Singapore – Surga Fotografer Arsitektur

Pergi ke singapore untuk memotret landscape? Hahaha jangan terlalu bermimpi muluk. Yang disebut gunung di singapore tidak lain adalah bukit. Pantai di singapore juga pantai jenis reklamasi, kalah jauhhhhh dari pantai alami di negri kita sendiri. Tapi ada satu hal yang sangat saya nikmati kalau pergi ke singapura, memotret arsitektur.

Arsitektur di singapura sangat menarik, baik ekterior maupun interior nya. Ibaratnya baru jalan beberapa meter, ehhhh ada obyek menarik lagi. Tidak ada hentinya motret arsitektur kayaknya waktu saya di Singapura. Hal ini karena memang design gedung dan shopping centre disana tidak hanya fungsional saja. Tetapi juga indah. Permainan warna dan garis + lengkung sangat dinamis. Jauhhh berbeda dibandingkan di Jakarta yang sudah jadi kiblat arsitektur Indonesia. Nampaknya di Indonesia masih terkungkung dengan desain fungsional.

Lihat saja parking lot yang ada di basement esplanade. Permainan lengkung dan warna ungu elektriknya sangat menarik. Apakah di olah digital? Tidakkkk … ini hasil foto langsung, bahkan kamera pocket bisa mengabadikannya (well gak sebagus ini tentunya, kalau sebagus ini ngapain saya beli DSLR hahaha). Atau tengok sudut WC di changi international airport dibawah ini :

Indah? Menarik? Tidak seperti sudut WC? Pastinya … (semoga ada pejabat / arsitek bandara internasional soekarno hatta yang membaca dan tergerak hatinya). Atau tengok juga tempat publik lainnya di dalam Changi Airport ini :

Selain di tempat publik seperti bandara, shopping centre juga di desain sedemikian rupa sehingga tak kalah menariknya. Saya rasa ini karena pemerintahnya sadar betul bahwa pariwisata nya bukan berbasis alam. Tidak ada alam singapura yang cukup menonjol dibandingkan dengan negara tetangga nya. Jadi mereka harus memperbaiki diri, mempermak dirinya sehingga cantik di hadapan negara tetangganya. And you know what? Mereka berhasil.

Dapat kita lihat permainan warna, garis – bidang – lengkung sangat dimainkan di mana-mana. Membuat memotret menjadi sangat menyenangkan. Ditambah lagi dengan tidak adanya satpam rese & preman yang bertebaran di seluruh penjuru Jakarta. Baru angkat kamera saja kalau disini sudah diminta uang / diminta tidak memotret. Sampai sekarang saya masih tidak terima kenapa saya hanya bisa mempromosikan negeri tetangga – hanya karena saya tidak bisa memotret di negeri sendiri. Bukankah memotret dan mem-publish nya adalah promosi gratis buat mereka? (sama halnya saya bikin promosi gratis buat singapura ini).

Di Singapura bebas memotret dimana saja, kapan saja. Setahu saya area yang terlarang hanyalah MRT station. Tapi di luar itu bebas kapan saja kamu mengeluarkan kamera dan memotret. Mau hanya motret arsitekturnya, atau mau motret pake model segala … bebas. Nyamannya fotografer hidup di negeri seperti ini. Tidak biaya tinggi hahaha.

Bahkan di Marina Sands Bay Hotel saya bebas memotret arsitekturnya. Buat mereka saya yakin itu adalah promosi gratis yang luar biasa.

Menuju ke Singapura juga mudah & murah. AirAsia saat promosi menyediakan tiket pp seharga Rp 500rb .. malah lebih murah dibandingkan pergi ke Yogyakarta (apalagi ke Papua). Ironis.

Penginapan memang sedikit mahal disana. Tapi kita bisa mensiasatinya dengan menggunakan hostel (yahhh losmen backpacking lah). Standard hostel disana bagus dan bersih. Jadi tidak perlu khawatir. Saya biasa mencari di HostelWorld. Tinggal lihat foto dan baca rekomendasinya, bayar online dan datang ke sana.

Untuk berkeliaran di Singapura dibutuhkan kaki yang kuat, banyak jalan soalnya. Tetapi public transport sangat nyaman, mulai dari MRT, bus, taxi semua bisa diperoleh dengan mudah. Saya bahkan takjub ketika beberapa waktu datang kesana mereka sudah mulai membangun jalur MRT baru (Circle Line) – disaat Jakarta sampai saat ini belum juga memiliki, dan skytrain pilar nya dibiarkan mengusam.

Makanan? Cukup banyak … cari resto agak pinggir / food court yang ada di basement untuk mendapatkan makanan yang lebih murah. Hal ini karena memang biaya hidup di singapura cukup tinggi. Kalau tidak berhemat maka kantong bisa kebobolan hanya karena makan dan minum saja. Gunakan air ledeng yang aman untuk diminum sebagai pengganti beli air minum.

Untuk lokasi pemotretan, mal di sepanjang Orchard road menjadi kiblat arsitektur moderen. Tinggal pilih mau potret yang mana. Selain itu ada juga Esplanade, Merlion, Marina Sands Bay dan area sekitarnya yang jadi icon arsitektur Singapura juga. Atau bisa juga buat yang suka yang oldish untuk menyusuri Chinatown dan area Bugis. Chinesse (dan japanesse) garden di ujung Barat singapura juga dengan mudah dijangkau menggunakan MRT. Selain itu silahkan gunakan internet karena Singapore Tourism Board sudah banyak sekali membuat web yang menyediakan informasi yang lengkap mengenai pariwisata disana.

So, kalau mau motret arsitektur dengan mudah, indah dan “murah” silahkan mulai lirik web AirAsia dan siap-siap buat tiket promo mereka, meluncur ke negeri seberang, Singapura.


8 thoughts on “Singapore – Surga Fotografer Arsitektur”

  1. betul sekali bang edo, di jakarta satpam nya udah pada matre, angkat kamera dikit aja uda diresein.. ga nyaman banget, yang ada kita moto ngumpet2 dan hasilnya pun ga maksimal jadinya.. my favorite is picture number one.. pas sy kesana gedung bulat itu masih pada tahap pembangunan belum jadi.. kl boleh tau foto terakhir BW lokasinya dimana? thanks n nice pict!

  2. @Hendrik .. yup Jakarta kurang educated dalam hal begini, sayang sekali, padahal itu promosi gratis.

    BW terakhir adalah hotel marina sands bay .. di lobi nya 🙂

  3. sepakat walaupun di national library (di dekat bugis)baru ngeluarin kamera (poket padahal) langsung disamperin satpamnya. As always, nice photos, like them.

  4. sayang, sewaktu saya ke singapura beberapa waktu lalu saya belum punya DSLR, dan blom keranjingan moto. kayanya harus balik lagi nih.. 😀

    nice shoot anyway… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *