Saya kurang apa dalam belajar …

Belajar fotografi adalah proses pembelajaran tidak pernah henti buat saya. Dalam membangun komunitas belajar fotografi motoyuk saya ketemu dengan banyak orang dengan berbagai karakter. Ada karakter yang membuatnya sukses, tapi ada juga karakter yang membuat nya lambat dalam belajar fotografi. Saya coba share karakter beberapa orang, semoga yang merasa dirinya demikian bisa lekas berbenah. Tidak lain supaya belajar foto nya lekas berhasil.

Gak Mau Usaha – ini karakter yang paling mematikan pertama. Ada seorang rekan yang keberatan untuk datang hunting bersama hanya karena dia di Jakarta Barat, sementara lokasi hunting di jakarta Timur. Atau hanya karena tidak memiliki kendaraan (padahal busway sudah tersedia). Kalau memang tidak niat buat berusaha belajar, ya jangan harap cepat belajar dong. Usaha! Jangan manja. Saya kagum dengan beberapa teman yang demi belajar fotografi datang tiap minggu dari Bogor & Bandung ke Jakarta buat belajar. Manusia itu pada dasarnya senang dengan status quo … senang dengan tidak bergerak, so lawan kemalasan yang ada dan bergerak buat belajar.

Hal lain yang berhubungan dengan gak mau usaha … males googling dan baca. Informasi mengenai fotografi itu bertebaran di internet. Saya tidak pernah ikutan kursus resmi, saya belajar otodidak dari internet dan rekan-rekan fotografer senior. Sudah gitu saya buat web motoyuk ini untuk menyebarkan ilmu mengenai fotografi. Ada fitur search di motoyuk dan google. Kalau misalnya pertanyaan soal “Aperture itu apa sih dan dampaknya apa?” masih ditanyakan ke grup, sungguh keterlaluan. Bukan bermaksud untuk mengecilkan orang yang mau tanya begitu, sangat boleh tanya demikian KALAU sudah browsing dan masih tetap gak ngerti. Kalau browsing saja belum dan langsung tanya, astaga. Usaha!

Gak Mau Belajar –  penyakit kedua adalah penyakit ekslusifitas. “Ah, aku mah sukanya belajar foto landscape saja, gak mau lah belajar foto human interest” … tidak mau menekuni itu ok, tidak mau mencoba nah itu salah. Menurut saya fotografi itu dipelajari dengan mencoba berbagai hal. Walau saya adalah seorang landscaper tapi saya belajar banyak soal kontrol exposure dan DOF melalui fotografi model. Saya belajar soal pencahayaan (dan kesabaran) dari fotografi makro. Saya belajar mengenai kontrol lensa tele via fotografi wildlife. Sekali lagi … tidak mau menekuni adalah hak, tapi tidak mau belajar adalah kesalahan besar.

Gak Mau Coba – penyakit ketiga adalah sudah beli peralatan, udah ngerti bagaimana pakenya, tapi kagak juga dipake. Selaluuuuuuuuu ada alasan gak motret. Yang sibuk ama urusan keluarga, ada acara, ada janji, cuaca gak bagus, gak keluar kota, gak ada pemandangan yang bagus, wildlife gak bisa disini, makro dimana ya, dst dst … percaya saya, selalu ada alasan untuk membiarkan kamera dan peralatan itu teronggok di sudut kamar. Ayolah, foto bagus itu dibuat tidak jauh dari rumah koq. Asal memang niat.

Acknowledge Me – penyakit keempat adalah sesudah makin pinter pengennya upload dan dikomentarin fotonya, dipuji kalau bisa. Apakah kita sadar bahwa dengan hanya upload tanpa pernah mau mengomentari foto orang maka kita tidak akan pernah maju. Karena kita hanya bergulat dengan kepala kita sendiri : “hemmm ini kayaknya sih cuma gini doang”, “hemmm ini bagus nih foto”, udah stop disitu saja. Tidak dapat ilmu baru. Atau ya ilmu fotografi kita akan sama saja, karena orang lain memuji “Bagus”, “Keren nih”, kita dapat apa dari dipuji itu saja? Kebanggaan? Iya, tapi tidak maju.

Cara yang paling asik menurut saya adalah :

  • Upload & Explore pendapat orang : dengan demikian kita tahu apakah memang ok atau ada kurangnya teknik kita. Jadilah orang yang terbuka dan gak galak, kalau kita sensi maka kita tidak akan pernah dapat honest comments. Pahami bahwa selera orang berbeda, kita tidak harus mengikuti pendapat orang untuk menghargai pendapatnya.
  • Comment & Analysis : berikan komentar dan analisa terhadap foto orang lain. Jangan sekedar memberi komentar “Ah bagus”, “Ah jelek” … lho bagusnya dimana (dengan demikian kita melatih instinct kita) atau jeleknya dimana dan bagaimana sebaiknya (dengan demikian kita berlatih kalau di kondisi yang sama kita harus gimana). Browse di internet kalau ada yang bingung. Tanya kalau tidak tahu. Lakukan apapun yang perlu untuk memahami kenapa hasilnya demikian.

Banyak klub foto misalnya Fotografer.Net sebenarnya sudah memberikan aturan supaya memberikan comments sebelum upload. Tapi pada akhirnya orang hanya berlomba-lomba upload. Berlomba – lomba menunjukkan siapa saya dan bagaimana karya saya. Comment hanyalah formalitas saja. Sayang sekali kesempatan belajar di tiadakan begitu saja oleh diri kita sendiri.

Keep It For My Self – wah kalau sudah jadi ahli di bidang tertentu dan ketemu trik nya kenapa saya harus kasih tahu ke orang lain ya? Kebanyakan fotografer (dan manusia umumnya) ingin menyimpan ilmunya sendiri. Supaya dirinya tetap jadi yang nomor 1. Lupakanlah jadi nomor 1, berusahalah jadi yang terbaik saja. Dengan demikian kita rela berbagi dengan orang lain karena percaya (bukan menuntut) itu akan berdampak positif terhadap ilmu kita. Saya selalu kasih tahu apa yang orang ingin tahu dari foto saya. Feel free to ask di komunitas motoyuk … semuanya mau berbagi, kenapa? Karena saat berbagi maka ilmu kita bukannya berkurang, malah makin banyak. Kenapa ?

  1. Kita sendiri jadi terpacu meng-eksplore hal baru yang lain lagi
  2. Orang lain membantu kita menyempurnakan / memodifikasi teknik yang kita temukan
  3. Ada teman diskusi yang sepadan sehingga kita makin pinter

Sudah bukan jamannya lagi ilmu di simpan sendiri. Lihat di dunia, makin banyak orang sharing via blog dan komunitas. Dengan demikian maju pesat. Sayang sekali kalau Indonesia tidak demikian.

Ada banyak “penyakit” lain … gak mungkin ditulis semua disini … kalau memang kamu belajar fotografi dan merasa tidak maju-maju juga, coba tanya pada diri sendiri, penyakit mana yang saya idap hehehe.


21 thoughts on “Saya kurang apa dalam belajar …”

  1. saya baru beli nikon d3100 om blm 1 bulan. tapi mau usaha ah nyingkirin tu penyakit. pengen juga punya karya2 phoro yg bisa di nikmati banyak orang. tiap hari wajib baca motoyuk.com 😀

  2. Gan mau tanya kalo memotret model outdoor,, pake lensa apa gan,,, ya sekalian minta lensa yang cocok juga ya terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *