Some of the things I like about Nikon (vs Canon)

Kebetulan beberapa hari lalu sempat “ngotak atik” kamera Nikon D200 yang dimiliki adik saya. Saya sendiri sih avid user of Canon for 6 years at least haha. Tetapi saat mencoba saya tergerak dengan ergonomi yang memang selama ini digembar-gemborkan oleh dunia foto. Harus diakui buat yang sudah pernah mencoba Nikon bahwa ergonomi kamera Nikon memang lebih well thought dibandingkan Canon.

LCD bagian atas Nikon D700 - courtesy of dpreview.com

Berikut beberapa hal yang saya suka dari ergonomi Nikon :

  • Body Nikon mengikuti lekuk tangan sehingga lebih nyaman untuk dipegang. Ini sangat berpengaruh buat yang motret dalam periode lama, kalau cuma buat hunting sebentar sih gak ngaruh 🙂 tapi buat saya yang pernah hunting berhari-hari maka pegangan yang nyaman itu adalah berkah.
  • Tombol On/Off – Canon meletakkan tombol ini di bagian bawah buat semi-pro body nya. Oleh sebab itu untuk menyalakan kamera membutuhkan tangan kiri. Sedangkan Nikon meletakkannya di dekat tombol shutter, sehingga jari telunjuk kanan bisa menyalakannya dengan mudah. Penting? Buat yang sering motret foto perjalanan & candid pasti tahu bahwa kecepatan adalah segalanya.   
  • Tombol illuminate LCD – tombol ini digunakan untuk menyalakan LCD di bagian atas body, biasanya digunakan pada saat pemotretan malam hari. Canon membuat satu tombol di ujung paling kiri dekat LCD. Untuk menjangkaunya dengan telunjuk kanan kita harus “mengorbankan” stabilitas kamera, atau butuh jari telunjuk yang panjang atau seperti yang saya lakukan menggunakan tangan kiri. Nikon kembali dengan cerdik meletakkannya sebagai kelanjutan dari tombol On/Off, sehingga mudah dijangkau.
  • Pilihan menu Manual / Apperture Priority / Shutter speed priority – Canon meletakkannya di bagian kiri atas pada semi-pro body nya. Untuk mengubah dari menu manual ke apperture priority misalnya kita kembali membutuhkan tangan kiri kita untuk memutarnya. Sedangkan di Nikon dengan cerdik dia mengkombinasikan tombol di dekat shutter yang ditekan dengan telunjuk kanan dan command dial yang di putar dengan jempol kanan untuk mengubah menu ini. Kembali hanya butuh 1 tangan, sehingga tangan yang lain bisa tetap memegang lensa.
  • Exposure compensation – Untuk merubah EV di body semi-pro Canon kita menggunakan wheel yang ada di bagian belakang body. Masalahnya untuk mengubahnya artinya kita perlu menurunkan sebentar si kamera, memutarnya, baru kembali meletakkan mata kita di viewfinder. Hal yang tidak efisien sebenarnya. Belum lagi wheel ini beberapa kali tergeser karena bersinggungan dengan pipi, memang ada tombol untuk menonaktifkan-nya, tapi saat kita ingin menggunakannya akan jadi ada tambahan step lagi bukan? Nikon melakukan perubahan exposure compensation dengan menggunakan tombol yang diletakkan di dekat tombol pilihan menu. Jadi telunjuk kanan menekan tombol tersebut dan jempol kanan memutar command dial. Mata? Tetap bisa di veiwfinder dan siap memotret.
  • Metering mode – Nikon membuat satu dedicated button untuk mengatur metering mode, diletakkan tepat di jangkauan jempol kanan. Jadi kita bisa mengubah dari 3D Color Matrix, Center Weighted maupun Spot dengan mudah. Canon memiliki button juga untuk itu, tetapi karena posisinya maka dibutuhkan extra effort untuk memastikan setting yang dipilih sesuai.
  • White Balance – ISO – File Quality – Nikon menyediakan dedicated button untuk ketiganya, sedangkan Canon hanya menyediakan untuk white balance dan ISO. Untuk yang bagian ini sih tidak terlalu relevan karena kita toh jarang mengubah-ubah file quality. Akan tetapi satu hal yang menarik dari Nikon adalah dia menyediakan custom white balance bahkan untuk preset white balance-nya. Jadi misalnya “Daylight” white balance bisa di kompensasi menjadi lebih biru atau lebih oranye masing-masing 6 tahap. Selain itu untuk menu Kelvin White Balance kita bisa mengatur derajat Kelvin-nya dari button ini (Canon harus masuk ke dalam menu untuk mengatur nilai Kelvin yang digunakan).
Control Button in Nikon D700 - courtesy of dpreview.com
Nikon D700 Control Button - courtesy of dpreview.com
  • Drive mode – Lihat dial di bawah command button di Nikon? Itu adalah untuk memilih drive mode. Di Canon pilihan ini ada button khususnya juga dan relatif lebih mudah di akses, karena ada di sisi kanan. Kelebihan Canon lain adalah self timernya sudah langsung dibagi 2 yaitu 2 second dan 10 seconds. Tapi kekurangannya adalah live view dan mirror up harus di akses di dalam menu. Untuk Nikon ada beberapa pilihan :
    • S : Single Frame Shooting
    • CL : Continuous Low speed Shooting
    • CH : Contnuous High speed Shooting
    • LV : Live View
    • Self Timer (PS : bisa di set menjadi 2, 5, 10, 20 detik di custom function)
    • M-Up : Mirror Up
  • Delete button – Saya salah satu orang yang agak sebel dengan cara Canon saat mau delete suatu foto. Untuk melakukannya kita perlu menekan tombol play/view, dilanjutkan dengan erase, lalu dengan tangan kanan menekan tombol set untuk confirm. Nikon melakukannya dengan lebih mudah (walau lebih risky memang) yaitu tekan tombol play lalu tekan delete 2 kali.
  • Protect button – Ini juga menyebalkan di Canon, untuk memproteksi suatu file (mengubah statusnya menjadi read only) maka kita perlu masuk ke menu, lalu memilih foto yang mau di protect. Nikon menyediakan button khusus untuk protect, untuk menggunakannya kita tinggal menekannya pada saat kita view.
  • Wheel vs Multi controller – Canon semi-pro body menyediakan wheel yang bisa digunakan untuk navigasi foto selama view/play. Saya lebih menyukai ini dibandingkan multicontroller dan menu lainnya di Nikon. Untuk aspek ini Canon win 🙂
  • Depth of field check button – Canon meletakkannya di sisi kiri lensa, menjangkaunya terus terang selalu menjadi hal yang sulit buat saya. Sedangkan Nikon meletakkannya di sisi kanan lensa, sehingga jari telunjuk kiri kita dengan mudah menjangkaunya.
  • Flash synch mode – untuk mengubah flash synch mode dari kamera kita maka Canon harus masuk ke dalam menu. Nikon meletakkan satu tombol lagi untuk shortcut pengaturan mode ini, jadi mudah untuk berpindah dari Front-Curtain Synch ke Rear-Curtain Synch misalnya.

So? Perlu ganti ke Nikon? Tidak harus. Masing-masing jenis kamera memiliki karakternya tersendiri. Kalau memang mau memilih maka lebih baik bandingkan seri vs seri, misalnya Canon 7D mau dibandingkan dengan Nikon D300s. Tapi lebih baik jangan bandingkan merek Canon vs Nikon secara umum.

Kalau kita tidak membutuhkan kecepatan setting (misalnya untuk travel / candid photography), apabila kita masih betah dengan melakukan setting di Canon, apabila kita mencintai picture style milik Canon dan color tone yang dimiliki Canon atau jajaran lensa yang mahal s/d murah milik Canon atau berat kamera yang relatif lebih ringan maka tentunya tidak perlu pindah ke Nikon.

Tapi kalau kita ingin membeli semi pro body & membutuhkan peralatan yang lebih kokoh, walau lebih berat, setting yang lebih cepat dengan banyak shortcut dan kita suka dengan color tone / kualitas foto yang dihasilkan dengan Nikon, maka go ahead, pilih Nikon.

Karena pada akhirnya yang menjadikan suatu foto indah dan menarik bukanlah kameranya, tapi foto itu sendiri yang berbicara. Dan faktor utama yang menjadikan foto itu berbicara tidak lain adalah “The Man Behind The Gun“, kamera hanyalah membantu mempermudah mewujudkan vision yang kita inginkan.

MOTO YUK!!!

PS :

  • Review mengenai kamera Nikon dan Canon yang lebih detil bisa dilihat di Dpreview.
  • Satu hal lagi yang gak penting tapi saya rasa Canon bisa improve adalah tempat dimana neck strap dipasangkan. Canon menggunakan segiempat kaku, akibatnya neck strap rusak di ujungnya saat sering berputar dan tergesek, Nikon menggunakan sistem yang lebih cerdik yang membuat neck strap lebih awet.
  • I still love “Canon Custom Menu – ada di dalam menu, biasanya di tandai dengan warna hijau” dan “Custom configuration – dimana kita bisa melakukan setting lalu menyimpan semua setting ke menu C1, C2 atau C3 untuk akses lebih cepat”
  • Fitur shortcut yang saya sebutkan diatas memang kebanyakan hanya tersedia di seri Nikon semi-pro atau pro body, misalnya D200, D300, D300s, D700 dan D3 series. Akan tetapi kalau mau kita bandingkan maka Canon semi-pro dan pro body (misalnya 5D Mark II, 1D Series) juga tidak banyak berbeda dengan consumers body Canon. Kebanyakan membutuhkan 2 tangan untuk melakukan setting, walau 1D series sudah banyak melakukan perbaikan.
  • Canon EOS 60D yang baru saja diluncurkan nampaknya berusaha memperbaiki ergonomi ini, dengan meletakkan sebagian besar button ke sisi kanan, sehingga kita hanya membutuhkan 1 tangan untuk melakukan banyak hal. Tetapi Canon juga menghilangkan fungsi kedua buttons yang ada di top LCD, sehingga mengurangi total shortcut yang ada ( I still think that this is not a good idea for semi pro body)
Bagian belakang Canon 60D - courtesy of kenrockwell.com

Bagian atas Canon 60D - courtesy of dpreview.com




5 thoughts on “Some of the things I like about Nikon (vs Canon)”

  1. wkwkwk…60d ?? EOS xxD terkecil yang pernah g liat…mending ambil yang sebelumnya deh…wah…si boz review nikonnya yang seri tinggi…itu udah enak smua….yang di bilang ama si boz emang bener smua….gk bs koment apa2 lagi

    1. Haha, Canon berusaha menurunkan kelas xxD kayaknya Tin. Digantikan dengan seri 7D untuk semi pro body nya. Terlihat dari kemudahan dan gaya ergonomi + menu nya. So in the near future semi pro itu xD bukan lagi mulai dari xxD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *