MY Weekly Editor’s Choice : HYPNOTIC, By : William Jusuf

Mulai minggu ini di BBM group MotoYuk akan diberikan award MY Weekly Editor’s Choice – dipilih oleh tim moderator Tedy & Edo. Tapi, khas motoyuk, award ini diberikan hanya ke mereka yang akhirnya mau share mengenai foto yang terpilih. Sehingga tidak sekedar memberikan kebanggaan bagi fotografer nya, melainkan juga manfaat buat yang lain. Dengan demikian semua bisa belajar.

Foto yang terpilih di minggu ini adalah foto berjudul “Hypnotic” oleh William Jusuf

weekly1

EXIF : F2.0 Center Weighted Metering , 1/125 second, ISO 400
Alat : lensa Canon LTM Sonnar 50 mm F1.5 dengan body Sony Nex 5N (equiv 75 mm)

Buat pribadi yang jarang berpergian secara khusus untuk hunting foto (contoh : saya) kegemaran foto menjadi suatu tantangan.

Lokasi foto yang didapatkan tentunya adalah tempat yang menjadi keseharian. Bisa di kantor, di jalanan, di mal, di restoran bahkan di area rumah kita.
Objek yang difoto tentunya bermacam-macam. Dari manusia, kerumunan manusia, pola laku masyarakat atau bentuk/ shape/ pola ruang dan benda

Tantangannya tentu saja adalah kita tidak bisa mengatur apapun yang ada di lingkungan sekitar kita.
Baik itu pencahayaan, polah tingkah manusia ataupun properti. Semua sudah ada apa adanya di hadapan kita.

Begitu banyak istilah yang diberikan pada pribadi penghobi foto dengan kemampuan fotografi terbatas / masih belajar dengan kegemarannya akan keseharian. Ada yang menyebutnya snapshooter, casual photographer, photoblogger, atau bahkan disebut stalker/ pervert bahkan pencuri gambar.

Foto yang akan dibahas kali ini, saya berikan nama Hynotic, yang diambil di Mal Grand Indonesia, tepatnya di depan rumah makan yang cukup baru dibuka.

Pertama yang akan saya bahas adalah workflow pribadi saya dalam mengambil foto.
Kebiasaan saya adalah kamera harus selalu siap kapanpun dimanapun (baik itu sudah siap di sling back di depan tubuh atau terikat di tangan kanan).
Buat casual photobloger, saya memilih tas tanpa merek kecil dan wrist strap kamera (dibuat sesuai ukuran tangan saya dan kamera).

Setiap saya masuk ke lokasi baru dan pecahayaan baru otomatis saya akan mensetting ulang kamera saya dengan urutan :

  1. apperture
  2. Metering
  3. Speed
  4. ISO

Urutan tersebut sudah menjadi natur dalam workflow pribadi saya.

Apperture selalu diatur dulu karena saya pemakai purna waktu lensa tua manual. Karena tiap lensa manual tua punya karakter, saya perlu suatu visi, apakah yang akan dituju ketajaman , detail resolusi ataukah DOF tipis/ bokeh. Untuk foto ini, saya ingin adanya keseimbangan antara ketajaman yang cukup (tidak tajam sekali) dan masih ada suatu dimensi/ DOF yang cukup tipis… Antara background , sela antara meja dan meja bar. Saya pilih F2.0 untuk shot ini

Metering.
Yang menarik saya di foto adalah background berbentuk matahari jepang yang menyolok mata dan distracting dengan ambience meja bar dan botol-botolnya.
Suasana pencahayaan beraneka ragam , ada tungsten di dalam restoran, di luar restoran adalah fluorescent dan dari BG kiri kanan ada lampu sorot .

Karena saya ingin mencari momen dimana ada manusia dengan BG yang distracting tersebut, Saya ingin menekankan pada objeknya, bukan pada detail sekitar. Saya tidak akan memilih multimetering karena seluruh scene cenderung akan dihitung sama terang.

Saya bisa pilih center weighted atau spot metering.
Karena cahaya background gambar matahari disertai lampu sorot cukup terang sedangkan orang2 di depannya cukup gelap. Apabila saya pilih spot metering pada wajah manusia, tentu BG akan overblown overexpose

Untuk itu saya putuskan center metering adalah opsi terbaik saat itu. Sebagai referensi, saya pilih wajah2 pelayan di balik meja

Speed
Saya ingin menangkap manusia freeze tanpa gerakan (bukan ingin efek moving). Ingin detail cukup terjaga dan tak blur oleh tangan saya. Karena lensa 50 mm, untuk amannya saya mainkan di > 1/100 second..
Ternyata di 1/125 second, exposure metering pada wajah wajah manusia adalah netral. Saya pilih speed 125 second

ISO
Saya cukup kenal kamera saya yang bisa dipakai baik bahkan di ISO 3200 jadi ini saya otomatiskan saja , kebetulan dipilih ISO 400 oleh kamera

Teknik pengambilan…
Berbaur dengan sekitar tanpa menarik perhatian. Itu kuncinya

Saya berdiri di depan restoran, kamera di depan perut, sambil melakukan dengan cepat langkah 1-4 di atas.
Semua sudah siap. Saya tinggal atur komposisi . Dalam hal ini saya pilih rules of third paling dasar.

Saya bergerak ke posisi yang baik. OK.. Posisi saya sudah tepat .
Kamera tidak boleh diangkat ke atas mata karena menyolok.
Cukup pake middle low angle dari perut ,
LCD tilt saya naikkan , kamera ada di dada ke arah perut , saya tinggal melirik sedikit saja ke bawah perut, ok komposisi sudah baik.
Saya puter fokus manual saya untuk dapat fokusing dengan DOF pas di belakang meja..

Lalu prosesnya adalah :

  • Menunggu
  • Saya berdiri +/- 2 menit
  • Menunggu orang2 lalu lalang keluar komposisi
  • Menunggu posisi waiter cukup baik

Mata kita konsentrasikan pada scene di depan mata…
Selama tangan kita sudah tak bergerak… Setting sudah benar. Kita hanya menunggu momen

And Shoot…
Then walk away

PS: Bila anda tidak yakin, boleh juga anda pakai fasilitas Burst Shooting (tidak pernah saya pakai)…

Demikian sharing saya mengenai workflow saya dalam kegemaran saya sebagai casual photoblogger..
Sekaligus sebagai pecinta foto2 keseharian dan lensa manual…

Terima Kasih

4 thoughts on “MY Weekly Editor’s Choice : HYPNOTIC, By : William Jusuf”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *