Raw vs JPEG?

Apa yang harus kita pilih sebagai setting kualitas foto di kamera kita, RAW atau JPEG? Hal ini juga disinggung oleh Mr. Teoh Peng Kee dalam seminarnya. Sebelumnya saya pun sudah menggunakan setting yang beliau sampaikan. Tapi hal ini memang menegaskan bahwa cara yang saya gunakan sejauh ini adalah yang “paling baik”.

Awalnya dulu saya hanya menggunakan setting JPEG. Selain saat itu harga memory card masih cukup mahal (JPEG ukuran file-nya lebih kecil, sehingga memory card dapat memuat lebih banyak gambar) juga tidak sadar bahwa pengolahan lanjut JPEG (misalnya di Adobe Photoshop) menurunkan kualitas gambar. Hal ini dikarenakan JPEG sebenarnya merupakan foto yang sudah melalui proses pengolahan & kompresi (oleh processor camera). Oleh sebab itu hasilnya belum tentu maksimal, apalagi kalau diolah lagi lebih lanjut.

Seiring dengan waktu saya menggunakan RAW dalam proses pengambilan foto saya. Kebetulan harga memory card sudah makin terjangkau, sehingga ukuran foto lebih besar masih bisa ditangani dengan menggunakan memory card kapasitas besar. Kualitasnya memang meningkat dan pengolahan juga lebih mudah. Hal ini karena file RAW belum diproses oleh prosesor kamera, masih “mentah”.

Tapi saya ketemu batunya pada saat melakukan satu pemotretan liputan, dimana jumlah foto yang diambil mencapai ratusan. Pada saat itu saya merasa benar-benar jera harus memproses semua RAW yang saya hasilkan. Hanya untuk dilihat dan akhirnya “dibuang”. Benar – benar tidak produktif. Padahal saya tidak melakukan perubahan / editting yang signifikan pada foto yang saya peroleh saat konversi RAW berlangsung, maklum liputan.

Semenjak itulah saya kebanyakan memotret dengan menggunakan dual output. RAW + JPEG. Untuk kualitas JPEG saya memilih Small + Fine. Small karena resolusi di kisaran 1900 pixel yang dihasilkannya sudah mencukupi buat proof printing, analisa dan sharing ke teman-teman. Kualitas Fine karena ingin mendapatkan hasil terbaik. Dengan kompresi minimal pada setting Fine maka kualitas foto tetap optimal walaupun bukan hasil dari proses RAW.

JPEG memiliki kelebihan apabila kita ingin share langsung hasil pemotretan liputan kita, atau kita ingin share di facebook misalnya. Intinya, kecepatan proses.

Sedangkan RAW memberikan kelebihan dalam hal kualitas foto, walau dengan sedikit tambahan waktu untuk memprosesnya. Memiliki keduanya tentunya “ideal”.

Jadi, sependapat dengan Mr. Teoh Peng Kee, saya menyarankan menggunakan setting RAW + JPEG (small fine) di kamera anda. Hampir di setiap kondisi pemotretan. Anda mendapatkan kelebihan dari kedua format file dengan “kerugian” hanya kebutuhan memory card yang sedikit lebih besar.

MOTO YUK !!!

9 thoughts on “Raw vs JPEG?”

Leave a Reply MY-ers ...