My-ers Articles : X100s Review – Part 2, By : Yohanes Sanjaya

MY FUJI X100S REVIEW PART 2

OK, sekarang saya akan membahas keunggulan dan kekurangan dari Fuji X100s ini dengan lebih detil.

 

What I Love from X100s?

1. Build Quality, Design, and Focal Length

Fuji X100s ini adalah kamera poket mirrorless yang pas bagi saya. Focal Length-nya 23mm (setara dengan 35mm di full frame sensor) cocok untuk kebutuhan saya utk memotret casual, kegiatan sehari2, liburan bersama keluarga. Selain itu, built quality-nya yang di atas rata2 kamera lain yg seharga dan desain-nya yang retro memberi nilai tambah untuk saya. TIdak ada kesan ringkih pada saat menggenggam kamera ini

Sujo21

2. User Interface

Dari segi User Interface, saya menyukai desain dari X100s ini. Bukaan diafragma/aperture diatur dengan cara memutar di bagian depan lensa. Bukaan shutter/shutter speed diatur dari putaran tombol di top plate, dan juga ada putaran untuk menaik-turunkan Ev compensation dengan cepat.

Sujo22

Untuk tombol2 di bagian belakang kamera, walaupun agak rumit dibandingkan Canon, masih dapat ditoleransi oleh saya.

Sujo23

3. Image Quality

Hasil gambar yang dihasilkan X Trans II sensor dari Fuji X100s ini menurut saya sangat baik jika dibandingkan dengan APS-C size sensor kamera lainnya.

Baik RAW file maupun JPEG-nya, kualitasnya cukup baik. Kualitas JPEGnya malah lebih baik dari saya bayangkan sebelumnya. Warna dan tingkat kekontrasan-nya unik, khas Fuji, sebagian orang bilang. Detail dan tingkat noise-nya pun baik.

Saya hanya menggunakan format RAW pada saat memotret di kondisi cahaya yg agak sulit. Just in case saya salah mengatur WB atau exposure, bisa dirubah dengan mudah di Adobe Lightroom nantinya.

Untuk format JPEG, film simulation yang disediakan (Provia, Velvia, Astia, Pro Neg Hi, Pro Neg S, BW, BW with Red filter, BW with Green Filter, BW with Yellow Filter, Sepia)

Dari 10 film simulation mode ini, yang paling sering saya gunakan adalah, Astia (S) dan Pro Neg S. Kedua film simulation ini memberikan hasil yg lebih netral/natural dibandingkan film simulation yang lainnya.

Untuk pemotretan dengan Hi ISO pun, X100s masih dapat menampilkan gambar dengan detail cukup baik dan tingkat noise yg tidak terlalu parah.

Contoh pemotretan menggunakan Hi ISO (ISO 3200):

Sujo24

1/30s  f/2.0 ISO3200, Pro Neg Hi film simulation mode

4. Hybrid Viewfinder

Mungkin saat ini, teknologi hybrid viewfinder hanya ada di Fuji (X100/X100s dan X-Pro1). Hanya dengan menggeserkan switch di bagian depan kamera, kita dapat memilih menggunakan viewfinder optikal (glass) atau viewfinder elektronik (LCD). Dengan viewfinder optikal, kita bisa jelas melihat keadaan pemotretan apa adanya, tetapi framing-nya kurang akurat. Dengan viewfinder elektronik, kita bisa melihat LCD di jendela intip, lengkap dengan indikator2 yg kita bisa atur, seperti Exposure Compensation, Histogram, Jarak Fokus, Aperture, Shutter Speed, Battery Level.

Salah satu kelebihan yang saya sangat suka dari hybrid viewfinder ini adalah kita dapat langsung melihat preview dari hasil pemotretan kita di viewfinder tanpa harus menurunkan pandangan dari viewfinder.

5. Leaf Shutter

Dengan leaf shutter, X100s nyaris tidak berbunyi pada saat pemotretan.  Sangat bermanfaat bila kita melakukan street photography. Selain itu, dengan leaf shutter, kita dapat menggunakan flash tanpa batasan shutterspeed seperti di DSLR. 1/1000s? no problem

6. Flare

Hmmm… flare ini agak kontradiktif ya.. bagi sebagian orang, lensa yg mudah menghasilkan flare tuh merupakan kekurangan. Tapi saya suka dengan flare yang dihasilkan dari lensa x100s ini. Flare lebih mudah timbul di lensa X100s ini dibandingkan dengan lensa2 DSLR yang saya miliki.

Contoh flare dari X100s:

Sujo25

1/500s f/4 ISO200

7. Easier on Postpro

Salah satu alasan saya berpindah dari Sony NEX ke Fujifilm X100s ini adalah postprocessing. Saya agak kesulitan untuk memproses hasil dari Sony NEX terutama utk skintone / warna kulit. Dengan X100s ini, kadang2 malah saya tidak perlu menambahkan postpro editing lagi. Hasil langsung JPEG dari kamera-nya sudah cukup baik.

Contoh SOOC (Straight Out Of Camera) X100s, tanpa editing lagi:

Sujo26

1/400s   f/5.6 ISO200, Pro Neg S film simulation mode.

What I Hate from X100s?

1. Battery Life

Sebagai ex user SONY NEX series (dan masih menggunakan CANOS EOS 5D mark 3) saya kaget ketika menggunakan Fuji X100s ini. Indikator battery di kamera ada 3 bar, tapi sebenernya bisa dikatakan “hanya” 2 bar saja, antara: MASIH BISA DIPAKAI atau SUDAH HABIS. Jika digunakan untuk keperluan sehari-hari saja, mungkin tidak terlalu bermasalah. Tapi, jika anda akan menggunakan kamera ini untuk travelling, SANGAT SANGAT DISARANKAN untuk memiliki minimal 1 battery cadangan.

2. LCD yang “berbeda”

Tingkat keterangan (brightness level) dari LCD Fujifilm X100s ini menurut saya agak berlebih. Pada saat pertama kali menggunakan X100s ini, brightness level di-set default di level 0. Cukup terkejut saya pada saat transfer ke PC, di LCD tingkat keterangan-nya sudah cukup, ketika pindah turun cukup banyak menjadi lebih gelap. Solusi sementara yang cukup ampuh bagi saya saat ini adalah menyetel tingkat keterangan LCD di -2.

3. Shutterspeed yang dibatasi

Bila kita melakukan pemotretan menggunakan Av (aperture priority) / Auto mode .. range shutterspeed dibatasi hanya sampai 1/1000s.

4. Parallax Error on Optical Viewfinder

Optical Viewfinder dari X100s di-desain menyerupai viewfinder kamera rangefinder, jadi hasil dari Optical Viewfinder X100s tidak 100% akurat sama seperti layaknya optical viewfinder DSLR. Selalu ada pergeseran frame, apalagi jika focusing distance pendek (di bawah 1m)

5. Soft Image on shooting macro mode with open wide aperture

Salah satu biggest downside dari X100s ini bagi saya adalah hasil yang sangat soft jika menggunakan aperture f/2.0 pada pemotretan macro mode (focus distance di bawah 30-40 cm)

Final Words

So, … apakah Fujifilm X100s ini adalah kamera pocket terbaik saat ini? Menurut saya tidak. Apakah kita bisa menjadikan Fujifilm X100s sebagai kamera “utama” menggantikan DSLR? Juga tidak. Untuk pemotretan genre2 khusus seperti sports (yang membutuhkan focusing dan shutterspeed cepat), macro, atau liputan2 acara(yang membutuhkan battery tahan lama), DSLR tetap menjadi pilihan yang terbaik.

Tapi, jika kita membutuhkan kamera pocket dengan ukuran kecil untuk pemotretan casual/sehari-hari, saya bisa katakan Fujifilm X100s ini merupakan salah satu kamera mirrorless dengan hasil terbaik.

Meskipun ada kekurangan2 yang cukup menganggu (at least bagi saya), kamera ini selalu memberi rasa “kangen” utk memotret.

Walaupun harganya cukup premium utk kelas mirrorless, dengan desain retro, built quality-nya yang solid, dan juga hasil gambar yg memuaskan, menurut saya kamera X100s ini worthy.

Jadi, jika anda saat ini sudah mulai merasa berat membawa2 DSLR ke mana2, dan mulai mencari kamera kecil untuk light travelling, Fujifilm X100s ini patut dipertimbangkan untuk dimiliki.

Berikut ini sedikit contoh hasil jepretan saya menggunakan Fujifilm X100s:

Sujo27

1/100s  f/2.8 ISO 5000  ProNeg Hi film simulation mode
 

Sujo28

1/80s  f/4.0 ISO 2500 ProNeg S film simulation mode

Sujo29

1/680s  f/8 ISO 200, RAW processed with Adobe Lightroom

Sujo30

1/450s f/2 ISO 200, Astia Film Simulation Mode

Sujo31

1/250s  f/2  ISO200, RAW processed on Adobe Lightroom





One thought on “My-ers Articles : X100s Review – Part 2, By : Yohanes Sanjaya”

Leave a Reply MY-ers ...