Post Processing ?

Minggu lalu saya kebetulan business travel ke Surabaya. Karena yakin tidak bisa banyak motret maka saya “hanya” membawa Sony NEX 5n dan lensa 10-18mm f4 nya. Cukup ringan sebenarnya … apabila tidak ada tripod + filter. Astaga, tetap saja 2/3 koper kabin saya penuh dengan peralatan ini. Hanya 1/3 yang berisi baju dalam jumlah terbatas – nasib seorang photo-enthusiast haha.

Walau super penuh jadwalnya (entah kenapa orang-orang ini senang sekali karaoke dan tidak memilih tidur LOL) tapi saya akhirnya berhasil mengatur satu pagi dimana saya bisa ke Kenjeran lama, di kawasan utara-timur Surabaya. Dari Shangrilla dimana saya menginap butuh waktu sekitar 30 menit. Sayang karena kesiangan maka saya agak terlambat untuk twilight, dan sunrise sebenarnya. Untunglah ada kabut dan awan yang membuat sunrise agak “terlambat”

Kenjeran_DSC02282_DxO_-HDR-web

Tidak sempat survey + terlambat datang ke lokasi, maka saya hanya mengandalkan insting saja. Pertama : saya tidak akan memotret di jembatan, karena sunrise sudah tinggi + sudah banyak sekali yang memotret disitu. Kedua : memotret perahu dari pinggir pantai rasanya juga tidak akan menarik karena sudah banyak juga yang memotret begitu + perahu yang bersandar tidak ada yang menarik.

Alhasil saya menceburkan kaki saya sekitar 20 meter dari batas pantai. Tidak mudah karena ternyata pantai ini karakternya berlumpur, sehingga kaki saya tercebur sekitar 30-40 cm. Tripod jelas bukan opsi (lebih dikarenakan saya malas mencuci nya + saya lihat matahari toh sudah cukup tinggi – speed harusnya memadahi). So, saya handheld pemotretan dengan 12mm (supaya tidak vignette) + f8 1/25 iso100. Tentunya GND reverse 0.9x saya pasangkan. Tanpanya maka area tengah akan blow-out dan tidak akan bisa diselamatkan lagi.

Nah, sekarang …. apakah pakai post pro?

Tentunya saya harus menggunakan teknik post pro untuk mengangkat warna, kontras dan juga dynamic range. Seperti sebelum sebelumnya. Yang berbeda adalah saya sempat menggunakan iPad saya untuk post pro … coba kita lihat perbandingannya :

DSC02282-original

Original JPEG shot dari kamera : terlihat kurang semarak ya? … warna agak mendem, beberapa area masih belum terangkat dynamic range nya. Kontras agak kurang.

Berikutnya adalah pengolahan dengan menggunakan filterstorm apps di iPad :

from-ipad-web

Setelah pengolahan maka warna lebih keluar dan kontras lebih baik. Saya cukup surprise dengan hasil pengolahan filterstorm apps ini. Hasilnya cukup bagus, walau pada saat saya transfer ke laptop baru terlihat pixelate mulai terlihat (lihat area bawah yang mulai kotak kotak pecah). Mungkin karena keterbatasan apps nya (dan iPad yang memory nya terbatas – di maklumi).

Sedangkan foto di bawah ini adalah hasil dari pengolahan RAW via DxO Optics 8 :

DSC02282_DxO-after-raw

Dapat dilihat bahwa saya melakukan enhancement pada warna, kontras, saturasi dan dynamic range. So, apakah post processing? Ya, karena (kembali) menurut saya post processing dibutuhkan untuk meningkatkan lagi hasil foto yang kita ambil. Mengatasi kelemahan peralatan yang kita miliki, misalnya soal dynamic range.

Perlu sekali untuk kita paham melakukan post processing, sehingga apa yang ada di bayangan pikiran kita bisa diwujudkan. Tidak terbatas pada kelemahan peralatan kita.

Lagipula …. siapa yang bilang JPEG yang dihasilkan kamera kita itu “asli” ? Bukankah kamera kita dengan processor dan segala macam algoritma yang ditanamkan produsen di dalamnya juga sudah melakukan “post processing” ? Jadi foto “asli” sebenarnya tidaklah pernah ada … bahkan apa yang mata kita lihat langsung di lokasi bisa berbeda antara satu orang ke orang yang lain, tergantung bagaimana sel mata & otak yang bersangkutan memprosesnya. Apakah kita bisa bilang mana yang asli dan tidak?

Untuk foto akhir saya melakukan :

  • HDR ringan dengan menggunakan Photomatix – Enhanced
  • Setelahnya saya gunakan photoshop dengan :
    • Level dan Curve untuk burning dan dodging
    • Photo filter warm untuk area matahari terbit
    • Photo filter cold untuk area bawah
    • Color balance untuk menghilangkan warna magenta dan hijau yang muncul
    • Sharpening tentunya

So, jangan pusing kalau orang awam tanya : “Apakah ini sudah di photoshop?” mereka hanya tidak paham … bahwa foto memang membutuhkan post processing. Yang berbeda cuma, seberapa banyak. Asalkan kalau kita mengaku fotografer juga, tidak ikut2an pusing dengan hal semacam itu … lihat hasil akhir sebagai karya (TITIK).

motoyuk signature white

6 thoughts on “Post Processing ?”

  1. Memang untuk hasil foto yang diperoleh langsung kurang memadai untuk hasil final, sehingga post processing merupakan menu wajib agar foto terlihat lebih baik kualitasnya.

    thanks Mas Edo …. bagus sekali buat pembelajaran untuk saya.

    1. Yup, tiap kamera punya keterbatasannya … masih kalah canggih dibandingkan mata dan otak kita. Wajar, karena kamera sebenarnya cuma meniru ciptaan Tuhan ini. So, untuk itu masih perlu ada sedikit tweak sana sini supaya lebih menyerupai dengan yang kita “persepsikan” dengan mata + otak kita

  2. …Jadi foto “asli” sebenarnya tidaklah pernah ada … bahkan apa yang mata kita lihat langsung di lokasi bisa berbeda antara satu orang ke orang yang lain, tergantung bagaimana sel mata & otak yang bersangkutan memprosesnya. Apakah kita bisa bilang mana yang asli dan tidak?…
    Kalimat sampean ini bagi saya lebih ke ‘tasawuf’ than note teknis photografi.. Thanks

    1. Kamera dan hasilnya adalah modal, post pro adalah penyempurnaan yang dilakukan karena keterbatasan kamera
      Walau kamera paling mahal sekalipun akan memiliki keterbatasan teknologi

      Identiknya post pro adalah cuci cetak jaman film
      Apakah sesudah memotret dengan kamera film paling mahal sekalipun kita tidak melakukan cuci cetak?
      Tetap kan ya?
      Walaupun tidak melalui photoshop, sadarilah bahwa processor + firmware di kamera juga sudah melakukan post pro
      Bisa pilih dari hanya sekedar picture style atau mau sampai HDR dll (di beberapa kamera bahkan in camera post pro sangat lengkap)

      So, buat apa beli kamera yang mahal kalau nanti di post pro? Buat modal awal yang lebih baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *