Pintu Air Jagir Surabaya

Saat liburan di surabaya hanya sempat motret satu kali 🙂 maklum, liburan dengan keluarga. Tapi cukup menarik bahwa di tengah kota surabaya ada “cagar budaya” seperti pintu air tua ini. Kunci pemotretan pintu air ini adalah waktu. Kalau terlalu pagi maka semburat warna merah dari matahari terbit belum terlihat, selain itu dynamic range antara bagian yang diterangi cahaya lampu dan gelap akan terlalu lebar sehingga bisa jadi ada highlight clipping. Kalau terlalu siang maka akan terjadi backlight (karena kita memotret mengarah ke matahari) dan juga lampu yang menerangi akan di matikan.

Pada saat pemotretan ini kita mulai memotret jam 05.13 pagi, dan lampu sudah dimatikan jam 05.23. Jadi hanya ada waktu sekitar 10 menit untuk mencari lokasi, setting dan memotret. Sebenarnya ada foto yang lain, akan tetapi saya lebih suka yang satu ini karena ada dimensi-nya. Untuk memotret ini memang saya harus lompat pagar pembatas dan bergabung dengan beberapa orang yang sedang (maaf) buang hajat di pinggir kali hahaha. Sama-sama jongkok, bedanya saya memotret dengan tripod sedangkan mereka melakukan ritual pagi.

Tripod tentunya merupakan hukum wajib untuk pemotretan semacam ini. Lihat saja dengan ISO 200 (supaya tidak noise) saya hanya mencapatkan speed 1/10 secs. Tentunya akan sangat riskan untuk di handheld.

Pengolahan saya lakukan dengan Adobe Photoshop RAW converter, karena menggunakan Canon DPP untuk kasus ini kurang memuaskan. Hasil menggunakan Canon DPP bisa dilihat di bawah ini :

Konversi menggunakan Canon DPP

Di Adobe Photoshop RAW saya menggunakan Gradual ND dengan tint warna peach untuk langit, dan 2 adjustment brush dengan exposure lebih terang untuk bebatuan yang ada di dekat kamera (foreground). Untuk lebih detil mengenai pengolahan menggunakan Adobe Photoshop RAW bisa baca di :

MOTO YUK!!!




3 thoughts on “Pintu Air Jagir Surabaya”

Leave a Reply MY-ers ...