Singapore Flyer

Lama gak nulis, sibuk banget belakangan ini 🙁 motret juga akhirnya tidak sempat. Untunglah ada kesempatan ke Singapore beberapa hari lalu. Walau cuma punya waktu sedikit akhirnya gue motret juga.

Berhubung sudah beberapa kali ke Singapore, maka obyek-obyek standard relatif sudah di foto. Jadi waktu dengar ada “Singapore Flyer” obyek wisata baru di Singapore maka dibulatkan tekat untuk kesana. Obyek baru ini terletak di dekat Esplanade, jadi kalau naik MRT bisa berhenti di City Hall MRT Station. Setelah itu jalan saja ke arah Esplanade, dari situ sudah keliatan karena guede banget.

Singapore Flyer

Harga tiketnya SGD 30. Cukup mahal sebenarnya untuk satu kali putaran. Tapi kalau waktunya tepat maka kita bisa menikmati pemandangan yang bagus banget, so it’s worthed. Ferris-wheel ini bergerak sangat lambat, sehingga satu putarannya mungkin sekitar 30 menit. Karena putarannya yang relatif lambat ini maka memungkinkan kita untuk memotret di dalam “tabung” perjalanannya.

Ini adalah salah satu hasil foto-ku :

Singapore Night at the Flyer

Untuk menghasilkan foto ini maka waktu adalah sangat penting. Gue masuk ke dalam flyer tepat saat matahari mulai terbenam, untuk waktu singapore itu sekitar jam 19.30 (GMT+8). Sehingga sesaat sesudah flyer bergerak dan mencapai titik yang cukup tinggi pas saat twilight (dimana langit membiru gelap).

Tripod tentunya dibutuhkan karena night shoot selalu berhubungan dengan shutter speed yang lambat. Selain itu sebenarnya dibutuhkan filter CPL (Circular Polarizer) untuk menghilangkan refleksi pada kaca di tabung flyer. Sayangnya CPL punya gue kebetulan rusak hari sebelumnya. Alhasil harus geser sana geser sini supaya meminimkan refleksinya.

Mode yang gue gunakan adalah Av (Apperture Priority). Apperture sendiri aku pakai f5.6, hal ini supaya masih cukup cahaya yang masuk. Shutter speed yang terlalu lambat (karena misalnya memaksakan f22) bisa membuat foto goyang, ingat bahwa flyer juga bergerak. Selain itu f22 kemungkinan akan menampilkan refleksi di kaca lebih dominan lagi, hal yang aku ingin hindarkan saat itu.

Untuk memperoleh shutter speed 1.3 second maka ISO yang digunakan adalah ISO400. Masih dalam batas toleransi noise pada kamera yang aku gunakan (Canon EOS 40D). Selain itu tentu saja Image Stabilizer di lensa EF-S 17-55 f2.8 IS harus menyala pula. Exposure compensation (EV) tidak digunakan, karena toh cukup seimbang antara area gelap dan terang.

Tentunya foto ini diambil menggunakan RAW, bukan JPEG. Hal ini agar pengolahan selanjutnya menjadi lebih mudah. Canon DPP digunakan untuk mengubah picture style menjadi jenis landscape, meningkatkan sharpness, saturasi dan mengatur curve foto ini agar lebih kontras. Berhubung tidak punya Photoshop, maka setelah DPP ya sudah selesai deh.

So, there you go…the “Night @ Singapore Flyer”….Enjoy…hope you can be there too someday

3 thoughts on “Singapore Flyer”

  1. Fotonya bagus mas, salam kenal, keren2 fotonya, yang bawah itu hanya pakai software canon DPP ya? saya lihat di exiff nya ada GIMP nya juga. Terus saran saya bagaimana kalo disertakan link foto aslinya?

  2. @adi:salam kenal juga & thanks buat compliment nya.

    Foto paling akhir memang pakai canon dpp. Seperti dijelaskan itu untuk raw processing karna saya selalu pakai raw. GIMP hanya untuk keperluan resize.

    Saat ini belum tak upload jpeg langsung dari kamera. Tapi tidak berbeda jauh sih karna tidak pakai layer masking dll. Hanya raw convertion.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *