My first encounter with Angkor

Setelah melewati siang yang panas, sorenya akhirnya dimulailah perjumpaan pertama dengan kawasan Angkor. Berangkat jam 16.30 waktu setempat karna saat itulah kita bisa masuk ke kawasan dengan bonus sunset. So beli tiket seharga USD 40 untuk 3 hari berturut-turut, tapi hari baru dihitung besok paginya. Sore ini sudah bisa masuk tapinya. Karcis masuk ini menggunakan foto kita, di ambil menggunakan webcam yang menjulur keluar dari loket.

Phnom Bakheng

Tujuan pertama adalah survey lokasi buat besok pagi. Dan yang aku survey adalah candi Phnom Bakheng yang ada di barat Angkor Wat. Lokasi ini terkenal dengan pemandangan Angkor Wat dari ketinggian, dan sunset di area West Baray.

Ternyata latihan tiap pagi scott-jump sebanyak 80 kali membawa manfaat. Karna untuk mencapai Phnom Bakheng dibutuhkan stamina, mengingat lokasinya yang lumayan menanjak dari tempat parkiran Tuk Tuk. Perjalanan jalan kaki dan menanjak ini mengambil waktu sekitar 15-20 menit. Dan seperti lokasi lain di Siem Reap debunya banyakkkk karna tekstur tanah yang berdebu. Jadi sapu tangan buat tutup mulut sangat berguna.

Sesampainya diatas tantangan berikut menunggu. Reruntuhan candi ini terjal sekali (gak kebayang kalau musim hujan dengan bawa ransel kamera yang berat dan tripod). Jadi harus sangat hati – hati waktu naik (apalagi turun). Lokasinya sendiri sih tidak terlalu scenic dan menarik. Tapi memang pemandangan angkor wat yang menyeruak diantara pepohonan di kejauhan sangat menarik (i really wish pohon2 yang menghalangi itu tidak ada).

Hanya ada 2 lokasi yang bisa memotret Angkor Wat dengan cukup baik. Letaknya di sudut sudut candi. Tapi memang harus menggunakan lensa at least 300 mm. Kecil buanget kalau nggak (lucu aja liat ada turis dengan maksanya mau motret pakai kamera pocket). Seharusnya besok pagi dengan adanya kabut akan lebih mantap. Tapi ya perjuangannya bakal lumayan, secara hiking 20 menit di kegelapan ke puncak candi di pagi buta yang mungkin gak banyak orang juga, ngeri gak seh?

Angkor Wat

Salah satu hal yang sangat mengagumkan dari candi ini adalah ukuran danau buatan (untuk penghalang musuh gitu deh) yang luar biasa (190 m), jembatan penghubung yang buesarrr dan tentunya kompleks candinya sendiri. Well aku belum sempat masuk karena ternyata setelah jam 6 sore tidak bisa masuk kompleks Candi. Dari bocoran sih masih bisa kucing-kucingan dengan petugas kalau kita sudah keburu di dalam candi dan ingin memotret twilight / sunset silhouette.

Setelah balik dengan agak kesel dari sana karna gak bisa masuk Angkor Wat aku lanjut dengan makan. Kebetulan dekat Shadow of Angkor ada restoran yang terkenal, Angkor Palm. Menunya tentunya adalah makanan khas Khmer. Ada set menu yang akhirnya aku pilih, dengan harga USD 7.5 isinya :

  • Roll khas Kamboja – agak aneh sih rasanya, lebih enak yang khas Vietnam
  • Manggo salad – enak, rasanya seger
  • Chicken curry – enak juga rasanya
  • Amoc – makanan khas Kamboja, bentuknya mirip dengan Kari Ikan, enak pastinya
  • Iga Babi goreng – masih perlu tanya enaknya?
  • Sayur kangkung masak khas Kamboja – mirip di oseng aja sih, tapi bumbunya beda
  • Nasi putih
  • Desert gaya Kamboja – mirip kolak pisang, tapi rasanya agak beda

Lengkap dengan minuman “Coconut Juice”, mantap. Yang lebih ok lagi adalah pertemuan dengan sepasang oma dan opa dari australia. Kita ngobrol banyak sekali soal perjalanan mereka selama sebulan ini (udah dari Bangkok, Chiangmai, Luang Prabang, Siem Reap, dan balik ke ausie lewat bangkok). Ngobrol juga soal edukasi anak, travelling, dll. It’s the fun thing of going out solo…gak terjebak dengan teman-teman yang sama, tapi buka wawasan dengan ketemu orang baru.

So, siap2 mandi dan tidur dulu buat besok jam 5 pagi berangkat mendaki Phnom Bakheng demi foto ….

MOTO YUK !!!





0 thoughts on “My first encounter with Angkor”

Leave a Reply MY-ers ...