Singapore from Above and Below

Beberapa waktu lalu selagi “libur” antar pindah pekerjaan saya menyempatkan ke Singapura. Karena acara keluarga, jadi memang tidak bisa melakukan banyak photo hunt. Tetapi kebetulan di area menginap (Chinatown) masih tersisa ornamen perayaan tahun baru Cina yang baru saja berlalu.

Siang sebelumnya saya sempat survei lokasi, dan menemukan beberapa area yang menarik. Tapi malam-nya ketika sampai sudah cukup gelap. Saya sudah tidak dapat langit twilight, sehingga ya langitnya gelap total. Setelah mencoba memotret di berbagai lokasi, akhirnya saya pilih lokasi ini sebagai foto utama.

After-New-Year_DSC01955-web

Yup, saya tidak membawa kamera canon saya karena ini liburan keluarga. Jadi saya hanya bawa Sony NEX 5n + 10-18mm saya. Enteng dan praktis.

Saya sengaja masukkan garis garis cahaya untuk menambah dinamika foto. Tanpa garis cahaya tersebut maka jalanan akan terasa sangat kosong … dan kurang semarak. Untuk mendapatkan garis cahaya ini saya menunggu lampu merah berganti hijau, sehingga aliran kendaraan masuk ke frame foto. Saya menghabiskan lebih dari 10 foto untuk mendapatkan garis cahaya yang tepat. Ada frame foto dimana bus bahkan berhenti total di depan saya, alhasil tidak dapat foto apa apa hahaha. Sabar adalah kuncinya.

Tentunya post processing dibutuhkan untuk burning dan dodging area tertentu, menambahkan saturasi di area tertentu dll. Seperti biasa …

That’s singapore from below …… from above diambil dari marina sands bay observation tower. Sayangnya saat itu sedang hujan, sehingga kendala nya : memotret di balik kaca (sharpness drop sekali) dan haze (semacam kabut di kejauhan karena hujan – sehingga sharpness dan kontras drop juga). Parah …..

Singapore-City_DSC02136-web

Saya menggunakan Photomatix untuk melakukan HDR. Foto awalnya (RAW) tunggal, lalu saya buat menjadi 5 foto berbeda dengan perbedaan exposure 1/2 stop. Setelah itu saya blending di photomatix. Pengalaman saya apabila beda exposure nya tipis maka foto akan terasa lebih realistis, tidak terlalu HDR banget.

Setelah itu post processing dilanjutkan dengan melakukan burning dan dodging di beberapa area. Misalnya kubah teratai art & science museum di kanan bawah itu perlu saya dodging cukup banyak agak sedikit terang.

Terus terang saya tidak terlalu puas, lebih karena masalah ketajamannya. Andai saja bisa motret tanpa terhalang kaca – tapi kebayang ngeri juga ya tinggi begitu hahaha.

Foto kedua diperoleh di sisi yang lain …

From-MSB-Point-of-View_DSC02144-web

Foto ini saya blending dari 2 foto dari lokasi yang sama. Kenapa harus blending? Karena badan saya tidak cukup besar untuk menutupi pantulan cahaya dari belakang (yang memantul ke kaca – membuat foto ada bayangannya). Satu foto buat kanan yang bersih, satu lagi buat kiri yang bersih.

Sekalian saya menggabungkan garis cahaya dari kedua foto tersebut, sehingga lebih rapat. Teknik ini saya dapatkan idenya dari Jonathan Danker, salah satu fotografer arsitektur Singapore yang karyanya sangat saya sukai.

Lesson learned : Pahami post processing yang akan kita lakukan, ambil foto yang dibutuhkan. Jadi saat post processing kita memproses foto yang memang kita proses – tidak kekurangan stock. Jangan biasakan jepret lalu baru mikir ini mau di apain. Biasakan lihat hasil di LCD kamera lalu pikir ini nanti post processing mau bagaimana, siapkan foto untuk post processing nya.

motoyuk signature white

2 thoughts on “Singapore from Above and Below”

  1. Mas. Makasi dah share foto2nya keren. Btw saya mau nanya nih. Waktu naik ke skytrack nya mbs tuh boleh bawa DSLR dan tripod gak yah??
    trus waktu motret dari skytrack itu pake focal length brp mas? 10 atau 24mm? Soalnya saya rencana bulan depan kesana n kalo fl 18mm cukup lebar gak naik ke atas sana?
    Trimsss

    1. Boleh bawa kok. Enak pakai sekitar 18-35mm kalau di APS-C
      karena jaraknya lumayan jauh, pakai 10-24 kekecilan, kecuali mau ambil bagian bawahnya (agak susah dari skytrack)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *