Featured Photos on MY FB Group (13 Sep 2014)

Photo by : Mahmud AndyDinejad Photo & discussion link
—————————–
 
Photo by : Andika Afriansyah Photo & discussion link

Quotes Of The day

IMG_8469.JPG

Travel Photography : Takayama-Shirakawa Go, Japan

Kebetulan saya memperoleh kesempatan untuk sekali lagi travel ke Jepang, Osaka lebih tepatnya, karena urusan pekerjaan. Tentunya sebelum ngurusin kerjaan saya senggangkan waktu untuk mengunjungi area yang belum saya sempat kunjungi dalam trip ke Osaka-Kyoto-Nara di bulan Maret-April lalu.

Osaka
Pemandangan yang bisa dinikmati dari Hotel Intercontinental Osaka – tempat saya kebetulan menginap. Ini di jepret dengan menempelkan kamera ke kaca dan tentunya mematikan semua lampu di kamar.

Dalam tulisan ini saya akan bahas beberapa tips yang mengiringi perjalanan kali ini. Berhubung singkat, maka tips ini bisa digabungkan dengan perjalanan yang lebih panjang.

Penginapan & Tur

Untuk penginapan saya memesan jauh jauh hari Hostel yang sempat saya gunakan sebelumnya (buat yang belum paham bedanya hostel dan hotel, tolong googling dulu). Saya gunakan J-Hoopers Hostel di Osaka sebagai base, dan J-Hooper Takayama sebagai tempat singgah saat di Takayama.

Saran saya adalah pesan langsung via email jauh jauh hari. Selain lebih murah, ini juga mempermudah komunikasi dengan pihak hostel. Pembayaran dilakukan saat kita sampai di hostel, baik menggunakan cash maupun credit card.

Osaka-Jo
Benteng Osaka selalu asyik untuk dinikmati – saya gunakan Lee Big Stopper ND Filter (9 stop) untuk menambah dramatisasi area ini. MY-ers bisa menemukan lokasi ini di pintu utama (depan) dari Osaka Castle.

Saya travel sendirian, oleh sebab itu saya gunakan jenis kamar Mixed Dorm. Artinya kamarnya gabung dengan beberapa orang lain dan beda gender (walau umumnya jatuh2nya sih cowo). Selain lebih hemat, jenis kamar ini juga membuat saya bisa berkenalan dengan rekan traveller lain (dalam trip ini saya kenalan dengan traveller dari Spanyol, Korea Selatan dan UK). Harga per orang / hari untuk Mixed dorm sekitar Rp 250.000 …. harga yang sangat terjangkau untuk di Jepang.

Untuk menghindari kerepotan saya sewa handuk disana, cuma sekitar 70 Yen, murah lah … daripada repot dengan handuk basah. Sedangkan baju juga saya bawa seadanya, karena saya bisa mencuci dan mengeringkan baju di hostel, cukup dengan biaya 300 Yen. Daripada tas penuh dengan baju?

Shirakawa-Go
Shirakawa Go adalah perkampungan yang menjadi UNESCO World Heritage. Bangunan khas nya sudah berumur ratusan tahun, dikenal dengan nama Gosho Style. Tiap musim shirakawa go memukau dengan wajahnya yang berbeda. Hijau bersemi adalah wajahnya saat summer. Ini adalah pemandangan dari Vantage Point / Gardu Pandang. Sekitar 1 km dari dusun tersebut.

Continue reading Travel Photography : Takayama-Shirakawa Go, Japan

Alternatif lensa portrait untuk mirrorless – Canon FD 135mm f2

Buat penggemar lensa tele dengan bokeh (bukaan lebar) maka kamera mirrorless mungkin memiliki sedikit “keterbelakangan”. Selain karena DOF yang relatif sempit sehingga agak lebih susah menciptakan bokeh, juga lensa yang dibutuhkan tidak semuanya tersedia.

Hal ini wajar, mengingat mirrorless baru saja muncul di permukaan. Belumlah selama DSLR dan belum “mature” betul sistemnya – dalam arti belum banyak pilihan juga.

Belakangan Fuji (yang kebetulan saya gunakan) muncul dengan lensa 56/1.2 – ini lensa portrait, setara dengan sekitar 85mm f1.8. Lensa ini enak dipakai, tapi tetap saja kadang kita butuh yang lebih tele lagi untuk isolasi background sesuai dengan konsep yang kita mau. Sayangnya lensa 90mm (yang setara dengan 135mm) masih belum tersedia.

fd135mm2_

Semenjak awal saya memang sudah berniat untuk investasi di lensa wide aperture Canon FD dan FL. Tentunya di combine dengan Metabone Speedbooster. Kenapa Canon FD/FL ? Simply karena pasokan masih banyak, pilihan juga banyak dan harganya masih “masuk akal”. Kalau saya pilih misalnya Leica R, atau Zeiss maka harganya pasti fiuhhhhhh buat mengumpulkan lensa lensa wide aperture ini.

Lensa Canon FD 135mm f2 ini relatif agak langka. Tetapi saya berhasil memperolehnya dari Jepang (via ebay). Harganya sekitar 4jt – relatif murah dibandingkan dengan saudaranya EF 135mm f2 – hahaha. Sedangkan biaya metabone speed booster saya anggap sharing cost dengan lensa Canon FD / FL lain yang saya miliki. Continue reading Alternatif lensa portrait untuk mirrorless – Canon FD 135mm f2

Featured Photos on MY FB Group (1 Aug 2014)

Photo by : Hadrani Hasan Photo & discussion link
—————————–
Photo by : Yohanes SanjayaPhoto & discussion link
 

Wide Angle vs Fish Eye

Kebetulan mendapatkan kesempatan motret sementara nginep di Aston Residence Kuningan. Dalam kesempatan ini coba saya perlihatkan perbedaan ultra wide angle lens vs fish eye.

Semua foto saya ambil dengan Fuji XT1. Untuk ultra wide angle saya gunakan XF 10-24mm di 10mm nya … setara dengan 15mm di full frame. Sedangkan untuk fish eye nya saya gunakan samyang 8mm mk2 … walau setara nya 12mm di full frame, tapi lensa ini adalah lensa fish eye. Angle of view dari lensa ini super luas.

Beberapa foto saya ambil tanpa menggunakan tumpuan (handheld), jadi mohon maaf kalau agak shake ya. Gak bawa tripod hahaha.

Aston Kuningan

Lihat luasnya bidang pemotretan di atas. Hampir 180 derajat ..

Sekarang kita lihat sudut pandang ultra wide angle :

Aston Kuningan

dan bandingkan di sudut yang kurang lebih sama, tetapi menggunakan lensa fish eye.

Aston Kuningan

Lihat cakupan yang jauh meluas. Bukan hanya itu tapi, yang berbeda juga adalah lengkungannya. Seperti yang disebutkan Tedy dalam artikel sebelumnya bahwa lengkungan ini untuk fotografi arsitektur menjadi pemanis, karena memberikan lengkung yang kita mau. Tapi tentunya ini menjadi catatan juga, karena foto arsitektur kita jadi sedikit berbeda dari kenyataan.

Continue reading Wide Angle vs Fish Eye

Mendefinisikan ulang hobi fotografi …

Libur lebaran memberikan kesempatan buat saya buat belajar lagi mengenai fotografi. Salah satunya adalah membaca buku baru dan menonton video-video mengenai fotografi.

Satu video yang menarik adalah video mengenai analisa foto berikut ini. Mengapa menarik, kalau MY-ers lihat, video ini tidak ngobrol mengenai exposure setting bagaimana, alatnya apa, teknik nya apa … tapi bercerita mengenai detil apa yang perlu dilihat.

Chloe Jasmine Whichello – The book deconstructed from Damien Lovegrove on Vimeo.

(karena ketololan kementrian kita, maka Vimeo kadang di block, itu sebabnya kalau MY-ers tidak bisa melihat video di atas – silahkan cari akses internet lainnya untuk akses : http://vimeo.com/98443337 – atau download dari dropbox saya)

Detil, dan cerita, dan jiwa dari satu foto. Ini adalah hal yang sering sekali terlupakan oleh para hobiist. Karena kita para hobiist senang yang rumit, maka seringkali teknis pemotretan dan peralatan lebih menjadi fokus utama.

Padahal setelah melewati pembelajaran maka segala teknik ini akan membosankan. Karena setelah dicoba dan bisa lalu mau apa?

Saatnya mendefinisikan ulang hobi fotografi mu. Bukan lagi untuk mencoba teknik. Tapi untuk menciptakan karya seni (dengan teknik yang sudah dipahami). Pahami dan ciptakan detilnya. Ciptakan cerita. Ciptakan karya seni.

Semoga dengan demikian hobi ini tidak lalu membosankan ….


MY Articles : Fish Eye Lens, By : Tedy

Hallo MY’ers ini sdikit saya intro mengenai arsitektur photography dalam kaitan penggunaan lensa fish eye…

Ulasan kecil ini dapat teman2 temui di buku “Dancing Perspectives” by Narsiskus Tedy terbitan elexmedia yang akan terbit agustus 2014 nanti.. sdikit saya buka dulu skrg… buat intro…

————————–

FISH EYE dalam arsitektur photography

Lensa apa yang memungkinkan kita bermain dengan distorsi? Fish eye jawaban nya. Penggagas lensa fish eye di dunia photography adalah Nikon pada tahun 1935, selanjutnya berkembang diikuti brand2 lain nya. Secara karakter lensa ini terbagi menjadi dua:

  • Fish eye circular: distorsi di kedua arah vertikal dan horisontal
  • Fish eye diagonal: distorsi terjadi pada sisi horisontal saja..

Beberapa jenis lensa fish eye yang banyak digunakan:

  • Canon – 15mm f2.8 Fish eye
  • Canon – EF 8-15mm f/4L Fisheye USM
  • Nikon – Nikkor 10.5mm f/2.8G AF DX Fish-Eye Lens
  • SAMYANG 8 mm f/3.5 Aspherical IF MC dijual untuk pasar Eropa dengan nama Rokinon 8mm
  • Tokina 10-17 mm Fish eye
  • SIGMA 15mm f/2.8 EX DG FISHEYE

Continue reading MY Articles : Fish Eye Lens, By : Tedy

MY BBM Group Editor Choice – July 2014

Berikut adalah sharing dari foto yang dipilih oleh admin BBM group motoyuk. Foto milik Fadholi. Semoga sharingnya bermanfaat.

———————

Mini Robberfly

FadholiBBwinner

Terima kasih kepada moderator dan teman-teman group BBM MY1 atas apresiasi yang diberikan untuk  foto ini sebagai weekly editor choice. Sebagai pembelajar, apapun dan dari manapun bentuk apresiasi yang datang tentu akan menambah motivasi dan semangat untuk meningkatkan progres serta kualitas hasil karya.

Foto ini diambil saat hunting bersama teman-teman pecinta macro photography (beberapa orang di antaranya MY-ers) di Desa Ciketing Udik, Narogong, Bekasi.

Continue reading MY BBM Group Editor Choice – July 2014

Sudut alternatif

Dalam pemotretan selain exposure, maka angle / komposisi adalah aspek yang sangat penting. Foto jadi terasa berbeda atau tidak dipengaruhi signifikan oleh angle yang digunakan. Apabila angle nya sejuta umat maka cenderung sulit untuk membuat impresi.

Saya mau sharing pengalaman waktu ke Todaiji Jepang (Nara area). Kuil ini sangat terkenal, jadi tidak heran semenjak pagi pagi saat dia dibuka pun sudah sangat ramai. Sungguh sulit untuk memperoleh clean shot di area turis begini. Tantangan utama pemotretan travel.

Kalau saya mengikuti angle sejuta umat yang biasa saja, maka saya akan masuk ke dalam kuil dan memotret dari kejauhan.

Sample2

Angle sejuta umat …. mundur sedikit dapat framing, so agak sedikit tidak sejuta umat, tapi masih seribu umat mungkin

sample3

Continue reading Sudut alternatif

%d bloggers like this: