manual focus, tapi dengan mirrorless kita bisa menggunakan lensa segala usia dari : Canon, Nikon, Pentax, Carl Zeiss, Leica, Hasselblad, Voigtlander, dll. Pilih saja dan beli adapternya … done. Tidak perlu oprek dll.

Market leader untuk kamera mirrorless saat ini dipimpin oleh Olympus dengan produknya Olympus Pen (E-P3 adalah versi yang paling baru). Olympus memiliki model yang retro dan cantik, dilengkapi dengan built-in filter (misalnya BW, toycamera, HDR, dll) dan juga pilihan lensa yang sangat beragam.

Mirrorless menurut saya adalah kamera yang “more than capable” menghasilkan foto-foto yang bagus, super ringan buat dibawa travelling dan tentunya dengan bentuk seperti pocket menjadi lebih tidak bermasalah (tidak di cegat satpam, tidak diusir, tidak di pelototin orang yang difoto, dll).

Tentunya mirrorless memiliki keterbatasannya sendiri (itu sebabnya saya masih mempertahankan Canon 5d Mark II saya untuk pemotretan landscape dll yang serius). Tapi overall kamera ini adalah “The One” untuk mereka yang suka foto travel atau butuh kamera untuk travelling dengan ukuran dan berat yang sangat masuk akal.

 

Kenapa Sony NEX 5n ?

Diantara banyak pilihan seperti :

  • Olympus E-P3
  • Olympus E-PL3
  • Olympus E-PM1
  • Olympus OM-D (coming soon)
  • Sony NEX C3
  • Sony NEX 5
  • Sony NEX 5n
  • Sony NEX 7
  • Panasonic GF3
  • Fuji X1 Pro (coming soon)

tentunya ada alasan kenapa akhirnya saya secara spesifik memilih Sony NEX 5n … bahkan jauh-jauh membelinya di Bangkok (karena di Indonesia sedang tidak ada barang tersebut dalam waktu cukup lama).

Dibandingkan dengan Olympus dan Panasonic GF : saya sangat menyukai pilihan lensa yang berlimpah dengan kualitas yang bagus dari Olympus. Sistem autofocus di Olympus EP-3 juga terkenal sudah makin baik dan cepat + akurat. Tapi saya agak “terganggu” dengan ukuran sensor yang memiliki crop factor 2x – saya selalu punya prinsip kalau memungkinkan saya akan pilih yang sensor paling besar ukuran fisiknya (bukan MegaPixel nya ya …). Crop factor 2x memiliki keterbatasan dalam pemotretan dengan bokeh blur yang baik. Lagipula dari awal saya ingin menggunakan lensa-lensa manual DSLR saya. Jadi toh saya tidak “membutuhkan” sistem AF tersebut.

Dibandingkan dengan Sony NEX C3 dan NEX 5 : Walau keduanya sudah memiliki sensor yang lebih baik (crop factor 1.5x) akan tetapi sistem ini sudah “tua” dan beberapa teknologi nya sudah obsolete. Kecuali kamu mau investasi di produk dengan teknologi yang agak mundur maka lebih baik membeli produk yang lebih value, misalnya si sony nex 5n ini.

Dibandingkan dengan NEX 7 : NEX 7 keunggulannya adalah auto focus yang lebih cepat dan juga control dial (untuk setting) jadi lebih banyak. Hal ini yang menyebabkan NEX 7 dianggap sebagai “Pro class” untuk sony NEX. Body yang lebih kuat dan kokoh, dengan lapisan kulit sintetis nya juga terasa lebih nyaman di pegang.

Tapi ada masalah yang menyebabkan saya tidak membelinya. Saya berniatan menggunakan lensa-lensa manual (misalnya Carl Zeiss, Voigtlander, Leica, dll) yang digunakan di DSLR. Sayangnya di NEX 7 saya tidak bisa menggunakannya apabila focal length lensa tersebut kurang dari 18mm. Hal ini karena diberitakan akan muncul warna magenta di sudut2 foto. Ini berlaku untuk lensa manual, bukan lensa AF sony (misalnya lensa 16mm nya).

Selain itu harga body only NEX 7 relatif mahal kalau menurut saya (12jt lebih). Dengan fitur yang masih memadahi Sony NEX 5n memberikan offer yang lebih baik (6.5jt an).

Dibandingkan dengan Olympus OM-D dan Fuji X1 Pro : keduanya menarik, sayangnya karena ini pre-launch & baru saja di launch maka harganya pun juga kurang masuk akal. Mungkin nantinya saya akan melirik ke Fuji X1 kalau memang hasilnya bagus.

So, apakah lebih baik Sony NEX 5n ? Kalau kamu berniat menggunakan lensa manual + butuh sensor yang crop nya lebih kecil maka pilihannya adalah NEX .. tinggal pilih mau NEX 5n atau 7. Tapi kalau kamu mau menggunakannya dengan lensa auto focus maka lebih baik gunakan merk Olympus.

 

Bagaimana Kepuasan so far ?

Sistem NEX 5n + Lensa kit 18-55 f3.5-5.6 + Voigtlander 12mm f5.6 (Leica M Mount) + Leica R 90mm f2 Summicron tidak mengecewakan. Bahkan melebihi ekspektasi saya di berbagai area selama perjalanan saya. Yang sangat terasa adalah total berat yang saya bawa jauh turun :

  • Sebelumnya : Canon 5d Mark II + CZ 18mm Distagon f3.5 ZE + EF 24-105 f4 L IS + Leica R 90mm f2 Summicron + Benro C196 tripod = est. 3.6 kg
  • Sekarang : NEX 5n + Lensa kit 18-55 f3.5-5.6 + Voigtlander 12mm f5.6 (Leica M Mount) + Leica R 90mm f2 Summicron + China made tripod = est. 2.1 kg

Apa arti 1.5 kg ? Tidak ada … buat yang motret hanya di studio atau hunting bareng di lokasi yang dekat. Tapi sangat berarti buat mereka yang melakukan travel photograpy seperti saya. Seringkali saya harus membawa tas ini naik turun area, atau trekking ke area yang cukup sulit, jadi buat saya 100 gram saja berharga.

Dari sisi hasil saya terkesan dengan kualitas gambar yang dihasilkan. Ya, tidak bisa bersaing sepenuhnya dengan Canon 5d Mark II dalam hal rendering warna, ketajaman, dll. Tapi bersaing dengan cukup ketat, apalagi mempertimbangkan harganya yang relatif sangat murah dibandingkan sistem Canon 5d Mark II. Foto diatas dihasilkan out of camera (JPEG) dengan menggunakan filter BW high contrast yang sudah ada di dalam kamera (lensa Voigtlander 12mm + GND 0.9 Soft Edge).

Ini hasil menggunakan Leica 90mm summicron f2 yang sudah dipasangkan menggunakan adapter seharga 200rb :

Ketajaman lensa Leica bisa di tangkap dengan baik oleh sensor NEX 5n – foto ini sudah di post processing menggunakan Adobe Photoshop untuk menambahkan saturasi warna dan ketajaman di area mata. Saya terkesan sekali lagi dengan sistem kamera ini.

Performance lensa kit nya pun tidak buruk, sekali lagi saya terkesan. Coba lihat foto yang dibuat di Bangkok ini (foto dibuat di dalam ruangan – dengan cahaya temaram – sehingga AutoISO menggunakan ISO 1000).

Lihat crop 100% dari JPEG keluaran dari kamera diatas … ini lensa kit lho, di ISO1000 …. (makin tinggi ISO maka ketajaman gambar juga menurun walau tidak drastis).

Lihat lagi contoh berikut ini (dengan Voigtlander 12mm + GND 0.9 Soft Edge + Tripod) :

Yes, saya harus melakukan adjustment di Adobe Photoshop untuk foto diatas karena akurasi WB nya tidaklah sebaik Canon 5d Mark II – tapi overall masih workable dan useable. Tidak buruk sama sekali kalau menurut saya untuk kamera sekecil ini dan seharga ini. Overall saya merasa white balance dari Sony NEX cenderung agak terlalu cold – dan kurang peka terhadap warm color (pengamatan sejauh ini)

Fitur High Dynamic Range (HDR) di dalam kamera – dia akan mengambil 3 foto sekaligus dan menggabungkannya di kamera – juga bagus. Well, Canon 5d Mark III memilikinya, tapi tidak Canon 5d Mark II. Walau tentunya fitur ini gimmick (karena kita bisa membuatnya di aplikasi HDR yang lebih canggih di laptop kita) tapi menyenangkan buat traveler menghasilkan foto yang sudah tidak perlu di post processing terlalu banyak lagi.

Foto diatas menggunakan in-camera HDR + filter BW high contrast + Silver Effect dari NIK Software di Adobe Photoshop.

Lalu apakah semuanya menyenangkan menggunakan Sony NEX 5n ini ? Tidak juga … saya sering kesal dengan shortcut pengaturan yang ada. Memang tersedia tombol untuk mengakses cepat misalnya Exposure Compensation, White Balance, ISO, dll … tetapi relatif sangat sedikit. Selain itu menu yang dimiliki nya relatif “ribet” sehingga menambah kerepotannya.

Selain itu post processing RAW nya juga masih terbatas. Kita bisa menggunakan software yang disediakan, tetapi performance nya kurang memuaskan. Kalau kita menggunakan Adobe Photoshop RAW plugin maka kita akan melakukan post processing benar-benar dari zero. Semua setting saturasi dll yang sudah kita setting di kamera diabaikan (sama sebenarnya dengan Canon dan Nikon – tapi keduanya terselamatkan karena ada software bawaan yang bagus).

Tapi overall saya puas dengan kamera ini … this is my second camera, walk-around & travel companion camera. Review lanjutan di artikel berikutnya ….


81 thoughts on “Sony NEX 5n – The Review (Part 1)”

  1. Menarik sekali ulasan nex 5n ini. Terima kasih atas review yg sgt lengkap.
    Saya tidak melihat aeri nex 5n lagi di bhineka
    Adanya 5RY dan 5RL
    Menurut anra lebih baik yg mana ?
    Atau tetap ambil yg 5N ?
    Terima kasih

  2. Mas share dong mengenai pemakaian lens adapter di sony nex 5n.
    Becouse sy beli adapter lens buat lensa nikon sy tapi kok blm berhasil
    memakainya karena di display muncul Attention…………..,
    Harus bagaimana ya pakainya agar Nikon lens sy bs kepakai,thanks brooow

  3. Om… mau tanya lensa manual apa aja sih yang bisa dpasangkan sama 5d om plus adapternya apaaan, soalnya pernah baca kalo posisi miror 5d itu lebih dekat sama mount lensanya.

    makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *