MY-ers Articles : Pesona ‘winter photography’ , By : Frans Gunterus

Bagi mereka yang tinggal di negara empat musim, boleh jadi, foto-foto di bawah ini tidaklah terlalu menarik. Namun, seorang teman yang tinggal di Jawa Tengah sangat gembira menerima  foto-foto melalui email dan meminta saya untuk segera mengirim yang lain. Saya sendiri sudah beberapa kali berada di suasana ‘winter’ semacam itu, namun  sebagai pemula DSLR, liburan kali ini menjadi istimewa karena memberi kesempatan menjajal berbagai teknik DSLR yang sudah saya pelajari selama ini. Seperti kata pepatah ‘pengalaman adalah guru yang terbaik’.

Tantangan ‘winter photography’ ternyata bukan sekedar urusan cuaca yang dingin. Ada banyak tantangan teknis pada ‘winter photography’. Misalnya, bagaimana mendapatkan optimum exposure pada kondisi pencahayaan extrem di mana latar belakang didominasi salju warna putih sangat terang. Light metering — yang merupakan jantung sebuah kamera DSLR—untuk beberapa kondisi bisa salah baca. Pemilihan metering mode — evaluativepartial (hanya ada pada Canon), spot atau center weighted — menjadi sangat krusial untuk beberapa lighting scenarios.  Pemilihan ‘white balance’ yang paling cocok bagi keperluan pemotretan kita dan apa manfaat serta hakekat file RAW serta cara mengolahnya.

Sebagai pemain SLR film konvensional jaman dulu, saya sungguh mensyukuri dan menganggumi kemajuan dunia fotografi digital seperti saat ini. Teknik fotografi digital jauh lebih menarik ketimbang teknik fotografi SLR film jaman dulu. Sekarang saya tengah membaca separoh dari buku karangan seorang fotografer senior dengan pengalaman lebih dari 30 tahun yang berjudul ‘Understanding Exposure’. Di dalam pembukaan kata pengantarnya, penulis mengatakan:

‘Every Photograph is a lie, but it is within that lie that mountain of truth is revealed!’ – Bryan F. Peterson

Maka bagi saya, foto yang bagus adalah foto (bila perlu) yang lebih indah dari aslinya dan mampu menyampaikan pesan sang pemotret kepada pemirsanya.

image001

Snow Tree. Canon G1X (Point & Shoot), Full Auto, ISO 1600 (Auto), 1/20 sec, f/4. Metering mode: Evaluative. Hand held.

Foto di atas diambil sekitar pukul 6 sore, namun karena musim winter di sana hari sudah gelap. Kami sekeluarga ada dalam perjalanan menuju South Lake Tahoe yang terletak di negara bagian California – USA. Perjalanan dari San Francisco biasanya ditemput dalam 3,5 jam, waktu itu menjadi lebih dari 6 jam. High way sempat ditutup karena beberapa mobil tergelincir (multiple skid) dan seluruh mobil (kecuali 4-wheel drive) diharuskan memasang rantai ban agar tidak tergelincir di jalan yang penuh lapisan es. Anak saya memberi tahu pemandangan yang unik di pelataran parkir itu. Sebuah pohon gundul tak berdaun dengan ranting-ranting penuh salju.

image002

Snow Storm. Canon G1X, Program AE, ISO 12800 (manual set), 1/80 sec, f/5,6, FL 15 mm. Metering mode: Center Weighted. Hand held.

Awalnya saya keluar dari hotel sekitar pukul 5 pagi walau hari masih gelap dengan kamera DSLR. Badai salju di pagi hari itu membuat kamera di tangan hanya dalam beberapa menit memutih tertutup salju. Saya terpaksa kembali ke kamar untuk mengambil kamera PS (Point & Shoot). Dalam kondisi semacam ini, kamera PS justeru jauh lebih nyaman. Apalagi setting ISO pada Canon G1X mampu ditingkatkan menjadi 12600 dengan noise level yang masih dapat diterima.

Foto di atas diambil sekitar pukul 7 pagi, namun langit baru mulai terang. Gundukkan salju di pelataran parkir hotel menggunung hingga lebih dari 1 meter. Butiran salju segar terbang bagaikan tepung yang tertiup angin mengenai muka dan menebarkan perasaan khusus bagi saya yang hidup di negara tropis. Pemandangan itu mengingatkan saya pada cerita film silat. Excavator dan berbagai alat berat berseliweran membersihkan salju di pelataran resort yang sangat luas itu. Sesekali terdengar suara dinamit memecah gumpalan salju yang mulai mengeras dan dikawatirkan jatuh menimpa pemain ski yang pasti akan menuntut pengusaha resort bila hal itu sampai terjadi. Para buruh bekerja sejak malam sampai subuh mempersiapkan resort sebelum kedatangan para pemain ski dan wisatawan yang akan memenuhi pelataran parkir. Pada malam itu, seorang petugas mati terkena dinamit karena berada di posisi yang salah. Kaum buruh di manapun selalu menjadi mesin pencetak uang bagi para pengusaha.

Setelah badai salju mulai reda, saya kembali menggunakan DSLR berikut tripodnya untuk mengambil foto-foto berikut ini.

 image003

Squaw Valley – the Hotel. Canon EOS 60D, 15-85 mm IS M, FL 15, ISO 100 (manual), 1/0,5 sec, f/4, Metering Mode: Evaluative Metering. Tripod.

image004

A Lamp Post. 15-85 IS USM, FL 59. Aperture Priority (Av), ISO 100 (manual) 1/60 sec, f/5. Metering Mode: Evaluative. Tripod.

Para fotografer profesional menyarankan agar ‘autoexposure brakceting’ diaktifkan + 1 atau sampai + 2 stop untuk ‘winter photography’. Pengalaman saya, autoexposure bracketing + 2 stop berlebihan dan sejatinya ‘autoexposure bracketing’ tidak terlalu esensiel ketika kita sudah memotret dalam file RAW. Foto di atas diambil pada Exposure Compensation 0. Lampu ‘down light’ yang ada di langit-langit atap dihilangkan dengan photoshop agar stalagtit es dan lampu jalanan nampak lebih menonjol.

image005

Christmas on ice. 15-85 mm IS M, FL 46 mm. Aperture Priority (Av), ISO 100 (manual), 1/0,3 sec, f/5, Metering Mode: Evaluative. Tripod.

Ketika pohon natal di Indonesia diberi hiasan kapas untuk mengesankan salju, pohon natal di depan pintu hotel itu secara alami dipenuhi salju dan kristal es. Focusing sengaja saya pilih AI Servo karena angin cukup kencang dan pohon melambai-lambai, namun image Stablization saya letakkan pada posisi off karena kamera ada di atas tripod.

image006

The Crowds. 15-85 mm, FL 16 mm, Aperture Priority (Av), ISO 100 (Auto), 1/400 sec, f/5,6. Metering Mode: Evaluative.

Ada banyak resort ski di sekitar Lake Tahoe, salah satu yang terbesar adalah Squaw Valley bekas arena Winter Olympics. Para pengunjung membludak dan antrean para pemain ski menjadi sangat panjang karena ini musim liburan. Hal ini mengingatkan saya pada musim libur lebaran di tanah air.

image007

Snow Valley. 15-85 mm, FL 16 mm. Aperture Priority (AV), ISO 100 (Auto), 1/400 sec, f/5,6. Metering Mode: Evaluative.

Foto di atas diambil dari gondola berdinding kaca sehingga aslinya timbul bayang-bayang di bagian langit yang biru. Bayang-bayang itu dihilangkan dengan olah digital agar foto mejadi lebih enak untuk dinikmati.

image008

Squaw Valley – the resort. EF 100 mm f/2,8 Macro IS USM. Aperture Priority (Av), 1/100 sec, f/4. Metering Mode: Evalative.

Pemandangan resort the Squaw Valley ini saya ambil dari atas gondola. Foto aslinya dipenuhi kabel gondola yang sangat mengganggu. Kabel-kabel itu dengan mudahnya dihilangkan dengan menggunakan ‘Spot Healing Brush Tool”.

image009

Love on ice. 15-85 mm, FL 16 mm. Shutter Priority (Tv), ISO 100 (Auto), 1/400 sec, f/5,6. Metering Mode: Evaluative.

Pasangan ini ada di arena ‘ice skating’. Sinar matahari dari belakang (back lighting) dan lantai es menjadi reflektor yang bagus sehingga muka mereka nampak jelas. Saya mencoba menurunkan speed di bawah 1/400 untuk menangkap bayangan gerak, sayang hasilnya kurang memuaskan. Tidak ada olah digital.

image010

The Altar. 15-85 mm IS USM, FL 31 mm. Aperture Priority (Av), ISO 100 (manual). 1/40 sec, f/4,5, Metering Mode: Spot pada patung Yesus.

Foto di atas adalah altar yang ada di Gereja Katolik Santo Franciscus Asisi – Mount Rose Hwy Incline Village, North Lake Tahooe, Nevada. Latar belakang altar terbuat dari kaca tembus pandang dan mengexpose pemandangan hutan cemara yang ada di belakang gereja. Situasi ‘white christmas’ menjadi kian lengkap karena pohon-pohon cemara itu tertutup salju.  Dari segi teknik fotografi, pemotretan ini tidak semudah yang mungkin dibayangkan orang. Light metering keliru membaca lighting scenario pada situasi ini, sehingga saya perlu memotret lebih dari 30 pengambilan dengan berbagai macam metering mode, sudut serta arah pengambilan termasuk manual. Itupun hasilnya masih perlu post processing olah digital untuk menghasilkan foto seperti di atas.

image012

Roof, snow and ice. 15-85 mm, FL 15 mm. Aperture Priority (Av), ISO 100 (manual), Evaluative Metering.

Foto atap gereja yang dipenuhi salju serta kristal es berbentuk stalagtit yang sebagian miring karena tertiup angin ini mengingatkan saya pada kartu natal yang jaman dulu dikirim teman dan famili dari luar negeri. Semasa kanak-kanak saya bermimpi kapan bisa melihat pemandangan semacam ini. Alhamdulilah, the dream comes true. Foto ini saya olah dari dari file RAW dengan memilih white balance pada ‘claudy’ serta finishing dengan teknik HDR toning.

image013

Fire flies around ice crystals. 15-85 mm, FL 57 mm. Aperture Priority (Av), ISO 100 (manual), 1/160 sec, f/5, Metering Mode: Spot Metering.

Panjang kristal es stalagtit ini sekitar 2,5 meter dan lebarnya sekitar 0,4 meter. Stalagtit ini berada di belakang kaca. Sudut pengambilan saya usahakan agar refleksi lampu hiasan pohon natal ikut terrekam di sana menyerupai kunang-kunang yang sedang terbang di sekitar stalagtit. Tidak ada olah digital digital di foto ini selain cropping.

image014

Lensa EF 100 mm f/2,8 Macro IS USM. Manual Exposure, ISO 800 (Auto) 1/160 sec, f/5,6. Manual Focusing. Hand Held.

Saya terinspirasi memotret butir-butir kristal salju itu setelah melihat foto-foto winter photography karya fotografer profesional dari Rusia yaitu Andrew Osokin.

Sayang ketika itu kami sudah bersiap-siap untuk meninggalkan Lake Tahoe dan tripod sudah masuk bagasi di bagian bawah tumpukan koper serta bekal perjalanan. Foto macro butiran salju itu saya ambil tanpa tripod. Itupun, hanya satu dari 82 kali jepretan L. Yang lain buram karena tangan goyang. Kalau Anda suka dan berkesan dengan foto makro butir-butir kristal saju, silahkan klik  http://www.petapixel.com/2012/12/07/ethereal-macro-photos-of-snowflakes-in-the-moments-before-they-disappear/ . Ada banyak foto macro yang sangat indah di sana dan membuat foto saya di atas (sesungguhnya) tidak layak untuk ditampilkan.

Kesimpulan Tip dan Trik 15: Pesona ‘winter photography’.

    1. Sebagai penggemar fotografi SLR masa lalu, saya sungguh mensyukuri kemajuan teknologi fotografi DSLR saat ini. Konsekwensinya, kita harus siap membuka diri dan mau belajar lebih banyak lagi … kalau memang menginginkan hasil yang maximal!
    2. Pepatah Jawa ‘jer basuki mawa bea’ sungguh relevan untuk penggemar fotografi saat ini. Beaya yang diperlukan bukan hanya dana untuk membeli peralatan yang canggih tapi juga usaha dan jerih payah untuk mempelajari cara penggunaan seluruh perlengkapan fotografi yang kita miliki.
    3. Pemotretan dengan file RAW sangat diperlukan untuk peristiwa maupun hal-hal yang penting. Jangan kawatir, bila Anda saat ini belum mampu mengolahnya paling tidak Anda bisa minta tolong pada orang lain bila memang terpaksa.
    4. Hasil pengolahan file JPEG (untuk situasi tertentu) tidak sebagus hasil pengolahan file RAW.
    5. Profesional fotografer muda Indonesia, Edo Kurniawan di www.motoyuk.com terinspirasi oleh Mr. Teoh Peng Kee dari Singapore menyarankan agar memotret dengan RAW + JPEG (small fine) … maksudnya S1. Saya sendiri tidak akan ragu bila harus memotret dengan RAW + JPEG (L fine).
    6. Penggemar fotografi yang serius dan ingin hasil yang maximal perlu mempersiapkan diri dengan kapasitas memori yang tinggi. Jangan sayang memori untuk meliput liburan atau peristiwa penting yang tidak mungkin terulang!
    7. Beberapa fotografer profesional menyarankan agar selalu mengaktifkan opsi ‘autoexposure bracket’ pada ‘winter photography’ + 1 atau + 2 stop. Pengalaman saya, exposure bracketing + 2 stop agak berlebihan dan tidak (terlalu) esensiel bila kita sudah memotret dalam file RAW.
    8. Persiapkanlah diri Anda sebaik mungkin bila akan berlibur atau memotret peristiwa penting. Cobalah dan pahami cara pemakaian pemakaian seluruh perlengkapan fotografi sebelum ‘maju perang’! Sebagai amatir kita tidak setiap hari menggunakan seluruh peralatan fotografi yang kita miliki, maka buatlah catatan-catatan kecil untuk mengingatkan hal-hal yang penting. Catatan semacam itu kadang disebut ‘cheat sheet’.

Apakah ada hal lain yang terlupakan? Saya menunggu komentar, pengalaman dan tanggapan Anda sekalian. Selamat belajar!

motoyuk signature white

Leave a Reply MY-ers ...