My Last Day in Cambodia

Well sebenarnya besok hari terakhirnya, tapi karna ga bisa berbuat banyak juga besok mengingat pesawat jam 08.30 so di consider ini hari terakhir. Hari ini perjalanannya jauh, baik ke utara maupun selatan. Tapi semuanya worthed, walau selama perjalanan debu kayak “disiram” ke muka dan panas ga ketulungan.

Sunrise @ Angkor Wat

Memulai hari jam 05.30 (lagi) akhirnya aku putuskan untuk berhenti di Angkor Wat demi sunrise nya yang terkenal. Memang terbukti terkenal karena jam 6 pagi saja udah ada mungkin ratusan orang berkeliaran. Memiliki lensa super wide akan sangat membantu karena dengan demikian kita bisa mendekat ke Angkor Wat (lensa biasa butuh jarak cukup jauh untuk bisa cover semua sisi) dan kita bisa mendekati kolam yang terkenal dengan refleksi nya.

Sunrise – Angkor Wat – Cambodia

Tripod dan GND + CPL tentunya adalah “kewajiban” mengingat situasi nya dimana langit dan bumi beda exposure cukup jauh. Satu hal lagi adalah karena kita menghadap sunrise maka foto-foto cenderung akan cukup gelap (jadi siluet) kalau tidak diatur penggunaan GND nya dengan baik. Sunrise berlangsung cukup cepat di sini, jadi jam 7 pagi sudah bisa pack and go.

Banteay Srei

Lokasi Banteay Srei cukup jauh, sekitar 1 jam perjalanan dari Angkor Wat, atau 1,5 jam dari Siem Reap. Sepanjang perjalanan tentunya debu akan “menebal” di muka kita. Jadi berangkat jam 7 pagi adalah pilihan yang sangat baik, karena cuaca masih relatif sejuk.

Banteay Srei adalah candi kecil, tapi ukirannya luar biasa detil dan menggunakan batu candi & sandstone yang unik (warna merah bata dan merah muda). Detil ukirannya benar-benar luar biasa, tiap gerbang bahkan memiliki ukiran yang berbeda. Sebenarnya pilihan terbaik begitu sampai sana adalah mampir ke exhibition center dimana kita bisa membaca mengenai sejarah dan detil Banteay Srei sebelum masuk dan melihat sendiri. Tapi karena sampai sana sudah jam 8 (dan karena tidak tahu juga) maka begitu datang langsung motret.

Lokasinya sendiri menghadap timur, sangat cocok untuk pemotretan pagi. Sinar matahari yang lembut mengenai nya dan background nya langit yang biru. Cukup setting white balance ke Daylight atau Cloudy dan digabung dengan warna dasar candi yang merah bata lengkap sudah foto yang diambil, kombinasi tanah kuning, candi merah bata, langit biru dan middle-ground pepohonan yang hijau. Pastikan mengambil foto dari sudut kolam dimana refleksi candi terlihat melengkapi foto yang diambil.

Keluar dari belakang candi dan mengikuti jalan kita bisa melihat beberapa “viewpoint” yang sebenarnya ditujukan agar kita bisa memotret burung. Tapi pada saat saya datang tidak ada segelintirpun burung disana. Jadi masih bersyukur karena tidak membawa lensa tele saya yang super duper berat. Selesai dengan viewpoint ini maka sampailah saya di exhibition hall. Menarik sekali proses restorasi yang dilakukan, sejarah ini harus dilihat sendiri di sini. Very recommended place to visit.

PS : Mengingat berangkat pagi dari Siem Reap maka lebih baik bawalah sarapan anda dan makan saat di TukTuk.

Angkor Wat (lagi)

Kembali dari Banteay Srei saya sempatkan mampir lagi ke Angkor Wat. Bukan hanya karena ini kesempatan terakhir melihatnya, tapi juga karena belum sempat melihat relief & ruangan dimana bunyi gema terdengar waktu kita menepuk dada kita. Hal ini semua tidak berhubungan dengan fotografi jadi bisa dilakukan di tengah hari, antara jam 11-14 dimana matahari pas tinggi-tingginya. Relief di semua sisi lantai 1 Angkor Wat detil dan indah. Agak berbeda mungkin dengan relief candi borobudur misalnya. Candi borobudur dibangun jauh sebelum Angkor Wat dibangun. Jadi tingkat kehalusan ukirannya agak  berbeda, Angkor Wat lebih halus. Total ada 8 relief yang bercerita mengenai 8 hal berbeda. Mulai dari cerita Ramayana, perang Baratayudha, penggambaran surga dan neraka di agama Hindhu/Budha, dan yang terkenal adalah “The Churn of the sea of milk”. Relief yang terkenal ini bercerita mengenai epik di Hindhu yang menceritakan bagaimana “bad guy” dan “good guy” bekerjasama memerah lautan untuk menghasilkan Amirta, air kehidupan. Apabila ingin memotret relief ini dibutuhkan lensa super wide, setting dengan EV antara -1/3 s/d -1, ISO 400, Daylight White Balance dan cuaca yang terik. Hal ini mengingat lokasi relief ini ada di “dalam” ruangan, tidak seperti candi borobudur yang di lokasi terbuka.

Ruangan dimana gema terdengar kalau kita menepuk dada kita (dan hanya dada kita, bagian lain dari tubuh tidak akan bergema) ada di lantai 2. Lokasinya ada persis di depan patung Budha yang ada disitu. Cukup menarik untuk dicoba. Tanya saja dengan tour guide yang bertebaran disana.

Sepulangnya dari Angkor Wat saya coba makanan khas Kamboja, daging babi yang ditumis dengan akar bunga lotus. Well rasanya agak aneh (akar lotus nya). Tapi kalau ingin mencoba sih boleh saja. Kebetulan sehari sebelumnya saya ditawari oleh salah satu tour guide yang sedang menunggu di Nek Poan biji bunga lotus. Dimakan seperti kacang / melinjo. Rasanya tawar. Tapi menurutnya bisa menjernihkan pikiran.

Tonle Sap Lake & Floating Village Cheong Knah

Sorenya saya berangkat jam 15.30 menuju ke arah Selatan, ke Tonle Sap Lake. Danau air tawar ini merupakan danau air tawar terluas di asia tenggara apabila sedang musim hujan, karena luasannya mencapai 12.000 km persegi. Yang luar biasa adalah kalau sedang musim kemarau (seperti saat saya pergi) luasannya hanya 2.500 km persegi. Jadi sejauh perjalanan kita bisa melihat area yang akan “tergenang” pada saat musim hujan. Luar biasa luasnya. Itu pula sebabnya bangunan di kiri kanan jalan menuju Tonle Sap Lake antara rumah panggung, atau merupakan floating house (bagian bawahnya seperti perahu). Keren sekali dilihatnya, sayang tidak sempat memotretnya karena agak ngeri juga melihat pemukimannya yang cenderung sangat kumuh. Menuju Tonle Sap Lake kita bisa juga berhenti di perkebunan bunga lotus.

Sesampainya di “pelabuhan” kita bisa kena charge USD 30 untuk perahu menuju danau dan floating village. Mahal sekali memang, tapi mengingat saya sendirian naik perahu itu maka itu cenderung cukup “murah”. Ada cara agar kita bisa naik dengan lebih murah, yaitu dengan memesannya melalui agen tour di Siem Reap. Hal ini dikarenakan dengan ikut grup maka satu perahu diisi lebih banyak orang. Tapi entah bisa seberapa murah. Tapi perjalanan menuju danau, floating village dan crocodille farm (yang ada di tengah danau) memang worthed untuk dilakukan.

Di perahu saya ditemani oleh satu orang anak, mungkin anak SMP. Dia bicara dengan bahasa inggris sangat lancar. Hal ini karena di pagi hari dia sekolah dan siang harinya belajar bahasa inggris di tempat pelatihan lokal. Sore harinya dia datang ke pelabuhan untuk menemani turis. Selain untuk praktek bahasa inggris, juga untuk mendapatkan tips untuk sekolahnya. Sekolahnya sendiri terletak 15 km dari rumahnya, di Siem Reap. Luar biasa ya semangatnya? Ditemani dia saya sangat terbantu karena dijelaskan banyak bangunan yang ada sepanjang perjalanan dengan menggunakan perahu itu. Mulai dari perahu yang digunakan sebagai alat transportasi, gereja terapung, pengisian air bersih (terapung tentunya), toko kelontong, pasar ikan, dll semuanya terapung diatas sungai. Selain itu juga ada semacam tiang yang sangat tinggi di pinggir sungai. Ternyata itu tanda perairan dangkal apabila dimusim hujan airnya meluap (tanpa melihat sendiri tidak akan terbayang luapan airnya, luar biasa sekali luasnya).

Di tengah perjalanan saya juga baru tahu bahwa selain etnis Kamboja adapula etnis Vietnam yang tinggal di perkampungan tersebut. Tapi perbedaannya adalah etnis Vietnam tidak mengirimkan anaknya sekolah, melainkan “menggunakannya” sebagai obyek foto bagi turis. Sangat disedihkan budaya seperti ini. Anak-anak etnis Kamboja sendiri harus melintasi sungai (sendirian menaiki perahu) selama 30 menit, kemudian melanjutkan perjalanan darat sekitar 30 menit untuk mencapai sekolahnya. Itu mereka lakukan tiap hari.

Lensa yang paling tepat digunakan pada perjalanan ini menurut saya adalah lensa medium, misalnya 17-55 mm (untuk sensor APS-C seperti Canon 40D) atau 24-105 mm (untuk full frame, misalnya Canon 5D Mark II). Hal ini dikarenakan jarak dengan obyek sangat bervariasi, kadang dekat kadang cukup berjarak. Jadi lensa medium akan sangat membantu. Penggunaan hood juga akan sangat membantu mengingat kadangkala ada cipratan air sedikit masuk ke area kapal. Setting kamera sendiri harus membuat shutter speed yang diperoleh mencukupi. Hal ini dikarenakan kecepatan kapal yang lumayan, kalau shutter speed terlalu lambat maka foto akan blur. Saya sendiri menggunakan setting f8 dan ISO400 untuk mendapatkan speed di kisaran 1/200 seconds. Apperture sesempit f8 saya gunakan untuk menghindari miss focused yang sangat mungkin terjadi pada momen yang berlangsung cepat seperti di kapal ini.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 30 menit terlihatlah Cheong Knah, the floating village. Jika kita membayangkan floating village = belasan rumah terapung, salah besar. Ada ratusan rumah terapung di tengah danau yang luar biasa luas itu (sebagai perbandingan danau toba di sumatra utara memiliki luasan 3.000 km persegi, sedangkan Tonle Sap luasan di saat musim kemarau mencapai 2.500 km persegi, dan di musim hujan mencapai 12.500 km persegi). Merupakan obyek fotografi yang sangat indah karena rumah-rumah ini di cat dengan warna – warna mencolok seperti biru, hijau, kuning atau merah. Menarik sekali.

Setelah menjelajah sebentar perkampungan ini kita berhenti di satu rumah terapung besar, dimana kita bisa melihat berbagai cara menangkap ikan gaya Kamboja. Berbagai jala dan keramba dipertunjukkan disitu. Di bagian paling atas dari rumah tersebut ada dek dimana kita bisa menunggu sunset. Sayang  pada saat saya datang matahari bersembunyi di balik awan yang cukup tebal.

Makan malam hari itu saya coba BBQ Pork Ribs yang ada di dekat hotel. Lebih tepatnya di ujung “Pub Street” di depan Red Piano Resto. Harganya cukup manusiawi untuk ukuran Kamboja, USD 1.5 untuk ribs. Rasanya cukup enak dan lokasinya sendiri cukup ramai. Jadi kalau tidak berminat dengan ribs ya tinggal mampir ke warung tenda sebelah dimana ada Amok, Beef Curry, Nasi goreng khas Kamboja, dll.


Leave a Reply MY-ers ...